NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amira dipecat

Hari ini tepat satu tahun Amira dan Farhan saling mengenal. Mereka sudah cukup dekat dan bisa dikatakan seperti sepasang kekasih, meskipun belum ada pernyataan cinta yang diucapkan oleh Farhan.

Beberapa hari lalu, kedua adik kembar Amira dirawat di rumah sakit karena sakit tifus. Bukan hanya satu, tapi keduanya terkena penyakit itu. Amira terpaksa mengambil cuti kerja selama lebih dari satu minggu untuk merawat dan mengurus adiknya. Kali ini, ujian yang dihadapi Amira terasa cukup berat. Karena tidak memiliki asuransi kesehatan untuk kedua adiknya, Amira terpaksa menggadaikan rumahnya pada tetangga yang dikenal sangat dermawan. Meski rumah itu sudah digadaikan, mereka masih diizinkan untuk tetap tinggal di sana.

Pagi ini, Amira menerima telepon dari tempat kerjanya . Namun, yang didengarnya bukanlah kabar baik, melainkan keputusan bahwa amirq diberhentikan karena dianggap melalaikan tanggung jawab pekerjaan. Tidak ada pesangon atau hak lain yang diberikan Amira hanya menerima bayaran upah harian sesuai jumlah hari dia masuk kerja.

“Amira, maaf sekali. Sesuai dengan peraturan perusahaan, kami tidak dapat lagi mempekerjakan kamu. Dengan sangat menyesal, kami harus memberhentikanmu. Kamu bisa datang ke kantor untuk mengambil sisa upah dan barang-barang yang ada di loker. Sekali lagi, saya mohon maaf ya.”

Amira tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Air matanya jatuh begitu saja, dengan rasa sesak di dada. Ujian hidup datang bertubi-tubi, padahal hatinya belum siap menerima semuanya.

“Baik, Bu,” jawabnya pelan.

Selama lebih dari satu minggu ini, Farhan sama sekali belum bertemu dengan Amira. Amira juga nggak pernah memberi kabar atau menceritakan situasi sulit yang lagi dihadapi saat ini. Sementara itu, Farhan sedang sibuk mengurus proyek di luar kota. Saking sibuknya, bertanya kabar Amira aja sempat lupa bahkan keluarga sendiri pun sempat ia abaikan.

 

“Hari ini kondisi aku dan ammar udah jauh lebih baik, Kak. Kalau Kakak mau pergi kerja, nggak apa-apa kok,” ucap Amara, yang disetujui langsung oleh Ammar.

Amira hanya diam dan tidak menjawab apa-apa. Melihat sikap kakaknya, kedua adiknya saling melirik dengan perasaan penuh curiga dan cemas.

“Kakak ada masalah, ya? Boleh kita tau apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ammar hati-hati.

Amira membalas pertanyaan itu dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Kakak nggak akan pernah menyembunyikan apa pun dari kalian. Tapi, bukan berarti semua hal harus jadi beban pikiran kalian. Cukup doakan saja, supaya Kakak bisa melewati semua ini dengan baik.”

Keduanya semakin bingung mendengar ucapan kakaknya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

“Kita nggak ngerti maksud Kakak. Tolong kasih tau kita berdua, ada apa sebenarnya?” pinta Amara dan Ammar bersamaan.

Amira menarik napas panjang dan dalam, sebelum akhirnya menceritakan semuanya dengan jujur.

“Kakak udah nggak kerja lagi. Perusahaan memutuskan hubungan kerja karena dianggap melalaikan tanggung jawab. Selain itu, rumah ini juga udah Kakak gadaikan sama Pak Malik seharga dua puluh juta rupiah, untuk biaya pengobatan kalian berdua di rumah sakit. Ke depannya, Kakak udah urus jaminan kesehatan buat kalian, agar kita lebih siap kalau musibah serupa terjadi lagi di masa depan.”

Mendengar ucapan kakaknya, raut wajah Amara dan Ammar langsung berubah drastis. Hati mereka terasa perih, penuh rasa sedih dan rasa bersalah.

“Kak, maafin kita…” ucap keduanya secara bersamaan.

Amira menggeleng pelan sambil tetap tersenyum lembut.

“Kan udah Kakak bilang, ini sama sekali bukan salah kalian. Kalian adalah alasan hidup Kakak, yang akan selalu Kakak perjuangkan bahkan dengan nyawa sekalipun. Kakak cuma punya kalian berdua di dunia ini. Mungkin satu-satunya alasan mengapa Kakak masih tetap kuat menjalani hidup yang berat ini adalah karena keberadaan kalian. Jadi, Kakak berharap kalian berdua selalu sehat dan baik-baik saja.”

Tanpa pikir panjang, keduanya langsung menghampiri Amira dan menangis dalam pelukan kakaknya. Kata-kata yang baru saja diucapkan Amira membuat hati mereka bergetar, dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik, belajar dengan giat, dan bisa membanggakan Amira.

“Maafkan kita berdua, dan terima kasih… terima kasih sudah menjadi kakak terbaik bagi aku dan amara,” ucap mereka serentak.

Amira memeluk erat kedua adiknya, lalu mengecup lembut kepala Ammar dan Amara dengan penuh kasih sayang.

**

Pukul 9 pagi, Amira datang ke kantor untuk mengurus surat pemutusan kontrak kerja sekaligus berpamitan dengan teman-teman yang sudah bekerja bersamanya selama beberapa tahun.

"Bu Wiwid, saya pamit ya. Maaf jika selama hampir empat tahun ini saya banyak menyusahkan Ibu. Terima kasih ya, sudah banyak sekali membantu saya," ucap Amira pada Bu Wiwid, salah satu pekerja senior.

Bu Wiwid tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Amira.

"Maafkan Ibu ya, karena tidak bisa membantumu agar tetap bekerja di sini. Ibu sudah berusaha menjelaskan keadaanmu pada pihak manajemen, tapi mereka tetap beralasan kamu sudah melanggar isi kontrak kerja. Jadi, Ibu benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Bu Wiwid dengan nada penuh penyesalan.

Amira tersenyum penuh haru. Selama bekerja di tempat ini, Bu Wiwid memang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.

"Ini sama sekali bukan salah Ibu. Memang mungkin rezeki saya di sini cukup sampai di sini aja. Doakan saya ya, semoga nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Ibu jaga kesehatan ya, jangan lupakan saya. Nanti saya akan mampir ke rumah Ibu," jawab Amira.

Bu Wiwid mengangguk pelan, lalu memeluk Amira erat seolah berat rasanya melepaskan kepergian gadis itu.

Amira juga berpamitan dengan rekan kerja lainnya, namun tidak dengan Farhan. Meskipun sempat melihat Farhan keluar dari mobil dan masuk ke gedung kantor, ia sama sekali tidak berniat menyapa atau sekadar bertegur sapa. Amira bertekad untuk tidak terlalu berharap banyak pada hubungan pertemanan antara kalangan atas dan bawahan seperti mereka. Menjaga jarak rasanya jauh lebih baik, supaya ia tidak merasa kecewa di kemudian hari.

Pukul 11 siang, mendekati waktu istirahat makan siang, Amira pun meninggalkan kantor tempatnya bekerja selama ini. Meski berat hati, ia harus tetap menerima kenyataan.

Tepat saat jam makan siang, bagian dapur menerima telepon dari lantai atas, ruangan Farhan. Ia meminta dibawakan kopi racikan seperti biasanya. Selama ini, jika Farhan menyebutkan permintaan itu, semua staf sudah paham siapa yang akan membuatkannya. Tentu saja Amira yang akan datang mengantarkannya. Namun, saat petugas OB masuk ke ruangannya, yang datang bukanlah Amira, melainkan petugas lain.

Farhan yang sedang sibuk memeriksa berkas dan dokumen, menoleh sejenak ke arah petugas yang membawa nampan berisi kopi itu.

"Kok kamu? Kemana Amira?" tanya Farhan dengan nada bingung.

"Maaf, Pak. Amira sudah tidak bekerja di sini lagi," jawab petugas itu pelan.

Farhan mengernyitkan dahi, penuh kebingungan. "Kenapa?"

"Saya kurang tahu penyebab pastinya, Pak. Tapi menurut informasi yang saya dengar, Amira diberhentikan karena dianggap melanggar kontrak kerja."

Mendengar penjelasan itu, Farhan menarik napas panjang. Ia tahu betul, kantor tempatnya bekerja ini memang memiliki peraturan yang cukup ketat dan disiplin tinggi.

"Baiklah, terima kasih. Kamu boleh pergi," ucapnya singkat.

Meskipun sempat merasa bingung dan bertanya-tanya, pelanggaran apa yang telah dilakukan Amira, ia berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Nanti saja, pikirnya, ia akan bertanya langsung pada amira untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

1
Lilis Yuanita
bgus
rasahaz
bnr2 nyesek kmu jdi amira,, jdi mnding go ja lh,,, 😤😤😤💪
Salsa Bilah
aku bolak-balik buat liat bab selanjutnya blom ada ihhh
Lilis Yuanita
sedih critay
rasahaz
nah kaan baru tau skrng gmn kelakuan laki mu amira,, mkany jgn polos2 bgt ahk, masa ngga bsa pke insting seorng istri sh,,, jdi udh mnding minggat ja minta pisah ngapain msh dpertahankn,, 😤😤😤😤
rasahaz
jgn trllu lemot amira,, masa ngga bsa pke insting sma skli sh,, 😄😄😄
rasahaz
mng dasar laki pengecut pecundang kau farhan,, 😡😡😡
rasahaz
ayo amira kmu hrus jdi wanita tanggung,, jgn menye2 yg dikit2 nangis,, 💪💪💪🔥
rasahaz
pergi amira pergi bwa adik2 mu,, mnding berdiri dkaki sndri dri pda brgntung sma laki modeln c farhan,,,
rasahaz
waaaahh bnr2 suami dzolim kau farhan,,, 😡😡
rasahaz
kau sprti menabur madu pdhal kau memberi racun,,, 😡😡
rasahaz
sikap mu bgtu manis tpi bnyak bgt mengandung racun ny,,,
rasahaz
dpt notif da cerita baru karya kak pipit,, langsung mlncur,🔥🔥🔥💪😄
Penikmat Sunyi: terima kasih, dukung terus ya kak biar semangat nulisnya😄😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!