ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 6: Cemburu, Posesif, dan Definisi Ghirah.
Pesta lelang amal Black Vipers masih berlangsung meriah. Setelah berhasil membuat Luna bungkam, Alaska membawa Sania berkeliling, memperkenalkan istrinya kepada beberapa rekan bisnis utamanya. Bukan karena bangga, melainkan untuk menegaskan status Sania sebagai "properti yang tidak tersentuh".
Di tengah kerumunan, mereka dihampiri oleh Tuan Zaydan, seorang pengusaha tambang yang terkenal dengan pandangan konservatifnya. Namun, tetap bergaul dengan dunia gelap demi kepentingan bisnis.
Tuan Zaydan menjabat tangan Alaska, namun menunduk hormat kepada Sania.
"Tuan Alaska, malam ini Anda telah memenangkan lelang yang paling berharga. Istri Anda, Nyonya Sania, adalah permata yang langka."
Alaska tersenyum tipis, namun matanya memancarkan peringatan.
"Dia milikku, Tuan Zaydan."
Zaydan mengangguk sopan.
"Justru itu yang membuat saya kagum. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan ini, Nyonya Sania mempertahankan adab dan kehormatannya. Ketegasannya lebih memikat daripada semua berlian yang ada di ruangan ini."
Zaydan lalu beralih menatap Sania, tetap menjaga jarak dan pandangan.
"Nyonya Sania, Anda membawa kedamaian. Saya harap Anda tetap kuat. Fitnah dunia ini keras."
Sania membalas dengan anggukan ringan.
"Terima kasih atas nasihatnya, Tuan. Semoga Allah selalu menjaga kita semua dari fitnah."
Selama percakapan singkat itu, Alaska merasa seperti ada api yang membakar dadanya. Ia tidak marah pada Zaydan, yang berbicara dengan penuh rasa hormat. Ia marah pada dirinya sendiri, karena pujian Zaydan terasa jauh lebih tulus dan berharga daripada semua kata-kata gombal yang pernah ia ucapkan pada wanita-wanita masa lalunya. Zaydan memuji kualitas Sania, hal yang belum pernah Alaska hargai.
"Waktunya kita pergi," potong Alaska tiba-tiba dengan nada dingin dan penuh otoritas.
Tanpa menunggu, ia menarik tangan Sania, menjauhkannya dari Zaydan.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, keheningan mencekik. Alaska terlihat sangat marah. Wajahnya gelap, urat di lehernya menonjol.
Begitu mobil berhenti dan pintu kamar tertutup, kemarahan Alaska meledak.
"Kau sengaja, kan!" bentak Alaska, melempar kunci mobil ke dinding.
Sania menoleh, bingung.
"Sengaja apa, Tuan?"
"Sengaja menarik perhatian Zaydan! Kau senang dipuji? Kau senang dihargai oleh pria lain di depan suamimu!" tuding Alaska, suaranya menggelegar.
"Saya tidak melakukan apa-apa selain menjawab sapaan orang dengan sopan, Tuan," jawab Sania tenang. "Anda sendiri yang memperkenalkan saya padanya."
"Tapi tatapannya! Dia menatapmu seolah kau adalah harta karun yang harus direbut! Dan kau, dengan kata-kata suci dan cadarmu, kau membuatnya semakin terobsesi!" Alaska berjalan mendekat, menatap Sania dengan mata penuh api.
"Cemburu?" Sania tidak gentar.
Justru nada suaminya memberinya kesempatan untuk menyampaikan kata nasihat yang menusuk.
"Aku posesif! Kau milikku!" tegas Alaska.
Sania menggelengkan kepala perlahan. "Itu bukan ghirah, Tuan Alaska. Itu hanya cemburu karena nafsu dan ego. Anda marah bukan karena kehormatan Anda ternoda, melainkan karena Anda takut 'barang' Anda dihargai oleh orang lain. Anda marah karena ia memuji saya dengan cara yang tidak pernah Anda lakukan."
Alaska terdiam, kata-kata Sania menembus lapisan egonya.
Sania melanjutkan, nadanya tegas, namun penuh keprihatinan.
"Cemburu karena nafsu adalah penyakit hati. Itu jenis kecemburuan yang dibenci Allah. Ghirah yang benar, Tuan, adalah rasa cemburu karena iman. Rasa takut jika istri Anda melakukan dosa. Rasa marah jika ia melanggar perintah Allah."
Ia menatap lurus ke arah Alaska, meski hanya matanya yang terlihat.
"Anda tidak marah saat saya berada di ruangan penuh maksiat dan alkohol. Anda tidak cemburu saat saya dipaksa bergaul dengan orang-orang yang haram. Anda hanya marah saat ada pria lain memuji saya, padahal Anda tidak berniat memberi saya nafkah batin dan ridho sebagai suami."
Sania menghela napas.
"Cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu seorang suami yang melihat istrinya mendekati perkara haram, bukan mendekati pria dengan lisan yang sopan. Anda harusnya cemburu melihat diri Anda sendiri yang semakin jauh dari fitrah."
Kata-kata itu bagaikan hadits yang menusuk dalam hati Alaska. Ia selalu menganggap cemburu adalah tanda kepemilikan. Ia tidak pernah membedakan antara ghirah yang mulia dan ego yang rendah.
Frustrasi karena tak bisa membantah kebenaran, Alaska mendekati Sania dan mengulurkan tangan.
"Buka cadarmu!" perintah Alaska dengan suara tertahan. "Jika kau benar-benar istriku, buktikan! Beri aku hakku untuk melihat wajahmu!"
Sania mundur selangkah.
"Saya sudah katakan, Tuan. Anda tidak boleh menyentuh atau melihat saya tanpa izin dan ridho dari saya sendiri. Saya hanya akan membuka ini jika Anda sudah menghargai saya sebagai wanita yang beriman, bukan sebagai kartu as atau boneka pemuas nafsu!"
"Kau berani mengajariku tentang ghirah dan ridho?" Alaska mengepalkan tinjunya, menahan diri untuk tidak menghantam Sania.
"Saya hanya menyampaikan kebenaran, Tuan. Anda bisa memiliki seluruh dunia dan anak buah yang tunduk, tapi jika hati Anda tidak tunduk pada kebenaran, Anda tetaplah raja yang paling kesepian," ucap Sania, menahan air matanya.
Alaska berbalik memunggunginya. Ia berjalan menuju minibar, mengambil sebotol whiskey mahal, namun ia tidak membukanya. Tangannya gemetar.
"Keluar!" perintah Alaska dingin. "Tidur di kamar tamu. Aku tidak ingin melihatmu malam ini."
Sania hanya mengangguk patuh.
"Setiap suami adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya," bisik Sania, tanpa memandang Alaska, lalu melangkah keluar.
Setelah Sania pergi, Alaska membanting botol whiskey itu ke lantai. Ia tidak memecahkannya, tapi membantingnya cukup keras hingga botol itu menggelinding.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar. Pria yang kuat, kaya, dan ditakuti. Namun ia baru saja dikalahkan oleh kata-kata dari seorang gadis bercadar.
Alaska meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada sekretarisnya.
"Selidiki semua tentang Ghirah dan Ridho dalam Islam."
Alaska kini sadar, ia tidak hanya marah pada Sania. Ia marah karena Sania, dengan segala keterbatasannya, memiliki sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibelinya, kedamaian hati dan kemuliaan diri. Dan itu membuat Sang Mafia merasa lebih miskin dari pengemis.
__Cemburu yang hakiki bukanlah cemburu pada keindahan wajah, melainkan cemburu pada keindahan iman yang membuat pasanganmu lebih dicintai oleh Allah."
__Jangan mencari kebahagiaan dari pandangan orang lain, karena pujian mereka hanyalah bumbu sementara, bukan bahan utama keimananmu__
Bersambung ....