NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECURIGAAN KAI YANG MEMUNCAK

Sinar matahari sore yang jernih menyembur masuk melalui jendela kaca besar ruang OSIS, menciptakan garis-garis cahaya panjang yang membelah tumpukan dokumen di atas meja kerja. Suasana sekolah sudah sangat sepi pasca berakhirnya euforia Festival Budaya kemarin. Namun, keheningan di lantai tiga gedung utama ini terasa berbeda—keheningan yang sarat akan ketegangan, seperti seutas senar gitar yang ditarik terlalu kencang dan siap putus kapan saja.

Rina melangkah masuk ke dalam ruang OSIS setelah menyelesaikan rapat evaluasi akhir bersama Pak Raditya. Dia berniat mengambil binder administrasinya yang tertinggal di meja tengah. Namun, begitu pintu kayu jati digeser terbuka, langkah kaki Rina mendadak terhenti.

Di ujung ruangan, berdiri Kai Mahardika.

Pemuda itu tidak sedang duduk santai di sofa kulitnya seperti biasa. Kai berdiri membelakangi jendela, menatap ke arah meja kerja utamanya dengan kedua tangan yang merasuk ke dalam saku celana. Setelan seragamnya terpasang rapi, namun aura yang dipancarkannya sore ini begitu pekat, dingin, dan sarat akan intimidasi yang menekan udara ruangan hingga terasa pengap.

Di atas meja kayu jati yang luas itu, tergeletak sebuah map kulit berwarna cokelat gelap yang sedikit terbuka. Jantung Rina melewatkan satu detakan ketika mengenali map tersebut. Itu adalah map rahasia miliknya yang dia simpan di bagian terbawah loker meja OSIS—berkas penyelidikan independen yang dia susun bersama Andi mengenai struktur keuangan makro dan data manipulasi pajak milik Mahardika Group, perusahaan real estat raksasa kepunyaan ayah Kai, Hendra Mahardika.

Kai membalikkan badannya perlahan. Gerakannya begitu konstan, tanpa ekspresi. Sepasang mata obsidian miliknya menatap Rina dengan intensitas yang sangat tajam, mengunci pandangan gadis itu dalam keheningan yang mematikan.

"Aku selalu mengagumi kecerdasanmu, Rina Azalea," ucap Kai. Suaranya yang bariton rendah terdengar sangat tenang, namun memiliki gema dingin yang menembus hingga ke tulang. "Sejak hari pertama semester ini, caramu bergerak, caramu menjatuhkan Sherly, hingga taktikmu menghancurkan finansial keluarga Kevin menggunakan proposal palsu... semuanya adalah mahakarya strategi yang sangat bersih."

Kai melangkah maju dua langkah, mendekati meja kerja. Dia mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana, lalu mengetuk permukaan map cokelat itu dengan ujung jarinya yang bersih. Bunyi ketukan itu terdengar begitu nyaring di dalam ruangan yang sunyi.

"Tapi ini..." Kai menjeda kalimatnya, matanya menyipit penuh dengan rasa kecewa yang mendalam sekaligus amarah yang tertahan. "Data audit internal, rekayasa nomor rekening cangkang di Swiss, hingga draf penyuapan pejabat tata ruang wilayah yang dilakukan oleh ayahku... ini bukan lagi konsumsi anak SMA yang sedang bermain politik sekolah. Data ini terlalu valid. Bahkan divisi intelijen hukum negara pun butuh waktu berbulan-bulan untuk menyusun berkas sebersih ini."

Kai mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam manik mata Rina dengan binar yang membeku. "Katakan sejujurnya padaku, Rina. Apakah selama ini kamu mendekatiku, berpura-pura menjadi sekutuku di OSIS, hanya untuk menjadikanku sebagai jembatan akses guna meretas data rahasia ayahku? Apakah aku hanya salah satu pion di dalam papan catur balas dendam bisnismu?"

Pertanyaan Kai terasa seperti sebuah hantaman gada besi tidak terlihat yang menghujam dada Rina. Untuk pertama kalinya sejak dia melakukan regresi ke masa lalu, Rina merasakan sebuah cubitan rasa sakit yang nyata di hatinya. Jiwa dewasanya yang berusia dua puluh delapan tahun, yang biasanya selalu skeptis dan dingin terhadap hubungan antarmanusia, mendadak merasa terusik melihat gumpalan luka dan rasa dikhianati yang terpancar dari sepasang mata pemuda di depannya.

Kai adalah satu-satunya orang di kehidupan kedua ini yang mengulurkan tangan secara tulus melindunginya tanpa meminta imbalan apa pun. Dan melihat pemuda itu mengira bahwa ketulusannya telah dimanfaatkan, membuat Rina tidak bisa tinggal diam.

Rina menarik napas panjang, melangkah maju menghadapi Kai tanpa ada setitik pun riak kepanikan di wajah cantiknya. Dia meluruskan punggungnya, menatap balik Kai dengan sepasang mata bulat hitamnya yang pekat sedalam palung samudera.

"Jika aku mengatakannya demi keuntungan bisnis semata, aku tidak akan sebodoh itu dengan meninggalkan berkas sepenting ini di dalam territory-mu, Kai Mahardika," jawab Rina dengan nada suara yang sangat jernih, mantap, dan sarat akan penekanan yang jujur.

Kai menaikkan sebelah alisnya, rahangnya mengetat. "Lalu apa penjelasanmu tentang berkas kejahatan pajak ini? Kamu sedang memegang leher keluargaku, Rina!"

"Aku tidak sedang menyerang keluargamu, Kai. Aku sedang membangun perisai untuk melindungi diriku... dan melindungi kita berdua," Rina melangkah satu langkah lebih dekat hingga jarak mereka di antara meja kerja hanya tersisa beberapa puluh sentimeter saja. Aroma parfum maskulin beraroma cedarwood yang dingin dari tubuh Kai berbaur dengan ketegangan udara di antara mereka.

Rina melanjutkan kalimatnya dengan artikulasi yang sangat runut. "Apakah kamu tahu siapa yang berdiri di balik perusahaan investasi bayangan yang sedang mendekati perusahaan tekstil ayahku saat ini? Ardiansyah. Sepupu kandungku sendiri. Dan apakah kamu tahu siapa yang mendanai perusahaan cangkang milik Ardiansyah dari balik layar? Ayahmu, Hendra Mahardika."

Mendengar nama ayahnya disebut dalam konteks spionase bisnis makro keluarga Rina, Kai sempat tertegun. Riak keterkejutan melintas di wajah tampannya.

"Ayahmu bekerja sama dengan pengkhianat di dalam keluargaku untuk menjatuhkan nilai saham perusahaan Ayahku secara sistematis, agar mereka bisa menyita sisa lahan komersial kita demi proyek pembangunan jalan tol barunya tahun depan," ungkap Rina, matanya berkilat tajam memancarkan dendam masa depannya yang pekat. "Di kehidupan... di dalam analisis data riset yang aku susun, jika aku tidak memegang kartu as mengenai kejahatan pajak ayahmu, maka dalam waktu enam bulan ke depan, keluargaku akan hancur lebur dan aku akan berakhir sebagai korban tanpa ada kekuatan hukum untuk membela diri."

Rina memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kai dengan binar yang sarat akan ketulusan yang mendalam. "Aku mengumpulkan data ini bukan untuk menghancurkanmu, Kai. Aku tahu seberapa besar kamu membenci sistem manipulasi kotor yang dilakukan oleh ayahmu sendiri. Aku menyimpan berkas ini sebagai senjata pamungkas, agar ketika badai bisnis itu datang, aku bisa memaksa ayahmu mundur tanpa harus melibatkan atau melukaimu. Kamu bukan pion di papan caturku, Kai... kamu adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa bahwa kehidupan di sekolah ini berhak untuk diperjuangkan."

Ruang OSIS itu mendadak diselimuti oleh keheningan yang sangat pekat. Kata-kata Rina yang mengalir dengan kombinasi logika hukum korporat dan kedalaman emosi yang jujur beresonansi dengan sangat kuat di dalam dada Kai. Saraf-saraf di tubuh tegap sang Ketua OSIS yang tadinya menegang perlahan mulai mengendur.

Kai menatap wajah cantik Rina yang berada dalam jarak dekat. Dia mencari kebohongan atau manipulasi di dalam mata hitam pekat gadis itu, namun yang dia temukan hanyalah sebuah ketetapan hati yang sangat kokoh dan kilat perlindungan yang tulus untuk dirinya. Rasa kecewa yang sempat membakar dadanya menguap habis, digantikan oleh sebuah perasaan baru yang jauh lebih intens dan mendalam—sebuah getaran romansa slow-burn yang kini telah mengunci hatinya secara mutlak pada sosok gadis penuh misteri ini.

Kai menurunkan pandangannya ke arah map cokelat di atas meja, lalu mengembuskan napas pendek. Sebuah senyuman tipis, yang kali ini tampak sangat menawan dan tulus, terukir di bibir tampannya. Dia menegakkan kembali tubuhnya, melangkah memutari meja kerja hingga kini berdiri tepat di hadapan Rina tanpa ada pembatas apa pun di antara mereka.

"Kamu benar-benar wanita yang sangat menakutkan, Rina Azalea," desis Kai pelan, suaranya kini melunak, sarat akan intensitas emosi yang dewasa. Dia mengulurkan tangan kanannya, jemarinya yang panjang bergerak halus membetulkan sehelai rambut Rina yang terlepas dari ikatannya, sebelum mengunci tatapannya pada mata gadis itu. "Analisis bisnismu tentang ayahku... sayangnya seratus persen akurat. Dia memang sedang merencanakan perluasan lahan itu menggunakan cara-cara kotor."

Kai menjeda kalimatnya, mempererat jarak di antara mereka hingga Rina bisa merasakan kehangatan napas pemuda itu di kulit wajahnya. "Jika kamu butuh senjata untuk memotong leher politik bisnis ayahku, kamu tidak perlu menyembunyikannya dariku. Aku akan menyerahkan kunci enkripsi data keuangan pribadinya yang selama ini aku simpan sebagai jaminan perlindungan diriku sendiri. Mari kita hancurkan tirani mereka bersama, Partner."

Rina tertegun menatap Kai. Komitmen absolut dan perlindungan yang ditawarkan oleh pemuda ini terasa begitu nyata dan kokoh, menghapus sisa-sisa trauma masa lalunya secara mutlak. Aliansi rahasia di antara Sang Raja dan Sang Ratu Harapan Elite kini tidak lagi digerakkan oleh sekadar kepentingan taktis sekolah, melainkan telah melebur menjadi sebuah ikatan emosional yang sangat kuat dan tak tersentuh oleh siapa pun.

 

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!