Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Sisi Posesif Axel.
Matahari pagi sudah menyelinap masuk menerangi kamar Axel yang luas itu. Aruna sedang duduk manis di depan meja rias, sibuk merias wajahnya agar terlihat sempurna.
Tiba-tiba saja, sepasang tangan besar melingkar erat dari belakang, memeluk pinggangnya. Axel datang. Wajah tampan itu langsung membenamkan diri ke dalam ceruk leher Aruna, sesekali mengecup pipi gadis itu meski saat ini Aruna sedang fokus mengoleskan bedak menggunakan kuas.
"Euuuhh... Axel!! Jangan ganggu dong. Kamu nggak lihat aku lagi dandan nih?" protes Aruna sambil berusaha tetap fokus memegang alat make up-nya.
"Aku nggak suka menunggu terlalu lama, Sayang..." bisik Axel pelan tepat di telinganya, suaranya terdengar manja dan sedikit mendengus kesal karena harus menunggu. Menunggu, memang bukan keahliannya.
"Dan aku juga nggak suka diganggu kalau lagi dandan!!" sergah Aruna ketus. Wajahnya di cermin mulai terlihat manyun, jelas tidak suka konsentrasinya buyar.
"Aku nggak akan ganggu. Hanya mau manja aja sama kamu," jawab Axel santai, malah mempererat pelukannya seolah ingin melebur menjadi satu.
"Hah... terserah saja deh. Yang penting mulut sama tangan kamu diam di tempat!" syarat Aruna pasrah.
"Ya," jawab Axel singkat.
Aruna pun melanjutkan aktivitasnya. Ia mulai mengambil blush on dan mulai menyapukan lembut ke pipinya agar terlihat lebih merona.
Tiba-tiba suara berat itu berbisik lagi.
"Kamu terlalu cantik Aruna... kalau dandan begini. Nanti banyak yang melirik, aku malah cemburu buta lho..." ungkap Axel dengan nada posesif yang kental.
Aruna hanya menarik napas panjang, memilih untuk tidak menanggapi atau berdebat hanya karena hal sepele.
"Udah deh nggak usah bawel. Mending kamu bantuin aku pake lipstick..." pinta Aruna tiba-tiba. Ia berbalik arah, namun tetap duduk di kursi meja rias, lalu menyodorkan sebatang lipstick warna peach, yang cantik ke hadapan pria itu.
Axel menerima benda kecil itu dengan tangannya yang besar. Wajah tampannya, terlihat agak ragu.
"Tapi nanti malah belepotan kalau aku yang pake-in. Kalau sampai salah, jangan marah ya..." ucap Axel ragu-ragu, matanya menatap lipstick itu bingung.
"Coba aja dulu... santai saja kok," balas Aruna santai sambil mendongakkan wajahnya siap.
Axel pun akhirnya mencoba. Dengan sangat hati-hati ia mencoba memoleskan warna itu ke bibir ranum Aruna. Ia berusaha semaksimal mungkin agar rapi dan tidak meleset.
Namun, lama-kelamaan matanya justru salah fokus sendiri. Semakin ia melihat wajah Aruna dari jarak sedekat ini, semakin ia sadar betapa cantiknya wanita di depannya itu.
"Sayang..." panggilnya pelan, "Kamu terlalu cantik hari ini..." bisiknya, lalu tanpa izin tiba-tiba ia mendaratkan satu kecupan hangat di pipi Aruna.
"Uhh.. Jangan cium aku ah!! Nanti make upnya rusak lho, capek tahu aku bikinnya!!" tolak Aruna cepat sambil mendorong pelan wajah Axel agar menjauh, tangannya sigap membetulkan sedikit bedak yang terkena bibir pria itu.
"Hm... kamu malah lebih peduli sama make up daripada perasaanku ya...?" keluh Axel. Wajahnya langsung ditekuk, memasang tampang sedih dan kecewa bak anak kecil yang tidak diberi permen.
Melihat ekspresi itu, hati Aruna luluh seketika. "Ah ya ampun... nggak gitu juga dong. Hm... ya sudahlah. Lakukan apa yang kamu mau saja lah!" akhirnya Aruna menyerah dan pasrah total.
Seketika itu juga, wajah sedih Axel berubah drastis. Pria itu tersenyum lebar, senyum jahil dan penuh rencana nakal terpampang jelas di wajahnya.
"Haduh... kayaknya aku bakalan nyesel banget udah ngomong begitu," batin Aruna panik, menyadari ia baru saja melepas kunci pengaman pada singa lapar di depannya.
Tanpa aba-aba lagi, seolah sudah tak sabar menunggu izin, Axel langsung menyambar bibir ranum Aruna. Gaya ciumannya sama seperti biasa, liar, mengoda, dan sangat mendominasi.
Setiap sentuhan bibirnya selalu terasa menuntut, seolah ia ingin menghisap seluruh nafas gadis itu. Aura kepemilikan dan rasa sayangnya yang posesif terasa begitu kental, membuat Aruna sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
"Mmmphhh.. Axel.. pelan.. pelan dikit dong.." ucap Aruna terputus-putus di sela ciuman, matanya terpejam rapat. Tangannya mencoba mendorong pelan dada bidang itu, berusaha memberi jeda agar ia bisa bernapas.
"Gak seru rasanya, kalau ciumannya pelan, Sayang.." balas Axel dengan suara parau dan senyum nakal yang terasa di bibirnya.
Ia tak mau kalah. Dengan cepat, tangan besar Axel kembali menarik tengkuk leher Aruna, mendekatkan wajah mereka kembali, dan kembali menciumnya dengan ritme yang dia suka sendiri. Liar, nakal, dan penuh godaan yang membuat jantung Aruna berdegup kencang tak karuan.
"Udah ya.. udah.. kita harus segera sarapan lho.. perutku sudah bunyi nih.." ucap Aruna mencoba membujuk dengan nada memelas, berusaha mengalihkan perhatian pria itu dari bibirnya.
"Nanti saja sarapannya.." jawab Axel santai, namun matanya menyala. Ia malah memalingkan serangannya ke leher jenjang Aruna, mulai menghamburkan ciuman-ciuman hangat dan basah di sana.
"Ah Axel!! Jangan!!" Aruna kaget dan langsung memegangi lehernya dengan kedua tangan, menghalangi akses pria itu.
"Bekas yang kemarin aja baru saja aku tutupin pake make up nih, susah lho nutupinnya!! Jangan bikin lagi yah!!" protesnya keras, tak ingin tanda-tanda 'perang' kemarin muncul lagi di area yang terlihat jelas.
Mendengar itu, Axel malah tersenyum lebar. Senyum itu bukan senyum biasa, tapi senyum yang makin nakal dan penuh ide jahat.
"Kalau gitu..." bisiknya pelan, matanya menatap tajam ke arah dada Aruna, "...aku buatnya di tempat paling aman yang selalu tertutup saja."
"Maksud kamu..?" Aruna mengerutkan kening, wajahnya tampak polos dan benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.
Axel mendekatkan wajahnya sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Kamu tahu maksudku, Sayang..." bisiknya lagi, nada suaranya rendah, berat, dan sangat menggoda, membuat bulu kuduk Aruna langsung berdiri tegak menyadari arti sebenarnya dari kalimat itu. "Maksudku... di area ini.." ucap Axel pelan dan tegas.
Sambil berkata begitu, bibirnya dengan berani mengecup lembut namun jelas area dekat dada Aruna, tepat di atas kain baju yang ia kenakan.
Spontan tubuh Aruna menegang kaget. Tangannya secara refleks mencengkeram dan meremas kuat rambut hitam milik calon tunangannya itu, napasnya tercekat seketika karena sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh tubuh.
"Unghhh... Axel.. "
"Tuh kan... kamu suka?" goda Axel lagi, suaranya terdengar puas dan penuh kemenangan.
Mendengar itu, Aruna seketika memalingkan wajahnya dengan kasar. Pipinya memerah padam bukan main, campuran antara rasa malu yang luar biasa dan kesal karena terus saja digoda.
"AXEL!! Jangan godain aku terus ah!!" teriaknya keras. Dengan gerakan cepat ia mencoba beranjak dan lari dari kursi itu, ingin menjauh dari pria yang semakin tidak jelas itu. Wajahnya sudah terlihat kesal parah, matanya melotot manja.
Namun, Axel tidak memberinya kesempatan untuk kabur. Dengan gerakan kilat, tangan kokoh itu kembali mencengkeram pinggang ramping Aruna, lalu menariknya kembali mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kali ini tatapan Axel berubah serius, meski masih ada sisa senyum nakal di sudut bibirnya.
"Dengar baik-baik ya sayang..." ucapnya rendah, menatap lurus manik mata Aruna.
"Ingatlah.. Jika mulai sekarang dan seterusnya... kamu milikku, Aruna. Cuma milikku !! "
Nada suaranya berubah tegas dan penuh otoritas. Penuh penekanan, disetiap ucapannya.
"Jadi tolong jangan berpakaian terlalu terbuka kalau mau keluar. Ingat itu Aruna."
Axel mendekatkan wajahnya lagi, bisikannya terdengar mengintimidasi namun juga sangat seksi.
"Kalau kamu nekat... aku bisa kasih kiss mark atau bekas ciuman di area yang belum pernah aku sentuh sama sekali. Aku serius... ini bukan ancaman kosong!!" ancamnya dengan tatapan tajam yang membuat Aruna gemetar, entah karena takut atau justru makin deg-degan.
"Udah ya sayang... ayo kita sarapan sekarang aja ya..." rengek Aruna dengan nada yang sangat manja dan lembut.
Tanpa ragu, ia langsung mengalungkan kedua tangannya yang lentik ke leher Axel, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Matanya memancarkan tatapan memelas yang bercampur dengan kasih sayang, berusaha meluluhlantakkan hati pria itu.
Aruna sangat paham betul dengan sifat calon tunangannya ini. Ia tahu persis, kalau ia melawan atau bersikap keras kepala, justru itu akan membuat sisi dominan dan nakal Axel makin keluar dan makin tertantang untuk menggodanya lebih jauh.
Dan Aruna tidak mau hal itu terjadi, apalagi perutnya sudah mulai berbunyi meminta diisi.
Maka dari itu, ia memilih strategi yang paling ampuh—senjata andalannya: sikap manja. Ia yakin, dengan cara ini Axel pasti akan luluh dan mau mengalah.
Dan strategi itu benar-benar tepat sasaran. Jantung Axel seketika meleleh, pertahanannya runtuh seketika hanya dengan sikap manja Aruna.
"Iya baiklah.. Tapi setelah ini." Ucap Axel
Tanpa menunggu lama, kedua lengan kokoh itu langsung melingkar erat memeluk tubuh mungil Aruna. Ia mendekap tubuh kecil itu dengan sangat kuat dan lama, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa sayangnya dan memastikan gadis itu benar-benar miliknya. Aroma tubuh Aruna yang khas dan hangat membuat suasana menjadi begitu damai dan penuh kasih sayang.
Hanya dalam pelukan itulah sisi lembut Axel yang jarang dilihat orang lain benar-benar muncul. Setelah puas menikmati momen hangat itu, perlahan Axel melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Aruna dengan senyum tipis yang penuh arti, lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Ayo... kita sarapan," ajaknya lembut.
Kemudian, dengan langkah santai, mereka berdua berjalan menuju ruang makan,untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
***