NovelToon NovelToon
Aku Hanya Ingin Ibuku

Aku Hanya Ingin Ibuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Anak Yatim Piatu / Cerai / Keluarga & Kasih Sayang / Anak Lelaki/Pria Miskin / Ibu Tiri
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Setelah perceraian kedua orang tuanya, Dion diharuskan tinggal bersama sang ayah. Kehidupan Dion pun berubah drastis manakala sang ayah menikah lagi. Dion yang kala itu hanya seorang anak kecil, selalu merindukan sosok ibu kandungnya namun tidak bisa melakukan apa-apa.

Setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan sang ibu, Dion yang beranjak dewasa mulai mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Dengan sedikit petunjuk yang didapat Dion akhirnya pergi mencari keberadaan sosok wanita yang selama ini dirindukannya. Berhasilkah Dion bertemu kembali dengan sosok sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Memiliki Adik Laki-laki

Setiap hari Dion harus melakukan pekerjaan rumah. Anak kecil yang seharusnya bermain bersama teman-teman sebaya namun Dion justru tidak dapat merasakannya. Dia harus mengerjakan semua pekerjaan yang disuruh Maya. Belum lagi jika ada kesalahan maka dia akan dimarahi, dipukul, atau dihukum dengan tidak diberi makan. Baron tidak mengetahui sikap buruk Maya kepada Dion. Karena Dion sering diancam oleh ibu tirinya jadi tidak berani mengadu.

Saat sedang makan malam bersama tanpa sengaja Baron melihat luka lebam yang cukup besar di lengan tangan Dion.

Baron: "Dion, lenganmu... kenapa sampai biru begitu?"

Maya langsung menatap Dion dengan tajam.

Dion: "Ini... Ayah..."

Maya: "Ah, namanya juga anak-anak... Pasti karena jatuh sehabis main tadi sore. Iya kan, Dion?"

Dion: "I... Iya." (Menunduk)

Baron: "Oh. Lain kali kalau main lebih hati-hati."

Dion: "Iya, Ayah."

Dion menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Maya.

Malamnya Dion bersiap untuk tidur. Sebelum tidur dia selalu berdoa lebih dulu.

"Tuhan, terima kasih hari ini Dion tidak kelaparan. Dion bisa makan karena Tante Maya cuma mencubit tangan Dion. Tuhan, Dion rindu Ibu. Dion berharap bisa ketemu sama Ibu. Dion pengen peluk Ibu, pengen cerita-cerita sama Ibu. Tuhan, tolong kabulkan doa Dion, ya! Kali ini saja. Sebentar juga tidak apa-apa asalkan bisa ketemu dan peluk Ibu. Dion sudah senang. Amin."

...❇️❇️❇️...

Di rumah Irma, Rita sedang mengeluarkan pakaian dari dalam lemari.

Irma: "Kamu yakin mau pergi?"

Rita: "Yakin, Bu."

Irma: "Kamu milih pergi bukan karena mantan suamimu kan?"

Rita: (Menggeleng) "Ibu... Ibu kan tahu dari dulu aku pengen sekali kerja di luar negeri. Tapi gak pernah ada kesempatan sampai akhirnya menikah dan punya Dion, aku gak bisa kemana-mana lagi. Sekarang kebetulan ada kesempatan ini jadi aku gak mau sia-siakan. Sekalian buat nambah pengalaman hidup. Ini tidak ada hubungannya dengan dia, Bu. Dia aja bisa bahagia. Aku juga harus bisa."

Irma: "Ibu cuma gak mau kamu larut dalam kesedihan. Kalau memang itu keputusanmu ya Ibu cuma bisa doakan saja semoga betah dan dapat atasan yang baik. Kamu juga harus jaga diri baik-baik karena di sana kamu cuma sendirian."

Rita: "Iya, Bu. Aku akan sering telepon Ibu. Aku kan sama teman, Bu. Gak sendiri."

Irma: "Ibu tahu. Maksud Ibu gak ada orang tua yang jagain kamu di luar sana."

Rita: "Aku kan sudah dewasa. Masa mau dijaga terus sih, Bu?! Pokoknya Ibu gak usah khawatir. Aku janji akan jaga diri dengan baik."

Irma: "Ya, Ibu lega mendengarnya."

Di hari keberangkatan Rita ke luar negeri, dia diantar oleh adiknya. Rita melihat waktu yang ditunjukkan ponselnya.

Rita: "Dek, mampir ke sekolah Dion bentar, ya!"

Sinta: "Iya, Kak."

Sampai di sekolah Dion, kebetulan sekolah sedang mengadakan sebuah acara sehingga terbuka bagi umum. Rita dan Sinta dapat masuk tanpa perlu izin. Suasana di halaman sekolah cukup ramai. Awalnya Rita ingin langsung ke kelas Dion namun tidak jadi saat melihat Dion berdiri agak jauh di depan bersama ayah dan ibu tirinya. Ibu tirinya merangkul bahu Dion. Ketiganya sedang menyaksikan suatu pentas. Rita hanya melihat dari kejauhan. Ia merasa tenang melihat putranya baik-baik saja bersama ibu tirinya. Setelah itu Rita mengajak adiknya pergi.

Rita: "Yuk, Dek, kita pergi."

Sinta: "Kakak, gak jadi pamitan sama Dion?"

Rita: "Enggak, Dek. Kakak takut gak tega nanti. Melihat Dion baik-baik saja sudah cukup. Lagipula dia bersama ayah dan ibu barunya. Kakak gak mau ganggu mereka."

Sinta: "Iya. Kakak yang sabar, ya!"

...❇️❇️❇️...

Maya akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ryan. Baron sangat bahagia. Sejak saat itu semua perhatian Baron seketika tertuju kepada adik Dion yang masih bayi itu. Dion seolah terlupakan. Mirisnya tidak hanya terlupakan, pekerjaannya di rumah pun bertambah. 

Ryan kecil baru berusia beberapa bulan. Namun Dion harus menjaga adiknya itu sedangkan Maya bermalas-malasan. Tiba-tiba Ryan yang sedang tidur menangis. Dion berusaha menenangkan namun Ryan tidak mau berhenti menangis, malah menangis semakin kencang. Hal itu memicu kemarahan Maya.

Maya: "Dionnn.... Diamin itu adikmu nangis!"

Dion: "Udah, Ma. Tapi Ryan gak mau berhenti nangis."

Maya: "Ish... Kamu apain dia sih sampai nangis kaya gitu? Bikin berisik aja tahu gak!"

Dion: "Aku gak ngapa-ngapain. Ryan tiba-tiba terbangun langsung nangis."

Maya: "Jangan bohong kamu! Kalau kamu gak ganggu Ryan, memangnya dia bisa nangis? Cuma suruh kamu jaga Ryan saja gak becus."

Dion: "Maaf, Ma..."

Maya: "Maaf. Maaf. Maaf doang gak bikin Ryan diam tahu!"

Hoek... Hoek... Hoek... Maya masih berusaha menenangkan bayinya yang terus menangis.

Maya: "Oh... Cup. Cup. Cup. Diam ya, Sayang! Diam... Kamu mau apa? Nangisnya udahan ya!"

Dion: "Mungkin Ryan haus, Ma. Mau minum susu."

Maya: "Jangan sok tahu kamu!"

Dion hanya menunduk. Namun Ryan masih tidak berhenti menangis. Maya yang hampir hilang kesabaran mau tak mau membuatkan susu untuknya. Setelah menghabiskan susu barulah Ryan tenang dan kembali tidur. Maya tidak berkata apa-apa dan menyuruh Dion pergi.

...❇️❇️❇️...

Waktu berlalu, Ryan sudah berusia dua tahun. Sore itu Baron sedang menemani Ryan bermain sedangkan Maya sibuk membereskan rumah. Dion sedang mengerjakan tugas sekolah. Maya memanggil Baron untuk membantunya. Ryan pun dititipkan kepada Dion sebentar. Namun Ryan yang begitu aktif dan lincah tak sengaja lepas dari pengawasan Dion sehingga tak sengaja terjatuh saat meraih benda yang ada di atas lemari. Ryan pun menangis kencang. Suara tangisannya sontak membuat Baron dan Maya panik. Keduanya bergegas datang menghampiri. Maya langsung menggendongnya.

Baron: "Dion, apa yang kamu lakukan dengan adikmu sampai menangis seperti ini?"

Dion: "Ryan terjatuh saat ingin mengambil barang di atas lemari sana."

Maya: "Kamu gimana sih? Cuma jaga adikmu bentar saja gak bisa."

Dion: "Maaf."

Maya: "Memangnya maaf saja bisa menyelesaikan masalah?"

"Duh, jadi benjol gini... Cup. Cup. Sayang... " (Berkata pada Ryan)

Baron: "Dion, kamu itu harus lebih perhatikan adikmu baik-baik. Dia masih kecil belum tahu apa-apa. Untung cuma benjol dikit saja. Bagaimana kalau sampai jatuh terluka parah?"

Dion: "Maaf, Ayah. Lain kali aku akan menjaganya dengan lebih hati-hati."

Maya: "Halah... Sudah kejadian baru ngomong gitu. Telat! Memang kamu itu gak bisa diharapkan. Sudah sana kamu beresin itu dapur. Cuma suruh jaga adikmu saja gak becus."

Dion: "Aku sedang mengerjakan tugas sekolah, Ma. Boleh tunggu setelah aku selesaikan tugasku dulu?"

Baron: "Dion, jangan membantah! Cepat bereskan dapur dulu. Tugas sekolah nanti malam juga kan bisa."

Dion: (Pasrah) "Baik, Ayah."

Dion melangkah ke dapur. Melihat piring-piring kotor menumpuk serta barang-barang di dapur yang sangat berantakan Dion hanya bisa menghela nafas. Dia mengerjakan semuanya dengan sabar. Sedangkan Baron dan Maya bermain bersama Ryan di ruang keluarga. Terdengar suara tawa mereka yang pecah. Dion mengintip dari dapur. Mereka terlihat bahagia. Dion menunduk sedih. Teringat masa lalu, dulu dia juga pernah merasakan kebahagiaan itu. Tapi kebahagiaan yang dirasakannya amatlah sangat singkat.

^^^Bersambung...^^^

1
Sri Astuti
semoga author berbaik hati pdmu Dion.. dan nanti ksmu bs bertemu ibumu
Sri Astuti
romansa remaja.. SMA adl masa terindah buat mrk
Sri Astuti
syukurlah masalah sdh clear bagi Dion.
Mirna tipe ibu yg ga bener.. dia suka Rita krn bs dimanfaatin ternyata.. toh tetep aja dibuang suaminya dia oke" saja
Risa Virgo Always Beau
Maya sama ibunya Maya kejam banget jadi orang deh
Risa Virgo Always Beau
Maya sama ibunya Maya kejam banget jadi orang deh
Risa Virgo Always Beau
Saking rindunya Dion sama ibunya sampai Dion bermimpi ibunya
Risa Virgo Always Beau
Dion itu fokus banget makannya ngga sambil bicara saat sedang makan
Risa Virgo Always Beau
Stella dan teman temannya yang banyak makannya nanti lanjut belajar bersama
Risa Virgo Always Beau
Ryan tidur sama mama dan papanya gara gara neneknya Ryan tidur di rumah Ryan
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Stella pengen dekat sama Dion sampai mengajak belajar bersama
Risa Virgo Always Beau
Maya masih saja membohongi Baron beruntung Baron sudah menyadari kelakuan Maya
Risa Virgo Always Beau
Baron baru menyadari kalau Maya ternyata membohongi Baron
Risa Virgo Always Beau
Maya gunakan uangnya untuk foya foya sampai iuran sekolah Dion menunggak
Risa Virgo Always Beau
Maya tega banget sampai menyembunyikan foto miliknya Dion
Sri Astuti
yakin sih klo si nendk yg ambil.. scr dia pinjam ga dikasih
Sri Astuti
Dion sadar kondisi keluarganya membuat dirinya minder
Sri Astuti
masa remaja masa yg paling indah kata lagu 😂😂😂
Sri Astuti
semoga aman" pas pulang ga diapa apain
Sri Astuti
Dion aslinya baik, tp dia ga mau pusing dgb urusan orang. akhirnya Ryan dekat jg sm abangnya..
bu Mirna sdh tua ga bs jd teladan buat yg muda
Sri Astuti
selamat buat Dion.. hrsnya Maya seneng anaknya diajarin sama Dion bukannya mlh sebel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!