NovelToon NovelToon
The Radiant Fool: Immortal Prince In Disguise

The Radiant Fool: Immortal Prince In Disguise

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.

Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Prince’s Silly Smile

Aroma sup ginseng bumbu pedas yang dimasak menggunakan Akar Ginseng Sembilan Ungu meruap hangat, memenuhi seluruh penjuru Bilik VVIP Nomor Satu. Bagi para kultivator tingkat atas di luar sana, ramuan herbal tingkat Saint tersebut adalah barang langka yang sanggup memicu pertempuran berdarah antar-sekte besar. Namun, di dalam ruangan eksklusif ini, cairan bening keemasan yang mengepulkan uap spiritual pekat itu hanyalah sekadar santapan malam pelengkap bagi Mu Xuanyuan. Dengan gerakan tangan yang santai, sang pangeran menyesap kuah sup dari mangkuk gioknya, menikmati sensasi hangat yang merambat perlahan ke seluruh aliran meridian tubuhnya. Senyum konyol yang menempel di wajahnya tampak makin lebar, menyembunyikan keagungan ranah Immortal Emperor Puncak yang bersemayam jauh di dalam jiwanya.

Di sudut lain ruangan, Leng Yan masih meratap dramatis seraya memegangi pinggiran jubah sutra merah mewahnya. Noda minyak berwarna kekuningan yang ditinggalkan oleh jemari Xuanyuan terlihat jelas di bagian dada, merusak estetika pakaian mahal berpola bunga peony yang sangat ia banggakan. Pria flamboyan itu mengibaskan kipas emasnya cepat-cepat, mencoba menyalurkan rasa kesal sekaligus kekaguman yang membakar dadanya. Ia menatap Xuanyuan dengan pandangan mata berbinar-binar, sebuah tatapan terpesona yang bercampur dengan keheranan atas ketenangan luar biasa yang ditunjukkan oleh pangeran muda di hadapannya tersebut.

"Yang Mulia, Anda benar-benar terlalu tega," keluh Leng Yan dengan nada puitis yang mendayu-dayu, mencoba melangkah mendekat seraya mengusap air mata buatannya. "Jubah ini dibuat dari benang ulat sutra emas yang ditenun selama seratus tahun di Puncak Salju Selatan! Namun, Anda malah menggunakannya sebagai lap minyak ginseng! Jika bukan karena paras tampan Anda yang sanggup meruntuhkan tatanan benua ini, saya pasti sudah menuntut ganti rugi berupa pernikahan rahasia!"

Sebelum langkah kaki Leng Yan berhasil mendekati kursi Xuanyuan, sebuah bayangan melintas dengan kecepatan tinggi. Leng Shuang secara cekatan mengintip dari balik bahu kakaknya, lalu mendaratkan pukulan telapak tangan yang cukup keras tepat di pinggang Leng Yan. Suara benturan ringan bergema di ruangan tersebut, disusul oleh erangan kaget dari bos rumah bordil tersebut. Leng Shuang mendengus dingin seraya menggeser posisi berdirinya untuk menyelimuti pergerakan sang kakak, memastikan jarak aman antara Leng Yan dan Pangeran Ke-14 tetap terjaga secara ketat.

"Tolong jaga sikapmu di depan Yang Mulia, Kakak Bodoh," ujar Leng Shuang dengan nada suara tegas, dingin, dan tidak menerima bantahan. "Jika kau tidak bisa menahan kelakuan absurdmu itu untuk beberapa menit saja, aku tidak akan ragu untuk menyeretmu keluar dari Balai Lelang Xingzhou ini dan menguncimu di ruang bawah tanah rumah bordil hingga minggu depan."

Leng Yan meringis pelan seraya memegangi pinggangnya, menatap adik kembarnya dengan raut wajah penuh kekecewaan yang sangat dramatis. "Leng Shuang, kau benar-benar tidak memiliki jiwa seni dan keindahan sedikit pun! Betapa teganya kau memperlakukan kakak kandungmu yang rupawan ini seperti prajurit musuh!"

Melihat pertengkaran rutin antara sepasang saudara kembar tersebut, Mu Xuanyuan hanya tertawa cempreng. Ia menyodorkan mangkuk gioknya yang telah kosong ke arah Gu Juechen, memberi isyarat konyol bahwa ia menginginkan porsi kedua dari sup herbal tersebut. Gu Juechen tersenyum maklum, segera mengambil mangkuk tersebut dan mengisinya kembali dengan potongan daging unggas spiritual serta kuah ginseng yang masih mendidih. Di sisi lain, Feng Wuchen tetap berdiri tegak di dekat pintu keluar, pandangan matanya yang setajam elang sesekali melirik ke arah luar melalui celah tirai giok untuk memantau pergerakan para pengawal kerajaan yang mengawal Pangeran Ke-3.

Keheningan melingkupi aula utama di bawah sana saat para pengunjung lelang secara bertahap mulai membubarkan diri. Lu Cangqiong telah pergi lebih dulu dengan pengawalan ketat dari para tetua Sekte Pedang Bintang, membawa Kotak Giok Bersegel Kaisar dengan raut wajah yang dipenuhi gabungan antara rasa bangga dan kecemasan finansial yang mendalam. Pengeluaran sebesar tujuh juta Kristal Spiritual bukanlah angka yang kecil, bahkan bagi seorang pangeran kekaisaran sekalipun. Keputusan impulsif yang dipicu oleh provokasi Xuanyuan telah menguras habis seluruh cadangan kekayaan rahasianya.

Han Xingzhou melangkah mendekati meja tempat Xuanyuan duduk, menyilangkan kedua tangannya di dalam jubah putihnya yang bersih. "Yang Mulia, Pangeran Ke-3 baru saja meninggalkan balai lelang. Berdasarkan laporan dari jaringan mata-mata kita di luar ibu kota, Putra Mahkota Long Wuji telah menyiagakan tiga ratus prajurit elit di luar gerbang kediaman Lu Cangqiong. Sepertinya mereka berniat langsung membongkar segel kotak giok tersebut malam ini juga."

Xuanyuan menerima mangkuk sup keduanya dari Gu Juechen, lalu tersenyum sangat ceria hingga sepasang matanya menyipit menyerupai bulan sabit. Senyuman itu tampak begitu polos, lugu, dan tidak berdosa—sebuah topeng sempurna yang telah berhasil mengelabui seluruh jajaran pejabat Istana Tianming selama bertahun-tahun. Namun, di balik kerlingan mata yang jenaka itu, aliran daya spiritual yang tiada batas bergerak halus, mengendalikan susunan formasi rahasia yang tertanam di dalam Kotak Giok Segara Darah dari jarak jauh.

"Biarkan mereka mem bukanya," sahut Xuanyuan dengan nada suara cempreng yang sengaja ditinggikan, berpura-pura sedang membicarakan hal yang sangat remeh. "Kotak batu hitam itu sangat keras! Kalau Kakak Ke-3 dan Kakak Sulung tidak bisa membukanya dengan pedang mereka, mungkin mereka harus mencoba memukulnya menggunakan batu kali yang besar! Pasti akan sangat seru jika kotaknya meletus seperti kembang api di tengah malam!"

Leng Yan yang mendengar ucapan tersebut hanya bisa mengelus dadanya pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Ia mengerti betul makna di balik gurauan konyol sang pangeran. Kebangkitan aura racun darah yang tersegel di dalam kotak giok tersebut akan menjadi bencana besar bagi siapa saja yang mencoba membukanya secara paksa tanpa pemahaman ranah tingkat tinggi. Lu Cangqiong dan Long Wuji secara tidak sadar telah berjalan masuk ke dalam perangkap tak kasat mata yang dipasang oleh adik mereka sendiri.

"Betapa kejamnya senyuman konyol itu..." gumam Leng Yan pelan dengan helaan napas mengagumi. Ia kembali membuka kipas emasnya, mengibaskannya perlahan seraya menatap Xuanyuan yang kini sibuk mengunyah potongan daging unggas spiritual dengan lahap. "Seorang Immortal Emperor Puncak yang bersembunyi di balik topeng pangeran idiot. Sungguh, semakin aku memperhatikanmu, semakin aku terseret ke dalam pesonamu yang tidak masuk akal ini, Yang Mulia."

Xuanyuan mendongak, menyapu bibirnya yang berminyak dengan lengan bajunya sendiri secara asal-asalan, membuat Leng Yan kembali menepuk jidatnya karena gemas. Pangeran Ke-14 itu berdiri dari kursinya, merentangkan kedua tangannya seraya menguap lebar-lebar di tengah ruangan VVIP tersebut.

"Ah, perutku sudah kenyang dan hatiku sangat senang!" jerit Xuanyuan gembira seraya melangkah secara acak ke arah pintu keluar. "Waktunya pulang ke kediaman untuk tidur siang! Kalau aku terlambat tidur, Ibu Suri pasti akan mengirimkan pengasuh tua yang galak itu untuk mengomeliku lagi!"

Feng Wuchen dengan sigap membuka pintu kayu ukiran di hadapan Xuanyuan, lalu melangkah keluar lebih dulu untuk memastikan jalur koridor utama dalam keadaan aman dan bebas dari perhatian publik. Gu Juechen merapikan kembali peralatan makan dan tungku perunggu ke dalam kantong dimensinya sebelum menyusul dari belakang, bertindak sebagai pengawal pribadi yang selalu setia berada di sisi sang pangeran.

Han Xingzhou memberikan penghormatan terakhir dengan membungkukkan badannya secara mendalam saat Xuanyuan melintas di sampingnya. "Semoga perjalanan pulang Anda menyenangkan, Yang Mulia. Seluruh urusan administrasi dan pembagian hasil lelang hari ini akan saya selesaikan sebelum fajar menyingsing."

Xuanyuan melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang, berjalan dengan langkah santai seraya menyanyikan lagu anak-anak dengan nada yang sedikit sumbang. Leng Yan dan Leng Shuang berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung sang pangeran yang bertahap menjauh di sepanjang lorong temaram Balai Lelang Xingzhou. Meskipun penampilan luar Mu Xuanyuan terlihat sangat tidak meyakinkan dan penuh dengan kepura-puraan, keberadaannya memancarkan sebuah rasa aman yang tak tergoyahkan bagi orang-orang di sekitarnya.

"Kakak," panggil Leng Shuang pelan, memecah keheningan saat bayangan Xuanyuan benar-benar telah menghilang di belokan lorong. "Apakah kau yakin Pangeran Ke-3 tidak akan mencurigai keterlibatan Paviliun Xingzhou jika wabah racun darah itu benar-benar meletus malam ini?"

Leng Yan terkekeh pelan, menutup kipas emasnya dengan satu hentakan ringkas yang presisi. Wajah flamboyannya mendadak menipis, menyisakan ketajaman sorot mata seorang penguasa dunia bawah yang sangat berpengalaman.

"Lu Cangqiong terlalu buta oleh kesombongan dan rasa irinya terhadap Putra Mahkota," jawab Leng Yan dengan suara rendah yang penuh kepastian. "Bahkan jika seluruh ibu kota ini hancur berantakan, hal terakhir yang akan terlintas di dalam otaknya yang dangkal itu adalah fakta bahwa sang adik yang dianggap gila itulah yang memegang tali kendali di balik seluruh peristiwa ini. Senyum konyol Pangeran Ke-14 adalah perisai paling sempurna yang pernah ada di benua ini."

Leng Shuang mengangguk pelan, menyetujui analisis kakak kembarnya tersebut. Di balik malam yang kian melarut dan kegelapan yang menyelimuti ibu kota Kekaisaran Tianming, roda-roda takdir tengah berputar secara masif. Pangeran yang selalu tersenyum ceria tanpa beban itu sekali lagi berhasil melangkah kembali ke dalam bayang-bayang, siap menyaksikan permainan kekuasaan para saudaranya dari atas takhta rahasia yang tak tersentuh.

1
Pecinta Gratisan
sampai tamat thor updatenya💞
Hadi Hadi
is good
irawan muhdi
lanjut Thor 👍
irawan muhdi
lanjut
irawan muhdi
lanjut Thor
irawan muhdi
mantap lanjut Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!