NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Sah Menjadi Pasanganku

Erlangga menggandeng tangan Ayuna untuk mendaftarkan pernikahannya. Di situ Ayuna hanya bisa pasrah saat petugas  mengambil fotonya bersama Erlangga untuk dijadikan surat nikah. Tidak butuh waktu lama setelah tanda tangan dan ijab qobul mereka akhirnya sah menjadi suami istri.

'pernikahan macam apa ini? Tidak ada restu orang tua, tidak ada wali nikah,' gumam Ayuna dalam hati.

Terlihat cukup konyol, tapi inilah keputusan yang tidak bisa ditolak. Tanpa sepengetahuannya Erlangga diam-diam sudah mengurus ke kantor sipil sebelumnya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Erlangga dengan menggenggam tangannya.

"Biasa saja," jawab Ayuna.

Dalam hatinya ia bahkan belum siap untuk memulai hidup baru, tapi karena desakan yang membuatnya tak memiliki kemampuan untuk menolak ia terpaksa memilih untuk mengalah.

"Kamu tak senang dengan pernikahan ini?"

Erlangga cukup tersinggung dengan jawaban yang diberikan oleh Ayuna. Namun ia sadar, sikapnya lah yang membuat Ayuna bersikap dingin padanya.

"Aku belum bisa menjawabnya. Kita jalani saja dulu. Nanti juga akan tahu seperti apa hasilnya."

Tangan Erlangga mengepal, namun dia tak berani menunjukkan kekecewaannya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Ayuna, jalani dulu dan lihat hasilnya.

"Huft." Erlangga menarik nafas yang membuatnya terasa sesak. Namun dicobanya untuk tetap bersikap lebih tenang.

"Oke baiklah. Kita jalani dulu pelan-pelan. Tapi aku minta, jangan selalu menghindariku."

Setelah menyelesaikan akad nikah, Erlangga memutuskan untuk mengajak Ayuna pulang. Ayuna berniat untuk kembali ke kantor karena tak ingin membuat rekan kerjanya curiga, tapi Erlangga tak memberinya izin dan malah memintanya untuk mengambil cuti menikah.

"Pak, tadi saya sudah bilang ke pak Iwan dan juga Bu Soraya untuk kembali ke kantor. Kalau saya tidak kembali pasti mereka bakalan menghukum saya."

Erlangga meliriknya sekilas. "Memangnya siapa mereka berani menghukummu," bantah Erlangga. "Kalau kamu mau, kamu bisa menghukum mereka bahkan memecat mereka."

Pria itu menggenggam tangannya dan mengecup punggung tangannya dengan tatapan intens, dan itu membuat Ayuna seperti kehilangan akal sehatnya. Dia membeku dengan nafas tak beraturan.

"Dengar sayang, kamu sudah sah menjadi istriku. Status kamu bukan lagi Ayuna yang tak memiliki identitas jelas, tapi nyonya Kusuma. Kamu memiliki kekuasaan sebagai Istriku. Kamu memiliki kebebasan untuk memberikan hukuman pada orang-orang yang dulunya sering menindasmu."

Ayuna tercengang dengan mata membulat. 'apa tadi? Dia memanggilku sayang?'

"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Erlangga dengan satu alisnya terangkat.

Ayuna menggeleng. "Nggak papa."

"Em..., kalau gitu aku minta izin buat jemput anak-anak. Sebentar lagi mereka waktunya pulang."

"Biar aku yang urus. Aku akan meminta Sofyan buat menjemput mereka. Tugasmu sekarang meyakinkan mereka bahwa aku ini ayah kandungnya."

Ayuna mengatupkan bibirnya dengan jemarinya meremas gaun yang dikenakannya. Bagaimana ia akan memulainya? Bagaimana kalau sampai mereka tidak mau menerima Erlangga sebagai ayah kandungnya. Tapi tidak salah Erlangga meminta hak penuh sebagai ayah kandungnya, karena tanpa dia tidak akan pernah ada dua bocah menggemaskan di kehidupannya.

Setibanya di rumah Ayuna langsung menuju kamar anak-anaknya, karena memang dia tinggal satu kamar bersama mereka. Dia duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang tak tenang.

"Kenapa aku jadi nggak tenang gini setelah menikah? Kedepannya aku harus bagaimana? Apa aku harus melayaninya layaknya pasangan suami istri?"

Ayuna menggigit bibirnya gelisah. Ia masih takut untuk menata masa depan bersama pria yang sudah menikahinya. Ia hanya takut wanita di masa lalu suaminya tiba-tiba datang dan menghancurkannya.

"Erlangga milik orang lain. Kita menikah hanya karena dia ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia tidak mencintaiku, dan aku tidak akan jatuh cinta padanya. Dia tidak mungkin memaksaku buat melayaninya kan?"

Kriet...

Suara pintu terbuka. Berdirilah Erlangga yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek. Pria itu juga tak kembali ke kantor.

"Kenapa masih bengong gitu? Ayo lekas pindah kamar. Ambil pakaianmu dan pindah di kamar utama."

"Hah! Pindah?" Wajah Ayuna menegang dan terlihat begitu terkejut.

"Kau pikir?" Satu alis Erlangga terangkat. "Kita sudah menikah. Mana mungkin kita tidur terpisah. Aku butuh kamu."

Ayuna meremas sprei kuat-kuat. Ia pikir Erlangga tak akan berbuat macam-macam, tapi malah memintanya untuk pindah kamar dan tinggal satu ranjang dengannya.

"Biar bibi yang kemasi barang-barangmu. Ayo ikutlah bersamaku."

Dengan terpaksa Ayuna mengikuti keinginannya. Dia beranjak dan keluar dari kamar itu lalu menuju kamar utama.

"Di sini lebih besar kamarnya, dan kita bisa bebas tanpa ada yang mengganggu. Nggak mungkin kan, aku nidurin kamu di dekat anak-anak?"

"Memangnya kita harus melakukan itu?" Pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari mulut Ayuna.

"Melakukan apa?" tanya Erlangga dengan mengerlingkan matanya, menggoda.

"Em..., nggak ada." Ayuna menggeleng dengan wajah merah jambu. Dia malu untuk menjelaskannya.

Erlangga terkekeh. "Yang namanya suami istri tentu melakukan apa yang selayaknya dilakukan. Kita bukan selingkuhan atau cuma sekedar pacaran. Nama kita tercatat di negara sebagai pasangan yang sah. Apakah aku akan mengabaikanmu dan tak menyentuhmu?"

Ayuna diam dengan wajah menunduk. Erlangga mendekatinya dan menggenggam tangannya.

"Ini malam pengantin kita. Walaupun bukan malam pertama lagi, tapi aku harap kau bisa melayaniku dengan baik. Dulu kita melakukannya dalam keadaanku yang tengah mabuk berat. Tapi sekarang aku melakukannya dalam kondisi sadar penuh."

Ayuna mendongak memberanikan diri untuk menatapnya. "Apakah harus dilakukan sekarang?"

"Tidak sekarang nyonya, tapi nanti malam. Aku harus mengumpulkan tenagaku untuk bisa memuaskanmu. Kau juga butuh banyak stamina untuk melayaniku. Sekarang istirahat saja dulu. Jangan pikirkan apapun. Rileks aja, nggak perlu tegang. Mungkin ini bisa dibilang sangat mendadak, tapi tak ada alasan untuk tak melakukan itu. Hubungan yang baik itu bumbu rumah tangga bahagia."

Tok...., tok...., tok....,

"Permisi Tuan, saya akan mengantar pakaian buat nyonya."

Suara seorang pelayan tengah mengetuk pintunya. Niat Erlangga yang mengajak Ayuna istirahat terganggu oleh kehadiran pelayannya.

"Masuklah."

Dua orang masuk ke dalam dan membawa dua koper berisi perlengkapan Ayuna. Bukan baju lama Ayuna, tapi baju dan perlengkapan baru yang disiapkan oleh Erlangga sebelum pergi ke kantor sipil.

"I—ini apa?" tanya Ayuna menatap dua koper yang diletakkan di sisi tempat tidur.

Dua pelayan itu langsung pergi setelah tugasnya selesai.

"Buka saja."

Erlangga melangkah menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya di sana.

Ayuna agak penasaran dengan koper tersebut. Dia merasa itu bukanlah miliknya.

"Sepertinya ini bukan koper milikku. Apa ini~~

Untuk mengurangi rasa penasarannya dia langsung membukanya. Terkejutlah saat ia mengetahui isinya.

"Lingery?"

Ayuna menoleh pada Erlangga yang nampak begitu intens menatapnya.

"Ini buat aku?"

"Memangnya kamu pikir ini buat siapa lagi. Di sini istriku cuma satu. Masa iya aku siapkan untuk pembantu?"

Ayuna meremas kain tipis itu dengan degup jantung yang tak beraturan. Memang tak ada salah dengan pakaian itu, tapi haruskah ia menggantikan posisi Luna

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!