Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: ANAKNYA OM-OM DEMAM, MAYA PANIK
Jam 2 pagi, Maya kebangun karena suara rintihan kecil dari box bayi.
"Adek..."
Dahi Arka panas banget. Maya tempelin bibir ke jidat anaknya, langsung kaget. Badannya kayak kebakar. Termometer digital bunyi tit... tit... 39,8 derajat. Merah.
"Ya Allah..." Air mata Maya netes. Tangan dia gemetar pas mau ambil selimut. Baru kali ini Arka sakit sejak lahir 8 bulan lalu. Selama ini Arka anaknya kuat, nyusu lancar, gak pernah rewel. Kenapa tiba-tiba begini?
Maya lari ke pintu kamar Haris. Om-om itu masih kerja di ruangannya. Lampu meja masih nyala, laptop kebuka, berkas-berkas kontrak berserakan. Dasi udah dilepas, kemeja putih kusut, 3 kancing atas kebuka. Matanya merah kurang tidur.
"Mas... Arka demam tinggi," suara Maya pecah. Napasnya ngos-ngosan.
Haris langsung buang laptop ke sofa. "Brapa?" Suaranya berat, tapi tangannya udah gemetar.
"Tiga sembilan koma delapan Mas."
Tanpa ngomong lagi, Haris nyerbu ke kamar Arka. Mukanya pucat pas lihat anaknya lemes, bibir kering, mata sayu. Arka biasanya kalo liat Papanya langsung ketawa, sekarang cuma merintih pelan.
Haris selimutin Arka pake selimut biru favoritnya. "Ke rumah sakit sekarang. Kamu gendong Arka, saya siapin mobil."
Di mobil Alphard hitam, Maya duduk di belakang gendong Arka sambil komat-kamit istighfar. AC udah dimatiin, tapi badan Maya dingin semua. Arka nangis pelan, badannya tiba-tiba kejang 2 detik. Jantung Maya mau copot.
"Mas, Arka kenapa? Dia bakal... dia..." Maya gak sanggup ngomong.
"Jangan ngomong sembarangan," potong Haris. Setirnya dipegang kenceng sampe buku jarinya putih. Matanya fokus ke jalan, tapi rahangnya keras. "Arka kuat. Anak kita kuat." Itu pertama kalinya Haris bilang 'anak kita'.
Untuk pertama kalinya Maya lihat Haris takut. Om-om dingin yg biasa tandatangan kontrak 500M tanpa kedip, sekarang tangannya gemetar di setir.
Di UGD Rumah Sakit Bunda, suster jaga langsung lari bawa brankar kecil pas lihat kondisi Arka. "Demam tinggi, Pak, Bu. Ada kejang ya tadi?"
"Iya Sus, dua detik," jawab Maya sambil nangis.
Arka langsung dibawa ke ruang tindakan. Maya mau ikut masuk, tapi ditahan Haris di bahu.
"Biar dokter yg kerja, May. Kamu duduk dulu. Kamu juga pucat."
Maya nurut duduk di kursi tunggu UGD. Bau disinfektan nyengat bikin mual. Tangan Maya dingin, diremas-remas sendiri. Tiba-tiba bayangan mertuanya muncul di kepala.
"Anak dari perempuan murahan kayak kamu gini pasti lemah. Gak bakal kuat hidup. Darahnya kotor." Itu kata Ibu Haris 8 bulan lalu pas Arka baru lahir.
"Enggak..." Maya tutup mulut, nahan jerit. "Anakku kuat. Anakku anak Haris Pratama. Anakku bakal sembuh. Ya Allah lindungi anakku..."
Haris yg dari tadi mondar-mandir, akhirnya jongkok di depan Maya. Tangannya yg biasanya dingin pas hitung saham, sekarang megang dua tangan Maya anget.
"Denger Maya. Lihat saya." Suara Haris pelan tapi tegas. "Arka itu anak Haris Pratama. Dia pewaris tunggal semua yg saya punya. Nama dia udah ada di surat warisan. Dia gak akan pergi secepat ini. Dokter di sini yg terbaik. Kamu percaya saya?"
Maya angguk sambil sesenggukan. Tangannya genggam tangan Haris erat. Untuk pertama kalinya, dia ngerasa Haris bukan om-om kaya yg beli dia 50 juta buat nikah kontrak. Tapi suami. Bapak dari anaknya. Imamnya.
Satu jam 20 menit kemudian, pintu UGD kebuka. Dokter Tiara, dokter anak langganan keluarga Pratama, keluar dengan jas putih.
"Pak Haris, Bu Maya."
Maya langsung berdiri. Kaki lemes.
"Alhamdulillah, demam karena infeksi tenggorokan akut. Ada radang di amandelnya. Untung cepat dibawa, Pak. Kalau telat 2 jam lagi bisa kejang demam berkelanjutan. Sudah kami kasih obat penurun panas lewat infus, sama antibiotik. Sekarang sudah tidur. Suhu terakhir 37,4. Besok pagi kalau sudah di bawah 37 dan mau nyusu, boleh pulang."
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..." Kaki Maya beneran lemes. Dia hampir jatuh kalau Haris gak cepet nahan pinggangnya, terus dipeluk.
"Sudah, udah aman Sayang," bisik Haris di kuping Maya. Panggilan 'Sayang' pertama kali.
Di ruang rawat VVIP, Arka tidur pules dengan infus di tangan kecilnya. Pipi yg tadi merah sekarang udah balik. Maya gak mau lepas dari sisi Arka. Kursi ditarik mepet kasur. Dia usap-usap rambut halus anaknya, dicium-cium tangannya yg mungil.
Haris duduk di sofa, dasi udah dilepas total, kemeja digulung. Matanya gak lepas dari anak-istri. HP-nya bunyi 20x karena ada meeting, tapi dia matiin.
"Maafin saya," tiba-tiba Haris ngomong pelan. Jam 4 pagi.
Maya nengok, mata bengkak. "Hah? Maafin apa Mas?"
"Selama 8 bulan ini." Haris natap Arka. "Saya pikir nikahin kamu cuma buat punya keturunan. Kewajiban marga Pratama. Kasih kamu uang 20 juta sebulan, rumah, mobil, selesai. Kamu urus anak, saya kerja. Kita gak saling cinta, gak papa." Haris ngusap muka pake telapak tangan. "Tapi pas lihat Arka kejang di mobil tadi, pas kamu nangis nyebut nama Allah... Saya baru sadar."
Haris diem, jakunnya naik turun.
"Sadar apa Mas?" suara Maya lirih.
"Kalau Arka kenapa-kenapa, semua perusahaan saya, semua gedung saya, semua saham saya... gak ada artinya, May. Kosong. Kalau kamu nangis, dada saya sesak. Saya takut kehilangan kalian. Bukan kehilangan pewaris. Tapi kehilangan... keluarga saya."
Maya diem. Jantungnya dug-dug-dug bukan karena takut lagi. Tapi karena kalimat itu.
"Saya janji, May." Haris berdiri, terus jongkok lagi di samping Maya, genggam tangan Maya. "Mulai malam ini saya bukan cuma bapak di atas kertas. Bukan cuma ATM berjalan. Saya mau belajar jadi suami kamu. Mau belajar jadi Papanya Arka beneran. Boleh? Kasih saya kesempatan?"
Air mata Maya jatoh lagi. Netes ke tangan Haris. Tapi kali ini bukan sedih. Lega. Bahagia. Takut. Campur aduk.
Jam 5.15 pagi, infus Arka udah setengah. Demamnya turun jadi 37,1. Tiba-tiba mata Arka buka dikit. Dia lihat Maya, senyum lemah, tangannya narik-narik jilbab Maya. "Mamaaah..."
"Ya Allah, anak Pinter," Maya langsung ciumin pipinya.
Haris ikutan berdiri, nyium jidat Arka lama banget. "Pinter anak Papi. Papi bangga sama Arka. Arka kuat kayak Papi." Terus dia nengok ke Maya, matanya berkaca-kaca. "Makasih ya May... udah jadi ibu yg hebat buat anak kita. Maaf kalo selama ini saya beku."
Maya gigit bibir nahan tangis. Ini beneran Haris? Om-om dingin yg dulu tampar aku pas malam pertama karena aku nangis? Yg bilang 'Jangan baper, ini cuma kontrak'?
Jam 10 pagi, suster bilang boleh pulang. Di mobil pulang, Haris nyetir pelan banget, 40 km/jam. Beda sama biasanya yg suka ngebut 120 km/jam di tol. Di kursi belakang, Maya pangku Arka yg udah seger, mau nyusu.
"Mas," Maya panggil pelan pas lampu merah.
"Hm?" Haris nengok lewat kaca spion.
"Makasih ya... udah panik bareng aku tadi malem. Udah... jadi Papi beneran."
Haris senyum. Senyum tulus pertama yg Maya lihat. Tangannya mundur, ngusap kepala Maya sekilas. "Kita keluarga, May. Janji saya tadi serius. Panik ya bareng-bareng. Jaga Arka bareng-bareng. Bahagia juga bareng-bareng. Gak ada lagi kontrak-kontrakan."
Maya nunduk nutupin pipi yg merah padam. Di belakang, Arka yg udah seger ngoceh "Mamah... Papah... Mbah..." sambil ketawa, tangannya tepuk-tepuk pipi Maya.
Untuk pertama kalinya setelah 8 bulan nikah kontrak, setelah 8 bulan tidur kamar sendiri-sendiri, setelah 8 bulan cuma status istri di atas kertas...
Maya ngerasa punya rumah. Punya suami. Punya keluarga.
BERSAMBUNG