Aundy Saesya Baghaskara, gadis 25 tahun yang sedang dikejar-kejar tagihan pinjaman online. Berusaha keras menutupinya dari keluarga.
Hari itu rumahnya kedatangan Hugo Kresnajaya yang berniat menagih hutang. Akan tetapi Aundy justru mengenalkan Hugo sebagai kekasihnya, demi menutupi fakta yang terjadi.
Permasalahan semakin rumit saat Hugo paham dengan benar mengenai latar belakang Aundy. Membuat hubungan keduanya semakin terikat dan berakhir di pernikahan.
Trauma yang pernah dialami dan tidak sukanya dengan hubungan casual membuat keduanya menciptakan beberapa perjanjian pernikahan. Akankah keduanya saling memegang komitmen itu, atau mereka akan tetap jauh, seperti jarak Malang-Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aundy - Family
"Charge kamu ketinggalan, mau aku susulin ke bandara?"
"Masih pengen ketemu aku?"
Sialan, bandit satu ini, setelah semalaman membuat jantungku berjoged ria karena tidur seranjang dengannya. Sekarang masih saja ingin menggodaku! Apa maunya sih, kalau nggak tahan, kenapa nggak bilang aja semalam? Aku siap kok ngasih hukuman tambahan!
"Mas Hugo butuh nggak? Kalau nggak terlalu, biar bulan depan aku bawa pas ke Jakarta."
Tidak ada respon, aku sampai menatap layar memastikan panggilan itu masih terhubung. Sialnya, dia berpikir terlalu lama. Membuatku jenuh dan saat hendak memutus panggilan itu, suaranya justru terdengar.
"Tidak perlu. Masih ada charge cadangan di apartemen."
"Okay. Ya sudah aku matiin dulu! Aku mau nyari oleh-oleh." Aku rasa cukup segitu obrolan kami, lagian mau bahas apa. Toh kita baru saja berpisah, bahkan belum ada lima belas menit dia meninggalkan rumah ayah.
"Mbak, jadi nyari oleh-oleh nggak?!"
Suara Brandon menyapa, bocah tengil itu masuk ke kamar lalu seenaknya tidur di atas ranjang.
"Kamu bolos sekolah, emangnya?"
"Tanggal merah, Mbak Ody!" ujarnya kesal, tanpa menatapku sedikitpun.
Aku meringis, baru ingat jika ini adalah tanggal merah. Yang artinya, pusat oleh-oleh akan cukup ramai.
"Nggak usah balek kenapa sih, Mbak?" tanya Brandon, membuatku menoleh ke arahnya.
"Emang kenapa?"
"Kalau nggak ada Mbak tu, Nakula diserahin ke aku, capek! Anak cowok disuruh momong! Belum lagi diledekin anaknya pak Aji!"
Aku tertawa sejenak. Yang kusaksikan biasanya begitu sih. Jadi, setelah pulang sekolah, Brandon diminta bantuin bunda jaga Nakula. Sedangkan bunda sendiri, sibuk membantu packing paket.
"Nikmati aja momennya, toh bunda sibuk kaya gitu buat siapa? Buat anak-anaknya, termasuk kamu. Supaya ke depannya, kamu bisa hidup layak, sekolah tinggi nggak kaya mereka yang nggak memiliki kesempatan untuk lanjut kuliah. Supaya kamu juga nggak direndahin sama calon mertuamu kelak. Bersyukurlah, Le! Selama masih bisa melihat senyuman bunda hidupmu pasti terjamin. Cuma jagain Nakula, loh! Idep-idep belajar jagain anak sendiri."
Brandon yang semula sendu akhirnya tertawa. "Jadi pengen nikah muda!" Ujarnya membuat mataku langsung membulat sempurna.
"Jangan bikin pusing ayah bunda ya! Mau kamu kasih apa istrimu nanti!" aku terengah, kesal juga mendengar keinginan Brandon. Nikah muda nggak semudah yang ada di pikiran! "Setidaknya kalau mau ngurusin anak orang, udah punya penghasilan sendiri. Nggak ditumpangin ke orang tua!"
"Ih, pokoknya umur 20 aku nikah!"
"SMP aja baru sunat, 20 tahun mau nikah?! Helloooo, Brandon Baghaskara ... Emang bisa burung empritmu itu berdiri? Harus dikasih jarak 15 tahun dulu, setelah itu baru nikah. Kalau nggak gitu ya gak bisa berdiri!" itu hanya karanganku saja. Aku cuma nggak mau, masa depan Brandon suram, dia harus jadi orang sukses dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri terlebih dahulu. Baru boleh nikah.
"Tapi nggak perlu putus kan? Pacaran masih boleh?"
"Kamu pacarannya ngapain dulu! Mbak nggak suka ya kalau ngamar!"
"Astaghfirullah... eh pernah sih sekali. Aku ditawarin, tapi nggak mau."
"Tawarin apa tuh?" mendadak aku penasaran. Takut juga dia keblinger di dunia 20+. Apalagi, pergaulan gen z saat ini sangat meresahkan.
"Kepo!"
"Ih, ngeselin! Udah sana minggat dari kamarku!" Aku terpaksa menarik Brandon dari ranjang. Dia tidak kooperatif selalu bikin aku mati penasaran. Dan ujungnya digantung gitu aja. Aku paham Brandon tidak akan terus terang, jadi kurasa mandi lebih baik dari pada terus menanggapi ocehannya.
***
Apa yang menjadi list kegiatan hari ini, berjalan dengan baik. Berbagai macam oleh-oleh sudah masuk ke dalam kardus. Ransel sudah berada di balik punggung. Dan malam ini, aku siap kembali ke Malang.
Dan di sinilah titik terberatku, pamitan. Dada yang teramat sesak, mata yang memanas. Ah nggak bisa dijabarkan detail, yang jelas sangat menyiksa batin dan raga.
"Apa mau ayah temani pas nanti ke Jakarta, Nduk?" tawar Ayah.
"Nggak perlu, Ody bisa sendiri kok," jawabku sambil menyeka sudut mata yang mulai mbrebes.
"Hm, jangan naik kereta, naik pesawat biar cepet nyampe. Kalau kamu belum gajian, bisa minta ayah!"
Aku pura-pura tertawa, menutupi rasa haru saat mendengar ucapan ayah. Dia masih saja memperlakukan aku selayaknya anak SD. "Ayah tenang aja! Tabungan Ody banyak!"
"Bohong!" Sekali lagi, dia menawarkan pelukan, dan aku langsung menyambutnya. Rasa hangat ini tak ada duanya, masih saja menjadi tempat paling nyaman nomor satu di dunia.
"Anak ayah udah gede. Udah nikah. Udah bukan tanggungjawab ayah sepenuhnya. Tapi, setiap kamu punya masalah, yang sekiranya sulit dipecahkan, ayah akan selalu siap membantumu. Tapi ayah yakin, kekasih yang sekarang berubah status menjadi suamimu itu, adalah pria baik-baik."
Aku mengangguk, tidak bisa bersuara karena air mata sialan ini kian deras keluar, membuatku sulit mengambil ruang bernapas, dan berakhir menyumbat di hidung.
"LDM nya jangan lama-lama ya, Nduk! Kamu atau mas Hugo harus ada yang mengalah. Godaannya akan berat tapi ayah yakin kamu kuat!"
Aku mengangguk lagi. "Ayah sedih ditinggal Ody?"
"Banget. Tapi gimana lagi maumu begini. Jadi, ayah cuma bisa doain di mana pun kamu berada, semoga bahagia."
"Matur suwun, Ayah. Ayah harus sehat ya! Ayah harus melihat Ody bahagia. Ody pasti baik-baik saja. Jangan khawatir, di Malang banyak yang sayang sama Ody." ah, momen seperti ini nih yang membuatku malas pulang. Drama seperti ini, yang kutakuti dan yang paling malas kulihat. Sosok ayah yang biasanya kuat dan tangguh, mendadak lemah di depanku. Hanya karena aku pergi ke Malang yang jaraknya masih bisa dijangkau dengan alat transportasi apapun. "Ayah jangan nangis, Ody sedih lihat ayah begini! Ody mau kerja, Ody mau nyari jatidiri Ody. Bukan mau perang," kataku lirih, sambil menyeka air mata agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku bisa melihat dia berupaya menyeka air matanya, juga. Lalu tertawa ke arahku.
"Ya. Masuklah! Jangan lupa hubungi Wildan. Biar nggak terlalu lama nunggu di stasiun."
Aku mengangguk lagi. Lalu menuruti perintah Ayah. Tanganku melambai ke arahnya sebelum kami benar-benar berpisah. Saat aku naik ke gerbong kereta, aku masih bisa menyaksikan dia mengamati langkahku yang berjalan mencari kursi. Aku duduk, kepalaku menoleh lagi ke arahnya, Ayah masih berdiri di tempat tadi. Aku melambaikan tangan lagi, dia membalas lambaianku, ditambahi senyuman manis yang ingin selalu kusaksikan, lalu dia memberi kiss bye dan aku membalasnya. Sampai kereta yang kutumpangi berjalan pelan meninggalkan stasiun, ayah masih berdiri di posisinya, menatapku semakin dalam, mungkin juga memanjatkan doa terbaik untukku. Ayah, terima kasih sudah mencintaiku.
Sebenarnya aku cukup sering pulang ke Semarang, minimal 3 bulan sekali. Tapi ayah masih saja sedih saat aku memutuskan kembali ke Malang. Kaya belum rela jauh dariku. Mungkin, alasannya adalah aku adalah putri satu-satunya.
Malam ini, Bunda memang sengaja tidak ikut mengantar. Mungkin kalau ikut, akan jauh lebih parah dari yang dilakukan ayah saat ini. Dan seharian tadi, emosinya meledak-ledak. Dia sama seperti ayah, mengkhawatirkan ku, seakan belum sepenuhnya rela aku pergi.
Aku bahagia dikelilingi keluarga yang menyayangiku. Kadang aku mikir, hidupku kaya nggak ada tantangan, semuanya serba ada, serba kecukupan, kaya kurang greget. Bukan bermaksud besar kepala, tapi dari dulu kaya nggak pernah ada masalah yang nggak bisa ku selesaikan. Sekolah, asmara, semua bisa kutaklukan.
Sialnya setelah kuputuskan pergi, sekarang justru berbanding terbalik. Masalah datang tiada henti. Cowok brengsek, hutang, dan berakhir menikah dengan pria yang tak kukenal. Tapi aku yakin bisa melewati ini. Aundy hebat, aku kuat, aku pasti bisa menaklukan om Hugo. Iyakan? Pantas nggak aku panggil dia om Hugo? Atau lebih keren Uncle?
semangatttttt bikin karya..
anak yg d'ajak ngobrol umur 25.. istri'y msh menyusui Adik'y..
k'inget yg kpn hari viral Abang Adik..
Abang'y umur 23 Adik'y umur 2th..
semangatttttt Thor
bahasa santai dan alur yang baik membuat pembaca lebih mudah ngalir ke ceritanya,
berasa kita berada didekat tokohnya.
terima kasih,
tetap berkarya ya....