Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benci
Lampu disko kelap kelip penuh warna, gerakan tangan DJ yang bergerak lincah menari-nari diatas piringan hitam menjadi musik pengiring pesta pembukaan Club malam ini.
Adila memilih duduk di kursi pojok, jauh dari hingar bingar para tamu undangan yang asyik mengelengkan kepala, menghentakan kaki dan tangannya menikmati alunan musik yang sebenarnya sangat membengkakan indera pendengaran.
"Lu nggak mau turun Dil?" Tanya Nadin setelah kembali dari lantai dansa.
"Nggak."
Nadin duduk dan menyesap minumannya," Lu kenapa sih kayak yang bad mood gitu?"
"Bokap gue mau dateng besok." Jawabnya dengan ketus.
"Teruus... masalahnya buat lu apa?"
"Masalahnya ya itu tadi, bokap gue mau dateng, gimana sih lo." Cebik Adila.
"Come on Adila... ini pesta buat dinikmatin bukan buat dianggurin.... ayo ikut gue, lu harus dance sama gue."
"Nggak ah, males gue..."
Nadin acuh, ia semakin menarik kuat tangan Adila untuk ikut turun bersamanya.
Terpaksa Adila mengikuti langkah Nadin, turun ke lantai dance bergabung dengan para tamu undangan lainnya.
Nadin mengangkat sebelah tangan Adila, meminta Adila mengikuti gerakannya dengan goyangan kepala kekanan dan kekiri. Yang pada akhirnya Adila pun ikut hanyut terbawa arus gelombang panasnya musik DJ yang semakin riuh menggema.
Nadin membisikan sesuatu di telinga Adila dengan sedikit keras.
"Dil ada si Nugie..."
"Apa?" Teriak Adila yang tidak begitu jelas mendengar suara Nadin karena suasana yang semakin bergemuruh dengan sorakan dan dentuman musik.
"Ada si Nugie..." Ucap Nadin lebih keras lagi di telinga Adila.
"Apa?"
Nadin berdecak," Nu.... Giee...." Teriak Nadin dengan mengeja nama yang dia sebutkan.
"Nugie?"
Nadin mengangguk sambil menunjuk kebelakang punggung Adila. Mau tak mau Adila menoleh kemana jari Nadin mengarah.
Nugie datang dengan menggandeng pasangannya malam ini, perempuan baru yang bergelayut manja ditangan saat ini.
Sexy iya, cantik iya, menarik... jelas sangat menarik. Body yang semampai, rambut yang dibuat curly dengan warna blonde, riasan yang terukir sempurna hingga wajah itu jauh lebih cantik dari wajah aslinya.
"Cewek barunya kali ya?" Ucap Nadin.
"Bodo amat."
Adila kembali bergoyang mengikuti irama yang sudah berganti menjadi lebih meriah lagi. Mereka melakukan gerakan yang sama yang pada akhirnya membuat mereka tertawa lepas, hingga orang lain pun jadi ikut-ikutan mengikuti goyangan mereka.
Nugie yang baru sampai di pesta itu, langsung mendapat sambutan dari pemilik Club yang ternyata sudah sangat mengenal satu sama lain.
"Bos kita baru sampai rupanya... gimana kabarnya?"
"Ya beginilah."
Saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Thanks udah nyempetin datang ke pesta ini."
"Aku tidak mungkin tidak datang dengan pesta semeriah ini."
Mereka tertawa bersama," Ayo-ayo.... silahkan duduk, aku akan hidangkan minuman terbaik di Club ini... Pelayaaan." Serunya pada pelayan yang sedang berjaga di ruang Bar.
Dengan sigap, pelayan itu membawa dua botol minuman dengan tiga gelas diatas nampan berbahan kayu. Kemudian menyimpannya diatas meja, membuka botol dan menuangkannya kedalam tiga gelas yang sudah berjajar masing-masing.
"Silahkan Tuan..."
Mereka mengangkat minuman itu ke udara,"Semoga Club mu ini semakin berjaya." Gelas itu berdenting satu sama lain.
Setelah beberapa saat, sang pemilik Club pergi berpamitan untuk menyapa tamu undangan yang lainnya.
"Beib... kamu mau dance, sepertinya mereka terlihat sangat asyik." Ucap wanita yang dibawa Nugie itu.
Nugie melihat lantai dance yang dipenuhi orang yang berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan musik disko. Gerakan mereka sangat lepas, terutama dengan pasangan dance yang terlihat sangat bergairah.
Tak butuh waktu lama, ia bisa menangkap sosok Adila yang sedang mengangkat tangannya ke udara dengan badan yang meliuk-liuk bak gitar spanyol.
"Kamu tunggu disini." Ucap Nugie tanpa melepas pandangannya dari Adila.
"Kamu mau kemana?" Tanya wanita itu sambil membelai pipi Nugie dengan kuku panjangnya.
Bukannya menjawab Nugie malah menepis tangan wanita itu, dan beranjak pergi meninggalkannya.
Wanita itu berdecak kesal," Sialan..."
Dengan langkah pasti, Nugie mencari jalan kosong yang tidak terlalu sesak dengan orang yang berhilir mudik kesana kemari. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia bisa melihat wajah pujaan hati yang selama ini membuatnya seperti orang gila karena terus menerus memikirkannya.
"Dil... tuh..." Teriak Nadin menunjuk dengan dagu saat Nugie sudah hampir sampai dibelakang Adila.
Adila menengok kebelakang punggungnya, ternyata Nugie. Ia langsung membuang muka menghentikan kegiatannya dan pergi meninggalkan lantai dance. Namun tarikan ditangan membuatnya urung untuk kembali melangkah.
"Dil... aku pengen bicara sama kamu." Ucap Nugie dengan sedikit kencang.
"Lepasin tangan gue." Balas Adila dengan sorot mata yang sangat menghunus tajam kearahnya.
"Nggak... aku nggak bakalan lepasin tangan kamu sebelum kamu mau ikut sama ku."
"Gue nggak mau." Adila menepis tangan Nugie yang membuat tangannya terasa sakit.
"Kamu harus mau..," Bentak Nugie,".... atau aku akan menyeretmu keluar biar kita jadi tontonan semua orang disini." Ancamnya.
Adila mengepalkan kedua tangan, amarah yang berapi-api nampak kentara diwajahnya.
"Dil mendingan lu ikutin mau dia, biar semuanya cepet kelar."
Benar apa yang dikatakan Nadin, dia harus menyelesaikan masalahnya sekarang juga.
"Please Dil...." Nugie memohon.
"Waktu lo cuma lima menit."
Senyuman menyemburat di wajah Nugie, ia langsung menarik tangan Adila tanpa sebuah perlawanan.
Kejadian itu tak luput dari pandangan wanita yang tadi bersama Nugie, ia tersenyum sinis. Dia tahu siapa wanita yang bersama Nugie saat ini, model catwalk yang bari naik daun, hal sepele yang hanya dengan jentikan jari semuanya akan selesai.
Nugie membawa Adila ketempat sepi, jauh dari bising dan ramainya suara orang.
"Sekarang lo mau apa?" Hardik Adila dengan melepaskan tangannya dari cekalan Nugie.
Nugie tersenyum santai," Sejak kapan kamu panggil aku dengan sebutan lo?"
Adila melipat tangan didada," Sejak saat ini dan seterusnya." Jawabnya ketus.
Nugie mengangkat sebelah kanan sudut bibirnya. Adila yang sekarang jauh berbeda dengan Adila yang dulu dia kenal. Sekarang dia bukan kucing manis yang mudah untuk dia elus-elus dan beri makan.
Nugie berjalan mendekat, mengukung tubuh Adila dengan kedua tangan disimpan di tembok. Adila beringsut, menempelkan tangan ditembok, mencari sesuatu yang bisa dia pegang walau itu sangatlah tidak mungkin, yang dia raba hanyalah sebuah tembok datar dan halus tanpa ada apapun disana.
"Lu mau ngapain... jauh-jauh dari gue."
Nugie menyeringai." Aku ingin menghapus ciuman laki-laki itu di bibir kamu."
"Cowok gila."
"Iya aku memang gila, kamu yang udah buat aku gila. Kamu hanya milik aku dan selamanya milikku."
Jarak tubuh yang semakin dekat, membuat Adila bisa mencium bau alkohol dari hembusan nafas Nugie. Adila semakin terhimpit diantara tembok dan badan Nugie yang semakin menekannya lebih dekat lagi.
"Jauh-jauh dari gue." Sentak Adila yang susah payah mendorong dada Nugie yang sama sekali tidak bergeming.
Secepat kilat Nugie mencekal tangan mungil Adila dengan satu tangannya saja.
"Aku nggak bisa jauh dari kamu sayang, aku sangat mencintaimu."
Tanpa rasa takut sedikitpun, Adila tersenyum sengit," Tapi gue udah nggak cinta sama lo."
Nugie memejamkan mata, meresapi kata-kata Adila yang begitu perih di hatinya.
"Aku ingin kita memulainya dari awal... aku janji akan setia sama kamu Dil." Ucap Nugie penuh harap.
"Terlambat... gue udah terlanjur benci sama lo... sekarang lepasin gue, ini sudah lima menit, pembicaraan kita finish."
"Nggak...," Bentak Nugie hingga Adila berjinjit kaget karena mendengar suara keras tepat di depan wajahnya. Nugie yang menyadari itu kembali berkata lembut,"... aku tahu kamu pun masih sangat mencintai aku."
"Jangan mimpi Nugie Mahesa... rasa cinta gue udah hilang saat lo tidur dengan wanita lain, gue jijik sama lo."
"Aku nggak percaya...," Jawabnya keukeuh,"...Kamu nggak bakalan bisa melupakan bagaimana mesranya kita dulu." Menyusuri pundak Adila, hingga turun ke tangan dan akhirnya Nugie mencengkram pinggang Adila hingga jarak diantara mereka sudah tidak ada lagi.
Adila melempar wajahnya ke samping saat Nugie hendak menciumnya. Nugie mendengus seraya tersenyum penuh arti.
"Aku akan menghapus jejak laki-laki itu sekarang juga." Ucapnya lagi penuh nafsu.
Adila menggerak-gerakan wajahnya saat Nugie hendak menciumnya kembali, menepis tangan Nugie yang begitu kuat dipipinya.
"Eemm...eemm..."
Adila semakin meronta, saat bibir Nugie hampir menyentuh bibirnya.
Namun panggilan seseorang seketika menghentikan kegiatan Nugie.
"Beib...."
Nugie yang dalam keadaan lengah, memberikan kesempatan untuk Adila bisa kabur dengan mengangkat sedikit dress nya ke atas dan menghujamkan lututnya tepat ditengah ******** Nugie.
Nugie meringis kesakitan,"Awww...."
"Urus tuh cewek lo." Teriak Adila sambil berderap meninggalkan Nugie yang terhuyung kesakitan
"Dil... Adila... kita belum selesai." Teriak Nugie.
Saat Adila melewati wanita itu, Adila sedikit mengedipkan mata sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjadi Dewi penolongnya saat ini.
Namun Adila bisa melihat tatapan wanita itu menyiratkan benci dan api cemburu yang bercampur aduk jadi satu. Acuh dan seakan tak peduli, Adila kembali berjalan lurus masuk kembali kedalam Club.
" Aaarrgggh...." Nugie menendang kaki ke udara.
"Beib kamu tidak apa-apa..?"
"Diam kamu.... ini semua gara-gara kamu." Bentak Nugie dengan meninggalkan wanita itu menyusul Adila yang sudah lebih dulu meninggalkannya.