Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: KETERGANTUNGAN YANG BERBAHAYA
Bau tajam antiseptik langsung menyergap indra penciuman Axel begitu kesadarannya berangsur pulih. Ia mengerjapkan mata, mendapati dirinya sedang duduk di atas kursi kayu yang keras di dalam ruang medis khusus Sektor Barat. Ruangan itu terasa luas namun kedap suara, dikelilingi oleh dinding yang telah dilapisi pelindung sihir tingkat tinggi.
Di atas ranjang yang berada tepat di hadapannya, Reynarda Vance terbaring tanpa daya. Zirah perak yang biasanya melindungi tubuhnya kini telah ditanggalkan, menyisakan pakaian rajut hitam yang membalut ketat perawakan atletisnya. Tanpa baju besi dan pedang raksasa di sisinya, sang Silver Aegis tampak seperti gadis biasa yang tengah terlelap dalam tidur nyenyak. Guratan lelah di wajah cantiknya perlahan memudar, digantikan oleh irama napas yang teratur dan tenang.
Axel memijat pelipisnya yang masih terasa berdenyut nyeri. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit gemetar; peristiwa beberapa jam lalu di koridor yang runtuh itu terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata untuk dilupakan.
Wuss.
Panel sistem semi-transparan mendadak muncul kembali di depan matanya tanpa diundang.
> ### [ STATUS HEROINE: REYNARDA VANCE ]
> * Kadar Kewarasan (Sanity): 30\% [Stabil - Tidur Nyenyak]
> * Jarak dari Host: 1,5 Meter.
> Efek Pasif: Selama Host berada dalam radius 3 meter, penurunan alami Sanity* target berkurang hingga 0\%.
"Jadi, sekarang aku benar-benar menjadi obat penenang berjalan?" Axel berbisik lirih sembari tersenyum kecut. Ia hanyalah orang biasa di tengah dunia yang sudah tidak waras ini. Di saat orang lain berlomba-lomba membangkitkan kemampuan bertarung yang luar biasa, sistem miliknya justru memberinya bakat sebagai seorang "pawang emosi".
Kreeek.
Pintu ruang medis terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya dengan jubah putih dokter yang dihiasi lambang profesor Akademi Pentagon melangkah masuk. Profesor Leo, kepala divisi medis akademi, menatap Axel dengan sorot mata yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa tidak percaya dan syukur yang mendalam.
"Kau masih di sini, Axel?" suara Profesor Leo terdengar berat, menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
"Saya tidak berani beranjak sebelum Anda kembali, Profesor," jawab Axel dengan sopan. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang staf kebersihan. Status sosialnya di akademi ini berada di kasta paling bawah.
Profesor Leo menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati ranjang Reynarda untuk memeriksa indikator pada layar sihir. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Distorsi mental yang dialami Lady Reynarda sebenarnya sudah mencapai tahap akhir. Secara teori, ia seharusnya sudah berubah menjadi monster tanpa akal sehat dan meratakan tempat ini. Namun sekarang... gelombang otaknya bahkan jauh lebih tenang daripada saat ia sedang bermeditasi."
Leo membalikkan badan, menatap Axel dengan tajam. "Para petinggi akademi dan perwakilan Kekaisaran sedang gempar di ruang rapat. Mereka ingin tahu sihir atau artefak apa yang kau gunakan untuk meredakan amukan Silver Aegis."
"Saya bersumpah, Profesor, saya tidak memiliki artefak apa pun," Axel mengangkat kedua tangannya, mencoba berakting panik. "Saat itu saya hanya terjebak. Saya pikir ajal sudah menjemput, jadi secara refleks saya menerjang dan memeluknya. Saya benar-benar tidak tahu mengapa ia mendadak tenang."
Tentu saja Axel harus berbohong. Mengungkapkan keberadaan Sistem hanya akan membuatnya berakhir di meja bedah laboratorium penelitian sihir kekaisaran.
Profesor Leo menatap Axel cukup lama, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, melihat mata Axel yang polos dan tubuhnya yang sama sekali tidak memiliki aliran mana, sang profesor akhirnya mendesah kalah. "Jiwa manusia adalah misteri terbesar, Axel. Mungkin frekuensi jiwamu memiliki sifat anti-sihir langka yang mampu meredam distorsi emosinya. Terlepas dari itu, kau telah menyelamatkan ribuan nyawa sore ini."
Tepat setelah kalimat itu terucap, kelopak mata Reynarda bergerak.
Sebuah lenguhan kecil lolos dari bibir tipisnya. Perlahan, mata biru jernih yang menyerupai kristal es itu terbuka. Detik pertama saat kesadarannya kembali, tubuh Reynarda langsung menegang. Insting bertarungnya sebagai ksatria suci tingkat tinggi memicu letupan aura emas tipis yang mendadak muncul dari tubuhnya.
[Peringatan! Target mendadak terbangun. Kebisingan jiwa meningkat. Sanity: 30% -> 28%]
"Lady Reynarda, Anda sudah aman. Anda sekarang berada di ruang medis akademi," Profesor Leo mencoba mendekat dengan nada panik.
Namun, Reynarda sama sekali tidak mendengarkan. Napasnya mulai memburu. Ingatan akan bisikan kegelapan dan trauma medan perang yang menyiksanya kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Matanya mulai bergerak liar mencari sesuatu. Ia merasa tersesat, seolah sedang tenggelam di lautan lumpur hitam yang pekat.
"Di mana..." bisik Reynarda parau, tangannya mencengkeram sprei ranjang hingga robek. "Di mana dia...?"
Axel, yang melihat indikator Sanity Reynarda kembali berkedip kemerahan, sadar ia tidak bisa tinggal diam. Jika wanita ini mengamuk kembali di ruang tertutup ini, Profesor Leo dan dirinya akan menjadi korban pertama.
Axel memberanikan diri melangkah maju, melewati Profesor Leo, dan berdiri tepat di samping ranjang. "Lady Reynarda, saya di sini."
Begitu mendengar suara Axel, kepala Reynarda langsung menoleh dengan cepat. Mata birunya yang liar seketika terkunci pada sosok Axel.
Ajaib. Detik itu juga, letupan aura emas yang berbahaya di sekitar tubuh Reynarda langsung padam. Sensasi hangat, tenang, dan damai yang ia rasakan sebelum pingsan tadi kembali merayap di dadanya. Keberadaan Axel terasa seperti sebuah jangkar kokoh yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai kegilaan.
Tanpa memedulikan kehadiran Profesor Leo, Reynarda tiba-tiba menjangkau ke depan. Tangan halusnya yang biasa menggenggam pedang maut kini mencengkeram lengan baju seragam Axel dengan sangat kuat.
"Jangan bergerak," perintah Reynarda. Suaranya terdengar dingin dan tegas, khas seorang ksatria agung, namun Axel dapat menangkap getaran ketakutan yang samar di dalamnya. "Tetap di situ. Jangan menjauh dariku... satu senti pun."
Profesor Leo terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Sang Silver Aegis yang terkenal angkuh, dingin, dan selalu menolak disentuh oleh pria mana pun di kekaisaran—bahkan oleh pangeran mahkota sekalipun—kini tengah memegang lengan seorang staf kebersihan dengan tatapan yang penuh damba.
"Ini... benar-benar luar biasa," gumam Profesor Leo dengan mata berbinar-binar. "Ketergantungan psikologis mutlak!"
Reynarda mengabaikan sang dokter. Ia menarik tubuh Axel agar duduk di tepi ranjangnya. Meskipun kepalanya masih terasa pening, ia memejamkan mata dan menyandarkan keningnya yang polos pada lengan Axel yang terbalut kain seragam murah. Ia menghirup aroma tubuh Axel seolah pemuda itu adalah pasokan oksigen terakhirnya di dunia.
[Ding! Kontak fisik pasif terdeteksi. Sanity Reynarda Vance meningkat perlahan: 31%... 32%...]
[Pemberitahuan: Target telah mengunci Host sebagai 'Zona Nyaman Utama'. Detak jantung target melambat, rasa cemas berkurang 80%.]
Axel hanya bisa duduk kaku layaknya patung batu, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras. Di satu sisi, ia lega karena dunia tidak jadi kiamat. Namun di sisi lain, melihat bagaimana tatapan mata Reynarda yang tadinya penuh otoritas kini berubah menjadi posesif dan penuh ketergantungan, Axel merasa merinding.
"Profesor Leo..." Axel menatap sang dokter dengan pandangan meminta tolong.
Profesor Leo justru tersenyum lebar, seolah baru saja menemukan solusi bagi masalah terbesar di dunia. Ia membetulkan posisi kacamata kudanya lalu berdehem.
"Axel, sepertinya mulai hari ini, tugasmu di akademi ini akan berubah total," ucap Profesor Leo dengan nada serius yang tidak bisa diganggu gugat. "Kekaisaran tidak boleh kehilangan pahlawan terkuatnya hanya karena kegilaan. Dan karena kaulah satu-satunya obat bagi Lady Reynarda... aku akan merekomendasikan kepada Kepala Sekolah untuk mengangkatmu menjadi Asisten Pribadi Khusus Lady Reynarda Vance."
Axel menelan ludah. Asisten pribadi khusus? Itu artinya ia harus menempel pada wanita berbahaya ini sepanjang hari, mengawasinya, dan memastikan ia tidak "meledak".
"Tetapi Profesor, saya hanyalah staf biasa—"
"Tidak ada bantahan, Axel. Ini perintah langsung demi keamanan nasional," potong Profesor Leo tegas. "Gajimu akan dinaikkan sepuluh kali lipat, dan kau akan dipindahkan ke fasilitas asrama khusus yang sama dengan Lady Reynarda agar kau bisa siaga 24 jam jika Sanity-nya menurun."
Axel tertegun. Tawaran kenaikan gaji sepuluh kali lipat jelas sangat menggiurkan bagi pemuda miskin sepertinya. Namun, saat ia menunduk dan melihat bagaimana Reynarda mempererat cengkeramannya pada lengan jubahnya, seolah-olah ia adalah barang milik berharga yang tidak boleh disentuh orang lain, Axel tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Ia telah resmi menjadi pawang dari seorang pahlawan wanita yang bisa berubah menjadi penjahat paling mengerikan kapan saja. Dan ini hanyalah permulaan, karena di sudut lain akademi ini, sebuah "bom waktu" berwujud penyihir ras peri legendaris juga tengah melangkah mendekat dengan kadar kewarasan yang tidak kalah kritis.