Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2: "PUSAT PERBELANJAAN YANG SUNYI" part 2
Gerbang CITRA MALL sudah terkunci rapat di belakang Jay dan Rara, namun suara tawa jahat dari besi yang bergesekan masih bergema di telinga mereka lama setelah pintu menutup. Malam hari telah tiba sepenuhnya, dan di dalam gedung bertingkat tiga itu, tidak ada satu pun suara dari dunia luar yang bisa masuk—hanya kesunyian yang menyatu dengan irama lampu neon yang berkedip-kedip secara tidak teratur.
Lantai granit di bawah kaki mereka mengkilap seperti cermin yang sudah tua, memantulkan bayangan mereka yang semakin memendek seiring dengan setiap langkah yang mereka ambil ke dalam lorong utama. Bayangan itu tidak hanya mencerminkan bentuk tubuh mereka—tapi juga menampilkan sosok tambahan yang berjalan berdampingan di sisi mereka, meskipun tidak ada orang lain di sekitar. Udara di dalam mal terasa lebih dingin dari saat mereka masuk, dinginnya menusuk tulang seperti hawa yang keluar dari dalam peti mati yang baru saja dibuka setelah bertahun-tahun terkunci.
Aroma kayu lapuk yang tadinya hanya sedikit kini bercampur dengan bau karpet sintetis yang sudah tua dan sedikit lembap—bau seperti ruangan yang pernah tergenang air namun tidak pernah dibersihkan dengan benar. Setiap langkah kaki Jay dan Rara menyentuh lantai mengeluarkan bunyi klik… klik… yang terdengar jelas dan tajam, menggema di lorong kosong seolah diperbesar oleh speaker tersembunyi yang tidak terlihat. Bunyi itu tidak hanya bergema di dinding—tapi juga terdengar dari arah yang berlawanan, seolah ada orang lain yang sedang mengulangi langkah mereka dengan waktu yang sedikit tertinggal.
Setiap klik yang keluar dari langkah mereka diikuti oleh bunyi yang sama dari jauh, lalu dari dekat, lalu dari balik mereka—seolah ada ribuan orang yang meniru gerakan kaki mereka dengan presisi yang mengerikan. Bayangan yang terpantul di lantai granit mulai membelah menjadi dua, tiga, bahkan lebih banyak dengan setiap meter yang mereka lalui, hingga lorong itu tampak penuh dengan bayangan yang bergerak menyusul meskipun tidak ada satu sosok pun yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Suara gema langkah itu semakin keras, seolah tidak hanya diperbesar—melainkan juga semakin cepat dari yang seharusnya bisa diikuti oleh gerakan tubuh manusia..
PUSAT PERBELANJAAN "CITRA MALL" - MALAM
Malam hari, mal sepi total tapi lampu-lampunya masih menyala dengan terang—cahaya neon berwarna merah muda dan biru tua menerangi setiap sudut lorong, membuat bayangan panjang terpampang di lantai yang mengkilap. Ada suara musik yang terdengar dari arah atrium tapi tidak ada orang yang main musik—suaranya seperti lagu pop tahun 90-an yang diputar dengan kecepatan sedikit lebih lambat dari biasanya, membuat iramanya terasa mencengkeram dan tidak nyaman di telinga.
Jay langsung cari toko snack yang terletak di sudut lorong sebelah kanan, pintunya terbuka lebar dengan lampu neon di atasnya yang menampilkan tulisan “SNACK & MINUMAN” dengan beberapa huruf yang sudah tidak menyala lagi. Rak-rak di dalam toko penuh dengan makanan ringan dari berbagai merek, sebagian sudah kadaluarsa tapi tetap terlihat seperti baru saja diletakkan. Tanpa berlama-lama, Jay mengambil beberapa bungkus keripik jagung, biskuit gandum, dan minuman kaleng berbagai rasa, lalu menaruh uang di atas kasir yang kosong. Secara ajaib, uang itu masuk ke dalam mesin kasir dan struk keluar dengan sendirinya, mencetak bunyi cetak… cetak… yang terdengar jelas di tengah kesunyian.
“Alhamdulillah, toko snacknya buka juga ya.” ujar Jay sambil menyimpan semua makanan ke dalam tas ranselnya yang sudah mulai penuh. Rara hanya mengangguk, matanya tetap mengamati setiap sudut lorong yang semakin menyempit ke arah bagian dalam mal.
Mereka berjalan menuju ruang kantor penjaga mal yang terletak di dekat lift utama, di sebelah toko elektronik yang sudah tutup rapat tapi masih ada cahaya samar yang keluar dari dalamnya. Ruangan kecil itu memiliki pintu kayu yang sudah menguning, dengan tulisan “KANTOR PENJAGA” yang tergores dengan cat hitam. Jay mengetuk pintu tiga kali dengan suara yang jelas, dan sesaat kemudian pintu terbuka dari dalam oleh seorang pria berusia lanjut dengan rambut putih yang terurai dan wajah penuh dengan keripik yang menceritakan usia.
PAK SLAMET: “Mas Jay kan? Rara sudah cerita tentangmu. Mal ini sudah ada sejak 30 tahun yang lalu—saya selalu merasa ada yang salah tapi tidak tahu apa.”
Pak Slamet menggerakkan tangannya untuk mengundang mereka masuk, tubuhnya sedikit membungkuk akibat usia. Di dalam kantor, terdapat meja kayu tua yang penuh dengan berkas-berkas kertas dan foto-foto CITRA MALL dari masa lalu. Foto-foto itu menunjukkan mal yang ramai dengan pengunjung pada tahun 90-an, tapi ada sesuatu yang tidak beres dengan wajah orang-orang di foto—semuanya tampak seperti sedang melihat sesuatu yang berada di luar bingkai foto.
Jay masuk ke dalam kantor, langsung mengambil bungkus keripik dari tasnya dan mulai memakannya dengan lahap. Crunch… crunch… suara mengunyah keripik terdengar jelas di ruangan kecil yang penuh dengan barang-barang lama.
JAY: (makan keripik) “Kalau kamu mau tahu, coba lihat aja lantai marmer di lantai dasar ya. Ada pola yang sama seperti pagar bambu di rumah saya.”
Pak Slamet mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan ekspresi lega setelah sekian lama merasa bingung dan sendirian dengan perasaan bahwa ada yang salah dengan mal tempat dia bekerja. “Aku sudah melihat pola itu berkali-kali setiap malam ketika melakukan patroli… kadang-kadang pola itu menyala dengan cahaya kebiruan yang samar, tapi aku selalu mengira itu hanya khayalan saja.”
Mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift yang bergerak dengan sangat lambat, dengan lampu di dalamnya yang berkedip setiap kali lift berhenti di setiap lantai meskipun tidak ada yang menekan tombol. Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, mereka masuk ke dalam atrium besar yang menjadi jantung dari CITRA MALL—lantai marmer putih bersih mengkilap seperti cermin, dan di tengahnya terdapat pola melingkar yang sama persis dengan ukiran bambu di rumah Jay.
Pola itu mulai menyala perlahan dengan cahaya kebiruan yang lembut, seolah merespons kehadiran Jay. Cahaya itu menyebar ke seluruh atrium, menerangi setiap sudut yang tadinya gelap dan membuat bayangan dari tiang-tiang atrium tampak seperti sosok yang sedang berdiri diam. Buku tua Jay yang selalu ada di dalam tasnya muncul dengan sendirinya dan melayang di udara, halamannya bergerak sendiri dengan cepat hingga menemukan halaman yang tepat. Tulisan emas yang terlihat seperti sedang menyala muncul dengan jelas di atas kertas kuno yang sudah mulai menguning:
“ꂵꋬ꒒ ꒐ꋊ꒐ ꋬ꒯ꋬ꒒ꋬꁝ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꌦꋬꋊꍌ ꃳꏂꋪꋬ꒯ꋬ ꒯꒐ ꉣꏂꂵꃳꋬ꓄ꋬꇙ ꒯꒤ꋊ꒐ꋬ ꂵꄲ꒯ꏂꋪꋊ ꒯ꋬꋊ ꒯꒤ꋊ꒐ꋬ ꍌꋬ꒐ꃳ. ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ ꒯꒐ ꇙ꒐ꋊ꒐ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂꋪꋬꇙꋬꀘꋬꋊ ꀘꏂꁝ꒐꒯꒤ꉣꋬꋊ ꂵꄲ꒯ꏂꋪꋊ ꓄ꋬꉣ꒐ ꓄ꏂꋪꃳꋬ꓄ꋬꇙ ꄲ꒒ꏂꁝ ꋬ꓄꒤ꋪꋬꋊ.”
Cahaya dari buku menyebar ke seluruh atrium, membuat lampu neon yang tadinya berkedip kini menyala dengan terang dan stabil. Tiba-tiba semua lift mulai bergerak sendiri dan pintu-pintu toko terbuka tutup tanpa alasan—bunyi pintu yang bergeser terdengar seperti irama yang teratur, menggema di setiap lorong kosong. Suara musik yang tadinya berasal dari arah atrium kini menjadi lebih keras, dengan irama yang semakin cepat dan membuat hati menjadi deg-degan.
Dari balik setiap toko dan lorong tersembunyi, makhluk gaib dengan bentuk menyerupai bayangan manusia modern mulai muncul—mereka mengenakan baju kantoran yang rapi, tas kerja hitam di pundak mereka, sepatu hak tinggi untuk yang menyerupai wanita dan sepatu pantofel untuk yang menyerupai pria. Namun wajah mereka kosong tanpa mata, hidung, atau mulut—hanya sebuah bidang datar yang memantulkan cahaya dari lampu mal, membuatnya terlihat seperti cermin yang tidak bisa mencerminkan apa-apa.
Mereka bergerak perlahan ke arah tengah atrium, gerakan tubuh mereka mirip dengan manusia yang sedang berjalan ke kantor atau berbelanja pada hari biasa. Suara alas kaki mereka menyentuh lantai marmer terdengar jelas dan teratur: “klak… klak… klak… klak…”
MAKHLUK GAIB: “Kita ingin bekerja seperti manusia lain... ingin punya uang... ingin merasakan kehidupan yang biasa...”
Suaranya terdengar seperti suara banyak orang yang berbicara bersamaan, menyatu dengan musik yang masih terus bermain di latar belakang. Beberapa di antaranya mulai menyentuh rak-rak barang di toko-toko yang terbuka, jari-jari mereka yang transparan menyentuh barang-barang dengan hati-hati seolah takut merusaknya. Ada yang mengambil tas kerja dari rak toko perlengkapan kantor, ada yang menyentuh baju di toko pakaian, dan ada yang berdiri diam di depan toko elektronik seolah sedang melihat layar televisi yang tidak menyala.
JAY: “Kalau kerja aja kan ribet? Selain itu, kalau kalian mengambil tubuh manusia itu dilarang oleh aturan dunia kan? Gak ada cara lain ya?”
Jay berpikir sambil makan snack, matanya mengamati setiap gerakan makhluk gaib yang kini sudah mengelilingi pola melingkar di tengah atrium. Dia mengambil lagi sepotong keripik dari bungkusan, mengunyahnya dengan suara yang jelas di tengah kebisingan musik dan langkah kaki. Buku tua di udara mulai bergetar pelan, seolah juga sedang merespons pertanyaan yang dia ajukan.
Lalu Jay melihat ke arah kamera dengan pandangan yang jelas dan langsung, seolah bisa melihat melewati layar atau halaman cerita yang menjadi pembatas antara dia dan pembaca. Senyum tipis muncul di wajahnya sebelum dia berbicara.
JAY: “Kalau kamu yang sedang nonton ini juga merasa capek kerja kantoran sehari-hari, mungkin kamu bisa paham ya kenapa mereka mau merasakan itu. Tapi kerja itu memang ribet lho!”
Suaranya terdengar lebih keras dari biasanya, menggema di seluruh atrium CITRA MALL dan membuat makhluk gaib itu berhenti sejenak. Musik yang tadinya cepat kini mulai melambat, kembali ke kecepatan yang awalnya terdengar. Makhluk gaib itu mulai berkumpul lebih dekat satu sama lain, bentuk mereka sedikit berubah menjadi lebih jelas—wajah kosong mereka mulai menunjukkan lekukan yang mirip dengan ekspresi manusia yang sedang berpikir atau merenung.
Di langit-langit atrium yang terbuat dari kaca besar, muncul bentuk kompleks yang lebih besar dari yang pernah Jay lihat sebelumnya—sosok ini mengenakan jas hitam dengan dasi merah yang mencolok, dengan tubuh yang memanjang seperti saluran lift yang tak ada ujungnya. Cahaya dari pola melingkar di lantai mulai naik ke arah sosok itu, membentuk jalur cahaya yang jelas seperti jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Jay masih terus makan keripiknya, sambil melihat ke arah pembaca satu kali lagi dengan pandangan yang penuh makna. “Nanti kita cari cara yang lebih mudah aja ya… kerja itu boleh tapi jangan sampai bikin capek sendiri dan orang lain. Dan ingat—selalu simpen snack di tas kamu!” ujarnya sebelum kembali fokus ke arah makhluk gaib yang kini sedang menunggu jawabannya dengan diam.
Semua lift di mal mulai bergerak ke arah lantai dasar secara bersamaan, pintu-pintunya terbuka lebar sebagai tanda bahwa sesuatu yang baru akan dimulai. Musik di atrium mulai berubah menjadi irama yang lebih meriah, namun tetap membawa nuansa yang mencengkeram. Cahaya dari pola melingkar di lantai semakin terang, menerangi seluruh CITRA MALL dengan warna kebiruan yang menyelimuti setiap sudut.