rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji - Mata Yang Tajam
Janji adalah janji. Dan hari ini, kebetulan langit sepertinya berpihak—[sialan] Farhank tak menghubunginya untuk memberikan pekerjaan kotor yang ingin sekali Shadiq akhiri. Nafas lega sesaat.
"Arva pasti senang," gumam Shadiq sambil menyeduh kopi hitam pekat di dapur sumpek. "Aku bawa dia dan Irva makan di luar. Entah ini uang halal atau haram... yang penting senyumnya kembali."
Pikirannya terpotong saat Arva menghampiri, rambutnya masih basah menetes, tubuhnya dibalut handuk tipis.
"Bang, dari tadi pagi kok aneh ya," ujar Arva, suara rendah penuh tanda tanya. "Mobil-mobil mahal pada lewat depan rumah."
Shadiq meneguk kopinya. Pikirannya langsung melesat ke truk box hitam, ke spion yang dia awasi, ke bayangan sedan gelap yang mengikuti. "DPR, partai, atau perusahaan properti, Sayang. Kan udah dekat pemilu. Lagian daerah Utara ini mulai rame proyek."
"Tapi bukan cuma lewat, Bang," Arva menambahkan, matanya menyipit. "Mereka berhenti. Sebentar, terus jalan lagi."
Kopinya tercekat di tenggorokan. "Banyak? Semua sedan hitam? Bukan... yang model i8, kan?" suaranya tanpa sengaja terdengar lebih dalam, lebih waspada.
Arva mengerutkan kening. "Aku mana ngerti model mobil, Bang. Tapi iya, hitam semua. Empat kali tadi. Kenapa? Kamu kaget banget?"
Shadiq cepat-cepat mengumpulkan diri. "Eh, enggak kok," katanya, memaksakan nada datar. "Cuma... mobil i8 itu punya temenku. Banyak bener yang lewat? Cuma berhenti doang, gak ada yang turun?"
"Kayaknya cuma ngincer," jawab Arva sambil menaikkan handuknya yang melorot. "Aku lihat dari jendela kamar. Bikin merinding aja."
"Itu perasaan kamu aja, Sayang," Shadiq mencoba menertawakan, tapi suaranya terdengar kering. "Mau nyolong apa di sini? Mau beli tanah kontrakan? Jangan dibesar-besarkan."
Arva memandangnya lama, seperti mencoba membaca yang tersembunyi di balik senyuman tipis suaminya. "Nggak percaya? Nanti kamu lihat sendiri kalau masih pada nongol."
"Ah, udah," Shadiq mendekat, membenarkan lilitan handuk di bahu Arva dengan gerakan halus yang ingin menenangkan. "Jangan dipikirin. Mending kamu siap-siap. Ganti baju yang bagus."
Arva menatapnya curiga. "Mau kemana?"
"Rahasia," ucap Shadiq, mencoba memancarkan keceriaan. "Ini kejutan. Ayo, cepat. Bawa Irva juga. Kita berangkat."
"Kejutan?" Arva menghela napas, tapi senyum kecil akhirnya muncul. "Libur aja udah kejutan terbesar, Bang. Tapi oke lah, aku ikut."
Saat Arva berbalik menuju kamar, senyum di wajah Shadiq langsung luluh. Dia melangkah ke halaman depan, matanya menyapu jalanan sepi. Hatinya berdebar kencang meski tidak ada mobil 1 pun .
Darah Shadiq mendidih. "Farhank," desisnya bergetar, gigi gemeretuk. "Kau masukkan aku dalam semua ini. Kau jadikan aku umpan."
Dendam dan adrenalin mendorongnya. Dengan langkah cepat dan penuh amarah, dia melesat keluar pagar, melihat sekeliling mencari keberadaan soal mobil hitam .
Tapi mobil itu seolah punya naluri. nyatanya shadiq tak melihat 1 pun mobil seperti yang Arva ceritakan mungkin mobil tau Shadiq akan bertindak jika melihatnya.
Shadiq terpaku di pinggir jalan, napasnya tersengal. Tangannya mengepal. Matahari pagi tiba-tiba terasa menusuk.
"Keterlaluan," gumamnya, suara serak penuh kepahitan. Dia menatap kosong ke arah langit. Sebuah pesan yang jelas, terang benderang seperti sinar matahari di atas seng: Kami mengawasimu. Setiap saat. Kami tahu segalanya.
Dia memutar badan, kembali ke rumah. Wajahnya sudah kembali seperti batu saat melihat Arva dan Irva, yang sudah bersiap dengan baju terbaik mereka, berdiri di teras.
"Ada apa, Bang? Tadi lari keluar mau ngapain?" tanya Arva, matanya lagi-lagi penuh pertanyaan.
"Gak ada," jawab Shadiq, menyembunyikan gemetar di tangannya dengan merogoh kunci motor. "Kucing liar gangguin motor. Sudah, ayo berangkat. Hari ini untuk kalian."
shadik ke halaman tidak ada mobil " Farhank kau yang membawa ku ke Semua ini "
ia jalan-jalan bersama istri dan anaknya .
Kafe Bunga Matahari di Kemang ramai dengan pasangan muda dan keluarga. Shadiq memilih meja di pojok, dengan pemandangan jelas ke pintu masuk dan parkiran. Instingnya bekerja.
Irva, dengan gaun merah muda barunya, menari-nari kecil. “Papa, aku mau es krim cokelat! Yang pakai sprinkles!”
“Boleh,” kata Shadiq, mengusap kepala putrinya. Matanya terus berpindah: ke pria sendirian di meja jauh, ke pengendara ojek online yang duduk terlalu lama, ke jendela kaca yang memantulkan gerakan di luar.
Arva menyentuh tangannya. “Kamu lagi cari siapa?”
“Hmm? Enggak. Cuma… lihat interiornya. Bagus ya.”
“Kamu dari tadi tegang, Bang. Kayak orang mau perang.”
Shadiq memegang tangan Arva. Kulitnya halus, hangat. “Aku cuma pengen hari ini sempurna. Buat kalian.”
Dia memesan makanan termahal di menu—steak, pasta truffle, jus buah impor. Arva memprotes. “Mahal amat, Bang. Nggak perlu.”
“Hari ini perlu.” Dia tersenyum, dan untuk sesaat, senyum itu tulus. Melihat Arva memotong steak dengan ragu, lalu matanya berbinar saat mencicipinya—itu adalah pembalasan kecil untuk semua dosanya.
Tapi ketenangan itu rapuh. Setiap kali pintu kafe terbuka, pundaknya menegang. Setiap mobil hitam yang melintas di jalan besar membuat napasnya tersendat.
Waterpark adalah surga bagi Irva, tapi neraga bagi paranoia Shadiq. Dia tidak berenang. Dia duduk di kursi pengawas, matanya seperti kamera pengintai yang memindai setiap sudut. Arva, dengan bikini biru tua yang sederhana namun menggambarkan lekuk tubuhnya dengan setia, bermain air dengan Irva. Air membasahi kulitnya yang kecokelatan, membuat bikini itu menempel. Shadiq mengingat masa lalu, ketika mereka berenang di sungai dekat kampung, ketika sentuhan basah mereka berakhir di rerumputan, tertawa dan berciuman.
Sekarang, sentuhannya adalah untuk mengangkat Irva, untuk menepuk punggung Arva dengan cepat. Intimasi telah dikubur di bawah peti dan ketakutan.
Seorang pria bertato di kolam sebelah terlalu lama menatap Arva. Shadiq berdiri, tangannya mengepal. Pria itu meliriknya, lalu berpaling. Mungkin hanya kebetulan. Mungkin tidak.
“Kamu mau berenang, Bang?” teriak Arva, melambaikan tangan.
Shadiq menggeleng, tersenyum paksa. “Aku jagain barang-barang!”
Mall adalah tahap terakhir. Arva mencoba beberapa baju—gaun katun yang sederhana, blus sutra yang membuatnya terlihat seperti wanita kelas atas yang bukan dirinya. Setiap kali dia keluar dari bilik ganti, Shadiq terpana. Dia masih cantik. Lebih dari itu—dia adalah alasan semua ini.
“Yang mana, Bang?” tanya Arva, berputar perlahan. Gaun hijau army itu pas di tubuhnya, memperlihatkan bahu yang indah.
“Yang itu. Beli dua.”
“Bang!”
“Kamu pantas,” kata Shadiq, suaranya serius. Dia membayar dengan uang tunai yang tebal—uang dari peti kemarin. Uang darah. Tapi saat dia melihat Arva tersenyum, memeluk bungkusan baju baru, rasanya seolah-olah uang itu telah disucikan, meski hanya sesaat.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka pulang. Jakarta Utara menyala dengan lampu jalan yang kuning dan papan reklame yang berkedip. Irva tertidur di pangkuan Arva, lelah dan bahagia.
“Hari yang perfect, Bang,” bisik Arva, kepalanya bersandar di punggung Shadiq. “Kayak mimpi.”
Shadiq ingin menjawab, tapi kata-katanya mati di tenggorokan.
Saat mereka membelok ke gang menuju rumah, sebuah siluet hitam menghalangi jalan.
Sebuah sedan BMW i8 hitam, kaca gelap, terparkir persis di depan gerbang rumah mereka. Mesinnya menyala, lampu kota menyala seperti mata predator.
Arva menjerit pelan. “Itu dia, Bang! Mobilnya! Yang tadi pagi!”
Shadiq merasa darahnya membeku lalu mendidih. Ini bukan lagi pengintaian. Ini adalah pengepungan. Ini adalah pesan terang-terangan: Kami di sini. Di rumahmu.
Dia melajukan motornya perlahan, mendekat. Jarak sepuluh meter. Lima meter.
Lampu sein kiri mobil itu menyala. Dengan gerakan yang santai, menghina, mobil itu meluncur pergi, meninggalkan mereka dalam debu dan kesunyian yang mencekam.
Shadiq memarkir motor, tangannya gemetar. Dia membantu Arva turun. Wajah istrinya pucat, matanya penuh teror yang sekarang menjadi nyata.
“Kamu bilang tadi pagi cuma perasaanku,” bisik Arva, suaranya getir. “Itu… itu nyata, Shadiq. Mereka tahu rumah kita. Mereka tahu kita.”
Shadiq menarik Arva dalam pelukan erat. Tubuhnya gemetar. “Aku tahu, Sayang. Aku tahu.” Dia menatap kegelapan di mana mobil itu menghilang. “Tapi aku janji, mereka nggak akan sentuh kalian. Aku akan selesaikan ini.”
Itu adalah janji yang dia ucapkan ke udara malam. Janji seorang petarung yang terpojok.
Malam itu, setelah Arva tertidur dengan gelisah, Shadiq berdiri di halaman belakang. Ponsel jadulnya berdering. Satu SMS dari nomor tak dikenal:
"Senang melihat keluargamu bersenang-senang. Mereka sangat berharga. Jaga baik-baik."
Dia menghancurkan ponsel itu dengan heel sepatunya.
Tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi keraguan.
Mereka telah menyentuh yang tak boleh disentuh.
Dan besok, saat matahari terbit, Shadiq akan berhenti berlari.
Dia akan berbalik.
Dan memburu.