Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Ketika dia melangkah ke arah ku.
Aku mundur secara perlahan, sampai aku menabrak ranjangku.
"Ahn Yoo?" Aku menatap matanya dengan takut.
"Aku rasa kamu ...." Dia berhenti bicara.
"Pergilah mandi, kemudian turun untuk makan," sambungnya sambil menatapku.
Aku hanya mengangguk dan perlahan-lahan berjalan kecil ke kamar mandi. Ruangan itu sangat seram, dan auranya sangat menegangkan. Untungnya saja Pak Will datang.
"Pak Will??" Aku memanggil Pak will dan berlari ke arahnya.
Sebenarnya itu kulakukan untuk menghindari Ketegangan ini.
"Uhmmm, ini baju untuk ku Pak will?" Aku bertingkah seperti anak kecil.
"Iya, ini untukmu," sahut Pak will.
"Makasih ya Pak, ini biar aku aja yang bawa." Dengan girang aku mengambil semua pakaian yang dibawa pak Will.
Kemudian pak Will langsung pergi setelah menunduk ke arah Ahn Yoo.
"Mereka sangat patuh terhadap Ahn Yoo," kataku pelan sambil menatap wajah Ahn Yoo yang kaku itu.
Sebenarnya aku kasihan lihat Ahn Yoo, apalagi setelah mendengar cerita dari Bu San. Tapi aku lebih kesal lagi ketika dia mengeluarkan tatapan dingin kepadaku.
"Hmmm, kalau begitu aku mandi dulu," kataku dengan ragu dan menunggunya untuk keluar dari sini.
"Lalu?" Dia menjawab dengan datar.
Kemudian dia duduk di ranjangku.
"Ini kapan aku bisa mandi?" tanyaku pelan sambil menggigit bibirku.
"Apa yang kamu tunggu?" sambung Ahn yoo.
"Ha? Uhmmm begini, bagaimana aku bisa mandi kalau kamu masih di sini?" Aku tertawa, meskipun di sini sangat canggung.
"Kenapa kau begitu bodoh," sahutnya.
"Apa? Kenapa aku yang bodoh?!" Tanpa sadar aku membentaknya dengan suara keras.
Aku lupa kalau dia itu JI AHN YOO.
Dia tiba-tiba berdiri dan mendekatiku.
Ahn Yoo tepat satu langkah di hadapanku.
"Apa kau mandi di ranjang?" Dia mengangkat daguku.
"Ti- Tidak," jawabku ragu.
"Jadi?" tanyanya balik
Aku menunjuk kamar mandi dan menundukkan kepala.
"Atau kamu tidak suka aku berada di sini?" sambungnya.
Aku tidak berani menatapnya, jarak kami begitu dekat. Bahkan menarik napas saja terasa berat.
Gruk-Gruk-Gruk!
Suara perutku. Aku sangat malu, kenapa perut ini tidak bisa melihat situasi? Aku menutupi wajahku yang sudah memerah karena perut yang bergemuruh ini.
"Maafkan aku, aku lapar sekali. Dari tadi belum makan," kataku untuk menghilangkan sebagian rasa malu ini.
Aku menatapnya dan melihat dia tersenyum kecil. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum seperti ini.
"Ahn yoo tampan sekali, seperti pangeran negeri dongeng saja. Apalagi ketika dia tersenyum," kataku dalam hati.
"Cepatlah mandi, dan langsung turun untuk makan."
Ahn Yoo berbalik dan keluar dari kamarku.
Aku melihatnya sedang tersenyum, aku pikir dia akan mengolok ku, ternyata tidak.
Memang susah memprediksi suasana hatinya.
Aku langsung mandi, setelah itu aku turun ke bawah untuk makan malam.
"Ini ruangannya yang mana, yah?" Aku melihat sekeliling. Untunglah aku melihat Bu San dan langsung menghampirinya.
"Bu San!" Aku memanggilnya.
Dia tersenyum ramah melihatku.
"Ini Bu San yang masak sendiri?" tanyaku sambil melihat makanan di atas meja.
Bu San mengangguk dan tersenyum.
"Woww ... Bu San keren sekali bisa masak sebanyak ini seorang diri." Aku menepuk tangan untuk memuji Bu San.
"Kalau Bu San masak panggil aku saja, nanti aku akan membantu Bu San," ujarku ramah.
"Hmmm iya, tapi Jane makan dulu." Bu San menarik kursi untukku.
"Tapi Ahn yoo belum datang??" tanyaku tenang.
"Tuan Ji tidak makan di sini, biasanya langsung diantar ke kamarnya," jawab Bu san.
"Ohhh begitu, ya sudah ini makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskannya?" Aku bertanya sambil menunjuk semua hidangan.
"Tidak mungkin aku yang memakan ini semua? Jadi Bu San harus makan juga, temani aku di sini," kataku dengan bijak.
"Bukannya tidak mau tapi saya hanya ...." Aku memotong pembicaraan Bu san dan langsung menariknya makan di samping kursi ku.
"Bu San makannya apa? Ini, ini, tau yang ini??" Aku menunjuk semua makanan diatas meja untuk Bu San satu per satu.
"Tidak, tidak kamu saja yang makan. Saya biasanya makan nanti," Bu san mencoba berdiri dari kursi.
"Ekhmmm."
Aku dan Bu san berbalik secara bersamaan.
"Ahn yoo?" Aku terkejut.
"Bukannya dia tidak mau makan di sini, yah?" tanyaku bingung kepada Bu san.
Bu San langsung berdiri dan pergi menghampiri Ahn Yoo.
"Ahn Yoo? Bukannya kamu tidak pernah makan malam di sini?" Aku bertanya dengan lancang.
Dia tidak menghiraukanku, kemudian dia duduk di kursi. Dia menatap Bu San yang tampak sedang bingung. Karena sudah mengerti sifat Ahn Yoo, Bu San membuka piring untuknya. Aku cuma bisa ternganga menatapnya.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Ahn yoo dengan wajah datar.
"Tidak, tidak ada. Kamu ...." Aku langsung berhenti bicara.
"Aku? kenapa denganku?" tanyanya balik.
"Tidak, tidak jadi. Aku hanya gugup saja heheh," jawabku sambil tersenyum paksa.
Dia bahkan tidak menatapku saat makan.
Ahn Yoo memang pria dingin, tempramennya tidak teratur, suka membuat orang terkejut. Dan pola pikirnya tidak bisa dibaca.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter