“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SKETSA DI TENGAH MALAM
Malam di Villa Al-Ricci selalu terasa lebih panjang daripada di tempat lain. Keheningan di bangunan tua ini begitu pekat, seolah-olah dinding-dinding marmernya menyerap semua suara dan menyimpannya sebagai rahasia.
Bagi Alesha, keheningan ini adalah siksaan. Ia terbiasa dengan suara deru mesin jahit, gesekan gunting pada kain sutra, dan tumpukan pola yang berserakan di studio kecilnya yang hangat.
Di sini, di kamar megah ini, ia merasa seperti burung cendrawasih yang sayapnya diikat. Ia merindukan bau kapur jahit dan tekstur kain linen di ujung jarinya.
Gelisah, Alesha bangkit dari ranjangnya yang terlalu luas. Ia berjalan tanpa alas kaki menyusuri koridor gelap, menuju satu-satunya tempat yang ia tahu memiliki banyak kertas, ruang kerja Matteo.
Ia tahu ia melanggar aturan, tapi rasa haus untuk berkarya sudah mencapai puncaknya.
Ruang kerja Matteo tidak terkunci. Alesha masuk dan menyalakan lampu meja yang redup. Ia mencari kertas, namun yang ia temukan di atas meja hanyalah tumpukan dokumen keuangan, laporan saham, dan kertas-kertas tagihan mewah dengan kop surat emas yang sangat tebal dan berkualitas tinggi.
"Kertas ini terlalu bagus untuk sekadar mencatat utang," gumam Alesha.
Ia mengambil sebuah pena tinta mahal milik Matteo, duduk di lantai yang dingin bersandar pada kaki meja mahoni, dan mulai menggores.
Awalnya hanya garis-garis ragu, namun tak lama kemudian, tangannya menari dengan liar.
Gairah yang selama ini terpendam meledak. Ia membalikkan kertas-kertas tagihan senilai jutaan Euro itu dan menggunakan bagian belakangnya yang kosong sebagai kanvas.
Satu jam, dua jam, waktu seolah berhenti. Alesha tidak lagi berada di Villa Al-Ricci, ia berada di dunianya sendiri. Ia menggambar gaun-gaun dengan potongan asimetris yang berani, jubah-jubah megah dengan detail bordir yang rumit, dan desain-desain yang mendobrak pakem mode Roma yang membosankan.
Hingga akhirnya, rasa kantuk yang luar biasa menyerangnya.
Dengan pena yang masih terselip di jemarinya dan ratusan lembar kertas tagihan berserakan di sekelilingnya seperti lautan putih, Alesha jatuh tertidur di atas lantai marmer, kepalanya berbantalkan lengannya sendiri.
Pukul tiga dini hari, suara motor kursi roda elektrik berdengung pelan di koridor. Matteo tidak bisa tidur.
Luka lama di kakinya sering kali berdenyut nyeri saat udara malam menjadi terlalu dingin, dan bekerja biasanya menjadi pelariannya.
Namun, saat ia mendorong pintu ruang kerjanya, ia membeku.
Lampu mejanya menyala, dan pemandangan di depannya benar-benar kacau. Istrinya, wanita yang ia sebut "barang pengganti", tergeletak di lantai di tengah kekacauan kertas.
Matteo mengerutkan kening, siap untuk marah karena privasinya dilanggar lagi. Ia mendekat, berniat membangunkan Alesha dengan teguran keras.
Namun, saat kursi rodanya melindas salah satu kertas yang tercecer, matanya menangkap sesuatu.
Matteo membungkuk, mengambil selembar kertas tagihan dari butik perhiasan ternama. Di balik angka-angka nominal yang fantastis itu, terdapat sebuah sketsa gaun malam. Matteo tertegun.
Garis-garisnya tegas, proporsinya sempurna, dan yang paling penting, desain itu memiliki "jiwa".
Ia mengambil lembar lain, lalu lembar lainnya lagi. Setiap kertas berisi mahakarya. Matteo sering melihat Kiara menggambar, tapi desain Kiara selalu terasa seperti tiruan dari majalah mode Paris, cantik tapi hampa.
Desain Alesha berbeda. Ada kemarahan, ada kebebasan, dan ada emosi yang meluap-luap dalam setiap coretannya.
"Jadi ini yang kau sembunyikan di balik mulut bar-bar-mu itu?" bisik Matteo pelan.
Ia menatap Alesha yang tertidur pulas. Wajah wanita itu tampak berbeda saat tidur, beban kemarahan dan pertahanan yang biasanya ia pasang tampak luntur, menyisakan gurat kelelahan dan kerapuhan yang jujur.
Matteo menyadari bahwa Alesha bukan sekadar "gadis pasar" seperti yang ia tuduhkan.
Wanita ini adalah seorang seniman yang sedang dipasung.
Matteo menghela napas.
Kemarahannya entah kenapa menguap, digantikan oleh rasa hormat yang tidak ia duga sebelumnya. Ia mengambil selimut kasmir yang biasanya tersampir di kursinya, lalu dengan gerakan pelan yang sangat hati-hati, ia menyelimuti tubuh Alesha.
Ia memastikan kain itu menutupi bahu Alesha agar ia tidak kedinginan di lantai marmer.
Tepat saat ia hendak memutar kursi rodanya untuk pergi, matanya tertuju pada satu kertas yang tergeletak paling dekat dengan tangan Alesha.
Kertas itu tampak lebih sering dihapus dan diperbaiki daripada yang lain.
Matteo mengambilnya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak.
Itu bukan sketsa gaun wanita.
Itu adalah sketsa jas pria.
Namun, potongannya sangat tidak lazim. Alesha merancang jas itu dengan bagian belakang yang lebih pendek dan konstruksi bahu yang khusus agar tidak berkerut saat pemakainya duduk.
Ada detail saku yang ditempatkan secara ergonomis untuk seseorang yang tidak bisa berdiri.
Di bawah sketsa itu, ada catatan kecil dengan tulisan tangan Alesha yang berantakan namun tegas,
“Untuk si sombong yang terlalu takut terlihat lemah. Pria gagah tidak butuh kaki untuk memerintah dunianya, dia hanya butuh pakaian yang tidak mengkhianati wibawanya.”
Matteo terpaku.
Tangannya gemetar sangat tipis saat memegang kertas itu. Selama bertahun-tahun sejak kecelakaannya, semua orang melihatnya sebagai "pria di kursi roda".
Mereka merasa kasihan, atau mereka merasa jijik, atau mereka mencoba mengabaikan kondisinya. Tapi Alesha...
Wanita ini melihat kondisinya bukan sebagai kekurangan yang harus ditutupi, melainkan sebagai tantangan desain yang harus ditaklukkan.
Jas itu dirancang bukan untuk menyembunyikan kursi rodanya, tapi untuk membuat Matteo tetap terlihat seperti raja meskipun ia tidak bisa berdiri.
Matteo menatap Alesha sekali lagi, kali ini dengan pandangan yang jauh lebih dalam. Ada sesuatu yang bergetar di balik tembok es yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya.
Untuk pertama kalinya, seseorang tidak hanya melihat kecacatannya, tapi melihat martabat yang masih ia coba pertahankan mati-matian.
Tanpa suara, Matteo meletakkan kembali sketsa itu di tempatnya.
Ia mematikan lampu meja, meninggalkan ruangan itu dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela.
Ia kembali ke kamarnya, namun sketsa jas itu terus terbayang di benaknya.
Di tengah kegelapan malam Roma, Matteo Al-Ricci menyadari satu hal, ia tidak baru saja menikahi seorang "barang pengganti".
Ia baru saja memasukkan sebuah badai yang membawa cahaya ke dalam rumahnya yang gelap.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut bahwa badai itu suatu hari nanti akan memilih untuk pergi.
Keesokan paginya, Alesha terbangun dengan leher kaku.
Ia terlonjak saat menyadari ia tertidur di ruang kerja Matteo.
Namun, ia lebih terkejut lagi saat menemukan selimut kasmir mahal menyelimuti tubuhnya, dan semua sketsanya telah tertumpuk rapi di atas meja, kecuali satu sketsa jas pria yang posisinya sedikit bergeser dari ingatannya.
Alesha menyentuh selimut itu, merasakan kehangatannya. "Si patung es itu...?" gumamnya tak percaya.
Di luar, burung-burung mulai berkicau, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Villa ini, Alesha tidak merasa ingin melarikan diri.
Perang mungkin masih berlanjut, tapi setidaknya sekarang, ia tahu bahwa musuhnya memiliki hati yang bisa disentuh oleh ujung penanya.