Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.
Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.
Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kabar Bahagia
Keadaan Deswita sudah lebih baik dibandingkan semalam, meski masih terlihat pucat. Pagi ini Zidan akan mengantar Deswita ke rumah sakit sesuai permintaan Zhia.
"Mas, memangnya harus ke rumah sakit, ya? Aku udah mendingan, kok," ucap Deswita.
"Iya, Ta. Soalnya yang nyuruh Mbak Zhia dan dia sudah mendaftarkan kamu supaya dapat antrian awal. Tenang aja, nanti yang periksa Mbak Zhia sendiri," jelas Zidan seraya mengusap kepala Deswita yang tertutup hijab.
Akhirnya, jam 7 pagi Zidan dan Deswita berangkat menuju rumah sakit. Pikiran Deswita berkelana karena takut dia mengidap suatu penyakit yang parah. Sementara Zidan sendiri masih mencoba mengurai teka-teki yang ada di kepalanya.
"Mbak Zhia 'kan dokter kandungan, kalau memang memeriksa kesehatan Deswita harusnya ke dokter umum, tapi kenapa malah Mbak Zhia sendiri yang mau periksa?" batin Zidan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Zidan sudah memasuki area rumah sakit. Dia lantas memarkirkan mobilnya lebih dulu, setelah itu barulah dia dan Deswita menuju poli kandungan.
Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Zhia, sebelum sampai rumah sakit tadi Zidan sudah menghubungi kakak iparnya itu.
"Apa kabar, Ta?" sapa Zhia seraya memeluk Deswita sesaat.
"Alhamdulillah, baik, Mbak," balas Deswita dengan seulas senyuman.
Zhia menyentuh sudut bibir Deswita yang masih memar. "Apa masih sakit?"
"Enggak, Mbak. Cuma kadang terasa nyeri aja," jawab Deswita.
"Kita masuk, yuk. Nanti aku kasih salep biar memarnya cepat pudar," ajak Zhia lalu menggandeng tangan Deswita masuk ke ruangannya, Zidan pun mengikuti keduanya.
Di dalam ruangan, Deswita dan Zidan duduk di kursi yang berseberangan dengan meja Zhia.
"Aku cek tensi dulu, ya, Ta." Zhia langsung mengecek tensi Deswita, setelah itu Zhia meminta Deswita untuk menimbang berat badannya.
"Astaghfirullah," ucap Deswita.
"Kenapa, Ta?" tanya Zhia dan Zidan bersamaan.
Deswita menatap Zhia dan Zidan sambil menggaruk pelipisnya. "Berat badanku naik."
Zhia dan Zidan tampak menghela napas lega karena sudah panik, takut terjadi sesuatu. Sementara Deswita berjalan menuju kursi sambil menunduk malu.
"Kamu bikin panik aja, sih, Ta. Aku kira kamu kenapa-napa," ucap Zhia.
"Sekarang baring di sana, ya. Biar aku periksa." Zhia menunjuk ranjang yang tak jauh dari posisi mejanya.
"Iya, Mbak."
Deswita langsung berbaring di ranjang yang ditunjuk Zhia, sedangkan Zhia masih menyiapkan peralatan untuk memeriksa istri dari adik iparnya itu.
"Mau ikut masuk nggak, Zi?" tawar Zhia saat akan menutup tirai yang menjadi pembatas.
"Memangnya boleh, Mbak?"
"Boleh, siapa tahu nanti kamu mau selebrasi," ucap Zhia seraya terkekeh.
Zidan langsung ikut menemani Deswita, setelah tirai ditutup Zhia menutupi bagian bawah tubuh Deswita dengan selimut.
"Boleh dinaikkan dulu gamisnya, Ta? Sampai perut aja."
"Boleh, Mbak." Dengan raut wajah bingung Deswita melakukan apa yang dikatakan Zhia.
Zhia mengambil gel lalu mengoleskannya di perut Deswita, kemudian dia mulai menggerakkan tranduser di atas perut Deswita sambil menatap layar monitor.
"Nah, sudah ketemu," celetuk Zhia dengan senyum semringah.
"Ketemu apanya, Mbak?" tanya Zidan.
"Kalian lihat titik kecil ini." Zhia menunjuk gambar di monitor yang memperlihatkan sebuah titik sebesar kacang polong.
"Itu calon bayi kalian," sambung Zhia.
"Bayi? M-maksudnya ... Deswita hamil, Mbak?" tanya Zidan memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," jawab Zhia dengan yakin.
"Alhamdulillah, Ya Allah," ucap Deswita dengan lirih.
Zidan langsung menghujani kecupan di dahi dan kedua pipi istrinya. Air mata bahagia pun sudah membasahi kedua pipinya. Penantian yang tak sia-sia, setelah dua tahun menikah mereka pun diberikan kepercayaan untuk memiliki momongan.
"Nanti aku beri vitamin dan penguat kandungan karena di trimester awal sangat rentan terjadinya keguguran. Untuk itu, jangan melakukan kegiatan atau pekerjaan yang terlalu berat, usahakan banyak istirahat dan makan makanan yang mengandung protein dan asam folat. Kalau mau boleh ditambah dengan mengonsumsi susu khusus ibu hamil," terang Zhia.
Deswita dan Zidan kembali duduk di kursi mengikuti Zhia. Sementara Zhia masih mengisi buku KIA yang akan dibawa setiap melakukan pemeriksaan sebulan sekali.
"Ini bukunya, jangan lupa dibawa saat melakukan pemeriksaan setiap sebulan sekali. Dan untuk usia kehamilannya sudah berumur 6 minggu. Jaga baik-baik, ya," tutur Zhia.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."
"Kalau ada keluhan, jangan sungkan untuk hubungi aku," imbuh Zhia.
"Baik, Mbak. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Zidan.
"Iya, hati-hati." Zhia mengantar Zidan dan Deswita sampai depan ruangan.
"Mas, aku ke toilet sebentar, ya. Kamu tunggu di sini," pamit Deswita dan diiyakan oleh Zidan.
Setelah Deswita berlalu menuju toilet, Zhia menepuk bahu Zidan dengan pelan.
"Beruntung kejadian semalam nggak sampai mencelakai janin di perut Deswita. Aku harap kamu bisa menjaga Deswita lebih baik lagi, Zi. Kalau perlu Carikan asisten rumah tangga agar bisa menemani dan membantu Deswita saat kamu lagi kerja."
"Iya, Mbak. Nanti aku coba cari asisten buat bantu-bantu Deswita."
"Satu lagi, Zi. Perketat keamanan rumahmu, kamu tahu sendiri sifat mama seperti apa. Aku hanya khawatir dengan keselamatan Deswita dan janinnya."
"Pasti, Mbak. Aku juga akan merahasiakan kehamilan Deswita dulu sampai suasana kembali membaik."
"Iya."
Tak berselang lama, Deswita sudah kembali dari toilet dan menghampiri suaminya. Mereka pun langsung meninggalkan poli dan bergegas pulang.
***
"Kamu pengen sesuatu nggak, Ta? Biasanya kalau lagi hamil pasti sering ngidam pengen apa gitu."
"Enggak, Mas. Masih belum pengen apa-apa," jawab Deswita.
"Kalau pengen sesuatu bilang aja. Selagi bisa, pasti aku turuti."
"Iya, Mas."
Zidan mengelus pelan perut Deswita dengan tangan kirinya. "Sehat-sehat di perut Umi, ya, Sayang."
Senyum penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajah Zidan dan Deswita, buah dari kesabaran kini terbayar sudah dengan hadirnya sosok malaikat kecil yang akan melengkapi keluarga kecil mereka.
"Terima kasih atas anugerahMu ini, Ya Allah. Semoga dengan hadirnya anak di tengah-tengah keluarga kecil kamu, bisa membukakan pintu hati ibu mertua dan beliau bisa menerimaku dan calon anak kami," gumam Deswita.
Zidan memutuskan mampir ke supermarket untuk membeli susu hamil, roti, dan biskuit untuk Deswita. Dia pernah mendengar dari rekan kerjanya jika wanita hamil nafsu makannya akan meningkat dua kali lipat dari biasanya. Dan juga saat pagi pasti akan mengalami morning sickness, sehingga membuat si ibu hamil harus mendapat asupan makanan pengganti selain nasi. Tak lupa pula, Zidan membeli beberapa macam buah untuk camilan.
Selesai berbelanja, Zidan kembali mengendarai mobilnya menuju rumah agar Deswita bisa segera beristirahat. Sementara dia akan bekerja dari rumah karena tak tega jika harus meninggalkan istrinya sendirian selama belum ada asisten rumah tangga.
menggantung ???