Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.
Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bertemu Ian
Suasana di dalam sudah cukup ramai. Ben dan Daniel masuk sambil menyapu pandang ke sekitar. Tentu mereka mencari satu sosok yang memang ingin ditemui sejak masuk ke dalam. Jeslin.
Mata Ben langsung dapat menemukan di mana keberadaan Jeslin. Gadis itu sedang menata meja, di mana ada beberapa tumpukan novel baru yang masih terbungkus plastik. Ada novel miliknya juga beberapa novel milik penulis lain yang memang sedang menjadi bintang pada acara ini.
Ben menepuk bahu Daniel yang berdiri di sampingnya, karena masih sibuk mencari keberadaan sang kakak.
"Apa?" tanya Daniel terlihat malas menanggapi Ben.
"Itu!" sentak Ben dengan menarik kerah kemeja Daniel. Akhirnya dia menemukan di mana keberadaan sang kakak. Daniel lantas tersenyum, lalu gantian menepuk dada Ben, dan mengajaknya mendekati Jeslin. Ben hanya mengeggelengkan kepala, sebal.
"Bunga krisan merahnya taruh di pojok sana ya, Lex!" tunjuk Jeslin ke sudut di mana ia menginginkan barang tersebut diletakkan.
"Siap, Non."
Daniel menepuk bahu kakaknya pelan, seketika Jeslin menoleh dan sempat terkejut melihat dua pemuda itu di depannya. "Loh, kamu? Lagi ngapain di sini?" tanya Jeslin heran.
Daniel lantas menarik tubuh sang kakak dan memeluknya singkat. Terkadang mereka berdua memang sering melakukan hal ini jika bertemu. Tidak ada rasa kikuk dan aneh. Karena sejak kecil mereka selalu akrab satu sama lain.
"Selamat, Kakakku yang cantik. Akhirnya launching buku lagi," kata Daniel dengan senyum sumringah, tanpa menjawab pertanyaan Jeslin tadi.
"Cuma ucapan aja? Mana kadonya? Buket bunga misalnya? Tuh, lihat! Dia aja dapat setangkai bunga mawar merah," sindir sang kakak menagih hadiah dari sang adik, sambil menunjuk salah satu penulis lain yang mendapat hadiah dari kenalannya.
Daniel menggaruk kepala sambil bertingkah lucu. "Eum, nanti ya. Nanti aku beli. Nggak cuma satu tangkai atau buket bunga aja. Aku bakal beli sama toko-tokonya sekalian," tandas Daniel dengan sombong.
"Dasar! Mentang - mentang pemilik perusahaan," tukas Jeslin lalu tersenyum sinis, dan mengalihkan pandangan ke Ben yang sejak tadi diam memperhatikan. "Hai," sapa Jeslin padanya. Terlihat sedikit lebih ramah dari sebelumnya.
Ben yang tidak menyangka akan mendapat ucapan itu agak gelagapan, dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar. "Hai, Jes," sahut Ben gugup.
"Kamu juga, nggak bawa apa-apa ke sini?" tanya Jeslin menyelidik.
Ben tengak tengok bingung dan berakhir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, aku nggak tau kalau Daniel mau ajak aku ke sini. Kalau aku tau, pasti aku bawakan sesuatu. Tapi ngomong-omong, selamat ya. Kalau aku beli novel ini, apa aku bisa dapat tanda tangan dari penulisnya juga?" tanya Ben sambil mengambil sebuah novel milik Jeslin yang masih tersegel di meja dekatnya. Jeslin hanya tersenyum, dan itu membuat jantung Ben berdenyut makin cepat.
Acara dimulai, Ben dan Daniel masih berada di sana untuk memberikan dukungan pada Jeslin. Bahkan dua pemuda itu adalah suporter paling heboh di antara yang lain saat Jeslin memberikan sepatah dua patah kata sambutan. Sedikit terlihat memalukan tapi untungnya dua pemuda tadi terbilang tampang, apalagi dengan tuxedo layaknya bos bos besar perusahaan. Yah, walau sebenarnya mereka memang bos perusahaan, tapi tidak ada yang akan menyangka saat melihat tingkah Ben dan Daniel yang tampak lucu pada acara ini. Mereka masih saja beradu pendapat. Hal hal sepele bahkan bisa menjadi perdebatan panjang keduanya. Seperti letak bunga yang kurang simetris atau penataan panggung yang kurang elegan. Biasalah, terkadang penonton memang lebih pintar jika berkomentar.
Hingga acara usai, mereka masih berada di tempat itu. Tepuk tangan meriah menutup acara.
"Kalian nggak ke kantor?" tanya Jeslin menatap intens kedua pria yang kini ikut dalam antrean. Untuk acara penutup akan ada sesi pembelian buku ditambah tanda tangan penulis. Ben yang benar benar membeli novel milik Jeslin kini menggenggam erat buku tebal tersebut dan berdiri di depan meja, di mana sang penulis duduk dengan sebuah pena.
Daniel hanya berdiri di sisi lain, di luar barisan. Karena dia tidak berniat membeli novel kakaknya. Bukan karena tidak ingin mendukung Jeslin dalam karirnya, tapi Daniel punya cara lain untuk mendukung kakak satu satunya yang ia punya itu. Kali ini, Daniel hanya mengamati tingkah Ben, yang tampak lain dari Ben yang biasanya ia kenal sejak sekolah dulu. Daniel yakin kalau Ben memang tertarik pada kakaknya dilihat dari sikap sahabatnya yang selalu lembut jika berhadapan dengan Jeslin.
"Oh, aku ... Kebetulan memang lagi senggang. Paling sore nanti baru ada meeting," jelas Ben sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"Daniel?"
"Eh, kalau aku ...," cetus Daniel yang belum berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan Jeslin. Dia melirik Ben yang sejak tadi hanya menatap Jeslin yang berada tepat di depannya. "Ah, kakak lupa? Kan aku pemilik perusahaan?" tanya Daniel dengan nada sombong.
"Kamu yakin? Nggak ada meeting? Biasanya kan kamu sibuk banget," sindir Jeslin sambil melirik adiknya sinis.
"Ah, kata siapa. Eh tapi ini jam berapa, ya?" tanya Daniel sambil melirik jam tangan produksi Lange & Söhne, yang dibanderol dengan harga yang tak jauh beda dengan aeger-LeCoultre Hybris Mechanica Grande Sonnerie, yaitu miliaran rupiah. Istimewanya, jam ini butuh waktu selama satu tahun untuk diproduksi dan terbuat dari emas. Selain itu, jam tangan ini juga memiliki kalender abadi dengan moonphase, dan melodi sennorie grande dengan pengulang menit.
"Astaga! Aku terlambat!" pekik Daniel lalu melotot pada Ben dan Jeslin. "Aku lupa ada meeting siang ini, Kak! Untung kakak ingat kan!" kata Daniel lalu bergegas hendak segera angkat kaki dari sana. "Ben, ayo!" ajak Daniel sambil menarik tangan pemuda itu.
"Eh, tunggu! Jes ... Tolong di tanda tangani dulu," pinta Ben masih menunjukkan wajah imut. Tapi Jeslin justru menatap Ben dengan sebal. Ia segera menorehkan tinta dengan coretan khas dirinya, lalu diberikannya novel itu pada Ben. "Terima kasih, Jeslin. Setelah ini aku akan baca novelnya."
"Ayo! Cepat!" paksa Daniel yang berhasil membuat tubuh Ben bergeser sedikit.
"Iya! Sabar!" omel Ben dan langsung mengganti ekspresi wajahnya menjadi kesal pada sahabatnya itu.
****
"Jes, untuk naskah yang kemarin sudah kamu kerjakan?" tanya Verrel, bagian administrasi di perusahaan. Dia memang tidak bertugas untuk mengurusi naskah, tapi apa yang dia inginkan adalah hal penting yang akan menambah penghasilan perusahaan.
"Udah kok, Rel. Udah selesai tahap revisi. Cover gimana? Udah Reyhan buat, kan?" tanya Jeslin balik.
"Nggak tau gue, Jes. Nanti gue tanya ke Reyhan deh. Buruan ya, kirim file nya ke Rossa. Deadline nih," pinta Verrel memaksa.
"Oke. Aku kirim nih filenya."
Pekerjaan hari ini begitu padat. Bahkan teh chamomile milik Jeslin baru seteguk ia nikmati sejak pagi. Beberapa kali ia menekan pelipisnya, dengan kedua bola mata menatap layar komputer di depan.
"Jes, makan siang dulu yuk," ajak Ellie, yang terus-menerus menatap jam di pergelangan tangan.
"Hm? Udah siang? Duh, kerjaan ku belum selesai. Sebentar lagi deh. Kamu duluan aja," tolak Jeslin yang terlihat semrawut dengan tumpukan deadline yang harus selesai akhir bulan ini. Parahnya akhir bulan hanya tinggal hitungan hari saja.
"Serius nih, nggak mau makan dulu? Tinggalin dulu lah, nanti lanjut lagi."
"Iya, Ell. Kamu duluan aja. Tanggung banget nih, kelarin satu naskah lagi."
"Hm, ya udah deh. Jangan kelamaan, ya."
"Oke." Tanpa menoleh ke arah Ellie, Jeslin melanjutkan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit lagi, untuk naskah yang sedang ada di hadapannya.
15 menit berlalu, akhirnya naskah tersebut selesai juga. Jeslin meregangkan otot-ototnya yang tegang. Menjulurkan tangan ke atas dan samping tubuhnya. Ia menoleh ke sekitar yang ternyata sudah sepi. Ruangan editor tersebut memang hanya berisi 5 orang saja, dan mereka semua sedang makan siang di kantin. Hanya ada Bu Wati, seorang office girl kantor yang akan membersihkan ruangan di jam istirahat, pagi hari, dan saat pulang kerja.
"Nggak makan, non?" tanya Bu Wati sambil menyapu sekitar.
"Ini mau ke bawah, Bu. Tadi masih nanggung," kata Jeslin. "Ibu udah makan?"
"Sudah tadi, Non."
"Ya udah, aku makan dulu, ya. Ibu jangan capek-capek."
"Iya, Non." Bu Wati menatap Jeslin yang mulai pergi meninggalkan ruangan.