Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Dimas asik dengan makanan kesukaannya,sementara aku sudah tak bernafsu untuk makan sama sekali.
Ya Alloh...kenapa Kau takdirkan cintaku seperti ini. Haruskah aku mendo'akan supaya rumah tangga mereka tidak abadi?
Akh,betapa jahatnya aku. Sepertinya aku harus benar-benar bisa memahami kata 'Cinta itu tak harus memiliki' tapi rasanya kok sesakit ini.
"Dim,Rahma bekerja apa hanya di rumah saja?" tanyaku.
"Kenapa...? Kamu masih ingin mengejarnya? Dia sudah ada yang punya Kim..."
"Jangan kau rendahkan dirimu menjadi seorang 'pebinor'..." ucap Dimas lagi.
"Apa itu 'pebinor'...?" tanyaku.
"Hadeeh...tinggal di planet mana sih kamu Kim? Nggak update banget... Pebinor itu Perebut Bini Orang..." terang nya.
"Apa? Astaghfirullah...amit-amit Dim...Aku cuma ingin tau,kalau dia bekerja,dia bekerja dimana? Aku tidak akan mendekatinya,aku akan melihatnya dari kejauhan saja" jawabku memelas,berharap Dimas segera memberitahukannya padaku.
"Dia bekerja di TK Islam Al Ikhlas,sebelah Apotek Diva" ucap Dimas sambil membereskan bekas makan malamnya.
"Oya,tadi pagi waktu di rumah sakit itu,aku salah liat atau memang benar Rahma ada di sana ya..."
Aku mencoba memancing pertanyaan lagi...
"Iya,itu memang dia...suami Rahma itu teryata sakit-sakitan. Kata Rahma dia menderita Leukimia,asma dan sedikit bermasalah pada ginjalnya. Kasihan dia...mungkin Bu Yasmin menikahkan mereka karna dia tau putranya penyakitan dan jika putranya menikah,otomatis putranya ada yang merawatnya" jelas Dimas.
"Hussh...jangan suka su'udzon sama orang,apalagi orang itu sudah meninggal...kata ibuku 'ura ilok'..."
"Tapi memang kasihan juga nasib Rahma...semoga dia sabar dan ikhlas menjalani takdirnya,setidaknya kalau dia bersuami akan ada yang menemani dan melindunginya setelah ditinggal kedua orangtuanya" ucapku lagi
Dimas sampai terbengong-bengong mendengar ucapanku.
"Nggak nyangka...13 tahun nggak ketemu,kamu makin sholeh dan makin bijak aja...ckckck..."
"Huu...semprul kamu..." kataku.
Dimas melihat jam tangannya,hari memang telah larut...
"Woey...ngggak kerasa dah jam 11 aja...Aku pulang dulu ya,takut orang rumah nungguin" ucap Dimas
"Eh itu nasi gorengnya kamu bawa pulang aja deh Dim..."
"Lho...kamu kan belum makan malam" katanya.
"Aku sudah nggak laper...nanti kalau laper tinggal bikin mie instan aja...beres kan?" jawabku
"Dokter kok makan makanan nggak sehat..."
"Halah sesekali doang mah nggak papa" jawabku enteng.
"Oke...sampai ketemu besok ya...Assalamu'alaikum..." pamit Dimas.
"Wa'alaikumsalam...ati-ati dijalan..."
Setelah Dimas pergi,aku baring di sofa sambil menyetel musik. Kuraih ponsel sekedar mengecek pesan,mataku terbelalak saat ada sebuah pesan dari Bang Farhan.
📥 "Assalamu"alaikum Kim...malam minggu nanti,kamu ada acara tidak? Kafeku ditunjuk jadi penyelenggara acara lomba bintang iklan,dari sebuah agency milik temanku di Jakarta. Datang ya..."
📤 "Wa'alaikumsalam bang...maaf baru balas"
📤 "IsyaAlloh bang,kebetulan aku nggak ada acara kok...boleh bawa teman bang?
📥 "Eh nggak papa Kim...kirain malah udah tidur...hehehe...
Kamu bawa temen nggak papa Kim...malah tambah seru...santai aja..."
📤 "Oke bang,InsyaAlloh aku datang dengan temanku besok...Makasih atas undangannya ya bang..."
📥 "Sama-sama Kim...aku tunggu ya...Assalamu'alaikum..."
📤 "Wa'alaikumsalam..."
Aku meletakkan ponselku ke meja.
Masih jelas terngiang cerita Dimas tadi,terutama tentang cinta pertama Rahma...siapakah dia?
Kenapa dia sampai mau menunggu laki-laki itu sekian lama.
Waktu menunjukkan pukul 3.15 ketika aku terbangun. Memikirkan Rahma teryata melelahkan pikiranku sehingga aku tertidur tanpa terasa.
Aku segera bangkit dari tidurku untuk menjalankan ibadah sholat tahajud.
*******
Selesai sholat subuh,aku segera bersiap untuk pergi joging keliling komplek sebentar.
"Selamat pagi pak dokter..." sapa seorang ibu muda menyapaku dengan genitnya.
Aku hanya membalas sapaan genitnya itu dengan senyuman dan anggukan saja. Astaghfirulloh...pagi-pagi ternyata komplek perumahan ini banyak ibu-ibu genitnya...Dan cara berpakaiannya itu...hadeh...ampun dech.
Selesai joging aku segera mandi,sarapan roti dan susu non fat secukupnya lalu bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
Aku melangkah berjalan kaki menuju tempat kerjaku yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah kontrakan ku.
Lagi asik-asiknya menikmati perjalanan menuju tempat kerja,tiba-tiba..."Bruukkk" seorang anak jatuh dari sepedanya.
"Astaghfirullah..." teriakku spontan sambil menolongnya.
"Huaaaa....hikz hikz hikz..." anak kecil itu menangis sejadi-jadinya.
"Eh jangan nangis...anak cantik nggak boleh nangis ya..." hiburku...dan ajaibnya tangis anak itu pun mulai reda.
"Sini coba om liat ya...ooo...kayanya nggak papa kok,sini dibersihin dulu ya..."
Anak itu mengangguk dan aku pun segera mengambil tisu basah dan plester yang selalu ada di dalam tas kerjaku.
"Tahan ya...anak cantik yang pemberani...dah selesai" ucapku,anak itu pun tersenyum manis.
"Namamu siapa?" tanyaku
"Cecilia Agatha om ganteng...om ganteng namanya siapa?" ucapnya balik nanya
"Namamu bagus...cantik seperti orangnya...Kalo nama Om,Om Hakim"
"Ooo...terimakasih Om Hakim..."
"Iya..." jawabku sambil senyum
"Cecil...Cecilia...ya ampun...dicariin juga,mami bilang kan jangan jauh-jauh mainnya...mami kan jadi khawatir" ucap seorang wanita muda yang berpakaian sedikit minim.
Atasan kaos tanktop dan celana pendek jeans sekitar 20 cm diatas lutut. Astaghfirullah...badan sih memang sexy,wajah juga cantik tapi sepertinya dia tipe wanita yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri.
"Aduh...itu lututnya kenapa?" ucapnya cemas sambil mengelus lutut anaknya.
Aku hanya diam saja mengawasi obrolan ibu dan anak itu,karna sepertinya dia kurang memperhatikan keberadaanku di situ.
"Maaf mi...tadi cecil jatuh dari sepeda,untung ada om ganteng terus Cecil ditolongin deh sama Om Hakim..." ucap Cecil sambil meraih tanganku.
"Om Hakim...kenalin ini mami nya Cecil...mami...om ganteng ini namanya Om Hakim" lanjutnya.
"Egh eh...nama saya Sarah...terimakasih sudah menolong anak saya...maaf saya sampai tidak memperhatikan kehadiran anda" ucapnya sambil menjabat tanganku.
"Hakim..." jawabku singkat.
"Oh ya Mbak Sarah..." ucapanku menggantung karna dipotong oleh Sarah.
Sarah Amalia
"Sarah...panggil saja saya Sarah..."
"Oke..kalau gitu Sarah,saya pamit dulu ya...Cecil nggak papa kok,cuma luka kecil nanti juga cepat sembuh...Yang pasti jangan biarin Cecil main sepeda di jalan raya,bahaya...Saya duluan ya...Assalamu'alaikum..." pamitku
"Wa...wa'alaikumsalam...sekali lagi terimakasih" jawabnya sedikit gugup.
"Da..Cecil..." ucapku melambaikan tangan ke Cecil.
"Da da om ganteng...sampe ketemu lagi ya..." teriaknya.
Aku menoleh menggangguk sambil tersenyum lalu melanjutkan perjalanan ku kembali menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit jam tanganku sudah menunjukkan jam 8 tepat,selesai absen aku pun segera mengecek pasien rawat inap di bangsal lalu bersiap untuk memeriksa pasien rawat jalan di poli penyakit dalam.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...