Adrian seorang laki-laki berusia 28 tahun dan menjadi seorang CEO pemilik perusahaan ternama yang terkenal sombong, angkuh dan dingin. Dibalik sifat yang dingin, Ardian memiliki masa lalu yang kelam karena dimasa lalunya, Adrian pernah disakiti mantan kekasihnya yang sangat tega menduakan dirinya di belakang dan ditambah lagi orang tua yang meninggal karena dibunuh dan pada akhirnya Adrian merencakan untuk membalaskan dendamnya atas kematian kedua orang yang paling berharga di hidupnya.
Jesi Cleopatra seorang perempuan yang mandiri dan baik hati. Selain itu Jesi memiliki wajah yang cantik dan anggun, Jesi adalah seorang anak yatim piatu sama seperti Adrian. Namun, orang tua Jesi meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu, disaat dia masih kuliah namun sekarang Jesi sudah lulus.
Suatu hari Jesi melamar perkerjaan di suatu perusahaan ternama yang tidak lain milik Adrian dari situlah awal pertemuan kedua orang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunike Yuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adrian Sangat Menyesal
Dikamar hotel terlihat seorang gadis yang sedang sangat ketakutan, seluruh tubuhnya sudah bergetar hebat melihat pria di hadapannya itu seperti terlihat seorang pria iblis yang ingin berbuat jahat dengannya.
"A-pa yang mau bapak lakukan?" Jesi sambil menutup dadanya dengan wajah pucat dan gemetaran karena ketakutan.
"Apa yang mau saya lakukan?" kata Adrian mengulangi apa yang di katakan Jesi dengan nada sinis, Matanya terus memandang tubuh Jesi yang terlihat semakin sangat mengoda di matanya, bahkan seluruh tubuh Adrian benar-benar sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh indah milik Jesi sekarang.
Perlahan-lahan Asrian melangkahkan kakinya untuk mendekati Jesi yang berusaha menghindar darinya. Namun, Adrian langsung menindih tubuh Jesi dengan kasar tanpa aba-aba lagi karna ia sudah tidak tahan dengan tubuh nya yang terasa panas dan gerah entah apa yang sudah terjadi pada dirinya dan sekarang hasrat nya semakin memuncak.
Jesi berusaha sekuat tenaga melepaskan dirinya dari Adrian, namun kekuatannya tentu saja kalah dengan kekuatan Adrian yang sangat kuat darinya. Sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis yang tidak berdaya yang sangat lemah.
"Akh! Sakit! Aku mohon lepaskan!" teriak Jesi, saat merasakan di bagian bawahnya terasa ditusuk benda tajam yang menghirisi kulitnya karena sekarang Adrian sudah berhasil mengambil keperawanannya dengan sangat paksa dan kasar.
Jesi hanya bisa menangis sekarang dan bahkan untuk memberontak dirinya sudah tidak berdaya lagi karena kekuatannya sudah ia habiskan dari tadi, namun semuanya hanyalah sia-sia saja dan sekarang dirinya ia angap sebagai wanita yang sudah kotor dan menjijikan. Bahkan air matanya pun sudah tidak ada lagi sekarang karena dirinya dari tadi banyak mengeluarkan air mata.
Pagi hari hari telah tiba jesi bangun dari tidurnya dengan tubuh tanpa pakainnya lagi dia kembali mengingat kejadian malam terburuknya tadi malam. Jesi ingin rasanya menghampus semua kejadian tadi malam, namun sepertinya kejadian tadi malam membuat Jesi sangat frutasi mengingatnya, bahkan kepalanya terasa sangat panas dan ingin meledak saking tidak terima dengan kejadian itu.
"Ya tuhan apa salahku? kenapa harus masa depanku yang berharga harus direnggut yang bukan suamiku?" gumam Jesi dalam hatinya sambil menangis memukul dadanya yang terasa sangat sakit itu.
"Kenapa semua orang tidak pernah memperlakukan aku dengan baik? kenapa mereka memperlakukan aku seperti bukan manusia? kenapa hidupku sesulit ini? Tuhan, kenapa semua orang mempersulitkan aku? aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia layaknya orang lain di luar sana," gumam Jesi dalak hatinya lagi sambil menangis dalam diam. Banyak pertanyaan yang tidak dapat Jesi tahu akan jawaban hidupnya selama ini.
Jesi pun beranjak dari tempat tidur dan mengambil pakainnya yang berserakan dilantai dengan rasa nyeri di bawah selangkangannya, perlahan-lahan Jesi melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan melanjutkan tangisannya sampai 1 jam di dalam sana berulang kali jesi memukul kepalanya berharap kejadian itu bisa terhapus dari ingatannya namun semuanya hanyalah sia-sia, bahkan Jesi sampai mengacak-ngacak rambutnya dengan frutasi sekarang.
"Aku harus pergi dari sini!" gumam Jesi yang langsung saja memakai pakainnya kembali.
Kemudian ia melihat Adrian masih tertidur pulas di atas ranjang, Jesi pun pelan-pelan keluar kamar tanpa pengetahuan Adrian dengan penuh kemarahan dan kebencian di hatinya.
Jesi langsung saja bergegas kembali mengambil motornya dengan sedikit berbicang dan sangat kesusahan berjalan, setelah itu lalu Jesi langsung saja pulang sambil air matanya tidak berhenti mengalir selama perjalanan pulangnya.
Sudah 1 jam berlalu kepergian Jesi, Adrian pun bangun dari tidurnya lalu Adrian pun meraba-raba kasur disebelahnya karena ia mengingat apa yang sudah di lakukan nya tadi malam namun yang di cari nya sudah tidak ada lagi di dekat nya.
"Kemana perempuan itu..??"Dengan suara yang masih serak.kemudian Adrian pun tidak memperdulikannya ,ketika Adrian mau beranjak dari tempat tidur Adrian melihat darah di kasur dengan wajah yang kaget.
"Apa yang sudah aku lakukan kepadanya? ternyata aku sudah melakukan kesalahan besar ,akhhh sial." maki Adrian, sambil meremas rambutnya dengan wajah yang menyesal.
Adrian pun beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhnya. Ia kembali teringat dengan rasa yang sangat mengairah tadi malam sambil tersenyum devil, namun senyuman itu tiba-tiba saja tengelam karena kembali mengingat darah keperawanan Jesi yang berada di sprei tadi. Sehingga membuat Adrian mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, ia tidak menyangka menghancurkan seorang gadis yang sangat polos dengan semudah itu.
Keesokkan harinya terlihat seorang gadis yang sedang meringkuk kedinginan tanpa selimut dengan mata yang terlihat sangat membengkak karena semalaman ini dirinya menangis dan dia adalah Jesi, pagi-pagi sekali Jesi bangun dari tadi tidurnya namun dirinya sangat malas beranjak bangun dari tidurnya karena bagian bawahnya terasa sangat sakit, belum lagi seluruh tubuhnya terasa sangat pegal melebihi lelahnya dirinya bekerja di kantor.
"Tuhan, mampukah aku melewati semuanya ini?" gumam Jesi bertanya, lalu dengan pelan Jesi melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Walaupun dirinya sangatlah malas untuk bekerja hari ini.
Jesi tetap memilih bekerja hari ini, namun dirinya sepandai mungkin untuk menghindar dan tidak bertemu dengan bosnya di kantor nanti. Setengah jam waktunya Jesi bersiap-siap, kini dirinya pun telah berangkat dan bergegas kekantor untuk bekerja, setelah sekian menit kini dirinya telah sampai di kantor.
Sesampai di kantor, Jesi lebih memilih untuk diam tanpa berbicara dengan siapa pun saat ini karena kejadian malam itu masih selalu terpikirkan oleh nya.
"Jesi, Jesi!" panggil seseorang, sambil melambaikan tangannya diwajah Jesi namun Jesi pun masih belum sadar dari lamunannya.
"Jesiiii,,,,,!!!"Teman Jesi berteriak sambil memukul meja,akhir nya Jesi tersadar.
"Eh ada apa??"Jesi pun kaget.
"Aduuuh kamu tuh lagi mikirin apa sih, sudah dipanggil berapa kali coba."Ucap seorang teman Jesi bernama Memei.
"Ah tidak apa-apa kok hanya kelelahan kerja aja,memang ada apa?"Kata Jesi dengan berbohong.
"Ini lho sudah makan siang, kita kekantin yuk."Ajak memei kepada nya.
"Kamu aja Mei aku sudah bawa makanan dari rumah."
"Oh ya sudah deh,aku kekantin dulu ya bye..."
"Iya"Setelah kepergian Memei, Jesi pun kembali melamun memikirkan masalah yang dihadapi nya sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan,apa aku harus kembali bekerja dibar lagi,tidak..tidak aku tidak ingin lagi kejadian itu terulang lagi."Ucap Jesi masih kepikiran hutang sama bos nya.
"Ya Tuhan, rasa nya hidup ku tidak ada guna nya lagi, ingin rasa nya gantung diri saja,tapi itu malah menambah dosa besar juga percuma saja.Akhhhh." Jesi sangat frustasi hari ini ia tidak bisa fokus untuk bekerja.
"Hey kamu tolong kerjakan ini,satu jam harus sudah selesai,"ucap Tara tiba-tiba datang dan langsung menyodorkan berkas-berkas dengan kasar di hadapan Jesi.
"Tapi mbak, perkerjaan saya masih banyak dan—"ucap Jesi terpotong
"Saya sudah bilang jangan suka membantah,kamu mau saya laporan sekarang juga hah!"bentak Tara.
"Baik mbak saya akan kerjakan sekarang juga,"ucap Jesi pasrah.
Sesuai apa yang ia katakan, Jesi memang tidak kemana-kemana hari ini ia hanya mengerjakan pekerjaan yang Tara berikan padanya tadi, namun untungnya Jesi memiliki roti dan air minum di laci kerjanya sebagai stokan disaat dirinya malas kekantin.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, semua karyawan sudah pulang namun Jesi masih kotak katik dikomputernya karna hari ini memiliki banyak pekerjaanya yang menumpuk akhirnya Jesi memutuskan untuk lembur.
"Apa yang dia lakukan jam segini,seharusnya dia sudah pulang."Sambil menatap jamnya sambil berdiri di pinggir pintu luar.
"Aku jadi merasa bersalah karena sudah merenggut kesuciannya,apa yang harus ku lakukan ini semua gara-gara aku.Seandainya saja aku tidak mengerjainya dengan harga jas yang kemarin,mungkin dia tidak kesusahan dan tak akan bekerja di sana."Adrian sadar apa dengan kesalahannya.
"Sebaiknya, aku minta maaf saja. Tapi, tidak mungkin itu bukan sepenuhnya kesalahanku sendiri, siapa suruh dia bekerja di bar dan memakai pakaian minim begitu, aku lelaki yang normal wajar saja aku melakukannya, lagian itu bukan sepenuhnya kemauan ku dan lagian siapa suruh menjadi gadis yang sangat mudah dibodohi dengan mudahnya dan dia percaya dengan harga jas itu," gumam Adrian dengan ke egoisannya sambil tersenyum kemenangan.
INI MAYA,, BENCI YG GK MASUK AKAL KE AMALA.. AKHIRNYA KBENCIAANNYA MNGANTARKN KE KMATIAN.... KLO SPRTI INI DNDAM TKKN HABIS2NYA, PSTI ORTU MAYA AKN BALAS DENDAM.. DN SELAMANYA AKAN TRUS BEGITU...