NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PROYEK KERJASAMA YANG MENGIKAT KITA KEMBALI

Keesokan harinya, draf perjanjian kerja sama tiba di kantor Rian. Isinya rinci, tegas, dan tak ada celah yang bisa dimanipulasi—persis seperti sosok yang menyetujuinya. Rian membacanya berkali-kali, setiap baris kalimat seolah mengingatkannya pada posisi yang kini ia tempati: ia yang dulu mengusir, kini harus berlutut memohon izin untuk berjalan berdampingan dalam urusan bisnis.

Saat ia datang kembali ke gedung Grup Arka untuk menandatangani perjanjian, langkahnya terasa berat. Di ruangan yang sama, Nadia sudah menunggu dengan tenang, seolah apa yang terjadi di masa lalu tak pernah ada artinya baginya.

"Apakah semua poin sudah Anda pahami?" tanyanya singkat sambil mendorong pena ke arahnya.

"Sudah, Ibu Nadia," jawab Rian pelan, jari-jarinya gemetar saat menyentuh pena itu. "Saya... saya berjanji akan melaksanakan semua kewajiban dengan sebaik-baiknya."

Nadia mengangguk pelan. "Harapan saya hanya satu: jangan biarkan ambisi membuat Anda melupakan tanggung jawab. Di sini, kepercayaan adalah aset paling mahal. Sekali rusak, takkan bisa dibeli kembali dengan harta seberapa banyakpun."

Kalimat itu menusuk tepat ke hati nuraninya. Rian menelan ludah, lalu mulai menandatangani lembar demi lembar perjanjian itu. Setiap tanda tangan terasa seperti ikrar yang mengikatnya kembali pada wanita yang dulu ia lepaskan dengan seenaknya.

Setelah perjanjian selesai, kerja sama pun resmi dimulai. Rian harus datang ke kantor pusat Grup Arka hampir setiap hari untuk rapat, mempresentasikan kemajuan, dan melapor langsung kepada Nadia. Setiap pertemuan menjadi ujian baginya—melihat wajah yang dulu selalu tersenyum menyambutnya pulang, kini menatapnya hanya sebagai mitra bisnis yang harus diawasi ketat.

Kadang tanpa sadar kebiasaan lama muncul: cara Nadia menegur saat ada kesalahan perhitungan, cara ia mengurutkan berkas sesuai warna, bahkan cara ia menyilangkan jari di dagu saat sedang berpikir berat—semuanya persis sama seperti dulu.

Suatu siang, saat ruangan kerja mereka sepi sejenak, Rian memberanikan diri bertanya dengan suara rendah, "Dulu... mantan istri saya juga punya kebiasaan yang sama persis dengan Anda. Saat sedang serius memikirkan sesuatu, selalu menyilangkan jari begitu."

Nadia yang sedang memeriksa laporan tak mengangkat wajah. "Banyak orang memiliki kebiasaan yang sama, Tuan Rian. Jangan terlalu mencari kesamaan di hal-hal sepele. Fokuslah pada proyek kita."

"Tapi rasanya bukan kebetulan semata," desak Rian pelan, dadanya semakin sesak. "Sikap Anda, cara bicara Anda... semuanya terlalu mirip. Jika benar Anda dia, katakanlah. Saya..."

"Anda apa?" potong Nadia tajam, akhirnya mendongak menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa dibaca. "Apa yang ingin Anda katakan? Bahwa Anda menyesal? Bahwa Anda ingin mengulang semuanya? Ingat baik-baik, Tuan Rian. Dulu Andalah yang pergi meninggalkan dia. Dulu Andalah yang menganggap dia tak berharga. Sekarang jika dia berdiri tegak di tempat tinggi, itu bukan untuk Anda ratakan kembali ke tempat yang sama."

Kata-kata itu melumpuhkan Rian. Ia tak sanggup membalas, tak sanggup menyangkal kebenaran yang begitu telanjang di hadapannya.

"Kembali bekerja," ucap Nadia kembali dingin, menundukkan pandangannya pada dokumen. "Waktu Anda berharga, begitu juga waktu saya."

Rian keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur lebur. Kini ia tak lagi ragu. Hati nuraninya berteriak keras: wanita yang kini memegang kendali atas nasibnya, adalah wanita yang dulu ia buang dengan tangan sendiri. Dan takdir seolah ingin menunjukkan padanya—bahwa tempat yang paling tinggi, kini hanya bisa ia capai jika ia berani menunduk dan meminta maaf, meski ia tahu itu mungkin sudah terlambat.

 

(Lanjut ke Bab 10?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!