NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: PESTA DANSA DI PALAZZO FARNESE

Malam itu, langit Roma berwarna biru safir, namun bagi Alesha, suasana di dalam Villa terasa seperti ketenangan sebelum badai besar melanda.

Di depan cermin raksasa setinggi langit-langit, ia berdiri menatap pantulannya sendiri. Ia tidak lagi melihat gadis jalanan dari San Lorenzo yang tangannya selalu kotor oleh cat dan debu kain.

Alesha mengenakan gaun rancangannya sendiri, sebuah mahakarya yang ia sebut sebagai “The Black Sovereign”.

Gaun itu terbuat dari sutra Italia hitam pekat yang menyerap cahaya, namun di setiap lipatannya, terdapat aksen emas yang dijahit dengan teknik bordir tangan yang rumit.

Emas itu tidak berkilau lembut, ia tampak tajam, melambangkan kekuasaan dan duri. Bagian punggungnya terbuka rendah, sementara kerah tingginya memberikan kesan angkuh yang tak tergoyahkan.

"Kau terlihat... berbahaya," suara bariton Matteo memecah keheningan dari arah pintu.

Alesha berbalik. Matteo sudah berada di kursi rodanya, mengenakan tuksedo hitam yang dipotong sempurna.

Wajahnya yang kaku tetap dingin, namun matanya yang kelabu menyapu sosok Alesha dari ujung kepala hingga ujung kaki yang membuat napas Alesha tertahan sejenak.

"Itu tujuanku," sahut Alesha sambil memakai anting-anting emasnya.

"Malam ini bukan hanya tentang perkenalan. Ini tentang pernyataan perang."

Matteo mengangguk kecil.

"Ingat kesepakatan kita. Di depan umum, kau adalah istri yang setia. Di belakangku, kau adalah telingaku."

"Dan kau, suamiku yang terhormat, cukup duduk manis dan lihat bagaimana aku menaklukkan mereka," balas Alesha dengan senyum miring yang liar.

Palazzo Farnese adalah puncak dari segala kemewahan aristokrat Roma. Aula besarnya diterangi oleh ribuan lilin, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau anggur vintage.

Saat pintu besar aula dibuka, semua percakapan seolah berhenti.

Alesha melangkah masuk dengan kepala tegak, jemarinya yang ramping mencengkeram pegangan kursi roda Matteo.

Suara gesekan roda di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantung di tengah kesunyian yang mencekam.

Mereka menjadi pusat perhatian. Pasangan yang paling dibicarakan, sang penguasa Al-Ricci yang lumpuh dan "ban serep" dari keluarga yang tak penting.

Bisik-bisik mulai terdengar seperti desis ular.

"Itukah Alesha? Kupikir dia hanya gadis bengkel yang tidak tahu aturan."

"Lihat gaunnya... sangat berani. Tidak seperti Kiara yang selalu tampil manis."

"Kasihan Matteo, memiliki perhiasan secantik itu tapi tidak bisa menikmatinya."

Alesha mendengar semuanya, namun ia hanya melempar senyum penuh kemenangan yang dingin.

Ia mendorong Matteo menuju tengah ruangan, menyapa para duta besar dan bangsawan dengan bahasa Italia yang formal namun tetap memiliki aksen tajam yang khas.

Ia memainkan perannya dengan sempurna, istri yang anggun, protektif, dan sangat berkuasa.

Namun, ketenangan itu terusik saat seorang pria jangkung dengan rambut pirang klimis menghalangi jalan mereka. Fabio Valli.

Alesha mengenalinya dari arsip foto keluarga, mantan kekasih Kiara yang terkenal karena reputasinya sebagai playboy yang gemar menghamburkan harta orang tuanya.

"Ah, Alesha. Kecantikanmu benar-benar menyia-nyiakan tempat," ucap Fabio dengan suara keras yang sengaja ditarik untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Mata Fabio menyapu tubuh Alesha dengan cara yang menjijikkan, lalu melirik rendah ke arah Matteo.

"Kasihan sekali kau, Alesha. Harus menghabiskan malam-malammu mengurus pria setengah fungsi seperti dia," Fabio tertawa, sebuah tawa yang merendahkan.

"Matteo, bagaimana rasanya memiliki istri sehebat ini tapi hanya bisa melihatnya dari bawah? Bukankah menyedihkan saat kau bahkan tidak bisa berdiri untuk menyambut tamu istrimu sendiri?"

Beberapa orang di sekitar mereka terkikik pelan. Matteo tidak bereaksi secara fisik, ia hanya menatap Fabio dengan mata yang begitu dingin hingga suasananya terasa membeku.

Namun, Alesha bisa merasakan pegangan kursi roda itu bergetar halus, Matteo menahan amarahnya, atau mungkin menahan sandiwaranya.

Sifat bar-bar Alesha meledak, namun kali ini ia tidak berteriak. Ia justru melangkah maju dengan tenang, meraih sebuah gelas sampanye dari pelayan yang melintas.

"Fabio, bukan?" tanya Alesha dengan nada manis yang mematikan.

"Ya, Sayang. Mungkin kau butuh teman berdansa yang benar-benar bisa... bergerak?" Fabio mengedipkan mata, sangat yakin dengan pesonanya.

"Kau benar," ucap Alesha.

"Kau memang sangat ahli bergerak, terutama bagian bawah tubuhmu."

Tanpa aba-aba, Alesha memiringkan tangannya.

Byur!

Seluruh isi gelas sampanye yang dingin itu tumpah tepat di bagian selangkangan celana putih mahal milik Fabio.

Fabio terlonjak kaget, wajahnya berubah merah padam saat cairan kuning itu meresap ke celananya, membuatnya tampak seolah-olah ia baru saja mengompol di tengah pesta paling bergengsi di Roma.

"Apa yang kau lakukan, jalang?!" bentak Fabio, mencoba menutupi bagian depannya dengan tangan.

Alesha meletakkan gelas kosong itu kembali ke nampan pelayan dengan anggun. Ia menatap Fabio dari atas ke bawah dengan tatapan jijik yang murni.

"Oops. Maaf, aku pikir kau sedang haus di bagian bawah sana, karena sepertinya otakmu tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup," Alesha melangkah mendekat, suaranya kini cukup keras untuk didengar semua orang.

"Dengarkan aku baik-baik, Fabio. Suamiku mungkin sedang duduk di kursi ini, tapi setidaknya fungsi otaknya jauh di atasmu yang hanya bisa bicara lewat selangkangan. Berhentilah menggonggong, atau lain kali bukan sampanye yang akan kutumpahkan ke wajahmu, tapi martabatmu yang sudah tipis itu."

Keheningan yang mengikuti ucapan Alesha jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Fabio, yang kini menjadi bahan tertawaan karena noda di celananya, segera membalikkan badan dan lari keluar dari aula dengan rasa malu yang luar biasa.

Alesha kembali ke belakang kursi roda Matteo, menarik napas panjang, dan menatap para tamu lainnya dengan tantangan.

"Ada lagi yang ingin berkomentar tentang fungsi tubuh suamiku?"

Tidak ada yang berani menjawab. Mereka semua segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan percakapan masing-masing.

Setengah jam kemudian, saat kerumunan mulai sibuk dengan pesta dansa, Matteo memberikan isyarat pada Marcello untuk meninggalkan mereka berdua sejenak.

Dengan tatapan matanya, Matteo meminta Alesha untuk mendorongnya ke arah balkon luar yang menghadap ke arah taman Palazzo.

Angin malam Roma yang sejuk menyapu wajah mereka, membawa aroma melati. Jauh dari kebisingan musik dan kepalsuan para bangsawan, kegelapan balkon itu terasa menenangkan.

Alesha menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon, masih merasakan adrenalin yang berdenyut di nadinya.

"Aku tahu, itu tadi tidak terlalu 'anggun'. Tapi aku tidak tahan melihat pria idiot itu menghinamu."

Hening sejenak. Lalu, Alesha merasakan sebuah tarikan kuat di pergelangan tangannya.

Matteo menariknya mendekat hingga Alesha terpaksa membungkuk di hadapan kursi roda pria itu.

Wajah mereka kini sejajar. Matteo tidak melepaskan tangannya, jari-jarinya yang kuat melingkari pergelangan tangan Alesha dengan tegas namun tidak menyakitkan.

"Kau gila," bisik Matteo.

Suaranya tidak lagi dingin. Ada nada yang lebih dalam, sesuatu yang mirip dengan pengakuan.

"Tidak ada seorang pun, bahkan ayahku sekalipun, yang pernah membela kehormatanku seperti itu di depan umum."

"Aku tidak membela kehormatanmu," sanggah Alesha, meskipun jantungnya berdebar tidak keruan karena kedekatan mereka.

"Aku membela investasiku. Jika kau dipermalukan, bisnisku juga ikut buruk."

Matteo menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang tampak jujur. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Alesha, embusan napasnya terasa panas di kulit leher Alesha yang sensitif.

"Kau pembohong yang buruk, Alesha," bisik Matteo.

"Tapi aku terkesan. Cara kau membungkamnya... itu adalah hal paling menarik yang pernah kulihat di pesta dansa yang membosankan ini."

Matteo melepaskan tangan Alesha, namun tatapannya tetap terkunci pada matanya.

"Mulai malam ini, kau bukan lagi sekadar 'istri kontrak' bagiku. Kau adalah sekutu yang berbahaya. Dan aku mulai berpikir... mungkin aku harus lebih waspada terhadapmu daripada terhadap musuh-musuhku."

Alesha berdiri tegak, mencoba mengatur napasnya yang kacau. Ia menatap Matteo yang duduk di bawah cahaya bulan, menyadari bahwa di balik topeng kepalsuan mereka, ada sebuah ikatan baru yang mulai terbentuk, sebuah ikatan yang dibangun di atas keberanian, rahasia, dan percikan aneh yang kini tidak bisa lagi mereka sangkal.

"Waspadalah sesukamu, Matteo," balas Alesha dengan bisikan yang sama menantangnya.

"Karena aku baru saja memulai."

Di kejauhan, musik waltz terdengar mengalun, namun di balkon yang sepi itu, sebuah tarian yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai antara sang penguasa yang penuh rahasia dan gadis bar-bar yang tidak punya rasa takut.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!