NovelToon NovelToon
PEMAKSAAN BERUJUNG CINTA

PEMAKSAAN BERUJUNG CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Lari Saat Hamil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?

Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)

Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMINTAAN UNIK SANDERA

Leo yang belum pernah memikirkan kemungkinan memiliki anak ataupun berhubungan dengan wanita, seketika langsung ingat apa yang ia lakukan tadi malam dengan wanita sanderanya, anak si pemberontak Skotland.

"Apakah sekali saja dan tidak keluar didalam bisa bikin dia hamil? Tidak tidak" gumamnya.

"Pasti dia pun tidak mau sampai hamil anak dari musuhnya ini, bukan? Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Aku tidak boleh ceroboh soal wanita" lanjutnya.

Lalu Leo langsung keluar kamar dan mencari Luca, sang dokter pribadi.

Saat keluar, ada ibu ibu yang menyapanya.

"Selamat pagi Tuan Muda, sarapan sudah siap" ujarnya.

"Pagi, Bi. Terima kasih untuk sarapannya" sahut Leo.

"Bibi Ester tau dimana Luca sekarang?" tanyanya kemudian.

"Baru saja keluar bersama Eliza untuk membeli perlengkapan wanita yang anda minta pada Luca" jawab sang bibi, asisten rumah tangga keluarga Davarza.

Lalu Leo menatap jam di dinding dan memang toko di kota baru buka jam 8 pagi.

"Bibi sudah tau jika aku membawa anak pemberontak pulang ke pondok belakang?" tanya Leo.

Bibi Ester mengangguk.

"Sudah, Tuan. Tadi pagi Luca memberitau kami semua" sahutnya.

"Apakah bibi sudah mengecek pondok kebelakang?" tanya Leo lagi.

"Belum, Tuan Muda. Selama belum ada perintah dari anda, kami tidak berani mendekat" jawab Bibi Ester.

"Tapi apakah Tuan benar benar menyanderanya disini terus? Bagaimana jika Nona Katy datang dan mengetahui hal ini?" lanjutnya.

"Abaikan saja. Katy belum menjadi nyonya rumah ini, kenapa bibi khawatir dia akan tau hal internal rumahku? Biarkan saja, dia mengamuk pun abaikan. Aku juga tidak sabar menunggu moment itu. Kita lihat seberingas apa Katy menghadapi wanita pemberontak itu" ucap Leo dengan senyuman licik.

Bibi Ester diam dan tidak berani menyahuti lagi.

"Ya sudah bi, sambil menunggu Luca dan Eliza datang, apakah aku boleh meminta tolong bibi untuk mengecek keadaannya?" perintah Leo.

"Baik, Tuan" sahut wanita berusia hampir 50 tahunan itu.

Leo pun berjalan ke ruang makan untuk sarapan, sedangkan asisten rumahnya yang sudah ada sejak dia kecil menjalankan perintah melihat Agatha di pondok belakang.

"Oh ya, bi. Minta tolong Pak Albert saja untuk naik kendaraan buggy car, biar bibi tidak capek" pesan Leo sebelum memulai sarapan dan melihat Bibi Ester akan keluar rumah melalui pintu belakang.

"Baik, Tuan" sahut Bibi Ester.

Leo menikmati sarapannya.

Dari kejauhan saat sudah naik buggy car semakin mendekat ke pondok belakang, Bibi Ester dan Pak Albert melihat seseorang sedang membersihkan isi pondok yang berdebu itu.

"Loh itu wanita sanderanya Tuan Muda?" tanya Pak Albert.

"Seharusnya iya, siapa lagi yang berani ke pondok belakang selain atas izin tuan muda" sahut Ester.

"Terlihat dia baik baik saja. Aku dengar info dari Zane, wanita itu menembak 3 peluru di punggung Tuan" ujar Pak Albert.

"Hah? Beneran? Berani sekali wanita ini" ucap Bibi Ester.

"Tapi untung saja, tuan muda tidak merasakan sakit di tubuhnya. Dia bisa bertahan dan terlihat biasa saja" balas Pak Albert.

Bibi Ester menghela nafas panjang mengingat bahwa majikannya tidak merasa sakit sejak 3 tahun, membuatnya sedih.

"Tidak merasakan sakit bulan berarti untung, Pak. Tuan tidak bisa merasakan tubuhnya. Dia bisa koma sewaktu waktu jika kekurangan darah. Semakin bahaya" jelas Bibi Ester.

"Benar juga" sahut Pak Albert.

Semakin dekat buggy car dengan pondok, keduanya pun diam.

Agatha yang masih memakai baju tadi malam yang sudah kotor, lusuh, dan ada banyak bercak darah, berdiri didepan pondok melihat kedatangan orang yang belum ia kenal.

"Mulai bersandiwara menerima kehidupan disini. Aku harus terlihat kuat tanpa ada keinginan memberontak atau melawan meskipun hati ini terpaksa melakukannya. Tunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam" batin Agatha.

Rambut merahnya benar benar mencolok. Mata abu abunya juga sangat terlihat jelas saat terkena sinar matahari.

Bibi Ester dan Pak Albert turun dari kendaraan halaman belakang karena memang halaman ini begitu luas mungkin ada 10 hektar luasnya atau jika ditarik jarak sekitar 500m perjalanan dari rumah utama ke pondok.

"Selamat pagi, Nona" sapa Bibi Ester ramah.

"Selamat pagi" sahut Agatha.

"Perkenalkan saya, Bibi Ester, pengurus rumah keluarga Davarza, sedangkan pria ini adalah suami saya yang jug bekerja sebagai penjaga rumah" jelas Bibi Ester.

"Baik, saya Agatha" sahut wanita sandera yang tinggal di pondok belakang.

"Kami kesini disuruh oleh Tuan Muda untuk mengecek keadaan anda dan menanyakan apakah ada yang dibutuhkan" ujar Bibi Ester.

"Apakah jika saya memintanya, kalian akan menuruti apa yang saya butuhkan?" tanya balik Agatha.

"Untuk itu akan saya sampaikan dulu kepada Tuan Muda, jika diperbolehkan akan saya siapkan" jawab Bibi Ester.

"Sediakan saja beberapa pakaian bersih untuk saya. Lalu jika ada bibit bibit tumbuhan ataupin sayuran, saya juga ingin mendapatkannya" ucap Agatha.

Bibi Ester dan Pak Albert terkejut dengan permintaan kedua wanita ini. Bukannya minta makam ataupun minum tapi bibit tumbuhan.

"Untuk pakaian bersih akan dibawakan oleh putri saya segera yang bernama Eliza. Saat ini dia sedang membeli perlengkapan wanita untuk anda. Namun bibit tumbuhan? Jika boleh saya tau untuk apa ya nona? Jika anda membutuhkan makanan atau bahan bahannya, seharusnya tinggal memanfaatkan hal ini untuk memintanya?" tanya Bibi Ester dan Agatha tersenyum.

"Saya suka berkebun. Saya juga bukan orang yang suka minta minta apa yang bisa saya hasilkan. Ini didikan orang Skotland yang bekerja keras" jawab Agatha.

Bibi Ester hanya bisa tersenyum mendengarnya. Sedangkan, Pak Albert tidak terlalu suka dengan keberanian Agatha yang mencolok.

"Baik, saya mengerti. Akan saya sampaikan kepada Tuan terlebih dahulu" sahut Ester dan Agatha mengangguk paham.

Pasangan suami istri pengurus rumah keluarga Davarza tersebut pun kembali ke rumah.

"Dia sangat berani" celetuk Pak Albert.

"Iya. Tidak ada sorot mata ketakutan menjadi sandera musuh" sahut Bibi Ester.

"Aku tidak suka dengannya. Rambutnya yang merah identik dengan pemberontak Skotland, membuatku muak. Aku mengingat bagaimana mereka membunuh Tuan dan Nyonya 3 tahun lalu" ujar Pak Albert.

"Sabar, Pak. Aku pun juga marah kepada pemberontak Skotland, namun sebagai wanita dan melihat penampilannya barusan, aku sungguh bisa merasakan bagaimana dia berusaha terlihat tegar. Ia hanya ingin bertahan hidup" jelas Bibi Ester.

Pak Albert menghela nafas panjang.

"Aku rasa wanita ini akan menyusahkan Tuan Muda. Aku harap Tuan Leo segera sadar dan mengusirnya atau mengembalikan ke negaranya jika tidak bisa membunuh wanita ini" ujarnya.

"Hust! Bapak gak usah ikut campur keputusan tuan muda. Aku rasa tuan muda memiliki rencana lain untuk wanita ini" ucap Bibi Ester.

Lalu tanpa terasa buggy car nya sudah sampai pintu belakang rumah.

Bibi Ester segera masuk dan memberikan laporan keadaan Agatha.

Leo terlihat menunggu di ruang santai sambil meminum teh.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Leo.

"Dia terlihat baik baik saja meskipun penampilannya kotor, lusuh, dan luka luka. Wanita ini hanya meminta pakaian bersih dan bibit sayuran atau tanaman untuk dia berkebun" jawab Bibi Ester.

Leo menatap keheranan kepada asisten rumah tangganya.

"Bibir bibir sayuran atau tanaman?" tanyanya memastikan.

*huahahhaa, terkejut komandan Leonardo dengan permintaan sanderanya yang unik bin ajaib.

1
Mia Camelia
aduh leo kau kejam😂
Mia Camelia
semangat thor😄
cerita nya seru👍
SariRani: Terima kasih kakak 🙏🏻 mohon dukungannya biar semangat berimajinasi hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!