maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Cade melompat naik ke atas pelana kuda abu-abu besarnya dengan satu gerakan yang teratur dan penuh tenaga, tanpa melepaskan dekapannya pada tubuh Maizy. Sifatnya yang dominan membuat dia memposisikan Maizy duduk di depannya, terkunci rapat di antara kedua lengan kekarnya yang memegang tali kekang kuda.
Gaun biru dongker milik Maizy yang megah kini tersampir berantakan di sisi perut kuda, sementara furing tebalnya terasa mengganjal di antara mereka. Posisi yang sangat dekat ini membuat Maizy bisa merasakan embusan napas dingin Cade di puncak kepalanya, berbaur dengan aroma samar minyak pelumas zirah dan kulit yang maskulin.
"Diamlah jika kau tidak ingin patah leher saat kuda ini berlari," bisik Cade dengan nada rendah yang dingin tepat di dekat telinga Maizy. Nada suaranya tidak mengandung ancaman kosong, melainkan sebuah peringatan mutlak yang tidak menerima bantahan.
Maizy mencengkeram pinggiran pelana dengan tangan gemetaran, wajahnya masih merona merah antara kesal dan sisa-sisa syok. Sifat tidak enakannya benar-benar menguap, digantikan oleh rasa dongkol yang luar biasa pada komandan berambut pendek ini. Dia melirik ke belakang melalui sudut matanya, menemukan Frederick yang mengendarai kuda hitamnya di sisi kanan mereka. Frederick menatapnya dengan pandangan abu-abu yang begitu intens—sarat akan rasa bersalah, protektif, sekaligus luka mendalam karena diabaikan oleh wanita yang dicintainya.
Hiaah!
Cade menghentakkan kakinya pada perut kuda, dan seketika hewan besar itu meringkik nyaring sebelum melesat membelah kabut hutan yang semakin pekat. Kecepatan kuda yang tinggi membuat angin dingin rimba langsung menerpa wajah Maizy, menerbangkan rambut cokelat pendeknya yang berantakan.
Di belakang mereka, belasan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Frederick langsung berderap kompak, menciptakan gema suara gemuruh yang menggetarkan lantai hutan purba tersebut. Maizy hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya dibawa pergi entah kemana oleh dua komandan asing ini, meninggalkan segala misteri dunia modernnya yang kini terasa semakin jauh di belakang.
"TOLONG! Siapa saja, tolong!! Aku diculik! Lepaskan aku, dasar cowok mesum gila!"
Suara Maizy melengking memecah gemuruh derap kaki kuda, bersahut-sahutan dengan angin kencang hutan yang menerpa wajahnya. Sifat ENFJ-nya yang biasanya mengutamakan kedamaian kini benar-benar digantikan oleh mode panik total. Tangannya tidak tinggal diam; dia terus meronta, menyikut zirah dada Cade, dan berusaha menggeser bobot gaun sutra birunya yang berat agar bisa merosot turun dari pelana.
"Diam, Maizy," gerutu Cade, suaranya terdengar berat dan tertahan di dekat tengkuk Maizy. Kedua lengan kekarnya semakin merapat, mengunci tubuh gadis itu layaknya sabuk besi di atas pelana.
"Tidak mau! Tolong!! Paman Michael!! Rachel!! Siapa saja tolong—mphhh!"
Cade yang tingkat kesabarannya sudah menyentuh batas terbawah langsung mendengus gusar. Sifatnya yang semaunya sendiri dan anti-drama membuatnya kehilangan respek pada status Maizy sebagai nona bangsawan saat ini. Dengan satu gerakan cepat, tangan kirinya yang dibalut sarung tangan kulit hitam langsung naik, membekap mulut Maizy dengan kasar hingga pekikan gadis itu tertelan kembali.
"Kukatan diam, Nona Muda," desis Cade, mata cokelat kemerahannya berkilat tajam penuh kekesalan saat dia menundukkan kepala untuk menatap Maizy yang sedang mendelik marah di bawah bekapannya. "Suaramu yang melengking itu bisa memancing binatang buas atau lebih buruk, mengundang musuh patroli perbatasan. Jika kau berteriak 'tolong' sekali lagi, bersumpah demi langit, aku akan mengikatmu terbalik di belakang pelana kuda ini seperti karung gandum. Paham?"
Bekapan tangan Cade yang besar dan beraroma kulit tua itu begitu kuat, membuat Maizy kesulitan bernapas hingga kacamata cadangannya agak bergeser miring.
Di sisi kanan mereka, Frederick yang melihat tindakan kasar Cade langsung memacu kuda hitamnya lebih dekat. Manik mata abu-abunya menatap Cade dengan pandangan menghunus yang sangat dingin. "Cade, longgarkan tanganmu! Kau bisa membuatnya tercekik!" seru Frederick lantang, nada suaranya kembali meninggi demi membela Maizy, meskipun dia sendiri tahu mereka harus tetap melaju cepat tanpa gangguan.
Bekapan tangan Cade yang kaku akhirnya terlepas dengan sentakan kasar setelah mereka berhasil menembus batas terluar hutan pinus. Di hadapan mereka, sebuah jalan setapak berbatu yang lebih rapi membentang di tengah padang rumput gersang. Dan di sana, sudah menunggu sebuah kereta kuda komando militer yang tampak kokoh—terbuat dari kayu ek hitam tebal berlapis pelindung besi dengan lambang elang emas di dindingnya.
Creeek!
Kuda abu-abu Cade berhenti mendadak tepat di samping pintu kereta. Tanpa membuang waktu untuk bersikap lembut, Cade langsung membuka pintu kayu yang berat itu dengan satu tangan, lalu menurunkan tubuh Maizy dari atas pelana dan mendorongnya masuk ke dalam kabin kereta dengan paksa.
"Masuk ke dalam. Setidaknya di sana suaramu yang berisik itu tidak akan mengganggu telingaku," gerutu Cade ketus sambil membanting pintu kereta hingga tertutup rapat dari luar. BLAM!
Maizy terhuyung ke depan, jatuh terduduk di atas kursi beludru empuk berwarna merah tua di dalam kabin yang remang-remang. Gaun sutra birunya yang megah kini mengembang berantakan, memenuhi hampir separuh ruangan kereta yang sempit namun berbau harum kayu gaharu dan kulit mahal.
Klothak-klothak!
Kereta kuda itu langsung tersentak maju dengan kecepatan tinggi begitu kusir di depan mencambuk kudanya. Maizy buru-buru membetulkan letak kacamatanya yang miring, lalu menempelkan wajahnya ke jendela kecil berjeruji besi untuk melihat ke luar.
Di sisi luar jendela, Frederick Aldrich memacu kuda hitam besarnya agar sejajar dengan laju kereta. Di bawah terpaan angin padang rumput, poni rambut wolfcut -nya berkibar berantakan. Mata abu-abunya yang tajam menatap lurus ke arah Maizy di balik kaca jeruji—tatapan yang kini tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat sangat, kepedihan karena dilupakan, namun sekaligus memancarkan janji protektif yang mutlak bahwa dia akan tetap menjaga Maizy dari kejauhan sepanjang perjalanan menuju istana.