Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Cermin
Setelah pintu kelas XI-A tertutup dengan sentakan kasar, Rama masih mematung di bangkunya. Tatapannya kosong menatap meja kayu yang beberapa detik lalu masih menyisakan aroma parfum buah yang manis milik Naira. Buku-buku jarinya yang mengepal perlahan melonggar, menyisakan sensasi dingin yang menjalar di telapak tangannya setelah menepis tangan gadis itu.
Rama menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan gurat penyesalan yang mendalam di wajahnya. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, menahan beban berat yang tak kasatmata.
"Maafkan aku, Naira... ini demi kebaikan kamu dan aku," bisik Rama teramat lirih, hampir menyerupai helaan napas yang putus asa.
Suaranya terendam riuh rendah anak-anak kelas XI-A yang mulai berbisik-bisik, membicarakan drama panas antara si Putri Keraton dan si anak ruko yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Namun, bagi Rama, dunia seolah mendadak hening. Dia tahu dia telah menorehkan luka di hati gadis yang kemarin sore melindunginya, tapi ini satu-satunya cara agar Tuan Danendra tidak mengusik keluarganya lagi.
Sementara itu, Naira terus berlari menyusuri koridor sekolah tanpa memedulikan tatapan heran dari murid-murid lain yang berselisih jalan dengannya. Air matanya luruh tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang kini merona merah bukan karena salah tingkah, melainkan karena rasa sakit hati yang teramat sangat.
BRAK!
Naira mendorong pintu toilet cewek di ujung koridor lantai dua dan langsung menguncinya dari dalam. Beruntung, jam pelajaran pertama akan segera dimulai sehingga toilet itu kosong melompong.
Naira melangkah tertatih menuju wastafel. Dia mencengkeram pinggiran porselen putih itu dengan kedua tangan yang gemetar, lalu mendongak menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sembab, hidungnya memerah, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan.
"Kenapa, Ram...?" bisik Naira pada pantulan dirinya sendiri. Suaranya serak, tercekat oleh isak tangis yang coba ia redam.
Naira menyalakan keran air, membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya. Namun, setiap kali dia memejamkan mata, memori di warteg semalam justru berputar kembali dengan sangat jelas.
‘Kemarin sore... kemarin sore di warteg semuanya masih baik-baik aja,’ batin Naira frustrasi.
Dia mengingat dengan jelas bagaimana cara Rama menatapnya semalam tatapan lempeng tapi hangat. Dia mengingat tawa rendah Rama saat menggodanya soal perutnya yang lapar, dan bagaimana mantapnya genggaman tangan cowok itu saat membantunya berdiri. Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada tembok es yang menghalang. Semuanya terasa begitu nyata sampai-sampai Naira yakin kalau Rama juga merasakan kedekatan yang sama dengannya.
Naira menyandarkan punggungnya di dinding toilet, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai ubin yang dingin. Kedua lututnya ditekuk, wajahnya disembunyikan di sana sembari menangis tertahan.
Otaknya berputar keras, mencoba mencari titik balik yang membuat Rama berubah seratus delapan puluh derajat dalam satu malam.
‘Apa yang salah? Apa karena ucapan aku di warteg?’
Naira mengingat kembali obrolan mereka sebelum Rama mendadak tersedak keras semalam. Saat itu dia sedang bercerita tentang kekejaman Ayahnya, tentang bisnis properti Danendra Group yang suka menggusur lahan orang kecil...
Naira tersentak. Ingatannya terkunci pada momen pasca-Rama tersedak. Setelah momen itu, Rama mendadak melamun dengan tatapan yang sangat asing. Sikapnya langsung buru-buru mengajak pulang, suaranya mendingin, dan tatapannya penuh kecurigaan.
Naira mendongak, matanya yang basah mengerjap pelan di tengah keheningan toilet. "Apa... Rama berubah karena tahu aku anak Surya Danendra?" bisiknya lirih, mulai menangkap sebuah benang merah yang mengerikan. "Tapi... emangnya apa hubungannya bisnis Ayah sama Rama?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, menyisakan rasa penasaran yang besar di tengah rasa sakit hatinya. Naira tahu, dia tidak bisa diam saja menangis di dalam toilet ini. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Rama.