dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Lelaki Yang Tidak Tahu Cara Menyerah
Pagi itu hujan turun dengan tipis membuat langit kota tampak muram tertutup awan abu-abu yang menggantung rendah seolah memberikan cahaya lebih banyak, pada hari yang sudah terasa melelahkan bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Seperti biasa di Rumah Sakit Bintang Medika tidak pernah benar-benar tidur, lorong rumah sakit yang dipenuhi langkah cepat para tenaga medis, suara roda brankar terdengar bersahutan. Aroma antiseptik bercampur kopi pahit memenuhi udara dilantai tiga.
Di balik pintu ruang praktik yang tertutup rapih dr. Nayla Azzura sedang berdiri sambil memijat tengkuknya pelan, rasa lelah setelah dua belas jam sejak ia benar-benar beristirahat. Dua pasien rawat inap tengah malam dan satu operasi dadakan tidak lupa tiga jam tidur yang bahkan tidak terasa seperti tidur.
Namun anehnya yang membuat kepalanya saat ini terasa paling penuh justru sesuatu yang sangat tidak masuk akal, seseorang yang terlalu sering mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
Arsen Mahardika pria keras kepala terlalu banyak bicara dan terlalu hangat, Nayla langsung mendecih kecil pada dirinya sendiri.
" Apaan sih..." monolog Nayla.
Tangannya Koko bergerak membuka laptop di meja, mencoba fokus pada laporan medis dan melupakan satu nama yang terlalu sering muncul di kepalanya.
Tok... Tok... Tok
" Masuk" ucap Nayla ketika ketukan pintu terdengar.
Pintu terbuka setelah Nayla mengizinkan untuk masuk, dan tanpa perlu mengangkat kepala Nayla seolah sudah mengetahui siapa orang yang datang.
" Selamat Pagi, dokter galak" suara itu dengan nada santainya, bahkan cara dia bicara selalu terdengar terlalu nyaman.
" Kenapa Anda lagi?" ucap Nayla yang langsung menghela nafasnya panjang.
Arsen berdiri didepan pintu dengan senyum kecil yang entah kenapa selalu terlihat santai, hari ini laki-laki itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan tergulung sampai siku. Perban di tangannya masih ada tapi wajahnya terlihat jauh lebih segar, bahkan bisa dikatakan terlalu segar untuk ukuran pasien.
" Saya mau kontrol, dok"
" Lagi? Setiap hari?" Nayla seperti bingung dan habis kata.
" Rajin kan, saya?" dengan penuh percaya diri Arsen tersenyum.
" Untuk ukuran orang sehat, mungkin" Nayla menatap datar.
" Ya Tuhan perempuan ini... Benar-benar berbeda dari cara bicaranya yang dingin benar-benar tidak berubah. Tapi kenapa semakin dia dingin semakin aku tidak ingin jauh darinya, aneh banget..."
" Duduk ..." Nada Nayla terdengar profesional.
Arsen langsung menurut tanpa banyak bicara, untuk beberapa detik ruangan terasa bening hanya suara ketikan keyboard dan hujan yang samar dari luar jendela.
" Masih sakit?" Nayla mulai memeriksa kondisi tangannya.
" Tadinya sakit tapi kalau disentuh dokter enggak" jawab Arsen ringan.
Nayla berhenti dengan tatapan yang langsung naik menatap wajah Arsen dengan dingin dan tajam.
" Aahhh... oke...oke bercanda aja, dok" Arsen refleks mengangkat kedua tangannya.
" Kalau mau sembuh cepat, berhenti banyak bicara"
" Kalau berhenti bicara, nanti dokter kangen gimana?" Arsen tidak habis cara.
Satu detik ... Tiga detik... Lima detik... Sunyi sampai akhirnya Nayla langsung kembali fokus pada map pasien, tidak meladeni ucapan Arsen sama sekali. Namun sialnya, sudut bibir Nayla nyaris bergerak dan Arsen menangkap itu.
" Waahhhh... Lihat dokter hampir tersenyum" ucap Arsen.
" Halusinasi..."
Arsen tertawa kecil dan untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu terakhir, Nayla menyadari satu hal kecil yang sangat menggangu. Ternyata, ia mulai terbiasa dengan suara tawa laki-laki itu, mulai hafal cara bicaranya, dan mulai hafal bagaimana tubuh laki-laki itu selalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke kanan saat duduk.
Dan yang paling menyebalkan adalah ia mulai bisa menebak kapan Arsen sedang menggoda dirinya dan kapan serius.... Sangat berbahaya.
" Jadi... kapan dokter libur?" Arsen kembali membuka suara.
" Apa hubungannya?" Nayla langsung menghentikan jemarinya yang sedang mencatat.
" Pengen ngajak makan bareng"
" Tidak mau" jawaban Nayla begitu cepat, tegas, tanpa ragu.
" Kalau kopi?" Arsen seolah tidak kecewa dengan penolakan pertama.
" Tidak"
" Makan malam?"
" Tidak, Pak Arsen cukup fokus sama sama kesembuhan" jawab Nayla yang lelah dengan pertanyaan Arsen.
Arsen justru tertawa mendengar ucapan Nayla, sulit bahkan cukup sulit tapi bukan berarti mustahil.
" dokter umur berapa?" Arsen beberapa detik menatap wajah Nayla seolah tengah mencari obrolan lain.
" Kenapa tanya begitu?" Nayla mengernyitkan keningnya.
" Penasaran aja" Arsen terkekeh.
" Tidak penting..."
" Tapi buat saya itu penting, dok" Arsen sepertinya kali ini tidak ingin menyerah.
" 31" Nayla menghela nafasnya kecil.
" Ohhhh..." Arsen mengangguk kecil memperlihatkan ekspresi yang terlalu biasa.
" Kenapa? Ekspresi Anda aneh" sepertinya ekspresi Arsen mengganggu Nayla.
" Cuma lebih tua tiga tahun" Arsen terkekeh kecil.
Kalimat itu yang baling Nayla benci, " Lebih tua" dadanya langsung terasa sedikit sesak, karena jauh didalam dirinya selalu ada rasa ketakutan kecil. Laki-laki lebih muda biasanya hanya tertarik sebentar setelah itu pergi, mencari perempuan yang lebih muda, lebih mudah, lebih sederhana, dan Nayla terlalu lelah untuk berharap karena biasanya berakhir kecewa.
" Kalau sudah selesai, silahkan keluar " Nada suara Nayla berubah menjadi lebih dingin, dan lebih jauh.
" dokter marah? Seperti ada yang berubah" Arsen langsung menyadari.
" Tidak, dan pemeriksaan sudah selesai silahkan keluar" Nayla menutup map dengan cepat.
Jelas... Tembok itu kembali naik lagi, lebih besar yang selalu Nayla bangun saat mulai merasa tidak nyaman. Dan entah kenapa Arsen tidak suka melihatnyaz tidak suka melihat perempuan itu selalu buru-buru menjauh.
" dok, kalau lebih tua tiga tahun emangnya kenapa?" dengan suara lebih pelan dan serius Arsen kembali berusaha.
Hening...
Hujan diluar terdengar lebih jelas membuat tatapan Nayla sedikit berubah, ada sesuatu disana sebuah keraguan, ketakutan, dan sesuatu yang terlalu dalam untuk disebut "luka".
" Banyak yang berubah, cara berpikir, ekpektasi, dan laki-laki biasanya suka yang lebih muda" Nayla menjawab pelan dan hati-hati.
Arsen terdiam sesaat lali untuk pertama kalinya senyumnya berubah menjadi lebih lembut dan lebih serius.
" Kalau saya sukanya dokter, gimana?" tatapannya kurus ke arah Nayla.
Jantung Nayla mendadak berdetak aneh, lebih cepat, tidak nyaman, terlalu dekat, terlalu tulus, dan justru itu menakutkan karena Nayla tahu hal seperti ini tidak pernah bertahan lama.
Nayla pernah melihat sendiri bagaimana cinta bisa menghancurkan rumah, bagaimana seseorang bisa pergi setelah berjanji akan tinggal, dan bagaimana ibunya memilih orang lain dan bagaimana ayahnya hancur perlama karena "cinta" selalu berakhir menyakitkan.
" Pak arsen, jangan biasakan perhatian ke saya... Karena jujur saya tidak tertarik" ucapan Nayla seperti sebuah penolakan namun ada sesuatu yang rapuh dibaliknya.
Bohong... untuk pertama kalinya Nayla membenci dirinya sendiri karena berbohong. Sebab masalahnya buka karena tidak tertarik, tapi karena Nayla takut terlalu nyaman, takut berharap, dan takut ditinggalkan.
" Kalau dokter tidak tertarik sekarang, izinkan saya untuk usaha dulu" Arsen berdiri perlahan merapihkan kemejanya lalu tersenyum kecil.
Arsen tidak mundur, tidak tersinggung dan tidak menyerah.
Dan entah kenapa untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, sesuatu dihati Nayla terasa goyah sedikit saja, namun cukup untuk membuat dirinya takut.