Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa namamu?
Aroma antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyadarkan Ana, disusul pendar lampu neon yang menusuk mata. Saat mencoba menggerakkan jari, lengannya terasa kaku dan berat, seperti tertimbun.
"Sudah bangun?" Suara itu berat dan familier. Ana menoleh ke arah jendela. Adrian masih di sana. Kemeja hitam yang dipakainya saat di lintasan balap semalam kini tampak kusut dengan beberapa kancing atas yang terbuka.
Tanpa menunggu respons ia berjalan mendekati meja kecil, menuangkan air putih dari teko kaca hingga bunyinya memecah keheningan kamar. "Minum dulu." Ana tidak meraih gelas yang disodorkan. Matanya tertuju pada punggung tangannya sendiri. Sebuah jarum infus tertancap kaku di sana, mengalirkan cairan bening yang entah apa fungsinya. "Fasilitas medis tempat ini benar-benar tertinggal," umpat Ana suaranya parau.
"Harusnya satu dosis regenerator sel sudah cukup buat bikin aku berdiri lagi. Bukan malah diikat dengan cairan lambat seperti ini." Gerakan tangan Adrian yang hendak meletakkan gelas terhenti.
Sreet.
Tanpa aba-aba, Ana menyentak jarum itu keluar dari kulitnya. Rasa perih yang tajam sempat membuat rahangnya mengeras, dan setitik darah segar langsung merembes keluar. Ia segera menekan bekas luka itu dengan ibu jari, mengabaikan tatapan Adrian yang seketika menggelap. "Kau ini memang sengaja cari mati ya?" Adrian menaruh gelas itu dengan hentakan sedikit kasar ke meja.
"Makasih sudah repot-repot bawa aku ke sini," sahut Ana datar lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang yang keras.
"Tapi bonus kemenangan semalam harusnya sudah cukup buat bayar utang nyawaku. Kita impas." Lanjutnya.
Adrian bergeming. Ia condong ke depan memangkas jarak di antara mereka.
"Impas?" bisik Adrian suaranya rendah dan sarat intimidasi.
"Aku nggak pernah setuju sama hitung-hitunganmu." Gelas yang baru saja diangkat Ana tertahan di depan bibir. Matanya menyipit, menantang balik tatapan Adrian tanpa kedip.
Suasana di dalam kamar mendadak berubah pekat, seolah ada percikan api yang siap meledak jika salah satu dari mereka salah bicara. Adrian perlahan menegakkan tubuh, lalu mendengus pelan sambil meloloskan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Nggak bisa ya sekali saja bicara seperti orang normal?" Adrian memperhatikan wajah Ana yang pucat, dari dahi hingga ke garis rahangnya. "Nggak heran orang-orang bilang kamu nggak punya sisi lembut sama sekali."
"Aku mau pergi," potong Ana mengabaikan sindiran itu.
"Dengan kondisi sekacau itu?" Adrian terkekeh tipe tawa sinis yang tidak mencapai mata.
"Jangan konyol kau bahkan belum bisa berdiri tegak tanpa gemetar." Ana meraba lengan kirinya yang dibalut perban tebal. Denyut nyeri di sana memang masih menyiksa, tapi bertahan di ruangan ini bersama Adrian terasa jauh lebih berbahaya.
"Aku nggak akan mati cuma karena luka begini aku harus pulang." Adrian menghela napas, lalu mengedikkan dagu ke arah tumpukan kain di ujung tempat tidur.
"Ganti dulu bajumu. Pakaianmu yang kemarin sudah seperti kain lap berdarah." Ana menarik kain tersebut. Ternyata sebuah dres putih polos berpotongan longgar. "Cuma ini?"
"Nggak ada pilihan lain di lemari ini." Ana tidak mau ambil pusing. Ia langsung memegang ujung kemejanya yang dipakainya dan mulai membuka kancing teratas. Melihat itu, Adrian sontak berbalik badan membelakangi ranjang.
"Kamu gila? Apa nggak punya urat malu?"
"Aku cuma mau cepat selesai," jawab Ana cuek. Pakaian pelindung taktisnya yang hancur semalam entah dibuang ke mana. Ia segera menanggalkan kemeja, menyisakan pakaian dalam, lalu menyusupkan tubuhnya ke dalam dres pemberian Adrian yang bahannya ternyata agak kasar di kulit. Mendengar kasak-kusuk kain, Adrian melirik sedikit dari balik bahunya. Ana yang sadar langsung menarik kerah dresnya ke atas.
"Balik badanmu." Satu sudut bibir Adrian berkedut menahan senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Ternyata kamu masih punya insting manusia normal."
"Jangan banyak bicara." Ana mengancingkan bagian belakang dresnya dengan terburu-buru.
"Sudah selesai, aku pergi." Begitu kakinya menyentuh lantai dingin, lantai itu seolah runtuh, pandangan Ana mendadak gelap dan buram. Tubuhnya limbung ke depan, namun sebelum wajahnya menghantam lantai, sepasang lengan yang kuat sudah mencengkeram bahunya dengan sigap.
"Sudah kubilang kan jangan keras kepala," geram Adrian tepat di telinganya.
Ana menghentakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari pitingan tangan Adrian.
"Lepas, jangan sentuh aku."
Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Ana melangkah menuju pintu kayu di ujung ruangan. Adrian tidak berniat mengejar ataupun menahannya lagi. Ia hanya berdiri di tengah kamar, memperhatikan punggung wanita itu dengan tatapan sulit diartikan.
"Siapa namamu?" tanya Adrian sebelum jemari Ana menyentuh gagang pintu. Langkah Ana terhenti sedetik. Ia tidak menoleh sama sekali saat menjawab, "Ana Pramudia."
Suara pintu yang menutup dengan dentuman pelan menjadi akhir dari pertemuan mereka semalam.
Di dalam kamar yang kini terasa kosong, Adrian masih terpaku di posisinya. Nama itu seolah tertinggal di udara, berputar-putar di kepalanya. Ana Pramudia. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berani berbalik dan berjalan pergi meninggalkannya begitu saja—dan entah mengapa, kali ini Adrian justru penasaran ke mana kaki wanita itu akan melangkah selanjutnya.