Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7 Satu Ranjang Berdua
Siang ini Aurora bertemu Vera untuk lunch bersama. ia masih dalam cuti menikah.
"Sudahlah bersikaplah baik pada Maxime, lupakan Andre dan jalani kembali hidupmu dengan Maxime" kata Vera sahabat sekaligus rekan kerja Aurora di kantor.
"Tapi kami sedikit canggung Ver"
"Jangan kelamaan canggungnya nanti jatuh cinta baru rasa!" kata Vera pedas.
"Mana mungkin aku dan Maxime saling jatuh cinta? mustahil" sanggah Aurora.
"Apanya yang mustahil buktinya kalian berdua sekarang menikah meski tidak di sengaja pernikahan itu terjadi"
Aurora terdiam memikirkan benar juga ucapan Vera. Maxime sudah membantunya dan tidak sepantasnya ia bersikap dingin pada Maxime.
"Cepat telepon Max dan ajak dia makan malam" kata Vera gemas.
Aurora menuruti ide Vera ia meraih ponselnya dan menelpon Maxime seperti yang di perintahkan Vera.
***
Di ruang meeting utama perusahaan otomotif milik Maxime ia sedang memimpin meeting dengan kolega baru. Wisnu yang mengangkat telepon dari Aurora karena kebetulan dirinya yang memegang ponsel milik Maxime selama meeting berlangsung.
"Halo mba?"
"Halo ini Wisnu ya?"
"Iya benar mba Rora, bos sedang meeting dengan kolega"
"Oh kalau begitu sampaikan saja pada Max kalau Aurora menunggu makan malam di rumah jangan sampai telat"
"Siap mba" suara Wisnu terdengar riang gembira karena ia ikut senang dengan pernikahan Maxime dan Aurora.
Selesai meeting Maxime kembali ke ruang kerjanya di ikuti Wisnu di belakangnya yang membawakan beberapa dokumen dan laptop pribadi Maxime.
"Bos tadi mba Aurora menelpon"
"Rora menelpon?" wajah Max yang terlihat lelah kini jadi sedikit segar mendengar Aurora menelponnya.
"Iya mba Rora bilang bos di suruh cepat pulang karena di tunggu makan malam dan tidak boleh telat"
"Rora bilang begitu?" tanya Max heran.
"Iya bos masa saya bohong"
Max tersenyum lebar merasa Aurora sudah mulai kembali seperti semula.
"Cie cie wajah bos memerah"
Max menatap tajam Wisnu dan segera ia mengembalikan mimik mukanya ke stelan cool.
"Diam dan kerjakan semua pekerjaan saya sampai selesai! mana kunci mobil!"
"Semoga sukses bos!" kata Wisnu sembari menyerahkan kunci mobil.
Max menggelengkan kepala gemas dengan asistennya. ia bergegas menuju parkiran untuk segera pulang sebelum terjebak macet di jalan.
Setibanya di rumah Max turun dari mobilnya dan merapikan sedikit penampilannya yang memang masih rapi. saat memasuki ruang tengah aroma masakan tercium begitu harum dan menggugah selera.
Max mengamati Aurora yang sedang menyiapkan makan malam. Rora mengenakan baju santai dan memakai apron bermotif bunga-bunga membuat penampilannya terlihat semakin manis. ditambah wajah cantiknya yang sedang serius menambahkan bumbu kedalam masakan, Aurora terlihat begitu mempesona bagi Maxime.
"Hai, sudah pulang?" tanya Aurora sembari mengaduk sup di panci.
Maxime tidak menjawab ia melangkah mendekati Aurora menyentuh lembut kepala Aurora seperti biasanya.
"Hmmm lapar" gumam Maxime.
Aurora tersenyum ia menyiapkan dua mangkuk sup dan juga hidangan lainnya ke atas meja makan. di meja makan obrolan mulai mencair. Aurora sudah mulai bisa tertawa-tawa lagi meski terkadang juga masih terlihat sedih.
Selesai makan malam berdua, Max mengajak Aurora menikmati musik klasik sembari bersantai. Max tahu jika Aurora penakut sekali ia iseng bercerita film horor terbaru pada Aurora.
"Max cukup aku tidak mau dengar!" kata Rora sembari menggeser duduknya berdekatan dengan Maxime.
Maxime tertawa melihat wajah Aurora cemberut sekaligus takut.
"Ini belum selesai masih ada yang lebih seram lagi" kata Max menjadi-jadi.
"Diam Max!"
tiba-tiba listrik padam suasana sangat mendukung membuat terkesan mistis dan creepy.
"Max!" Aurora menggenggam kuat tangan Maxime.
"Kenapa listriknya padam?" tanya Rora ketakutan sambil mencengkram lengan Maxime.
"Entahlah mungkin ada masalah biar aku suruh Wisnu urus nanti"
"Kenapa nanti? sekarang saja!" kata Rora panik.
"Wisnu sedang sibuk di kantor, besok saja. ayo kita tidur"
"Apa tidur? aku tidak mau tidur sendirian aku takut Max!"
"Terserah kau saja" Maxime memang sungguh lelah hari ini. meeting panjang dan melelahkan itu menguras energinya. sekarang ia mau mandi dan tidur.
Aurora terus mengikuti hingga ke kamar Maxime. ia menunggu Maxime mandi sambil merebahkan diri di ranjang menutupi diri dengan selimut tebal. Aurora memang tidak berlebihan karena merasa takut. rumah yang ia tempati dengan Maxime adalah rumah baru. besar, luas dan hanya ada mereka berdua jadi wajar jika Aurora takut ada hantu atau ada pencuri masuk rumah di kala suasana gelap karena listrik padam. Jadilah malam ini Maxime dan Aurora tidur bersama satu ranjang berdua untuk pertama kalinya. (cie cie... ihir :) )