Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manifestasi Merah yang Terkutuk
Aula kamar sang pangeran kini terasa seperti pusat badai yang mengamuk. Cahaya merah pekat yang keluar dari persendian tangan Ares dan Naomi mulai membentuk sulur-sulur energi yang tampak hidup, merayap di antara jemari mereka yang bertautan. Udara di sekitar mereka mendesis, berbau ozon dan logam panas yang terbakar. Ares mengerang, tubuhnya melengkung ke belakang saat ia merasakan kekuatan yang selama ini membelenggu tulangnya mulai tercerabut paksa.
"Naomi... lepaskan... ini akan membunuhmu!" suara Ares nyaris habis, tenggelam oleh deru energi yang memekakkan telinga.
Namun, Naomi tidak mendengar. Dunia di sekitarnya perlahan memudar, menyisakan kegelapan pekat di mana hanya ada satu denyut jantung yang ia rasakan, bukan miliknya, melainkan denyut sang rune. Ia bisa merasakan kemarahan, kesepian, dan rasa lapar yang luar biasa dari simbol kuno itu. Rune tersebut seolah-olah berteriak karena telah dipenjara di dalam inang yang tidak tepat selama belasan tahun.
Ciara bangkit dari lantai, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat terpental ledakan tadi. Matanya yang biasanya sedingin es kini membelalak penuh ambisi. "Luar biasa," bisiknya. Ia mengangkat belati peraknya kembali, bukan untuk menyerang, melainkan untuk memulai mantra pengikat. "Biarkan ia berpindah. Biarkan inang aslinya terbakar oleh kekuatannya sendiri!"
Ciara mulai merapalkan kalimat dalam bahasa yang sudah punah, mencoba mengarahkan arus energi merah itu agar tidak meledak tak terkendali. Ia tahu bahwa jika Naomi tidak mampu menampung kekuatan itu, seluruh istana Sanjaya akan rata dengan tanah dalam hitungan detik.
"Ayah... tolong aku..." rintih Naomi saat ia merasakan sensasi seperti lava cair yang mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya dari telapak tangan Ares.
Ayah Naomi, yang berdiri gemetar di ambang pintu, hanya bisa menatap dengan horor. Ia ingin maju, namun tekanan udara di sekitar kedua pemuda itu begitu besar hingga ia terjerembap ke lututnya. "Maafkan aku, Naomi! Inilah takdir yang kami coba curi darimu!"
Tiba-tiba, pendaran merah itu berhenti bergejolak dan mulai memadat. Dengan satu sentakan terakhir yang mematahkan keheningan malam, tanda di lengan Ares memudar sepenuhnya, menyisakan kulit yang putih pucat dan bekas luka bakar yang mengerikan. Sebaliknya, di lengan Naomi, dari ujung jari hingga bahunya, muncul garis-garis hitam yang berpendar merah darah.
Garis-garis itu berukir indah namun mematikan, membentuk pola rune yang jauh lebih sempurna dan rumit daripada yang pernah dimiliki Ares.
Ares ambruk ke dada Naomi, napasnya tersengal namun matanya menunjukkan kelegaan yang luar biasa. Beban yang menghimpit jiwanya selama bertahun-tahun menghilang secara instan.
Naomi berdiri dengan napas yang memburu. Matanya yang semula hitam kini memiliki semburat merah di bagian irisnya. Ia menatap tangannya sendiri yang kini ditutupi oleh rajah terkutuk itu. Kekuatan besar mengalir di nadinya, membuatnya merasa bisa meruntuhkan tembok istana ini hanya dengan satu kepalan tangan.
Ciara melangkah mendekat, ujung belatinya kini diarahkan tepat ke tenggorokan Naomi yang masih berusaha mengatur napas.
"Selamat, Anak Pelayan. Kau telah mendapatkan kembali warisanmu yang hilang. Sekarang, sebagai Penjaga, tugasku adalah memastikan bahwa senjata berbahaya sepertimu tidak akan pernah melihat matahari esok."
"Jangan... sentuh... dia," desis Ares, mencoba bangkit dengan sisa tenaganya, namun ia terlalu lemah.
Naomi mendongak. Ia menatap Ciara bukan lagi dengan ketakutan seorang pelayan, melainkan dengan otoritas seorang ratu yang dikhianati. Saat Ciara mengayunkan belatinya, Naomi hanya mengangkat tangan kirinya. Tanpa menyentuh besi perak itu, sebuah gelombang kejut berwarna merah menghantam Ciara hingga ia terlempar menembus pintu balkon, jatuh ke tengah taman gantung yang basah oleh hujan.
"Ares," Naomi berlutut, memeluk tubuh pangeran yang kini tak lagi berdaya itu. "Maafkan aku. Aku harus melakukan ini."
"Kau... kau melakukannya, Naomi," bisik Ares sambil menyentuh wajah Naomi dengan tangan yang gemetar. "Kau menyelamatkanku... tapi dengan harga yang terlalu mahal."
"Aku tidak peduli," sahut Naomi tegas, air mata merah mengalir di pipinya. "Jika dunia ini menginginkanku menjadi senjata, maka aku akan menjadi senjata yang paling mematikan bagi siapapun yang mencoba memisahkan kita lagi."
Di bawah sana, alarm istana mulai berbunyi. Langkah kaki para pengawal terdengar mendekat. Rahasia itu telah terungkap sepenuhnya. Pangeran yang mereka puja kini hanyalah manusia biasa, sementara gadis pelayan yang mereka remehkan telah berubah menjadi entitas yang paling ditakuti dalam sejarah Kerajaan Sanjaya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.