Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterlaluan
Reza menatapku dengan tatapan kesal, nampak terlihat kalau dia tidak suka jika aku terlalu banyak bertanya.
"Ya ke kantor lah, memangnya aku mau kemana."
"Ya barangkali mau kemana gitu." Aku semakin membuatnya kesal hingga tangannya mencengkeram lenganku.
"Dengar Melati, tugas kamu yang menjaga Ega disini sedangkan tugas aku membayar biaya rumah sakit, jadi nggak usah banyak protes!" Dia melepas tangannya dengan kasar.
Reza pergi begitu saja sedangkan aku hanya bisa melongo melihatnya. Dengan deraian air mata aku mendekati Ega yang masih setia memejamkan matanya, ku genggam tangan mungilnya dan aku cium berkali-kali.
"Ega cepat sembuh ya sayang."
Beberapa waktu kemudian, suster dan Dokter datang untuk memberikan hasil lab sampel darah Ega, dan benar saja anakku terkena tipes.
"Untung masih tergolong tipes ringan dan telah diambil tindakan," kata Dokter.
Meskipun hanya tipes ringan namun aku sudah sangat khawatir dan yang menjadi pertanyaanku adalah bagaimana bisa Ega terkena sakit tipes, perasaan aku selalu menjaga kebersihan di rumah mulai dari makanan, lingkungan dan lainnya.
Selepas kepergian Dokter kulihat bocah kecil ini membuka mata melihatku yang duduk di sisinya membuat dia bingung, mungkin heran kenapa aku menungguinya.
"Ega mau minum?" tanyaku sembari menyapanya.
Dia mengangguk lalu ingin beranjak, aku membantunya untuk bangun dari tempat tidur.
"Papa mana?" Pertanyaan pertama yang dia tanyakan justru papanya.
"Papa kan kerja sayang," jawabku dengan menyodorkan air di mulutnya.
"Papa jahat, papa nggak sayang Ega, Ega benci papa." Kelihatannya anak ini masih merajuk pada papanya.
Aku tersenyum lalu mengelus kepalanya, menjelaskan kalau papanya sibuk, ucapan mungkin bisa dimanipulasi namun sikapnya memang telah menunjukan perubahan yang mana Ega bisa merasakannya.
Sore hari telah tiba namun Reza tak kunjung kembali kemana sebenarnya dia pergi? nomorku yang masih diblokir tentu tidak bisa menghubunginya, aku pun inisiatif menghubungi kantornya.
"Mohon maaf ibu, pak Reza hari ini tidak datang ke kantor, katanya anaknya sakit."
Setelah selesai berbicara aku memutuskan sambungan telepon secara sepihak, air mata ini tak sanggup lagi aku tahan, bohong lagi bohong lagi, ya itulah yang terus dilakukan Reza.
"Papa." Dalam tidurnya Ega trus memanggil papanya.
"Baiklah aku akan menghubungi wanitanya." Mau nggak mau aku pun menghubungi nomor wanita itu, saat kulihat foto profilnya hatiku sangat meremang, bagiamana bisa foto seperti ini dijadikan foto profil?? dia gila atau waras??
Ku tekan gambar telpon dan benar saja panggilanku langsung terhubung dengannya.
Tanyaku bergetar hebat saat dia mengangkat teleponku, suaranya sangat lembut tapi mengapa kelakuannya seperti ini?
"Halo mbak."
"Mbak tolong mas Reza suruh kembali ke rumah sakit, Ega anaknya terus saja memanggil papanya...." Tut Tut Tut dia mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Aku berusaha menghubunginya lagi namun tidak dijawab.
Entah mengapa ada orang kejam seperti mereka berdua yang tidak memikirkan sama sekali keadaan anakku.
Aku tak tau harus bagaimana lagi, lahir batinku sungguh lelah dengan sikap Reza yang semakin kesini semakin mengesalkan.
"Sudahlah Melati, abaikan suami brengsek seperti dia, lebih baik kamu memikirkan Ega." Menyemangati diriku sendiri mungkin lebih penting daripada terus berharap Reza.
Aku mendekati Ega yang masih memanggil papanya, ku cek suhu tubuhnya ternyata memang suhu tubuh Ega tinggi sekali.
Dengan pikiran yang tak karu-karuan aku pergi keluar, aku berlari memanggil dokter, karena panik aku sampai lupa kalau ada bel untuk memanggil dokter jadi tidak usah repot-repot mencari dokter di ruangannya.
Prank
Tak sengaja aku menabrak Dokter yang sedang membawa peralatan medis, dengan derai air mata aku meminta maaf pada Dokter tersebut.
"Ma maaf Dok, saya nggak sengaja." Aku mengambil peralatan medis yang jatuh berserakan di lantai.
Tangannya melarang aku untuk membantunya.
"Gak apa biar aku sendiri yang memunguti barang yang jatuh." katanya dengan tersenyum.
"Dokter David terima kasih, mohon maaf saya buru-buru." Aku pergi meninggalkannya.
Aku tau namanya David dari Bros nama yang dikenakan, David Sp.OG yang artinya dia adalah dokter spesialis kandungan.
Setelah tiba di ruangan dokter aku memintanya untuk melihat keadaan anakku kami bergegas menuju ke ruang inap anakku.
"Suhu badannya tinggi sekali." Dokter nampak heran karena seharusnya suhu tubuh Ega normal.
"Putra ibu terus saja memanggil papanya, upayakan papanya selalu menemaninya."
"Lalu bagaimana Dok sekarang?" tanyaku dengan air mata yang terus mengalir.
"Saya sudah menyuntikan obat penurun panas, mungkin beberapa saat kemudian suhu tubuhnya akan turun," jelas Dokter.
Aku yang sangat ketakutan terus menggenggam tangan anakku, dalam pikiranku berbagai hal negatif sudah berkeliaran yang membuat aku terus menangis.
Beberapa waktu kemudian, Reza datang dengan wajah yang menyimpan amarah. Mungkin dia marah karena aku telah menghubungi istri simpanannya.
Dia melihat keadaan Ega, dia juga mengecek dahinya.
"Ega baik-baik saja kenapa kamu menghubunginya?" tanya Reza dengan menahan amarahnya.
"Tadi keadaannya sungguh mengkhawatirkan mas, dia terus memanggil kamu," jawabku.
"Lain kali otak itu digunakan, ini kan rumah sakit jadi kalau ada apa-apa dengan Ega panggil dokter bukannya memanggil aku yang jauh." Reza menunjuk kepalaku dengan tangannya.
"Kamu yang gak punya otak mas, tau anak lagi sakit malah pergi ke istri simpanan kamu, Ega lagi membutuhkan kamu." Aku tak mau kalah dengannya.
Reza mengusap rambutnya kasar lalu duduk di sofa sembari melihat ponselnya.
Pagi datang dengan cepat, sata aku membuka mata kulihat Ega yang sudah asik berbincang dengan papanya, melihat mereka tertawa seketika rasa sakit dan kesal ku hilang sudah. Aku sendiri juga heran kenapa rasa sakit dan kesal terhadap Reza selalu hilang tiap melihat senyum Ega, ada apa denganku? kenapa aku sangat lemah dan tidak tegas seperti wanita lain? entahlah.
Waktu cepat berlalu, hari ini Ega sudah diperbolehkan pulang, Ega yang masih belum pulih seutuhnya meminta Reza untuk selalu menemaninya.
"Sayang, papa kan harus kerja, Ega di rumah sama mama ya." Sontak raut wajah Ega berubah mendengar ucapan papanya.
"Ega sayang, kan Papa harus kerja, Ega sama mama ya." Aku pun ikut membujuk Ega.
Ega bersikeras melarang Reza pergi sehingga membuat Reza menjanjikan liburkan pada Ega.
"Papa pergi dulu ya sayang, papa janji hari minggu besok kita jalan-jalan keluar kota." Janji keluar kota Reza ucapkan.
Aku mengerutkan alis, kenapa selalu berjanji jika tidak pernah ditepati.
Benar saja, Ega kini mengijinkan papanya untuk pergi, dia sangat senang karena Reza akan mengajaknya pergi keluar kota.
"Mas, kamu nggak seharunya berjanji seperti itu pada Ega, apa kamu yakin bisa menepatinya? sedangkan setiap hari Minggu kamu selalu dengannya." Aku protes padanya.
Reza menatapku lalu meletakkan kedua tangannya di pundakku.
"Aku memang ingin mengajaknya liburan dengannya,"
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘