Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Pagi Pertama
"Kini setiap membuka mata, aku tahu ada dia disana." ~Diandra Lee.
.
.
.
Diandra Lee POV.
Aku terbangun pelan. Mataku rasanya masih sulit untuk terbuka. Badan ini rasanya remuk redam. Aku menoleh ke sekeliling dan melihat seorang pria tertidur di sampingku.
Ah, aku sudah menikah rupanya. Pria itu Bram. Dia masih tertidur pulas. Aku menatapnya lekat. Bram memang tampan, fikirku. Rahangnya kuat, dan hidungnya juga terlihat mancung. Jika diperhatikan lebih lama, lelaki ini juga punya bulu mata yang lentik. Dia memang menawan, fikirku lagi.
Aku menghela napas pelan.
Kini setiap pagi aku bangun, wajahnya akan selalu ada disana.
Kulirik jam dinding besar di suite kami. Sudah pukul 07.18. Kami? Ah, ya kami. Aku dan Bram sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Maka 'kami' akan lebih sering terucap beberapa bulan ke depan. Sungguh aku tak tahu apakah ini keputusan yang benar. Aku hanya bingung harus menentukan pilihan, dan tidak bisa melepaskan perusahaan. Aku berharap semoga lelaki ini dapat membantuku menjalani semuanya. Bukankah dia bilang dia sudah punya pacar? Semoga tidak sulit, batinku. Biarlah dia menganggap aku sudah punya pacar, biar ini semua lebih mudah di antara kami. Aku tak mungkin jatuh cinta kepadanya, kan. Pernikahan ini hanya berlandaskan bisnis dan simbiosis mutualisme, maka kedua pihak harus saling diuntungkan nantinya. Semoga saja.
Aku teringat baterai ponselku yang sudah habis. Aku juga baru sadar bahwa aku tidur menggunakan gaun pestaku semalam.
Ah, rasanya badan ini sangat capek. Perlahan aku menggeser badan, menimbulkan sangat sedikit suara agar tidak mengganggu lelapnya tidur Bram. Aku menuju koperku yang masih terletak di dekat sofa. Mencari charger dan mengecas ponselku. Kemudian aku mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Akan kusegarkan badanku pagi ini, menghapus semua riasan dari malam tadi dan memulai hari.
Bram Trahwijaya POV.
Seperti ada yang memperhatikanku, batinku. Tapi mata ini masih kupejam erat. Badan pun masih terasa lelah, karena acara kemarin. Kuambil ponselku yang tergeletak di meja dan melirik jamnya, sudah pukul 07.40. Ah, waktu berlalu begitu cepat. Kuregangkan badanku, sambil melirik ke sebelahku. Diandra tidak disana. Mungkin gadis itu sudah lebih dulu bangun. Sayup-sayup kudengar suara percik air dari kamar mandi. Mungkin dia sedang mandi, fikirku.
Tiba-tiba aku dan fikiranku yang tidak bisa dikendalikan ini memikirkan tentang gadis itu. Diandra. Bulu kudukku meregang. Bagaimana bentuk tubuh Diandra jika tanpa sehelai benang pun? Dia pasti sangat menawan, batinku. Masih bergulat dengan fikiranku yang tidak menentu, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Diandra muncul dari sana.
Masih dengan mengenakan handuk hotel berbentuk kimono yang menutup seluruh tubuhnya, dia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Terlihat jelas lehernya yang jenjang, yang kini dialiri tetesan air yang turun dari rambut basahnya. Gadis ini sungguh cantik. Aku sempat kesulitan menelan ludahku sendiri.
Diandra tersenyum kepadaku, seraya berjalan kecil menuju ranjang kami.
"Halo, Bram. Sudah bangun?" tanyanya santai.
Aku hanya bisa terdiam, mengendalikan diriku dan gejolak yang mulai terasa di bagian bawah. Sial, gadis ini sungguh sungguh cantik, dan menggoda.
"Hmm," jawabku singkat. Memperbaiki posisiku, kini aku bersandar pada bantal dan mataku tidak bisa lepas darinya.
Diandra melepas handuk kecil di kepalanya yang membuat rambutnya tergerai. Aku semakin panik, takut tidak bisa menguasai diri. Astaga, Bram. Tahan dirimu!
"Ayo mandi, kemudian kita makan ke bawah. Aku sungguh lapar," kata Diandra kemudian. Dia sudah duduk di pinggiran ranjang.
"Ah, oke," balasku singkat dan langsung beranjak. Aku berjalan cepat menuju kamar mandi. Berharap Diandra tidak menyadari kekikukanku karna melihat pemandangan dari dirinya pagi ini.
Baru beberapa langkah turun dari ranjang, suara Diandra membuat aku berhenti mendadak.
"Bram," panggilnya lagi. Sial, bahkan suaranya sangat menawan. Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Diandra tepat berada di depanku. Jantungku berdegup kencang. Mata kami berhadapan.
"Ini handuk kamu," ujarnya tersenyum, menyodorkan sebuah handuk bersih.
"Hm.. baiklah," balasku cepat. Dia langsung berbalik, mengambil remote TV dan menyalakannya. Gadis ini sungguh andal dalam mengendalikan suasana.
Aku cepat menuju kamar mandi dan menyiram tubuhku dengan air. Melawan semua keinginan yang pagi ini muncul. Berkutat dengan rumitnya fikiranku, berusaha sekuat tenaga mengusir bayangan Diandra dari sana.
Ah, Bram. Ini benar-benar tidak akan mudah.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Dukung dengan like, vote dan tinggalkan komen ya kak Readers.. Makasih sudah mampir 🙏
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍