Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenal satu sama lain
Rendra membuka pintu rumahnya dari arah luar. Ayana yang tengah menonton televisi di sofa, melihat Rendra masuk rumah. Ia segera menaruh remote tv di meja depan sofa tempat ia duduk dan mendekati Rendra.
"Terima kasih mas, sudah mengantarkan ibuku pulang." Kata Ayana pada Rendra, lalu ia mengunci pintu rumahnya.
"Sama-sama." Balas Rendra seraya tersenyum. "Anak-anak?" Rendra ganti bertanya.
"Sudah tidur waktu mas tadi keluar." Jawab Ayana.
"Hm..." Rendra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh iya Ay. Aku boleh pinjam laptopmu malam ini? Aku masih banyak kerjaan."
"Iya mas. Pakai saja."
"Apa kamu terganggu dengan menulismu?"
"Aku masih bisa menulis di android-ku mas." Ayana menunjukkan ponselnya pada Rendra. Rendra tersenyum.
"Terima kasih ya." Ayana juga tersenyum dengan mengangguk pelan menjawab Rendra.
"Mas kan mau lembur, aku akan membuatkan kopi ya mas." Ucap Ayana dan langsung menuju ke dapur tanpa persetujuan Rendra.
"A'..." Rendra ingin mencegah Ayana supaya tidak perlu repot-repot membuatkannya kopi tapi Ayana sudah berada di dapur sekarang. Rendra lalu mengusap leher bagian belakangnya, dan ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Biasanya setiap malam, Rendra selalu membuat kopinya sendiri. Ia lalu menuju sofa dan menyalakan laptop Ayana. Beberapa detik saat ia memencet tombol power, Ayana datang dengan segelas kopi susu.
"Terima kasih ya Ay."
"Sama-sama mas." Ayana lalu, berjalan ke arah kamar, sekian detik ia kembali dengan membawa bantal dan selimut untuk Rendra. Rendra setengah heran melihat Ayana. "Mas, kalau ingin lembur lagi, paling tidak... Jaga kesehatan agar tidak sakit. Malam sangat dingin, jadi nanti pakai bantal dan selimut kalau tertidur disini lagi." Ucap Ayana lembut.
Mungkin Ayana sudah tahu, sebenarnya Rendra tidur disini bukannya tidak sengaja. Hanya saja, mungkin Ayana tidak ingin membuatnya lebih ketara. Untuk menjaga perasaan Rendra, dan Rendra bisa menyadarinya. Satu lagi, ternyata Ayana sangat perhatian. Rendra tidak dapat menanggapi apa-apa. Ayana hanya tersenyum melihat Rendra dan ia akan segera berdiri meninggalkan Rendra.
"Ay!" Cegah Rendra tiba-tiba. Ayana yang sudah setengah berdiri itu, kembali duduk di samping Rendra.
"Iya mas?" Tanya Ayana dengan heran. Rendra nampak ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya ia sedikit ragu. Ia mengalihkan pandangannya ke beberapa arah. Ayana masih menunggunya berbicara.
"Foto yang aku buang tadi... Itu adalah mantan istriku." Kata Rendra tiba-tiba yang membuat Ayana terdiam.
Sebenarnya, Ayana sudah bisa menebaknya namun ia tidak ingin berkata apa-apa jika Rendra tidak menceritakannya sendiri. Ia hanya menghargai privasi Rendra. Ayana kemudian kembali duduk di samping Rendra. Ayana masih terdiam, tak berbicara menunggu sampai Rendra bercerita. Ia akan menjadi pendengar yang baik kali ini.
"Kami sudah menjalani pernikahan selama tiga tahun dan berpisah selama tiga tahun juga. Saat Bulan belum genap berumur satu tahun dulu. Sebenarnya, aku tidak menyangka setelah perpisahan kami, dia sama sekali tidak menghubungiku. Paling tidak, seharusnya ia menanyakan bagaimana kabar anaknya." Rendra menarik nafasnya, lalu menghembuskannya pelan. Nampaknya ia kembali ingin melanjutkan ceritanya. "Maka dari itu, aku berniat menyimpan fotonya jika saja... Bulan perlu tahu siapa ibu kandungnya."
"Kalau boleh tahu... Apa sebenarnya penyebab mas Rendra bercerai dulu?" Ayana awalnya ragu dan enggan bertanya masalah ini, namun ia memberanikan diri bertanya setelah Rendra mau bercerita padanya.
"Orang ketiga." Jawab Rendra mantap. "Saat itu, aku menemukannya bersama pria lain di kamar. Sayangnya, cerita itu sudah lama sebelum kami memiliki Bulan." Jelas Rendra.
Ayana mengkerutkan alisnya tanda tak mengerti. "Maksudnya mas?" Tanya Ayana dengan polosnya.
"Sebelum dia mengandung Bulan, aku memergokinya bersama pria lain. Di dalam kamar. Namun aku masih memaafkannya." Rendra memberi sedikit penekanan pada ceritanya. Ayana nampak terkejut mendengarnya.
"Mas memaafkannya?" Ayana kembali mengulang pernyataan Rendra seolah tidak percaya. Rendra hanya mengangguk membenarkan Ayana.
"Aku masih memberinya kesempatan hingga kabar tentang Bulan muncul, dan sebenarnya itu adalah salah satu faktor yang membuat kami dulu tidak langsung berpisah. Makannya, aku juga memutuskan untuk menjalani hubungan kami, walaupun ada memori yang amat menyakitkan saat itu."
"Jadi, apa yang sebenarnya membuat mas bercerai?"
"Ya... Sebenarnya, aku kira dengan memberinya kesempatan dia tidak akan mengulanginya. Tapi ternyata..." Rendra menundukkan kepalanya dengan raut wajah amat kecewa. Ayana mencoba mengerti. Ia masih memperhatikan Rendra, dan masih belum tahu kalimat apa yang harus ia munculkan untuk menenangkan Rendra. Rendra menunduk, lalu melirik ke arah Ayana sebentar. Kenapa ia tiba-tiba berterus terang seperti ini? Pikirnya. Kalimatnya meluncur begitu saja. Ia sadar Ayana sedang menatapnya dengan perasaan iba. Rendra kemudian menarik nafas panjang. Lalu, ia menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Ayana.
"Kalau kamu sendiri? Bagaimana?" Tanya Rendra. "Aku tidak memaksa, kalau kamu ingin cerita, aku akan mendengarkannya."
Ayana lalu gantian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku, hanya ingin menenangkan hati." Ucap Ayana yang tidak segera dapat dipahami. Rendra masih menunggu Ayana meneruskan kalimatnya. "Mantan suamiku, adalah orang yang sangat mudah sekali cemburu. Kalau cuma cemburu, aku bisa tahan. Seperti, sebuah kecurigaan atau prasangka buruk yang berlebihan. Aku menuruti semua kemauannya, tidak pernah berbicara dengan pria lain, walaupun itu hanya sekedar rekan kerja." Jelas Ayana. "Mangkanya aku berjuang menjadi penulis, untuk bisa berpenghasilan di rumah, agar bisa membantu keuangan. Karena... Saat itu, ekonomi kami sedikit terpuruk. Aku serba salah. Dulu waktu aku belum bekerja, aku terus dituntut untuk bekerja karena dia merasa dia yang menjalani beratnya mencari nafkah seorang diri. Waktu aku sudah bekerja dengan niat membantu perekonomian, justru aku terus dicurigai. Dan, lama kelamaan kecurigaan itu menjadi sebuah tuduhan-tuduhan yang macam-macam dan tidak masuk akal." Suara Ayana berubah bergetar karena menahan kekesalan yang tak bisa terungkapkan. "Makannya, aku terus berjuang untuk jadi penulis. Tapi, pada akhirnya... Dia masih terus memberikan tuduhan-tuduhan tanpa bukti. Dia juga pernah menuduh, apakah Aila itu anaknya atau bukan?" Rendra terkejut bukan main mendengarnya, dan hanya geleng-geleng kepala pelan, karena otaknya tidak bisa menerima cara berpikir mantan suami Ayana.
"Mantan suamimu...?" Rendra sampai hampir kehabisan kata-kata menanggapi cerita Ayana.
"Iya mas. Aku menantangnya untuk tes DNA. Terakhir kali, dia pernah melukaiku di sini." Ayana menyingkap rambut bagian samping agak belakang yang menutupi lehernya. Menunjukkan bekas luka yang berupa goresan yang sudah berwarna merah dan memudar. Rendra melihatnya dan terkejut.
"Apa yang sudah dia perbuat?"
"Aku mungkin juga bukan istri yang baik. Karena terus dituduh-tuduh begitu, aku terbawa emosi dan terus menyangkalnya. Disaat dia semakin tidak terima dia justru marah besar, dan pernah mencekikku. Kukunya meninggalkan luka disini." Ayana meraba bekas luka yang ada di leher bagian belakangnya, mencoba memberitahukannya pada Rendra. "Ada lagi, lukaku di bagian paha." Kata Ayana yang tak sadar bahwa ada genangan air di pelupuk sudut matanya. Rendra masih tercengang dengan sikap tak masuk akal dari mantan suami Ayana itu. Ia seolah tidak dapat percaya dengan semua hal yang menimpa Ayana.
"Karena sudah KDRT, Maka, aku berani menggugatnya. Karena semuanya berhubungan dengan Aila. Aku tidak ingin Aila terus-menerus melihat kekerasan. Sebenarnya, bukan karena bagaimana cara aku membuktikan bahwa aku setia dan tidak macam-macam, tapi rasa ketidak-percayaannya padaku. Dia..." Ayana lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tertunduk dan tidak dapat lagi menahan perasaan tertekan yang menyelimutinya selama ini. Ayana menangis pelan. Rendra yang di sampingnya memegang pundak Ayana dan menepuk-nepuknya pelan, berusaha menenangkannya.
...****************...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.