Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman di Batas Kesadaran
Speaker telepon yang cukup keras—ditambah keheningan ruangan yang mencekam—membuat suara dingin, tajam, dan amat memikat di seberang sana terdengar jelas oleh Flyn, Zack, Ocla, dan Rowan.
"Kamu benar-benar pergi ke barak, meninggalkan istri yang sedang merajuk?!"
Flyn langsung menutupi mulutnya rapat-rapat, bahunya berguncang hebat menahan tawa yang hampir meledak.
Ocla mendadak batuk-batuk kecil berpura-pura sibuk membaca layar monitor, sementara Zack dan Rowan saling pandang dengan tatapan 'sudah kuduga'.
Chester membeku di tempatnya.
Rahang sang Kapten mengetat sekeras karang, binar mata abu-dark milik suaminya berkilat antara kepanikan kaku dan dominasi yang terdesak.
"Ayyana, kamu sendiri yang—"
"Aku menyuruhmu pergi karena aku sedang kesal, Kapten," potong Ayyana cepat di seberang telepon, suaranya halus namun menembus langsung perisai kaku suaminya. "Bukan berarti kamu boleh betul-betul menancap gas dan kabur ke markas."
Chester menarik napas panjang, menahan dorongan rasa posesif dan cemburu yang kembali membakar dadanya, seraya melirik empat anak buahnya yang kini memasang telinga penuh keusilan.
Ia berdiri dari kursi komando, memutar tubuhnya membelakangi mereka, lalu menjawab dengan suara bas yang amat rendah, kaku, dan serak.
"Saya pulang sekarang."
"Dan jangan harap pintu rumah dinas terbuka kalau kamu butuh waktu lebih dari sepuluh menit, Kapten," bisik Ayyana dari seberang telepon, sebelum sambungan terputus secara sepihak dengan bunyi bip yang tegas.
Chester mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Keheningan yang menyulut ruang komando mendadak terasa jauh lebih pekat daripada medan tempur Sektor Bravo.
Flyn tidak mampu lagi menahan dirinya. Tawa pelannya meledak kecil di ujung ruangan sambil menepuk bahu Zack. "Sepuluh menit, Bos! Itu artinya kecepatan maksimum di area pangkalan. Jangan sampai kena tilang polisi militer di pekarangan sendiri!"
"Sepuluh menit untuk jarak empat kilometer," timpal Ocla santai seraya menghitung taktis di atas kertas catatannya. "Kalau Bos berangkat detik ini, akselerasi SUV harus menyentuh delapan puluh kilometer per jam."
Zack mengangguk formal, melemparkan kunci SUV milik Chester yang tadi tergeletak di meja komando ke arah sang Komandan. "Kunci, Kapten. Siaga Satu resmi aktif."
Chester menangkap kunci mobil itu di udara dengan satu gerakan refleks yang presisi. Binar mata abu gelapnya memancar tajam—sebuah campuran antara kekesalan kaku akibat digoda empat bawahannya, dan dorongan posesif luar biasa yang mendesak dadanya untuk segera kembali ke rumah dinas.
"Besok subuh, evaluasi fisik lima puluh kilometer untuk kalian berempat," tegur Chester dengan suara bas yang amat rendah, kaku, dan tanpa senyum sedikit pun.
"Siap, Komandan!" jawab Flyn, Ocla, Rowan, dan Zack serentak dengan nada jahil yang murni menggoda kepanikan suami Nyonya Sinclair tersebut.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Chester menyambar mantel seragam PDU-nya dari atas meja, membalikkan badan, dan melangkah lebar membelah pintu barak.
Deru mesin SUV hitam meraung memecah kesunyian malam pangkalan hanya beberapa saat kemudian, membelah jalanan pekarangan militer dengan kecepatan tinggi—membawa sang Kapten kembali untuk menyerahkan pertahanannya di hadapan istrinya sendiri.
SUV hitam itu membelah pekarangan rumah dinas dengan kecepatan di atas rata-rata. Chester mematikan mesin, menyambar mantel PDU-nya dari jok sebelah, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga teras.
Sisa waktu dari batas sepuluh menit yang diberikan Ayyana masih tersisa dua menit, namun jantung sang Kapten berpacu kencang—campuran antara kepatuhan taktis dan dorongan posesif yang mendesak dadanya.
Ketika ia melangkah masuk, lantai bawah rumah dinas terasa hening dan temaram.
Chester melangkah cepat menaiki tangga menuju lantai dua, berniat melapor bahwa ia sudah kembali tepat waktu.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati kamar utama. Jemari kekarnya terangkat kaku, mengetuk pintu beberapa kali dengan nada teratur khas perwira.
"Ayyana," panggil Chester dengan suara bas yang rendah. "Saya sudah kembali."
Hening. Tidak ada sautan dari dalam.
Chester mengetat rahangnya, mengetuk pintu sekali lagi, namun tetap tak ada jawaban. Kekhawatiran kaku mulai membayangi benaknya.
Tanpa membuang waktu, jemari Chester meraih gagang pintu—siap mencari kunci cadangan jika pintu itu masih terkunci dari dalam seperti sebelumnya.
Cklek.
Pintu jati itu rupanya tidak lagi dikunci.
Chester mendorongnya perlahan.
Pendar redup lampu tidur menyinari kamar utama yang luas.
Di atas tempat tidur king size, Ayyana sudah berbaring miring, tertidur pulas dengan napas teratur.
Langkah Chester terhenti membeku di ambang pintu. Binar mata abu gelapnya bergetar hebat saat memindai sosok istrinya.
Ayyana telah melepaskan gaun sutra navy blue resminya. Istrinya kini mengenakan gaun tidur sutra malam berpotongan amat rendah dan bergelombang halus—sebuah pakaian yang secara terang-terangan melanggar aturan panjang pakaian "150 sentimeter" yang selalu Chester tuntut demi menjaga jarak taktis di antara mereka.
Ayyana tidak lagi sudi mematuhi regulasi konyol pria kaku ini, apalagi meminta izin padanya.
Pemandangan itu menampilkan garis leher, tulang selangka mulus, dan punggung anggun Ayyana yang terpapar indah di bawah pendar temaram.
Pertahanan disiplin militer Chester seketika runtuh total. Peraturan 150 sentimeter yang selama ini ia agungkan hancur tak berbekas dalam sekali tatap.
Chester menutup pintu kamar di belakangnya dengan rapat. Ia membuang mantel PDU-nya ke atas sofa sudut, melepas kemeja putihnya dengan gerakan cepat yang berantakan, lalu melangkah penuh dominasi kaku mendekati sisi tempat tidur.
Tangan kekar Chester terangkat pelan, menahan bobot tubuhnya di atas kasur seraya menunduk menatap wajah tertidur istrinya yang begitu tenang namun tetap memancarkan kekuasaan mutlak.
Napas hangat sang Kapten yang berat dan terengah memburu di dekat leher mulus Ayyana.
Jarinya menyapu lembut helaian rambut cokelat yang menghalangi bahu istrinya, sementara binar matanya berkilat penuh rasa kepemilikan mutlak yang tak bisa lagi ditawar.
Chester mematung selama beberapa detik di atas tempat tidur, menatap lekat garis leher dan bahu terdedah Ayyana yang bergetar halus seiring napas teraturnya.
Pemandangan itu bagaikan api yang menyulut rasa posesif di dadanya, namun bayangan Haikal dan rasa tak berhak yang selama ini menghantuinya mendadak kembali berbisik dingin di kepala.
Pria itu mengepalkan tangannya kaku, menahan gejolak pekat di dadanya.
Dengan napas berat yang dihembuskan perlahan, Chester membuang muka. Ia menegakkan kembali tubuh tegapnya, berniat memutar langkah dan memilih mundur. Seperti biasa, ia berencana berbalik menuju lantai dasar untuk tidur di sofa kaku ruang kerjanya demi membatasi diri dari istrinya.
Namun, sebelum Chester sempat mengambil langkah pertamanya ke arah pintu, sebuah sentuhan hangat mendarat di pergelangan tangannya.
Ayyana menggerakkan jemarinya secara perlahan.
Di ambang batas antara sadar dan tidur, wanita itu menarik pergelangan tangan kekar Chester—sebuah tarikan lemah yang tanpa tenaga, namun sanggup menghentikan seluruh pergerakan sang Kapten di tempat.
"Langkah satu pijakan lagi ke luar kamar ini, Kapten..." bisik Ayyana amat halus, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kantuk yang amat berat. "besok pagi seluruh pangkalan akan tahu kalau Komandan Team Eclipse diusir lagi oleh istrinya ke barak."
Ayyana tidak membuka matanya secara penuh. Ia hanya menyandarkan pipinya lebih dalam ke bantal, sementara jemari lentiknya tetap melingkar pasrah di lengan Chester, menahan suaminya agar tidak kembali melarikan diri ke lantai bawah.
Chester membeku seketika.
Dinding pertahanan diri dan aturan kaku yang ia bangun selama berbulan-bulan runtuh tanpa sisa hanya oleh satu sentuhan lemah tersebut.
Rahang tegas Chester melunak perlahan, binar mata abu gelapnya memancar penuh kehangatan kaku dan rasa posesif yang tak lagi mampu ditolaknya.
Tanpa menguraikan genggaman jemari Ayyana, Chester menghela napas panjang—sebuah helaan napas pasrah dari seorang perwira yang akhirnya menyerah pada istrinya sendiri.
Chester melepas sepatu pantofelnya, lalu secara perlahan mendudukkan dirinya di tepi kasur. Ia merebahkan tubuh tegapnya di samping Ayyana, membiarkan jemari lembut wanita itu tetap berada dalam jangkauannya, dan mengunci Ayyana rapat-rapat di dalam pelukan posesifnya di tengah kesunyian malam rumah dinas.