NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AQIQAH ARYA ARSYAD SIKUMBANG DI PANDE SIKEK - HASIL TABUNGAN 6 BULAN

Pagi itu di tahun 1966, di Pande Sikek embun masih menggantung di ujung daun pisang. Udara Tanah Datar yang sejuk menyelinap di sela-sela rumah-rumah gadang yang berjejer rapi dengan gonjongnya yang runcing menantang langit. Belum ada listrik masuk ke kampung, kalau malam penerangan masih pakai lampu tempel dan lampu minyak tanah yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin. Jalan masih tanah berbatu, belum ada aspal. Di salah satu rumah yang halamannya ditumbuhi pohon mangga dan jambu, terdengar tawa cekikikan bayi gembul berumur enam bulan yang sangat sehat. Bayi itu adalah Arya Arsyad Sikumbang, putra kecil dari pasangan Abdullah bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang.

Enam bulan yang lalu, di awal tahun 1966 itu, ketika Arya lahir, keadaan ekonomi memang sangat sulit di seluruh Indonesia. Ini masa-masa sulit, harga barang naik turun tidak karuan, beras sulit dicari, dan uang nilainya jatuh. Di kampung Pande Sikek yang terkenal sebagai kampung tukang ukir, pesanan ukiran pun sepi. Abdullah hanya mampu mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan bubur merah putih dan telur rebus yang dibagi ke tetangga dekat. Bukan karena ia lalai akan sunnah aqiqah, tapi karena memang belum mampu. Siti Aminah habis melahirkan harus banyak istirahat dan sempat demam tinggi selama dua minggu, sehingga uang yang ada habis untuk berobat ke bidan kampung.

Sejak hari pertama Arya lahir dan diazankan di telinganya, Abdullah bernazar dalam hati di surau kecil dekat rumahnya. Ia tidak mau berhutang untuk aqiqah. Ia ingin aqiqah anaknya hasil dari keringatnya sendiri. Maka ia mengambil sebuah kaleng bekas biskuit Khong Guan yang tutupnya sudah berkarat, ia bersihkan, dan ia jadikan sebagai celengan. Ia selipkan di bawah tumpukan kain sarung di dalam lemari kayu.

Setiap hari, sepulang dari sawah atau sepulang dari menjual ukiran kayu ke Bukittinggi dengan berjalan kaki, ia sisihkan uang. Selama enam bulan itu, yang ia tabung bukan uang Rp 100.000, karena di tahun 1966 uang pecahan Rp 100.000 memang belum ada dan belum dikenal orang kampung. Yang beredar di kampung Pande Sikek waktu itu hanyalah lembaran-lembaran uang kertas kecil yang sudah lusuh dan sering sobek di ujungnya. Pecahan yang paling sering ia dapat adalah Rp 10, Rp 25, Rp 50, Rp 100. Kalau ia sedang beruntung dapat pesanan ukiran besar dari orang kota, ia baru dapat pecahan Rp 500 dan pecahan yang paling besar waktu itu, Rp 1.000. Satu lembar Rp 1.000 di tahun 1966 itu nilainya sangat besar, bisa untuk membeli beras beberapa gantang dan gula beberapa kilo untuk satu minggu.

Dan untuk bisa mengumpulkan uang receh itu sampai bisa membeli seekor sapi, Abdullah melakukan pengorbanan yang hanya diketahui oleh istrinya, Siti Aminah.

Bapaknya Arya Arsyad Sikumbang sendiri masih merokok dari kulit jagung dimasukin tembakau, alias rokok klobot.

Setiap sore, setelah pulang dari ladang dengan cangkul masih di bahu, Abdullah duduk di beranda rumah gadangnya yang lantainya dari papan. Ia tidak merokok rokok pabrikan seperti rokok putih Kretek yang mahal yang hanya bisa dibeli oleh pegawai negeri di kota. Rokok pabrikan harganya bisa Rp 50 sampai Rp 100 sebungkus, uang sebanyak itu kalau ditabung sangat berarti.

Jadi ia merokok rokok klobot. Ia ambil kulit jagung yang sudah ia kumpulkan dari sisa panen, ia jemur kering di atas atap seng selama tiga hari sampai kering kerontang. Setelah kering, ia simpan rapi. Ketika ingin merokok, ia ambil selembar kulit jagung itu, ia isi dengan sedikit tembakau iris yang ia beli di warung dengan harga Rp 10 untuk bungkusan kecil. Tembakau itu ia linting dengan tangan, ia gulung pelan-pelan. Jadilah rokok klobot. Asapnya tebal, mengepul banyak, dan baunya sangat khas, agak manis bercampur bau jagung bakar.

Siti Aminah tahu betul, itu adalah cara Abdullah berhemat. Dengan rokok klobot, tembakau Rp 10 bisa ia pakai untuk dua hari. Jika ia membeli rokok pabrikan, uang Rp 50 bisa habis dalam sehari. Selisih uang Rp 25, Rp 40, Rp 50 setiap hari itu, ia lipat kecil-kecil dan ia masukkan ke dalam kaleng biskuit Khong Guan itu. Kadang Abdullah berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke ladangnya di pinggir Batang Agam, agar uang ojek gerobak yang cuma Rp 25 bisa ia tabung. Kadang ia tidak jadi minum kopi di lapau milik Pak Haji M Nur, agar uang Rp 10 bisa ia simpan.

"Uda, kalau memang belum cukup kita aqiqah pakai ayam kampung saja tidak apa-apa. Kasihan Uda, rokoknyo masih rokok klobot terus," kata Siti Aminah suatu malam di bulan ketiga, ketika Arya sudah mulai bisa membalikkan badan. Ia kasihan melihat jari-jari suaminya yang menghitam karena getah tembakau dan kulit jagung, duduk di bawah lampu tempel yang redup sambil melinting rokok klobotnya.

Tapi Abdullah menggeleng sambil menghembuskan asap klobotnya yang tebal ke udara malam. Asap itu naik pelan-pelan ke atas gonjong rumah.

"Jangan, Adiak denai," jawab Abdullah dengan suara berat. "Denai ingin aqiqah Arya ko jadi istimewa. Denai ingin anak kita diperkenalkan kepada kaumnya dengan cara yang terhormat. Biarlah denai nabung dulu 6 bulan penuh. Biar bisa bali sapi, bukan kambing. Biar nampak kesungguhan bapaknya. Biarlah denai isap rokok klobot kulit jagung dulu setengah tahun ini, asal anak denai bisa aqiqah pakai sapi. Biarlah orang tau bapaknya memang nabung dulu, bukan bali rokok mahal."

Kata-kata itu menancap di hati Siti Aminah. Ia pun ikut berhemat, ia jarang membeli bedak dan minyak rambut, uangnya ia masukkan juga ke kaleng itu.

Tepat di umur Arya genap enam bulan, pada malam Kamis setelah shalat Isya, kaleng biskuit itu sudah penuh sesak dan tidak bisa ditutup lagi. Abdullah dan Siti Aminah mengeluarkannya. Mereka menghitungnya semalaman di bawah lampu tempel yang minyaknya hampir habis, ditemani Arya yang sudah bisa duduk dan tertawa melihat uang kertas bertebaran. Bau rokok klobot yang masih menyala di asbak yang terbuat dari kaleng bekas masih menguar di ruangan itu.

Ribuan lembar uang kecil, Rp 10 yang gambarnya sudah pudar, Rp 25, Rp 50, Rp 100 yang diikat per sepuluh lembar pakai karet gelang, dan beberapa lembar yang paling berharga, Rp 500 dan Rp 1.000 yang mereka simpan paling dalam. Jumlahnya, Alhamdulillah, setelah dihitung berkali-kali, cukup untuk membeli seekor sapi jantan yang gagah di pasar ternak Payakumbuh. Inilah hasil dari enam bulan menahan diri, enam bulan merokok klobot, dan enam bulan berjalan kaki.

Keesokan harinya setelah shalat Zuhur, Abdullah bersiap pergi ke pasar. Tahun 1966 belum ada mobil bak atau ojek motor seperti sekarang. Ia pergi dengan berjalan kaki dan menumpang gerobak sapi milik sepupunya, Andi Sikumbang, yang kebetulan mau ke pasar juga. Di saku baju lusuhnya, masih terselip dua batang rokok klobot yang sudah ia linting dari rumah untuk bekal di jalan, dan sekarung goni kecil berisi uang receh hasil tabungan enam bulan itu. Karung itu berat, bukan karena isinya banyak, tapi karena isinya adalah pecahan kecil semua.

Di pasar ternak Payakumbuh yang becek karena hujan semalam, suasana sangat ramai. Suara sapi melenguh dan tawar-menawar dengan bahasa Minang yang keras terdengar di mana-mana. Abdullah berjalan pelan, matanya jeli. Ia mencari sapi yang tidak cacat, matanya jernih, bulunya bersih, dan kakinya kokoh. Setelah hampir dua jam berkeliling, ia menemukan seekor sapi jantan berwarna coklat kemerahan yang sangat gagah, punuknya besar, tanduknya melengkung indah. Sapi itu terlihat sehat dan jinak.

Ketika terjadi tawar-menawar, pedagang sapi itu terkejut ketika Abdullah membuka karung goninya. Tapi sekarung uang kecil Rp 10, Rp 25, Rp 50, Rp 100. Pedagang itu sampai harus memanggil dua orang anak buahnya untuk membantu menghitung uang receh itu di atas terpal, memakan waktu hampir satu jam. Orang-orang di pasar mengerumuni mereka. Ketika ditanya, Abdullah hanya menjawab sambil tersenyum dan menghisap rokok klobotnya, "Ini hasil tabungan 6 bulan untuk aqiqah anak denai, Pak. Pitih receh tapi halal."

Pedagang itu terharu dan akhirnya melepas sapinya dengan harga yang bahkan sedikit ia kurangi karena kagum dengan perjuangan Abdullah.

Menjelang Ashar, pemandangan yang sangat mengharukan terjadi. Sapi itu tidak diangkut mobil, tapi dituntun berjalan kaki sejauh belasan kilometer dari pasar Payakumbuh menuju Pande Sikek. Abdullah menuntunnya pelan-pelan di jalan tanah yang licin, dengan rokok klobot masih terselip di bibirnya. Orang-orang di sepanjang jalan menoleh.

Heboh lah satu kampung Pande Sikek sore itu ketika sapi itu sampai di halaman rumah Abdullah. Warga yang sudah tahu cerita bahwa Abdullah nabung enam bulan pakai uang receh dan masih merokok kulit jagung untuk menghemat, menjadi sangat terharu dan hormat.

"Hebat Abdullah," kata Pak Etek Herman Payobadar sambil mengelus sapi itu, "Lamakek nabung 6 bulan pakai pitih receh Rp 10, Rp 25 demi anak. Rokoknyo sajo masih rokok klobot kulit jagung, tapi anaknyo bisa dibalikan sapi. Itu baru bapak bertanggung jawab, bukan bapak yang gaya-gayaan."

Malamnya, setelah sapi itu diikat dengan aman di kandang belakang rumah dan diberi makan rumput yang segar dan air minum, Abdullah tidak langsung berpesta atau beristirahat. Ia merasa hutang adatnya harus segera ia lunasi. Ia kemudian memanggil kakak ipar laki-lakinya, yaitu kakak kandung Siti Aminah, yang bernama Usman bin Rauf Sikumbang, yang juga adalah mamak kandung bagi Arya.

Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu tempel, Abdullah masih melinting rokok klobotnya. Asapnya memenuhi ruangan.

"Uda Usman," kata Abdullah dengan suara bergetar, "Selama enam bulan ini denai menabung pakai uang kecil-kecil. Denai tahan-tahan ndak bali rokok putih, denai isap rokok klobot kulit jagung sajo. Tangan denai hitam-hitam kena tembakau, tapi Alhamdulillah kini tabungan itu sudah menjadi sapi di kandang. Denai ingin lusa hari Jumat, setelah shalat Jumat, kita laksanakan aqiqah Arya yang sudah enam bulan ini. Denai ingin Uda sebagai mamak dan juga Tigo Tungku Sajarangan kita, yaitu paman-paman kita sendiri Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar dari suku Payobadar, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang dari suku Sikumbang, dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo Chaniago dari suku Chaniago, bisa hadir memberikan doa dan restu."

Usman bin Rauf Sikumbang yang mendengar cerita tabungan enam bulan itu secara langsung, mencium bau rokok klobot yang khas dari baju adik iparnya, langsung terdiam lalu memeluk Abdullah dengan erat. Matanya berkaca-kaca.

"Subhanallah, Abdullah. Ambo sebagai mamak dari Arya yang sudah enam bulan ini sangat bangga memiliki adik ipar seperti angku. Angku mengajarkan kepada kami semua, bahwa aqiqah tidak harus memaksakan diri di hari ketujuh kalau belum mampu. Boleh ditunda 6 bulan asal ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Angku nabung pakai Rp 10, Rp 25, dan masih merokok kulit jagung demi anak. Itu lebih mulia daripada berhutang untuk terlihat mampu. Itu pelajaran adat basandi syarak yang paling tinggi."

Malam itu juga mereka berdua berjalan dari rumah ke rumah, dari rumah gadang ke rumah gadang, dengan membawa obor dari bambu dan senter minyak tanah, karena gelap. Mereka memberitahu para tetangga sebelah yang juga para sepupunya. Mereka bercerita dengan bangga, "Aqiqah Arya baru bisa kini karena bapaknya baru selesai nabung enam bulan pakai uang kecil, hasil dari mengisap rokok klobot, untuk beli sapi."

Di setiap rumah, sambutan yang mereka terima sangat hangat dan penuh hormat. Tidak ada yang mencibir karena aqiqah ditunda enam bulan. Semua orang justru mengagumi kesabaran Abdullah.

Perjalanan mereka malam itu berakhir di surau kecil di ujung kampung yang lantainya masih tanah. Di sana, mereka bertemu dengan Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang yang baru saja selesai shalat Isya dan juga sedang melinting rokok klobotnya sendiri, karena di tahun 1966 hampir semua orang tua di kampung merokok klobot.

Setelah mendengar cerita itu, Datuk mengelus jenggotnya yang sudah memutih dan tersenyum bijak sambil menghisap klobotnya.

"Alah datang kemenakan denai ruponyo. Denai sudah mendengar kisah tabungan enam bulan angku dari orang-orang di surau tadi. Alhamdulillah, kemenakan denai Abdullah bin Rais. Angku telah memberikan contoh terbaik bagi kemenakan-kemenakan yang lain. Di tahun 1966 yang susah semua bahan mahal ini, angku masih bisa nabung 6 bulan sampai bisa bali sapi pakai pitih Rp 10, Rp 25, Rp 50. Rokoknyo sajo rokok klobot kulit jagung, tapi semangatnyo gadang. Inilah yang disebut 'manabung untuak anak'. Aqiqah di umur enam bulan karena menabung, jauh lebih mulia daripada meminjam uang atau berhutang untuk terlihat mampu di hari ketujuh. Allah melihat prosesnya, bukan hanya harinya. Denai dan kedua kawan denai, Datuk Rajo Alam Nan Sati dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo, pasti akan hadir. Kita akan doakan Arya Arsyad Sikumbang agar menjadi anak yang tahu arti susah."

Akhirnya, pada hari Jumat yang cerah di tahun 1966 itu, setelah shalat Jumat, aqiqah Arya Arsyad Sikumbang yang berumur enam bulan dilaksanakan dengan meriah secara gotong royong. Sapi hasil tabungan enam bulan yang dibeli dengan sekarung uang pecahan Rp 10 sampai Rp 1.000 dan hasil dari mengisap rokok kulit jagung itu disembelih dengan doa-doa yang dipimpin langsung oleh Tigo Tungku Sajarangan. Dagingnya dimasak menjadi gulai, rendang, dan sop besar-besaran oleh ibu-ibu satu kampung di kuali besar di halaman rumah gadang, dan dimakan bersama satu kampung Pande Sikek dalam tradisi makan bajamba, duduk bersila beralaskan daun pisang.

Arya yang gembul berusia enam bulan itu digendong dari pangkuan ke pangkuan oleh para Datuk, oleh para paman, oleh sepupu-sepupunya. Ia tertawa riang, tidak tahu bahwa gulai yang dimakan orang sekampung hari itu adalah hasil dari enam bulan peluh ayahnya.

Dan semua orang di kampung itu tahu, kelezatan gulai sapi hari itu terasa berbeda, lebih gurih dan lebih berkah dari gulai biasa. Karena bumbunya dicampur dengan enam bulan kerja keras, enam bulan menahan diri tidak membeli rokok pabrikan, bau asap rokok klobot dari kulit jagung yang setia menemani setiap lintingan, dan sekarung uang kecil hasil peluh seorang bapak bernama Abdullah bin Rais Payobadar di tahun 1966 yang sulit itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!