NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Hari sudah malam. Matahari sudah benar-benar meninggalkan singgasananya. Bulan menggantikan perginya mentari, dengan di temani bintang-bintang yang gemerlap.

Natalie, sudah berdandan sedari tadi. Rambutnya yang digerai panjang, sedikit pita yang terpasang apik di tempatnya. Ia memakai atasan berwarna putih dengan celana hitam, di baluri dengan jaket kulit berwarna hitam. Ia memakai sepatu senada dengan bajunya.

Drrtt … Drrtt …

"Iya Ian. Ada apa?"

"Gue udah di depan."

"Oke. Gue turun sekarang."

Natalie mematikan telponnya dan turun ke bawah. Tak lupa membawa dompet yang ia selipkan di jaket. Jaga-jaga untuk nanti, siapa tau ia laper ingin beli makanan.

Di luar, ia melihat Fabian dengan pakaian yang senada dengannya. Padahal keduanya tidak janjian, hanya suatu kebetulan yang tidak sengaja.

Di tempatnya, Fabian sedikit terpana dengan kecantikan Natalie. Meskipun sahabatnya itu tidak memakai make-up, tetap tidak melunturkan kecantikannya.

"Sudah siap jalan-jalan, princess."

Fabian mengulurkan tangannya yang di balas dengan Natalie. Keduanya berjalan menuju motor Fabian dengan bergandengan tangan. Sangat romantis sekali bukan, untuk sebuah sahabat.

"Ian, kita mau jalan-jalan ke mana aja selain ke taman?" tanya Natalie sedikit berteriak.

"Emm, di mana ya …."

"Gimana kalau kita makan di tempat biasa?"

"Boleh."

Tak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk sampai di taman. Fabian memarkirkan motornya tak jauh dari tempatnya. Mereka duduk di atas rerumputan dengan sebungkus telur gulung yang mereka beli tadi saat di jalanan.

"Nata, " panggil Fabian.

"Hmm."

"Lo liat deh, bintang yang paling terang itu." Fabian menunjuk ke arah bintang yang paling terang.

Bintang itu berada di tengah-tengah bintang yang sedikit meredup. Cahayanya yang paling bersinar terang. Natalie melihat bintang itu dengan kagum.

"Bintang itu sama kayak kita," ujar Fabian.

Natalie menolehkan kepalanya bingung. Ia menatap wajah Fabian yang masih melihat bintang itu.

"Maksudnya?"

"Bintang yang bersinar paling terang di antara kedua bintang yang redup. Sama kayak kita. Bersinar terang di antara bayang-bayang yang mulai meredup. Tapi Lo tau, bintang itu nggak selamanya akan bersinar. Ada kalanya bintang itu meredup. Sama seperti kehidupan. Tak selamanya hidup yang kita banggakan akan selalu berada di atas, ada kalanya kita berada di bawah."

Fabian beralih menatap mata Natalie, tangannya menggenggam tangan sahabatnya itu. "Nata, kalau suatu saat bintang itu redup, tolong ingatkan gue untuk selalu bersabar ya. Agar gue bisa mempertahankan sinar yang perlahan menghilang itu. Gue ingin lo tetap ada di sisi gue untuk menyinari kehidupan gue yang mulai abu-abu."

"Hey, Lo okay?" tanya Natalie dengan lembut.

"Gue okay," jawabnya dengan suara yang sedikit serak.

Tangan Natalie bergerak, mengusap buliran air mata yang jatuh di pelupuk mata Fabian.

"Lantas, kenapa air ini jatuh kalau Lo emang baik-baik saja."

"Nata, can i hug you?" pinta Fabian.

"Sure."

Fabian memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Tangis yang ia tahan dari tadi, tumpah begitu saja tanpa bisaa di hentikan. Jiwa dan raganya lelah menghadapi segala permasalahan yang terjadi. Yang dirinya butuhkan sekarang adalah sebuah pelukan. Pelukan yang tulus dan menghangatkan. Dan itu hanya ada di dalam diri sahabatnya.

"Nata, I'm tired. I'm tired of hearing them fight every day. Every second feels so suffocating. Everything feels heavy, Nata. What should I do?"

Kata demi kata yang keluar dari mulut Fabian penuh keputusasaan. Suaranya terdengar begitu pilu. Hanya tangisan yang mampu menggambarkan betapa lelahnya bertahan di saat semua orang menyuruhnya untuk berhenti. Semua beban yang di pikulnya terlalu berat, bahkan hanya untuk sekedar bernapas.

Natalie mengusap punggung Fabian, memberikan ketenangan yang jarang ia dapatkan. Ia mencoba memahami apa yang sedang sahabatnya itu alami, tapi semuanya terasa memberatkan.

Beberapa menit berlalu, seiring waktu tangisan itu mulai berhenti. Napasnya mulai teratur, bahkan terlalu tenang untuk di sebut normal. Jejak-jejak air mata surut menghilang. Wajah yang semula berantakan, kini terpejam erat.

Natalie menatap wajah itu dengan sendu. Ia benar-benar merasa bahwa dirinya masih tidak mampu mengerti dengan keadaan sahabatnya itu. Ia merasa, kalau apa yang terjadi mungkin lebih berat dari yang ia kira.

Selama ini dirinya selalu berpikir, bahwa dirinya lah yang paling menderita. Sampai-sampai ia tak sadar, bahwa di luaran sana ada yang lebih menderita dari pada dirinya.

Natalie mendongakkan kepalanya, menghalau air mata yang akan jatuh. Ia mencoba mengatur napasnya yang sedikit sesak. Seolah-olah taman yang begitu luas ini tak mampu menghalau rasa sesak yang di dadanya. Rasanya semakin terhimpit, tak kala rasa itu datang lagi.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya. Mencari obat yang ia simpan rapi-rapi. Setelah di rasa obat itu bereaksi, ia menelpon Nathan. Menyuruhnya agar datang ke sini membawa selimut.

"Nata!"

Nathan datang dengan membawa Tote bag di tangannya,yang ia yakini bahwa isi di dalamnya adalah selimut yang ia pinta.

"Kenapa nih curut satu?" tanya Nathan pada. Natalie yang menutup tubuh Fabian dengan selimut.

Natalie menghela napas panjang, sebelum akhirnya menceritakan semuanya. Nathan mendengarkan semua cerita itu dengan ekspresi yang berganti-ganti. Bahkan sekarang pemuda di depannya itu menangis sesenggukan.

"Gue nggak nyangka kalau ternyata sohib kita yang satu ini semenderita itu," ucapnya sambil sesenggukan.

"Nata …."

"Peluk," ucap Nathan manja sambil merentangkan kedua tangannya.

"Utututu, sini, sini, gue peluk."

Mereka berdua saling berpeluk manja, hingga melupakan tubuh Fabian yang terhimpit keduanya.

"Nata, sesak," ujar Fabian dalam tidurnya yang sedikit terganggu.

"Ups, maaf."

"Ian lucu ya kalau lagi tidur gitu, gemes."

Nathan mencolek pipi Fabian gemas. Hidungnya yang merah, dengan mata sembab cukup membuatnya sedikit terhibur.

"Eh, ini udah jam berapa ya?"

Natalie melihat jam di handphonenya, melotot kaget saat mengetahui udah tengah malam. Dengan segera ia membangunkan Fabian yang masih tertidur di pangkuannya.

"Duh, Nathan. Bantuin dong," pinta Natalie.

"FABIAN. NATA DI CULIK!" pekik Nathan tepat di telinganya, membuat Fabian membuka matanya lebar-lebar.

Dengan kesadaran yang belum setengahnya terkumpul, ia langsung berlari—membuatnya tersungkur. Sedangkan sang pelaku hanya tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya jatuh. Natalie menggeplak bahu Nathan, lalu menariknya secara tak manusiawi membuatnya terpontang-panting.

"Hwaa! Nata, jangan lari!" hebohnya di belakang.

"Ian, Lo nggak apa-apa?" tanya Natalie.

Sedangkan Nathan, ia hampir terperosok ke depan kalau tidak berpegangan pada pohon di sampingnya. Ia merem melek sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang. Mengambil napas dalam-dalam, menetralkan degup jantungnya.

"Hampir aja gue mati," gumamnya.

"Nata?"

Ian langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. Membolak-balik tubuh Natalie, takut-takut ada yang terluka. Setelah di pastikan tak ada yang terluka, ia membuang napasnya lega.

"Woy, yang seharusnya Lo khawatirin itu gue bukan Nata. Lo nggak liat apa, pangeran yang paling purnama ini hampir nyusruk ke depan?" ujar Nathan menggebu-gebu, ia tak terima kalau hanya Natalie saja yang di khawatirkan. Kan dirinya juga ingin di beri perhatian.

"Nathan! Ini pasti ulah Lo, ya!"

Fabian berlari mengejar Nathan yang mencoba kabur darinya. Mereka berdua berlarian mengelilingi taman. Sedangkan Natalie, ia hanya tertawa lepas melihat kelakuan keduanya.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!