Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 Like 18
"Mau makan di mana?" tanya Shasha sambil menutup pintu rumahnya. "Kita jalan kaki saja."
"Aku mau makan nasi goreng. Terserah kamu, mau bawa aku ke mana?"
"Nasi goreng langgananku agak jauh dari sini."
"Gak apa-apa. Kita sambil jalan sore. Kapan lagi aku bisa jalan bareng ABG."
"Aku gak mau, ya, kalau orang-orang mengira aku ini pacarnya Om-om. Jadi, kita jaga jarak aja, gak usah deket-deket." Shasha berjalan terburu-buru di depan Luthfie supaya tidak terlihat berdampingan.
"Orang-orang yang mana yang mengira aku ini Om-om? Coba kamu tanya mereka satu-satu." Luthfie setengah berlari mengejar Shasha supaya bisa mensejajarkan dirinya.
Setelah cukup lama mereka berjalan, Luthfie mengeluh capek dan lapar. Sambil terseok-seok dia tidak berhenti mengoceh.
"Banana ...!" serunya.
Iya ..., " jawabnya sambil menoleh ke arah Luthfie yg berada di sampingnya.
"Kenapa gak bilang kalau tempatnya jauh banget, kan kita bisa naik sepeda dari rumah." Ia terus mengusap perutnya sambil membungkuk.
"Loh, Pak Dokter kenapa, sih?" Shasha sedikit khawatir.
"Aku kelaparan Banana, belum makan dari pagi. Tau begini mah mending kita bikin nasi goreng di rumah saja tadi."
"Ya udah, kita balik lagi daripada berisik," ucap Shasha cuek. Padahal mereka sudah berada di tempat yang merek tuju.
Luthfie mulai mencium wangi khas di sekitarnya.
"Kamu kok, gak bilang kita sudah sampai? Ayo masuk, aku lapar." Luthfie menarik tangan Shasha memintanya untuk memesan dua porsi nasi goreng pan penjual, sementara dia mencari meja kosong lalu duduk di sana.
"Di sini tempatnya sangat nyaman. Sambil menunggu pesanan datang, kita bisa memandang ke sana, ada taman dan juga kolam ikan." Shasha turut duduk di sana sambil tersenyum memandang ke luar.
"Kamu sering kesini?"
" iya ... dulu."
"Dulu? Sekarang-sekarang emang gak pernah?
"Ya, karena dulu ada kakakku yang bawa aku ke sini. Sekarang dia tinggal di Bekasi, jadi gak pernah lagi makan di luar."
"Kamu kan bisa ke sini sama pacar kamu?"
"Pacar? Hhh ... yang benar saja?"
"Iya pacar kamu? Aku lihat anak-anak SMA zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya dibanding keluarga. Atau ... jangan-jangan pacar kamu pelit gak pernah ngajakin makan di luar?"
"Aku bisa digorok sama Kakakku kalau ketahuan pacaran hahaha ...."
"Masa sih, kamu gak pernah pacaran sampe sekarang? Kamu Backstreet, ya?"
"Emangnya harus ya, anak seusiaku punya pacar?"
"Ya, jangan. Di usia berapa pun, pacaran itu tetap gak boleh."
"Lagi pula, aku gak mau buang-buang waktuku cuma buat nyari pacar."
"Nah, gitu dong jadi anak harus nurut sama kakaknya," ucap Luthfie sambil mengacak rambut Shasha, tapi ... tiba-tiba dia kaget melihat rambut Shasha ada di sela jari-jari tangannya. Padahal, dia hanya menyentuhnya dengan pelan. Sontak, Shasha pun segera menarik kepalanya dan menjauhkan dari tangan Luthfie. Dia langsung menggulung rambutnya dan membuat sanggul kecil di atas kepala sebelah kanan.
"Maaf ... rambut kamu?"
"Gak apa-apa, ini emang rontok. Mungkin salah pake shampoo. Lain kali jangan sentuh rambutku."
Luthfie mengangguk sambil menatap heran.
"Itu, nasi goreng kita sudah jadi. Cepet dikit, ya, makannya, hari sudah terlalu sore." Shasha menatap jam di pergelangan tangannya.
"Oh ya, berapa usia kakakmu sekarang?" tanya Luthfie sambil mengantar sendok berisi nasgor ke dalam mulutnya.
"Bulan depan Kakakku genap 28 th, kenapa tanya-tanya?"
"Wahh ... aku dan Kakakmu seumuran ternyata."
"What? Usia Anda 28 juga?"
"Iya, cuma ... wajahku ini masih seperti 18 tahun." Luthfie tampak sedang mematut wajahnya yang memang tampan sejak lahir.
"Tua banget!" teriak Shasha.
"Husstt ... sembarangan," bisik Luthfie seraya menutup mulut Shasha. "Aku gak tua, cuma sedikit Mateng aja."
"Ya ampun. Aku gak nyangka aja bisa bergaul dengan om-om seperti Anda ...," balasnya sedikit mengejek.
"Haaiisshhh ... beraninya. Udah bilang tua, malah manggil Om-om lagi. Dengar aku baik-baik, ya. Kamu harus siap-siap karena saat tiba waktunya nanti, aku mau menemui keluargamu." Luthfie pura-pura kesal dengan ejekan Shasha.
"Siap-siap? Ngapain juga pake menemui keluargaku, mau ngadu?"
"Firasatku mengatakan bahwa kamu akan menjadi istriku."
"Maksudnya, aku dikutuk jadi istri Om-om gara-gara ucapanku tadi, gitu? Ya udah aku tarik lagi ucapanku tadi soal pria tua di depanku yang sudah menjadi Om-om."
"Ya ampun. Malah diulang-ulang." Luthfie memutar bola mata sambil meletakkan sendoknya di piring.
"Oke, oke ... maaf deh, maaf," ucap Shasha sambil menyodorkan sesendok penuh nasi goreng dan cepat-cepat menyuapkannya ke mulut Luthfie yang menganga tepat di hadapannya. Luthfie terkesiap dan terpaksa melahap lalu mengunyah hingga mulutnya terlihat penuh.
"Ketika kamu ingin menikah nanti, yang kamu cari bukanlah anak lelaki yang suka ngajak kamu nongkrong di Mall setiap pulang sekolah, melainkan lelaki dewasa yang mau bertanggung jawab untuk keluarganya." Luthfie melirik sebelum melanjutkan ucapannya. "Kurang lebih ... seperti aku."
"Idihh, ini namanya narsis atau emang lagi mempromosikan diri? Udah ah, cepet abisin makannya, bentar lagi magrib, kita harus buru-buru pulang."
"Iya, iya ...." Luthfie segera menghabiskan suapan terakhirnya. Mereka pulang setelah membayar dua porsi nasi goreng yang mereka makan.
Langit jingga keemasan mewarnai perjalanan mereka pulang ke rumah. Shasha berjalan dengan cepat karena suasana hari yang hampir gelap, matahari akan segera menenggelamkan dirinya di ufuk barat.
"Om ... cepetan ...!" panggil Shasha sambil melambaikan tangannya.
"Ini anak niat banget bikin aku marah, aku anak tunggal lho, jadi gak bakal punya ponakan. Jangan panggil Om lagi, awas, ya," ucapnya sambil berjalan ke depan, lalu membekap mulut Shasha dengan gemas.
"Ya ampun, gak terima banget dipanggil Om. Harusnya seneng karena dipanggil Om sama ponakan lucu kayak aku."
"Aku seumuran dengan kakakmu, jadi kamu harus panggil aku Kakak, mengerti!" perintahnya sambil memainkan sanggul kecil di kepala Shasha dengan jari telunjuknya.
"Iya iya, siap, Kakak. Mulai sekarang aku panggil Kakak tapi itu kalau tidak keceplosan, ya." Baru kali ini, hal sekecil itu bisa membuat Shasha tertawa. Tak terasa mereka tiba di depan rumah. Shasha menunjuk sebuah masjid yang berjarak tidak jauh dari rumahnya.
"Kak, di sana ada masjid, nanti kalau sudah adzan magrib, kamu bisa salat berjamaah di sana."
"Kamu gak mau kita salat berjamaah berdua emangnya? Aku jadi imam salat kamu sebelum jadi imam dalam rumah tangga kita nanti," godanya.
"Jadi imam rumah tangga sekalipun, tempat salat seorang laki-laki kan tetap di masjid, Kak."
"Biar kecil, kamu pinter juga, ternyata. Aku mau tunggu kamu sampe lulus sekolah, deh, abis itu mau nikahin kamu."
"Aku gak mau, ya, nikah sama Om-om ...!" teriak Shasha sambil lari ke dalam rumah.
~BERSAMBUNG~