NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005

Panggil Aku Koko

Pergantian asisten sutradara terjadi begitu cepat sampai seluruh studio seperti kehilangan suara.

Pria yang tadi membentak Santi diminta keluar oleh line producer. Tidak ada penjelasan kepada kru, tapi semua orang tahu ada tangan besar yang baru saja menekan produksi ini. Setelah itu, gaun Kiara diganti, kabel dirapikan, dialognya dikembalikan, dan staf medis membalut pergelangan tangannya dengan perban elastis tipis.

Semuanya terlalu rapi.

Terlalu cepat.

Ketika syuting selesai menjelang sore, Kiara keluar dari studio lewat pintu samping bersama Santi. Udara luar terasa lembap setelah berjam-jam berada di bawah lampu studio. Pergelangan tangannya masih berdenyut, tapi bukan rasa sakit itu yang membuat langkahnya melambat.

Di area parkir belakang, sebuah Bentley hitam menunggu.

Santi berhenti duluan. "Kak..."

Pintu mobil terbuka.

Rayhan Purnawan keluar dari kursi belakang.

Setelan hitamnya berbeda dari tadi malam, lebih sederhana, tapi tetap membuat tempat parkir studio yang panas dan berdebu terlihat tidak pantas untuk disentuh sepatunya. Adi berdiri tidak jauh dari mobil, menjaga jarak seperti bayangan yang tahu kapan harus menghilang.

Kiara menelan ludah.

"Pak Rayhan."

Alis Rayhan bergerak sangat tipis.

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke pergelangan tangan Kiara yang diperban, lalu wajahnya menjadi lebih dingin. Bukan dingin pada Kiara. Justru karena dingin itu tidak ditujukan padanya, Kiara merasakan bahaya yang lebih jelas.

"Sakit?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi suara Rayhan begitu pelan sampai Santi yang berdiri di samping Kiara otomatis menunduk, seolah mereka sedang berada di depan seseorang yang tak boleh dijawab sembarangan.

"Sedikit," jawab Kiara.

Rayhan mengulurkan tangan. "Lihat."

Kiara refleks menyembunyikan tangannya ke belakang.

Gerakan itu membuat mata Rayhan berhenti.

Untuk sesaat, udara di antara mereka menegang.

Kiara sendiri tidak tahu kenapa ia mundur. Mungkin karena orang di depannya adalah villain yang ia baca dalam novel. Mungkin karena sejak semalam, pria ini terlalu mudah menembus jarak yang ia pasang. Atau mungkin karena jika Rayhan menyentuhnya dengan hati-hati, ia takut tubuh ini akan bereaksi lebih jujur dari mulutnya.

Rayhan tidak memaksa.

Ia hanya menurunkan tangannya, lalu berkata pada Adi, "Dokter."

Adi segera mengangguk. "Sudah di perjalanan, Bos."

"Tidak perlu," kata Kiara cepat. "Ini cuma memar."

Rayhan melihatnya.

"Kamu selalu menganggap sakitmu kecil?"

Kiara terdiam.

Kalimat itu tidak terdengar seperti teguran. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama melihatnya terluka dan tidak tahan lagi.

Santi menatap Kiara, lalu Rayhan, lalu cepat-cepat memeluk tasnya. Gadis itu jelas ingin bertanya banyak hal, tapi naluri bertahan hidupnya bekerja baik.

"Kak Kiara, aku ambil barang di ruang tunggu dulu, ya," ucap Santi mendadak.

Sebelum Kiara menjawab, Santi sudah mundur.

Pengkhianatan kecil itu membuat Kiara hampir tertawa, kalau saja ia tidak terlalu gugup.

Tinggallah ia dan Rayhan di bawah bayangan gedung studio.

Rayhan mengambil satu langkah mendekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat aroma kayu cendana itu kembali menyentuh napas Kiara.

"Kabel itu tidak seharusnya ada di jalurmu."

Kiara mengangkat wajah. "Anda lihat?"

"Aku melihat semuanya."

Jantung Kiara berdenyut lebih keras.

Ada sesuatu yang tidak normal dalam kalimat itu. Seharusnya ia marah karena diawasi. Seharusnya ia bertanya kenapa Rayhan punya akses ke rekaman studio. Seharusnya ia menjaga jarak dari pria yang bisa mengganti asisten sutradara hanya dengan satu instruksi.

Tapi bagian paling lemah dalam dirinya justru mengingat bagaimana semua orang tiba-tiba berhenti menyalahkannya setelah telepon itu datang.

"Jadi, tadi itu karena Anda?"

"Karena mereka menyakitimu."

Kiara kehilangan kata.

Rayhan mengatakannya dengan begitu wajar, seolah seluruh sistem produksi memang boleh dibalik hanya karena pergelangan tangan Kiara memerah.

"Saya bukan siapa-siapa bagi Anda," ucap Kiara pelan.

Wajah Rayhan berubah.

Hanya sedikit, tapi cukup membuat Kiara melihat sesuatu yang dalam dan gelap melintas di matanya.

"Jangan bilang begitu."

Suara itu rendah.

Tidak keras, tapi tubuh Kiara menurut sebelum pikirannya sempat menolak. Ia menggenggam tali tasnya, berusaha mengabaikan panas yang mulai naik ke pipi.

"Pak Rayhan..."

"Rayhan."

"Koh Rayhan?"

Kata itu keluar sebelum Kiara benar-benar memikirkannya. Begitu sadar, telinganya langsung panas. Dalam lingkaran Tionghoa-Indonesia, panggilan itu tidak seformal `Pak`, tapi juga tidak terlalu berani. Aman, pikirnya.

Ternyata tidak aman sama sekali.

Tatapan Rayhan menggelap sedikit.

"Koko."

Kiara berkedip. "Apa?"

"Panggil aku Koko."

Ia hampir tersedak udara.

"Itu terlalu..."

"Intim?" Rayhan menyelesaikan kalimatnya.

Kiara memalingkan wajah. "Kita baru bertemu semalam."

"Menurutmu begitu."

Lagi.

Kalimat-kalimat seperti itu.

Seolah ada bagian cerita yang hanya Rayhan ingat, sementara Kiara berdiri di tengah halaman yang hilang.

Ia memaksa diri kembali tenang. "Saya belum bisa memanggil Anda seperti itu."

Rayhan tidak marah.

Justru sudut bibirnya bergerak tipis, seperti ia menyukai keberanian kecil itu.

"Kalau begitu pelan-pelan."

"Apa maksudnya?"

"Hari ini Koh Rayhan. Besok Koko."

Kiara menatapnya tidak percaya.

Pria ini benar-benar bernegosiasi soal panggilan seolah sedang membeli perusahaan.

"Anda selalu seperti ini?"

"Ke orang lain, tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Kiara menggigit bibir. Rasa panas di pipinya makin jelas. Ia benci karena tubuh ini mudah sekali bereaksi, dan lebih benci lagi karena Rayhan melihat semuanya.

Dokter pribadi yang dipanggil Adi tiba beberapa menit kemudian. Kiara akhirnya menyerah membiarkan pergelangan tangannya diperiksa di kursi belakang Bentley, sementara Rayhan berdiri di samping pintu terbuka, menghalangi pandangan orang-orang dari luar.

Gestur itu kecil.

Tapi Kiara tahu, ia sedang ditutupi.

Dilindungi.

Dimiliki sedikit demi sedikit oleh tatapan yang bahkan tidak perlu menyentuhnya.

Setelah dokter memastikan tidak ada retak, Rayhan mengambil salep dari kotak medis. Ia tidak mengoleskannya sendiri, mungkin karena melihat Kiara masih tegang. Ia hanya menyerahkan tube kecil itu ke tangan Kiara yang sehat.

"Kompres malam ini. Jangan kena air."

"Baik."

"Makan sebelum minum obat."

"Saya tahu."

"Kirim pesan setelah sampai rumah."

Kiara menatapnya. "Saya tidak punya nomor Anda."

Rayhan melirik Adi.

Adi, dengan wajah datar seorang profesional yang sudah terlalu sering melihat hal aneh, menyerahkan ponsel Kiara yang entah kapan diminta dari Santi. Kontak baru sudah tersimpan di layar.

Koko Rayhan.

Kiara mematung.

Rayhan menunduk sedikit, cukup dekat untuk membuat suaranya jatuh tepat di telinganya.

"Sekarang punya."

Ponsel itu terasa panas di tangan Kiara.

Sebelum ia sempat protes, layar menyala oleh pesan masuk pertama.

Koko Rayhan: Jangan lupa tanganmu, Sayang.

Kiara menatap kata terakhir itu sampai jantungnya kacau.

Saat ia mengangkat wajah, Rayhan masih berdiri di depannya, tenang, lembut, dan sangat berbahaya.

Seperti monster yang baru saja belajar tersenyum hanya untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!