NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Ancaman yang Nyata

Suara ledakan itu masih berdenging di telingaku saat Arga segera menarikku lebih dekat, berlindung di balik tubuh tegapnya. Langkah kakinya cepat namun teruk, menuntunku menjauh dari jendela yang kacanya mulai retak-retak kecil.

"Tetap di belakangku," bisiknya tegas, nada suaranya tak lagi lembut — kini penuh kewaspadaan yang tajam. Tangannya mencengkeram tanganku erat, seakan takut jika ia melepaskannya sedetik saja, aku akan lenyap begitu saja.

Dari luar, teriakan-teriakan panik semakin nyaring. Terdengar suara langkah kaki berlarian, disusul suara bentakan dan deru mesin mobil yang memacu kencang. Arga melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak, menoleh padaku sekilas.

"Jangan kemana-mana. Aku akan memastikan keadaan di luar dulu," ucapnya, dan sebelum aku sempat menjawab, ia sudah melangkah keluar, meninggalkanku berdiri kaku di tengah ruangan.

Jantungku berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari rongga dada. Aku tak bisa hanya berdiri diam menunggu. Rasa takut bercampur dengan kekhawatiran akan keselamatan Arga mendorongku untuk mengikutinya pelan-pelan.

Dari balik pintu, aku melihat beberapa orang pengawal berlarian ke arah gerbang utama. Asap tipis mulai mengepul di udara, bau bahan bakar terbakar tercium samar-samar. Dan di sana, berdiri di teras depan, Arga — dengan wajah yang sedingin es, menatap tajam ke arah gerbang yang kini terbuka lebar.

Di balik jeruji besi itu, terlihat sekilas sosok wanita yang berdiri di samping sebuah mobil hitam yang melaju kencang, sebelum akhirnya menghilang di tikungan jalan. Laras. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tahu itu dia. Tatapan matanya yang penuh kebencian itu seakan masih membekas di pandanganku, meski ia sudah pergi.

Arga berbalik perlahan, menatapku yang berdiri di ambang pintu. Langkahnya terarah padaku, cepat dan pasti.

"Kau seharusnya tidak keluar," katanya, namun tak ada kemarahan dalam suaranya — yang ada hanyalah kekhawatiran yang mendalam. Ia meraih kedua tanganku, menatap mataku lekat-lekat. "Mereka tidak main-main, Freya. Ledakan tadi... itu hanya peringatan. Bukan senjata yang mematikan, tapi bukti bahwa mereka berani melakukan apa saja untuk menyakiti kita."

"Mereka... mereka benar-benar berniat jahat," gumamku, suaraku bergetar. "Kenapa, Arga? Kenapa ia begitu membenciku?"

Arga mengusap pipiku pelan, seakan ingin menghapus segala ketakutan yang ada di sana. "Bukan kau yang ia benci. Ia membenci kenyataan bahwa aku memilihmu. Ia menginginkan segala yang ada di tanganmu — keluargaku, hartaku, dan perhatianku. Dan karena ia tak bisa mendapatkannya dengan cara baik, ia memilih jalan yang salah."

Ia menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku lebih erat. "Tapi dengarkan aku. Apa pun yang terjadi, aku takkan membiarkan satu pun rambutmu jatuh. Aku akan mengurus ini sampai tuntas. Mulai sekarang, pengawal akan berjaga di setiap sudut rumah. Tak ada siapa pun yang boleh masuk tanpa izin, dan kau tak boleh keluar rumah tanpa aku atau pengawal yang cukup."

Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih terasa berat. Keamanan yang ketat ini seakan menjadi bukti betapa berbahayanya ancaman yang sedang mengintai kami. Damai yang baru saja kurasakan sejenak itu kini benar-benar hilang, digantikan oleh ketegangan yang kian menebal.

Namun di saat yang sama, melihat Arga yang berdiri tegap di hadapanku, berjanji melindungiku apa pun yang terjadi, membuatku sadar satu hal — aku tak lagi sendirian. Dan itu memberiku kekuatan yang tak kuketahui sebelumnya.

"Kita hadapi ini bersama," ucapku tegas, menatap matanya dalam-dalam. "Kau tidak sendirian, Arga."

Arga terdiam sesaat, lalu senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang penuh rasa syukur dan kehangatan. Ia mendekat, mencium keningku perlahan, seakan menandakan janji itu.

"Bersama," bisiknya. "Dan tak ada yang bisa memisahkan kita."

Namun di kejauhan, di balik bayang-bayang pepohonan yang rindang, sepasang mata masih mengawasi. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali. Dan kali ini, rencananya jauh lebih sempurna dan jauh lebih mematikan.

 

Lanjut ke Bab 15? 📖 Laras tak akan berhenti begitu saja, dan ancaman yang lebih besar sedang mengintai dari arah yang tak terduga! Mau dilanjutkan? 🔥

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!