NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 06

Tujuan mereka sudah hampir sampai. Jantung Jolina berdetak tidak karuan, rasanya seperti mau copot.

“Ma… please,” rengeknya untuk kesekian kali. “Kirim aku ke luar negeri kek, atau aku ikut nenek di Yogyakarta aja. Atau masukin aku ke sekolah asrama. Apa aja deh.”

“Kamu itu ya,” Mama mendesah. “Ada-ada aja mintanya. Ngurus diri sendiri aja masih berantakan, gimana mama mau ngirim kamu ke nenek, ke asrama, apalagi ke luar negeri? Yang ada kamu malah nyusahin orang lain.”

“Tapi aku nggak siap…” suara Jolina melemah.

“Oke,” kata Mama sambil menepi. “Sudah sampai.”

“Hah?” Jolina refleks menegakkan badan. “Cepet banget?! Bisa muter-muter bentar nggak, Ma? Jalan-jalan kek—”

Mama sudah lebih dulu melepas seatbelt dan turun dari mobil.

“Mama?!” Jolina panik. “Oh my God… gimana ini?”

Dari balik kaca mobil, Jolina melihat Om Mulya menyambut Mama. Mereka berpelukan hangat—lalu berciuman singkat. Mata Jolina langsung melotot, wajahnya memerah.

“Apaan sih… mesra-mesraan tau tempat dong,” gumamnya sambil menutup wajah.

Ia masih bersembunyi di dalam mobil ketika Mama mengetuk kaca jendela, memberi isyarat agar ia keluar.

Dengan napas panjang dan berat, Jolina akhirnya membuka pintu mobil.

Ia menyalami Om Mulya dengan sopan, menunduk sedikit seperti anak baik—meski hatinya berisik luar biasa.

Rumah Om Mulya… bukan, rumah mereka sekarang—sangat besar dan mewah. Taman di halaman depan tertata rapi, hijau dan hidup. Beberapa asisten rumah tangga langsung membantu menurunkan koper dan tas dari bagasi, senyum mereka ramah.

“Ayo, kita masuk,” ajak Om Mulya.

Jolina hanya mengangguk, berjalan di belakang Mama dan Om Mulya, perasaannya campur aduk.

“Oh iya, Jolin,” Om Mulya berhenti sejenak. “Sekarang jangan panggil om lagi ya... Panggil papa ya...

Jolina hanya tersenyum dan mengangguk.

"Oh iya, papa mau kenalin anak papa. Harapannya, semoga kalian bisa akur, ya.”

Jolina refleks memejamkan mata.

Please jangan bocah super nakal. Please jangan bocah nyebelin.

“Kalau dilihat-lihat,” lanjut Om Mulya, “usia kalian cuma beda beberapa bulan. Tapi dia tetap lebih muda dari kamu.”

Apa? Seumuran? batin Jolina.

Mama dan Om Mulya memberi jalan. Jolina menarik napas, lalu perlahan membuka mata.

“Lo?!”

Jolina terperanjat.

Laki-laki yang berdiri di hadapannya menatapnya balik, sama terkejutnya.

“Dia anak mama?” tanya laki-laki itu, menoleh ke Mama.

“Iya,” jawab Mama lembut. “Ini Jolina, anak mama satu-satunya. Kakak kamu.”

“Ma—dia itu—” Jolina tercekat.

“Hai, Kak,” ucap laki-laki itu sambil tersenyum dan menjulurkan tangan. “Salam kenal.”

Jolina terpaku.

Jr?

Adik tiri gue?

Kepala gue mimpi apa sih hari ini?!

“Jolin?” Om Mulya menyentuh lengannya. “Adik kamu mau kenalan.”

“Ah, dia cuma gugup, Mas,” ujar Mama sambil mengangkat tangan Jolina dan menjabatkannya ke tangan laki-laki itu.

“Dia anak Papa Jolin,” kata Om Mulya. “Namanya Jeremy.”

Senyum Jeremy terlihat manis—terlalu manis. Tangannya meremas tangan Jolina cukup kuat, membuat Jolina refleks ingin menarik diri, tapi tak bisa.

“Semoga kalian akur ya,” ujar Om Mulya.

“Lepasin tangan gue…” ucap Jolina kesal.

“Oh, iya. Maaf ya, Kak,” ucap Jeremy sambil tertawa kecil. “Soalnya aku senang banget.”

Raja drama, munafik, batin Jolina.

“Kami tinggal bentar ya,” kata Om Mulya pada mereka. “Kamar Jolin di sebelah kamar Jeremy. Jer, anterin kakak kamu ke kamar, ya.”

“Iya, Pa. Nanti aku antar,” jawab Jeremy ringan.

“Jangan nakal kamu,” pesan Om Mulya.

“Iya, Pa. Aku nggak akan nakal,” sahut Jeremy.

Ia menoleh ke Jolina sambil tersenyum lagi—senyum yang sama sekali tidak terasa ramah.

Bagi Jolina, senyum itu… terlihat menyeramkan.

Jeremy menghentikan langkahnya tepat di depan Jolina, suaranya turun, nyaris berbisik.

“Karena lo pergi gitu aja malam itu, akhirnya takdir malah mempertemuin kita lagi.”

Jolina mendengus. “Gue nggak mau punya adik pembully kayak lo.”

Jeremy mengangkat alis, seolah tersenyum pada ironi. “Suka atau nggak, orang tua kita udah menikah. Artinya sekarang lo kakak gue, dan gue adik lo.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Jadi… lo harus bersikap baik sama gue.”

“Dasar licik,” gumam Jolina.

Jeremy tertawa pendek. “Tenang aja. Gue bakal balas semua yang udah lo lakuin ke gue.”

“Maksud lo apa?” Jolina menatap tajam.

“Lo amnesia?” Jeremy refleks mengulurkan tangan, hendak menyentuh kepala Jolina—namun Jolina sigap menghindar dan menepisnya.

“Jangan sentuh-sentuh gue.”

“Oke, Kakak,” jawab Jeremy ringan, sengaja menekankan kata itu.

“Dan berhenti panggil gue begitu,” Jolina mendesis.

Jeremy hanya tersenyum. Senyum yang membuat Jolina semakin tidak nyaman.

Jolina melangkah ke arah tangga, tapi berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh lagi—rumah sebesar ini, lorong-lorongnya membingungkan.

“Di mana kamar gue?”

Jeremy, yang sejak tadi melipat tangan, terkekeh kecil. Ia menurunkan lengannya, memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu berjalan menghampiri Jolina. Jarak mereka menyempit. Jeremy yang lebih tinggi sedikit menunduk, menatap Jolina dengan mata yang sulit ditebak.

“Pakaian rumah lo…” katanya santai, lalu mengedipkan mata kanan. “Sopan juga.”

Wajah Jolina langsung panas. Ia menahan diri agar tidak membalas dengan kata-kata kasar.

Jeremy berbalik dan menaiki tangga lebih dulu. “Ikut.”

Jolina menyusul dengan langkah cepat, pipinya masih memerah. Di kepalanya, satu harapan berulang-ulang dipanjatkan:

Semoga dia nggak buka mulut soal pakaian konser malam itu.

***

“Tuh, kamar lo.”

Jeremy berhenti di depan sebuah pintu, menunjuk santai.

“Kenapa sih harus samping-sampingan sama lo?” Jolina langsung protes.

Jeremy menoleh, mengangkat bahu. “Kenapa emang?”

“Emang papa lo nggak tau kelakuan anaknya kayak gimana?” nada Jolina meninggi.

Jeremy melangkah mendekat setapak. “Kelakuan gue gimana memangnya?”

Jolina refleks mundur, punggungnya hampir menyentuh dinding. Meski dadanya berdebar, ia berusaha terlihat tenang.

“Lo amnesia, ya?”

Jeremy menyeringai. “Lo kayaknya udah kenal banget sama karakter gue?” Ia memiringkan kepala. “Atau jangan-jangan… Lo Stalker?”

“Hah? Gila lo ya?” Jolina mendengus. “Buat apa gue jadi stalker lo?”

“Bukannya lo fans gue?” Jeremy menatapnya lurus.

“Itu dulu,” jawab Jolina cepat. “Sekarang gue haters lo.”

“Ohh…” Jeremy mengangguk pelan. “Lo haters gue.”

“Iya,” Jolina menegaskan. “Gue Haters Lo nomor satu di dunia ini.”

Jeremy terlihat sama sekali tidak terganggu. “Gue nggak peduli sih.”

“Bagus,” Jolina tersenyum sinis. “Karena gue bakal hancurin karier lo. Biar seluruh dunia tau kelakuan jelek lo sama fans.”

Emosi memuncak, Jolina mendorong dada Jeremy dengan kedua telapak tangannya.

“Minggir lo dari hadapan gue.”

Jeremy bergeming. Ia hanya menurunkan pandangan ke tangan Jolina yang menempel di dadanya, lalu kembali tersenyum.

“Dan inget,” Jolina menunjuknya tajam. “Awas kalau lo berani ganggu gue. Gue bakal balas lebih dari apa yang udah lo lakuin ke gue.”

“Oke,” jawab Jeremy singkat.

Senyum itu lagi. Senyum yang membuat darah Jolina mendidih.

“Awas juga kalau lo ngintip-ngintip gue!” bentak Jolina.

“Oke,” Jeremy mengangguk santai. “Ada lagi?”

Jolina makin kesal. Ia menunjuk-nunjuk Jeremy dengan jari telunjuk, lalu berbalik membuka pintu kamarnya.

Klik.

Pintu tak bergerak.

Ia mendorong sekali lagi. Tetap terkunci.

Wajah Jolina langsung memerah. Pelan-pelan ia berbalik menatap Jeremy.

“Ini… kenapa nggak bisa dibuka?”

Jeremy mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya, memainkannya di udara. “Oh, ini.”

“Kasih dari tadi kek!” gerutu Jolina.

Dengan kesal, Jolina merampas kunci itu, membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya keras-keras di belakangnya—menyisakan Jeremy di luar dengan senyum kecil yang tak kunjung hilang.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!