lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gumilar datang
Kemudian Tuan Harsono menyeringai, "mengapa kita tidak melihat betapa hebatnya muridku ini?" Tanya Tuan Harsono.
"Eh, apakah boleh Tuan?" Tanya Pak Rendy.
"Tentu saja boleh..." jawab Tuan Harsono kemudian Tuan Harsono menatap Gumilar dan berucap, "Gumilar tunjukan kekuatanmu!" Ucapnya sambil menunjuk sebuah batu besar.
"Baik guru!" Ucap Gumilar dengan patuh.
"Loh mengapa menghilang? Loh mengapa tiba-tiba sudah di sana?" Pada saat ini Pak Rendy kaget melihat Gumilar menggilang dari tempatnya dan berdiri di dekat batu besar itu.
Tinju milik Gumilar langsung terkepal dan...
Bang!
Batu besar itu di tinju hingga retak kemudian tidak lama kemudian batu itu hancur secara perlahan.
Melihat hal itu pak Rendy langsung menghirup udara dalam-dalam, kekuatan yang sangat mengerikan dan tidak bisa di anggap remeh.
"Bagaimana pak Rendy, apakah kamu sudah percaya bahwa Gumilar bisa menyelesaikan kesulitan yang di alami anda?" Tanya Tuan Harsono.
Pak Rendy langsung menganggukan kepalanya dengan penuh semangat pada saat ini.
***
Singkat cerita waktu sudah menunjukan awal malam, dan kini Arjuna sudah berads di tempat di mana ritual penggandaan uang itu berada tepatnya di lereng gunung panderman.
Namun Arjuna tidak membawa sesajen sama sekali, dia hanya membawa ketela rebus dan beberapa cemilan. Arjuna hanya duduk di atas batu besar sambil menatap semua orang yang sedang melakukan ritual.
"Bajingan tengik! Malam ini aku tidak akan tidur! Akan aku temukan siapa bajingan yang berada di balik penggandaan ah tidak penukaran uang ini!" Ucap Arjuna dengan penuh tekad.
Sementara itu di saat yang bersamaan.
Di tempat lain terlihat tiga orang pria yang berjalan tenang sambil membawa sesajen dan kantong uang.
Tentu saja mereka bertiga adalah Gumilar dan dua intel polisi yang menyamar.
Ya, mereka bertiga menyamar untuk menjadi peserta penggandaan uang. Mereka melakukan ini agar lebih mudah menangkap bajingan sindikat penipuan ini.
Sementara itu di tempat yang sedikit jauh, tepatnya di sebuah hotel yang berada di sekitar gunung panderman, terlihat Pak Rendy yang sedang berdiri di balkon dan memandangi pemandangan gunung panderman di depannya dengan pandangan rumit.
Dia sendiri tidak ikut terjun dalam misi itu, sebab tubuhnya terlalu bagus dan lumayan kekar untuk menyamar menjadi orang yang membutuhkan uang.
Lebih baik dia berjaga dari kejauhan dan menangkap bajingan itu apabila merak melarikan diri.
"Malam hari ini aku sudah mendapatkan bantuan luar biasa dari Tuan Harsono, aku yakin sekali malam ini aku berhasil menangkap bajingan yang telah meresahkan masyarakat!" Batin Pak Rendy yang sudah tidak sabar menangkap mereka.
***
waktu berjalan cepat malam semakin larut, Dari tempat Arjuna duduk Arjuna bisa melihat semua orang yang datang semakin banyak, dan yang lebih parahnya mereka membawa uang yang sangat banyak.
"Buset, orang-orang ini gila apa?" Tanya Arjuna dalam hatinya.
Arjuna kemudian berjalan ke bawah pohon dan membuat api unggun kecil. Setelah itu Arjuna rebahan di samping api unggunnya.
Siapa sangka pada saat ini Arjuna setengah tidur, dia langsung mencium bau harum yang menyengat. Sontak Arjuna membuka matanya dengan ekspresi tegas.
"Bau kemenyan ini sangat menyengat! Siapa yang menyalakannya?" Tanya Arjuna dengan mata penuh ketegasan.
Tentu saja Arjuna tidak terpengaruh ilmu sirep seperti ini, kemarin malam Arjuna tidur ya karena ngantuk saja, bukan karena sirep.
Arjuna kemudian mematikan api unggunya dan merunduk di sebuah semak belukar mencoba mencari tahu siapa yang menyalakan kemenyan secarq berlebihan.
***
Sementara itu dari kejauhan terlihat tiga pria yang berjalan santai, tiga orang yang berjejer yang kiri membawa tembikar dengan kemenyan yang mengebul sementara yang berada di kanan membawa kantong uang.
Yang tengah tentu saja bosnya.
"Haha!!" Bosnya langsung tertawa dengan tawa yabg sangat keras, "bagus, ada banyak sekali orang yang membawa uang ratusan juta! Kita akan panen besar malam hari ini!" Teriak bos itu dengan sangat senang.
Pria yang membawa kantong bertanya kepada bosnya, "bos, mengapa tidak besok malam saja kita memanen uang mereka? Aku yakin sekali apabila kita menunggu esok hari kita bisa memanen lebih banyak uang mereka." Tanyanya.
"Dasar bodoh! Jika kita menunggu terlalu lama para aparat akan datang dan berusaha menangkap kita! Malam ini adalah malam yang tepat untuk kita membawa uang orang-orang ini!" Ucap bos itu.
"Iya juga ya bos." Ucap Pria yang membawa kantong uang.
"Makanya kamu kalau punya otak di pakai!" Ucap si bos sambil menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuk, kemudian si bos menyuruh pria yang membawa kantong uang dan pria yang membawa tembikar, "ayo segera ambil semua uang yang di bawa oleh orang-orang ini!"
Seketika itu juga kedua anak buahnya langsung bergerak memasukan uang ratusan juta, bahkan milyaran dari berbagai orang-orang di tempat ini.
Melihat anak buahnya memasukan uang tanpa hambatan si bos menyeringai.
Perlu di ketahui Hutan ini sangat luas dan orang-orang di sini sangat banyak. Posisi trio penipu ini masih cukup jauh di posisi Arjuna. Oleh karena itu Arjuna masih belum mengetahui aksi ketiga orang ini.
Arjuna pada saat ini masih clingak-clinguk di balik semak-semak untuk mencari siapa orang yang menyalakan kemenyan sewangi ini.
"Oh jadi kalianlah sindikat penipu yang menggandakan uang itu.." siapa sangka sebuah suara terdengar, ketiga penipu itu langsung menoleh ke sebuah arah.
Mereka melihat dua pria yang menatap mereka bertiga. Anak buah bos yang tadi membawa tembikar segera mencibir, "lihat bos, mereka ingin menangkap kota!"
Orang yang tadi membawa kantung uang juga ikut mencibir, "beraninya dua semut ingin menangkap kita! Lebih baik hajar saja bos!"
Si bos menyeringai, "haha! Semut memang tidak tahu siapa yang mereka gigit! Para semut ini mengira bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menghentikan kita!"
"Bocah yang kencing masih belum lurus lebih baik pergi saja dari tempat ini! Sebelum aku menghajar kalian!" imbuh si bos dengan senyuman licik.
Namun siapa sangka dua pria ini balik menyeringai, yang satu berucap, "bajingan sepertimu yang sering merusak masyarakat harus di hentikan bagaimana pun caranya!"
Yang satunya ikut menambahkan, "benar, aku sudah tidak sabar memasukan mereka bertiga ke penjara dan mencambukinya!"
"Haha!!" Si bos tertawa lebar, "kalau begitu mengapa kalian berdua tidak segera maju saja? Akan aku tunjukan kepadamu, tapak terkuatku tapak tangan penghancur!" Ucap Si bos dengan dada yang di busungkan.
Dua intel itu segera menggelengkan kepalanya, "tenang saja, yang melawanmu bukanlah kami berdua..." ucap salah satu intel.
"Bukan kalian?"
"Benar, bukan kami. Melainkan Tuan Gumilar!"
Siapa sangka dari kejauhan gumilar datang dan hanya beberapa langkah dia sudah menempuh jarak bermeter-meter tidak lama kemudian dia datang ke tempat ini.