Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Sketsa Pertama
Meilin tidak langsung tidur malam itu.
Setelah Kevin masuk ke kamar mandi kecil, dia membuka ponsel dan menatap saldo aplikasi yang tinggal beberapa ribu rupiah. Refund durian belum masuk. Token listrik masih mati. Di dapur, mi instan tersisa satu bungkus.
Kalau menunggu keadaan membaik sendiri, mereka akan kelaparan lebih dulu.
Dia memotret sketsa punggung Kevin dengan cahaya seadanya dari layar ponsel, lalu menghapus debu di meja agar latarnya tidak terlalu menyedihkan. Hasil fotonya tetap jauh dari sempurna. Ada bayangan retak layar ponsel, ada sudut kertas yang menguning, tapi gambar itu punya rasa.
Meilin membuat akun khusus untuk gambar dari Instagram lama tubuh ini. Dia menghapus foto-foto yang terlalu mencolok, menyimpan beberapa yang tidak perlu, lalu mengunggah sketsa pertama dengan caption sederhana.
Sketsa pensil. Tentang seseorang yang pulang larut, tapi tidak pernah benar-benar menyerah.
Jarinya berhenti di tombol unggah.
Apa Kevin akan marah kalau tahu punggungnya dijadikan gambar?
Meilin menoleh ke pintu kamar mandi. Suara air mengalir kecil terdengar dari dalam. Dia ragu, lalu menghapus bagian caption yang terlalu jelas.
Sketsa pensil pertama setelah lama berhenti.
Lebih aman.
Dia menekan unggah.
Saat Kevin keluar, rambut depannya basah dan wajahnya sudah dibasuh, tapi lelah masih menempel di matanya. Dia melihat Meilin belum tidur.
"Kamu masih menggambar?"
"Baru unggah."
"Di mana?"
"Instagram."
Kevin mengeringkan tangan dengan handuk tipis. "Akunmu yang lama?"
Meilin mengangguk. "Aku bersihkan dulu."
"Bagus."
Satu kata itu membuat Meilin mendongak.
Kevin tampak tidak sadar bahwa komentarnya memiliki efek sebesar itu. Dia hanya duduk di lantai, membuka amplop bayaran dari pekerjaan malam, lalu menghitung beberapa lembar uang dengan cepat.
"Besok aku isi token," katanya.
"Jangan semua."
Kevin berhenti.
Meilin menyesal begitu kata itu keluar. Dia mengambil ponsel dan mengetik, tapi Kevin sudah menunggu jawabannya dengan tatapan datar.
"Maksudku," ucap Meilin hati-hati, "sisakan untuk makan. Listrik bisa sedikit dulu."
"Kamu biasanya minta kamar terang sampai pagi."
"Mulai sekarang tidak."
Kevin menatapnya, lalu kembali menghitung uang.
"Kamu mau makan apa besok?"
Pertanyaan itu sederhana. Terlalu sederhana. Tapi bagi Meilin, rasanya seperti pintu kecil yang terbuka. Kemarin Kevin bahkan menganggap setiap kata baik darinya sebagai jebakan. Sekarang dia bertanya tentang makanan besok.
"Apa yang murah?"
"Nasi telur."
"Kalau begitu nasi telur."
"Tiga hari berturut-turut?"
Meilin mencoba tersenyum kecil. "Selama ada telur, itu sudah mewah."
Kevin menatapnya lagi. Kali ini agak lama.
"Kamu benar-benar aneh."
"Aku tahu."
"Bukan pujian."
"Tapi bukan makian juga."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Kevin bergerak sedikit. Bukan senyum penuh. Hanya perubahan kecil yang hampir hilang sebelum Meilin sempat yakin. Tapi dia melihatnya.
Jantungnya langsung terasa ringan.
Keesokan paginya, token listrik terisi sedikit.
Lampu menyala kembali, kipas tua berputar dengan suara kasar, dan Meilin bisa melihat kamar itu lebih jelas. Cahaya justru membuat semuanya tampak lebih menyedihkan. Cat dinding mengelupas. Ada noda lembap dekat plafon. Sprei tipis mereka sudah pudar.
Tapi setidaknya sekarang dia bisa bekerja.
Kevin berangkat setelah minum air putih dan makan setengah porsi nasi telur. Sebelum keluar, dia melirik buku sketsa di meja.
"Kalau ada yang tanya harga, jangan jawab terlalu cepat."
"Kenapa?"
"Orang menawar lebih rendah kalau tahu kamu butuh uang."
Meilin menyimpan kalimat itu dalam kepala. "Baik."
Kevin sudah hendak membuka pintu ketika Meilin memanggilnya, "Ko..."
Dia berhenti.
Meilin ikut membeku.
Panggilan itu keluar begitu saja. Dalam ingatan tubuh ini, kata Koko terasa akrab, tapi di antara mereka sekarang, terlalu banyak luka untuk membuatnya terdengar ringan.
Kevin menoleh perlahan.
"Apa?"
Meilin menggenggam ujung bajunya. "Hati-hati."
Kevin tidak langsung menjawab. Matanya turun ke wajah Meilin, lalu ke tangannya yang meremas kain. Sejenak kemudian, dia hanya berkata, "Kunci pintu."
Namun suaranya tidak setajam biasanya.
Setelah Kevin pergi, Meilin kembali ke meja. Dia menggambar beberapa benda kecil untuk latihan: cangkir retak, botol air, sandal Kevin di dekat pintu. Tangannya semakin lancar. Dia memotret prosesnya, mengunggah story singkat, lalu menunggu.
Tidak ada yang terjadi selama satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Meilin hampir menertawakan dirinya sendiri. Tentu saja tidak semudah itu. Di dunia mana orang baru mengunggah satu sketsa lalu langsung mendapat uang?
Ponselnya berbunyi saat dia sedang mencuci mangkuk.
Satu notifikasi Instagram.
Seseorang menyukai sketsanya.
Lalu satu lagi.
Komentar pertama masuk dari akun tanpa foto wajah.
Bagus banget. Vibes-nya sedih tapi hangat.
Meilin menatap layar seperti baru mendapat hadiah besar. Dia duduk di lantai, membalas dengan ucapan terima kasih, lalu menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.
Sore harinya, Kevin pulang lebih cepat dari kemarin untuk mengambil charger yang tertinggal. Dia menemukan Meilin duduk di lantai dengan buku sketsa di pangkuan dan ponsel di sampingnya.
"Ada apa?"
"Ada yang like."
Kevin meletakkan tas. "Satu?"
"Tiga belas."
"Itu membuatmu senang?"
"Iya."
Kevin melihat layar ponselnya. Meilin menunjukkan unggahan itu dengan hati-hati. Ada belasan likes, dua komentar, dan satu akun yang menyimpan postingannya.
Kevin tidak tertawa.
Dia justru memperbesar gambar sketsa itu, mengamati detailnya, lalu berkata pelan, "Garis bahunya bagus."
Meilin menatapnya.
"Kamu mengerti gambar?"
"Aku mengerti ketika sesuatu terlihat hidup."
Kalimat itu membuat pipi Meilin memanas.
Kevin sepertinya juga menyadari bahwa dia baru saja memberi pujian terlalu jelas. Dia segera mengambil charger dari meja dan mengalihkan pandangan.
"Kalau unggah proses, kecilkan resolusinya," ucapnya setelah beberapa detik. "Simpan file asli. Kasih tanda tangan kecil di sudut. Orang di internet bisa ambil gambar tanpa izin."
Meilin berkedip.
"Kamu tahu soal begitu?"
"Aku kerja dengan data dan produk digital. Pencurian konten bukan hal baru."
Meilin segera menulis di catatannya.
Kevin melirik. "Apa lagi yang kamu tulis?"
"Jangan pasang harga terlalu murah. Jangan unggah file asli. Tanda tangan di sudut."
Dia tidak tahu apakah Kevin sadar, tapi nasihat-nasihat pendek itu membuat rencananya terasa lebih nyata daripada sekadar keberanian mendadak.
Saat itulah Meilin melihatnya lagi.
Bekas luka di dekat telinga Kevin, tiga sentimeter, tampak lebih jelas saat rambut basahnya tersibak. Garis tipis itu seperti menahan cerita yang belum boleh dia sentuh.
Meilin menahan keinginan untuk bertanya. Kali ini, dia hanya mengambil catatan kecil dan menulis satu hal baru di bawah daftar rencananya.
Beli salep bekas luka kalau sudah ada uang.
Ponselnya berbunyi lagi.
Kali ini bukan like.
Sebuah pesan masuk ke DM Instagram.
Halo, Kak. Sketsa seperti ini bisa dipesan? Saya mau beli satu untuk hadiah ulang tahun.
Meilin membaca pesan itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Di depan meja kecil yang masih penuh bekas hidup susah, matanya tiba-tiba terasa panas.
"Kevin," panggilnya lirih.
Pria itu belum sempat keluar. "Apa?"
Meilin mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar.
"Ada yang mau beli gambarku."