NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Air Mata di Balik Pintu Kamar Mandi

Matahari di Blitar merangkak naik, namun bagi Dinara, cahaya itu tak ubahnya lampu sorot yang menguliti setiap kesalahannya. Di rumah ini, standar kesempurnaan seolah dipahat di atas batu, dan Dinara merasa dirinya hanyalah sekadar debu yang gagal memenuhi cetakan tersebut.

Siang itu, suasana rumah kembali menegang. Bu Subroto berdiri di depan papan setrika dengan raut wajah yang masygul. Di tangannya, sehelai kemeja batik milik Dimas terbentang.

"Dinara, coba sini lihat," panggil Bu Subroto, suaranya dingin dan tajam.

Dinara yang baru saja selesai menjemur pakaian, melangkah mendekat dengan dada berdegup kencang. "Wonten menapa, Bu?"

"Ini lho, caramu menyetrika kemeja batik itu jangan asal panas. Garis lengannya harus lurus, saku depannya jangan sampai melintir begini. Kalau suamimu pakai baju kusut ke kafe, apa kata orang nanti? Dikira istrinya cuma tahu makan sama tidur saja," cecar Ibu tanpa ampun. "Terus itu, sepatunya Dimas kenapa belum disemir? Sudah jam sepuluh. Wong wedok iku kudu trengginas, jangan lelet. Di sini itu semuanya harus rapi sebelum bapakmu pulang dari sawah."

Dinara menunduk dalam. Tangannya meremas ujung daster yang ia kenakan. "Pangapunten, Bu. Tadi Dinara fokus cuci piring dulu, jadi agak telat menyemir sepatunya Mas Dimas."

"Alasan terus. Kuliah tinggi-tinggi tapi urusan rumah saja kewalahan. Apa perlu Ibu yang kerjakan semua?"

Kalimat terakhir itu seperti sembilu. Dinara tidak menjawab. Ia hanya bisa mengambil kemeja itu kembali dengan tangan gemetar. Belum sempat ia menanggapi, Dimas muncul dari ruang tengah, masih membawa beberapa berkas naskah yang sedang ia revisi.

Dimas mengamati situasi itu dengan cepat. Ia melihat wajah istrinya yang sudah memucat dan bibir yang bergetar menahan tangis.

"Lho, Bu. Itu kemeja batiknya memang Dimas yang suruh begitu," celetuk Dimas tiba-tiba, melangkah santai menuju mereka.

Bu Subroto menoleh heran. "Maksudmu apa, Dim? Mosok disetrika melintir begini kamu yang suruh?"

"Iya, Bu," sahut Dimas tenang sembari mengambil alih kemeja dari tangan Dinara. "Ini namanya gaya vintage kontemporer, Bu. Lagi tren di Surabaya. Kalau garis lengannya terlalu lurus, nanti Dimas dikira mau ikut upacara bendera, bukan mau ngurus kafe. Terus soal sepatu, itu memang sengaja nggak disemir. Dimas lagi eksperimen pakai gaya dusty look buat bahan tulisan novel terbaru. Biar kelihatan kayak penulis yang habis berkelana, bukan kayak pengantin baru yang dimanja istri."

"Oalah, kamu itu ada-ada saja alasannya. Selalu saja membela istri," gerutu Bu Subroto, meski tensi suaranya sedikit menurun karena logika aneh bin ajaib putranya.

"Bukan bela, Bu. Ini namanya efisiensi waktu," Dimas terkekeh, lalu menatap Dinara. "Dek, sudah. Mas mau pakai baju ini sekarang. Kamu masuk saja, istirahat dhisik. Tadi kayaknya kamu belum sempat dhuha kan? Sana, lapor dulu sama Gusti Allah."

Dinara tidak menunggu perintah kedua. Ia mengangguk singkat pada mertuanya, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi di area belakang. Begitu pintu kayu itu tertutup dan terkunci, ia segera menyalakan keran wastafel hingga maksimal.

Suara gemericik air yang deras menjadi perisai bagi isak tangisnya yang akhirnya pecah. Dinara menumpukan kedua tangannya di pinggiran wastafel, kepalanya menunduk dalam. Air mata jatuh bercampur dengan air keran yang mengalir. Ia merasa depresi. Tekanan untuk menjadi "menantu sempurna" di rumah Blitar ini terasa mencekik lehernya. Setiap langkah dipantau, setiap pekerjaan dinilai, dan setiap kesalahan kecil menjadi pembenaran atas stigma "anak kuliah yang tak bisa apa-apa".

Ia merasa gagal. Gagal menjadi istri yang bisa membanggakan suami di depan mertua, dan gagal menjadi dirinya sendiri.

Di luar, Dimas berdiri bersandar pada dinding di samping pintu kamar mandi. Ia tidak pergi. Ia mendengar semuanya—suara air yang sengaja dikencangkan dan isak halus yang sesekali lolos dari celah pintu. Hatinya mencelos. Ia tahu istrinya sedang berada di titik nadir.

Dimas melangkah ke dapur sebentar, menyeduh secangkir cokelat hangat dengan takaran manis yang pas—obat mujarab yang biasa ia gunakan untuk merayu pelanggan kafe yang sedang patah hati. Ia kembali ke depan pintu kamar mandi, lalu mengetuknya pelan.

Tok... tok...

"Dek," panggil Dimas lembut.

Tidak ada jawaban, hanya suara air yang semakin menderu.

"Dek Dinara, Sayang. Kerannya matiin dhisik. Nanti airnya luber kayak hatimu, Mas nggak punya pelampung buat berenang di sana," ucap Dimas dengan nada setengah bercanda, namun sarat akan kehangatan.

Isak tangis di dalam mendadak berhenti. Hening sejenak, sebelum akhirnya suara keran diputar hingga mati. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Dinara yang sembab dengan mata merah.

Dimas tidak langsung menghujani dengan pertanyaan. Ia menyodorkan cangkir cokelat itu ke depan wajah Dinara. "Minum dulu. Cokelat racikan pemilik Lini Masa Cafe. Harganya mahal, tapi buat kamu gratis, cukup bayar pakai senyum saja."

Dinara menerima cangkir itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Mas... maaf. Dinara cengeng banget ya?"

"Lho, siapa yang bilang cengeng? Ini namanya proses detoksifikasi emosi lewat mata," Dimas membimbing Dinara duduk di kursi kayu panjang di selasar samping yang sepi. "Mas minta maaf ya, Dek. Mas tahu tinggal di sini berat buatmu. Ibu itu memang orangnya perfeksionis, tapi beliau nggak bermaksud jahat. Beliau cuma belum kenal siapa Dinara-ku yang hebat ini."

Dinara menyesap cokelatnya, rasa manis dan hangatnya perlahan menjalar, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Dinara takut Mas malu punya istri kayak Dinara. Masak nggak becus, nyetrika salah, nyemir sepatu telat..."

Dimas menghela napas, lalu menatap mata istrinya lekat-lekat. "Dek, dengarkan Mas. Mas nggak butuh istri yang jago nyemir sepatu. Kalau Mas mau sepatu kinclong, Mas bisa ke tukang semir di stasiun. Mas juga nggak butuh setrikaan yang garisnya lurus sempurna. Mas nikahin kamu karena Mas butuh kamu sebagai teman diskusi, teman ibadah, dan teman buat menua bersama."

Ia meraih tangan Dinara, menggenggamnya erat. "Jangan paksa dirimu jadi orang lain cuma buat nyenengin Ibu. Cukup jadi Dinara yang Mas kenal. Kalau Ibu protes lagi, biar Mas yang jadi tamengnya. Kamu tahu kan, Mas ini jago ngarang cerita? Mas bisa bikin seribu alasan buat setiap kesalahanmu sampai Ibu bosan sendiri."

Dinara sedikit tertawa di sela sisa isakannya. "Mas ini pinter banget kalau nggedaprus (bicara asal)."

"Lho, ini namanya kreativitas, Sayang," Dimas mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari. "Besok lusa kita sudah balik ke Surabaya. Di sana kita cuma berdua. Mas janji, di apartemen nanti, kamu boleh nyetrika baju sambil jungkir balik pun nggak akan ada yang protes. Sabar sedikit lagi ya, Dek?"

Dinara mengangguk, kali ini dengan gurat keyakinan yang mulai kembali. "Nggih, Mas. Terima kasih sudah selalu ada."

"Sama-sama. Sekarang, habiskan cokelatnya, terus cuci muka. Jangan sampai Ibu curiga kita lagi bikin adegan drama di sini. Nanti dikira Mas lagi audisi pemain sinetron hidayah," gurau Dimas lagi.

Dinara bangkit, perasaannya jauh lebih ringan. Tekanan itu memang belum hilang sepenuhnya, tapi ia tahu ia punya tempat untuk bersandar. Dimas bukan hanya suaminya, tapi pelindung yang siap mengubah badai di rumah Blitar menjadi gerimis kecil yang bisa ia lalui.

Sore itu, saat Dinara kembali menyentuh papan setrika, ia tidak lagi merasa terbebani. Karena ia tahu, di ruang kerja sebelah, ada seorang pria yang selalu siap menjahit kembali harga dirinya yang sempat terkoyak oleh kata-kata, dengan benang-benang canda dan cinta yang tulus.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!