Arsyila, putri manja yang harus merasakan rasa lelah dengan 'cinta'.
Saat ia memberi hati dan kepercayaan, yang ia dapatkan hanya sebuah luka dan kecewa.
Saat ia meyakini jika ia sudah merasa pas dan nyaman, ternyata itu milik orang.
Hati menjadi gersang hingga mungkin mati dengan sendirinya.
Bagaimana setelah kepergian semua cintanya, mampukah ia mengganti cintanya kembali ?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chengil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Q time with Adji II
Dia hanya menjadi korban kedua orang tuanya. Anak yang kesepian tidak ada tempat mengadu. Kakaknya saat itu memilih bunuh diri saat mengetahui dia hamil diluar nikah dan pacarnya tidak mau bertanggungjawab. Dia terpukul, stres, dan malu mananggung aib takut mengecewakan keluarganya. Akhirnya tanpa pemikiran yang panjang dia menengguk cairan obat serangga. Dan selesai sudah hidupnya.
Tapi aku juga tidak bersependapat dengan Adji. Kalau mau tenang dan bahagia yaa lebih baik kita dekat kan diri kepada Tuhan. Adji kala itu hanya mengelus kepalaku. Seolah dia berkata kamu tidak tahu rasanya dan tidak akan pernah mengerti.
Dan sebaiknya memang jangan tahu rasanya seperti apa. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.
Tiba di wahana biang lala. Aku phobia ketinggian. Belum apa-apa keringat dingin sudah membasahi dahiku.
"Kenapa kemari ?? Mau membunuhku ??" Tanyaku gemetar.
Dia mengenggam tanganku. Menyalurkan kekuatan
"Aku bukan malaikat maut yank.. Aku akan menjadi perisaimu. Kamu harus tahu bagaimana rasanya duduk paling atas sana bersama pacarmu yang keren ini"
"Narsismu banyak stoknya yah"
Di angguki olehnya.
Akhirnya aku menuruti apa yang dia mau. Bianglala mulai merangkak naik. Saat itu pula mataku terpejam erat. Jantungku berdebar tak karuan. Keringat dingin keluar dengan tubuh yang gemetar. Dan jangan lupa doa yang kurapalkan tanpa berucap.
Ehh Yaa Tuhan bianglalanya bergoyang. Semakin kalut rasanya tapi tidak berani membuka mata untuk sekedar melihat apa yang terjadi.
Adji tertawa. Sial.. umpatku. Kencan macam apa ini. Mending tadi nongkrong dipinggir jalan saja sambil makan jagung bakar.
Ehh.. tanganku hangat..
"Buka donk matanya.." Bisik Adji tepat di dekat telinga yang membuat kulitku meremang seketika. Ternyata Adji pindah disebelahku.
"Aku mau turun !!" Pintaku seperti anak kecil.
"Jangan pernah takut dengan apapun Syila. Karena itu hanya akan membuatmu lemah dan ditindas. Lawan rasa takutmu. Kamu harus lihat apa saja yang terlihat indah dari jarak ketinggian seperti ini."
Kumulai melihat pemandangan dari atas sini. Itu pemandangan pemukiman penduduk yang di hiasi lampu malam dan itu terlihat indah. Dan melihat keatas terasa semakin dekat dengan bintang-bintang. Damai dan sejuk oleh angin yang menerpa.
Kunetralkan apa yang kurasa. Pelan-pelan seperti terkena hipnotis aku mulai tenang.
Adji lagi-lagi tersenyum. Kurasakan mulai nyaman dengan kondisi ini. Tangan kami masih saling menggenggam. Menyalurkan kehangatan kekuatan dan kebahagiaan malam ini.
Tiba-tiba Adji mengecup jari telunjuk dan jari tengahnya yang ditautkan lalu diarahkan ke bibirku. Ohhh.. dia ini pandai sekali buat hatiku meleleh.
Aku tersipu dengan senyum malu-malu. Lalu Adji mengusap kepalaku gemas.
Kami pacaran hanya sebatas ini. Dia menjagaku sangat menjagaku kalau sedang berdekatan begini. Walaupun aku sendiri terkadang berharap memintanya dengan nyata dan lebih.
Dia selalu berkata aku menyayangimu dan menjagamu sebagaimana yang kulakukan kepada ibuku. Kamu sama istimewanya dengan cinta pertamaku yaitu ibuku. Aku ingin semua yang harus kita rasakan ya dilakukan pada masanya. Biar menjadi moment yang lebih indah. Untuk saat ini cukup seperti ini saja. Walaupun pada dasarnya aku juga menahannya dengan susah payah.
Bahagia donk.. yang artinya dia menghargaiku sebagai perempuan. Hihihi
Ketika aku sedang menikmati pemandangan malam dari ketinggian tiba-tiba cahaya lampu kilat menyilaukan. Kulihat pelakunya. Adji.
"Mencuri foto sembarangan nanti kena denda loh" Selorohku.
"Apa ? Suruh menikahi ? Dengan senang hati" Jawabnya enteng.
Dia ini bercandanya kelewat lucu. Membuat telingaku memanas mendengar kata menikah.
Pasalnya aku masih sekolah. Umurku juga baru mau 18 tahun nanti pas ujian sekolah. Tapi dia membahas menikah terus membuatku bungkam seketika.
Kata itu masih terlalu asing untukku. Aku dan Adji terpaut umur 4 tahun lebih tua dia.
Tak terasa aku sudah keluar dari wahana yang memicu adrenalinku.
Lalu dibawanya aku ke sebuah taman. Jangan lupa susu jahe hangat yang dia beli untukku juga berbagai cemilan.
Menaiki wahana sialan tadi membuatku lapar. Tenagaku terkuras untuk mengalahkan phobiaku
Aku yang sibuk makan. Adji hanya sibuk mengamatiku. Tadinya mau di ajak makan malam lagi tapi aku menolak.
Kuusap wajahnya kasar. Terlalu memnganggu momen makanku saja.
"Yank bau tangannya bekas cebok ya"
Reflek kucium tanganku. "Tidak bau malah wangi, wangi sambal terasi". Hahaha aku tertawa lepas.
"Padahal sudah kucuci tadi.. tapi lupa tanpa sabun. Tadi habis bikin sambal terasi." Nyengir tanpa dosa lalu kembali aku makan cemilanku.
Dari kejauhan kulihat banyak pengamen lalu ada yang menghampiri kami. Mulanya dia bernyanyi sambil bergitar setelah selesai Adji menghampirinya kulihat dia memberi uang merah beberapa lembar. Lalu si pengamen tadi menyerahkan gitarnya kepada Adji lalu pergi agak menjauh.
Masih dalam mode mengawasi. Mau jadi pengamen dadakan ya.
Jreng..
Jreng..
Kau mau aku apa pasti kan ku beri
Kau minta apa akan ku turuti
Walau harus aku terlelap dan letih
Ini demi kamu sayang
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Di setiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Tuhan tolong aku jaga jaga dia
Tuhan ku pun sayang dia
Oh Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Lagu itu kenapa terdengar romantis sekali ketika Adji yang membawakannya dengan tatapan mata yang teduh penuh sayang. Dan senyuman khas dia. Lagi-lagi aku meleleh dibuatnya. Hanya sesederhana ini.
Prok.. Prokk.. Prokk..
Kuberikan tepuk tangan seantusias mungkin. Agar terlihat seperti seorang fans kepada idolanya.
Lalu aku mencari kembalian uang Adji yang logam tadi yang sempat dia masukkan dikantong plastik cemilanku.
Kuhampiri dia. "Nih.." Kusodorkan kembaliannya yang berbentuk logam seribu rupiah 2 keping.
Dia tertawa "Pengamen tadi aja di beri uang kertas merah loh.. ini pengamen istimewa khusus buat wanita cantik bernama Arsyila Putri masa hanya diberi koin. Huuhh sedih aku.." Menampilkan wajah sok terzholimi.
Akupun tertawa lepas. Rasa seperti ini yang tidak kudapatkan dari pria manapun. Walaupun diantara mereka banyak yang mirip seperti Adji kelakuannya tapi rasanya tetap berbeda.
Adji Sadewa.. Itulah dia.. Seorang pria yang saat ini sedang mengisi hatiku.
semangat terus Kak 💪
bolehlah ya kita saling mendukung.. hehehe 😊
kalau suka novel bergenre misteri atau thriller, jika berkenan mampir juga ya di karya aku.
judulnya: malam tadi.
sukses
semangat
mksh
Daerahku gak tersedia utk app nya