Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
"masih mau keras kepala?" Tanya Zian kembali saat melihat Amira hanya diam termenung. Yah, tentu nya gadis itu tengah memikirkan bagaimana dia bisa bayar rumah sakit kelas VIP ini, tabungan nya bisa-bisa habis hanya untuk bayar rumah sakit. sudah dipecat bayar rumah sakit pula nanti dia akan makan apa.
Cukup lama termenung akhirnya Amira memutuskan untuk menuruti ucapan Zian, lagipula tidak ada ruginya juga.
"Baiklah saya turuti ucapan bapak, tapi beneran kan gaji saya gak akan dipotong?"
"Iyah tidak akan.... bila perlu saya naikan gajimu, sekalian."
"Serius pak." Amira senang, yah tentu saja. siapa coba yang gak senang gajinya naik. Apalagi hidup di era sekarang yang apa-apa serba mahal, gaji satu koma lima mana cukup untuk satu bulan. ditambah harus bayar kontrakan, kebutuhan rumah dan makan sehari-hari. Belum satu bulan saja rasanya sudah membuat Amira ngap karena harus berfikir bagaimana mengirit sampai gajian lagi. "Kalau boleh mau dinaikin berapa pak?" Tanya Amira dengan semangat.
Astaga, masalah uang saja dia semangat sekali. Maklum sejak kecil Amira hidup sederhana dan serba kekurangan jadi ketika mendengar uang dia begitu antusias tapi tenang saja, Amira bukan perempuan matre yang gila uang. hanya sekedar antusias saja.
"Memang nya mau dinaikin berapa?ehm"
"Serius nih pak bisa request?"
"Ehm, mau berapa 2x lipat, 4x lipat atau 5x lipat"
"2x lipat aja pak " jawab Amira tersenyum.
Senyum manis Amira tanpa sadar membuat sudut bibir Zian terangkat. Ini pertama kali dia melihat senyuman Amira, ternyata gadis ini memiliki senyum yang manis bahkan membuat seorang Zian sampai terbelenggu saat melihatnya tersenyum.
"Hanya 2x lipat? " ucap Zian memastikan ucapan Amira kembali, lalu dengan cepat disambut anggukan kecil dari Amira.
"Segitu aja pak sudah cukup kok,"
Zian mengangguk dia mengambilnya kembali mangkuk berisi bubur yang dia taruh sebelum di atas nakas
"Tapi dengan satu syarat berhenti panggil saya bapak karena saya belum setua itu! "Protes Zian sembari menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Amira.
"Tapi kan pak saya menghargai bapak sebagai boss makanya saya panggil _bapak_" jawab Amira lalu melahap sodoran bubur itu.
"Saya mengerti tapi sekarang kamu istri saya masa mau panggil saya _bapak_ gimana nanti orang yang dengar dikira saya bapak kamu lagi!"
"kalau saya gak panggil bapak terus saya panggilnya apa?"
"Itu seterah kamu, senyaman nya kamu mau panggil apa,"
Satu kata yang paling Amira benci _seterah_ mendengar kata itu sungguh membuat Amira kesal. Pasalnya Amira adalah orang yang simpel dan saset jadi dia tak suka harus bermain kata seperti itu yang nantinya jika dijawab justru bukan jawabannya. "Kalau begitu saya tetap panggil bapak, itu sudah paling nyaman bagi saya" jawab Amira. Simpel dan to the point.
Zian menghela nafas maksud nya memelang senyaman nya tapi gak harus bapak lagi juga, benar-benar baru dua hari bersama gadis saja sudah membuat Zian hampir naik darah.
"Gini aja kalau dikontar kamu panggil saya bapak tapi kalau ditempat umum panggil nama aja, Zian. Gimana?"
"Gak sopan pak, bapak kan lebih tua dari saya umurnya?" Jawab Amira yang kali ini sungguh membuat Zian naik tensi, dia bahkan meletakan mangkuk bubur itu kembali ke atas nakas.
Apa katanya tua? memangnya umurnya berapa berani sekali mengatai nya tua.Jelas Zian tak terima selama ini tidak ada yang bilang dia tua bahkan para wanita-wanita diluar sana sangat mengagumi ketampanan dari wajah super baby face nya ini.
"Kenapa pak?" Tanya polos Amira seolah tak sadar apa yang baru dikatakan nya itu membuat Zian kesal.
Zian tak menjawab ucapan Amira dia mengambil beberapa berkas diatas nakas lalu ke meja resepsionis untuk membayar tagihan rumah sakit, setelah selesai dia kembali dan mengajak Amira pulang.
"Saya sudah boleh pulang pak?" Tanya Amira lagi tapi Zian tak menjawab, hanya membalasnya dengan sebuah anggukan.
Selama perjalanan Amira maupun Zian sama terdiam. Amira terus melihat kearah luar jendela, dia memikirkan apa yang telah terjadi padanya, apa keputusan untuk menikah ini benar atau tidak, tapi jika melihat Zian dia sangat bertanggung jawab dan perhatian tapi ada kalanya pria itu juga membuat nya kesal seperti sekarang, entah mengapa tiba-tiba dia terdiam diam seribu bahasa, ucapan Amira tidak ada yang dijawab satupun.
"Mas..."panggil Amira.
Zian menoleh, lalu mengerutkan dahinya.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Zian memastikan apa yang didengarnya itu tak salah.
"Mas ...saya panggil bapak dengan itu saja, apa tidak masalah?"
Tadinya Amira bingung ingin memanggil nya dengan sebutan apa. Hendak dipanggil _abi_ juga tidak cocok jatuh nya malah geli, dipanggil AA juga tidak begitu cocok dengan tampang Zian. Alhasil hanya kata Mas aja yang sedikit cocok setidaknya kata Mas, tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda.
"Terdengar lumayan, yasudah pake saja yang itu. Ucap Zian berpura-pura cool padahal hatinya sudah ingin meledak karena Amira memangil nya dengan sebutan Mas, tapi yang jelas pria itu perlahan tersenyum tipis.
Diluar dugaan ternyata pria itu menyukai nya, Amira pikir Zian tidak akan suka atau menolak tapi saat melihat ekspresi nya yang tersenyum tipis-tipis seperti nya dia menyukainya.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care