Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAHAYA DATANG
Udara subuh masih terasa dingin. Kabut tipis menyelimuti desa ketika suara gedoran keras tiba-tiba terdengar dari salah satu rumah warga.
Brak!
Brak!
"Oh tidak dia berhasil masuk!"
Suara seorang pria terdengar panik dari dalam rumah. Semua orang di dalam rumah segera bersembunyi.
Tak lama kemudian, sosok bertubuh besar keluar dari rumah tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tertutup kain lusuh, sementara pakaiannya dipenuhi lumpur dan bercak yang sulit dikenali dalam gelapnya pagi.
Ia kembali melangkah. Rumah demi rumah mulai diperiksanya. Setiap kali tidak menemukan orang yang dicarinya, ia langsung keluar dan menuju rumah berikutnya.
Melihat itu, beberapa warga yang mengintip dari balik jendela langsung berlari diam-diam melewati gang kecil. Mereka menuju rumah Pak Kades.
Tok! Tok! Tok!
"Pak Kades! Pak Kades!"
Pak Kades yang masih terjaga segera membuka pintu.
"Ada apa?"
"Makhluk itu... Huh... datang," ucap seorang warga yang tampak terengah-engah. Wajah Pak Kades langsung berubah serius.
"Dia sedang memeriksa rumah-rumah warga. Sekarang sudah sampai di rumah Bu Rina. Setelah itu pasti menuju ke sini," lanjut orang itu.
Deg!
"Lia!" panggil Pak Kades. Istrinya yang baru keluar kamar langsung menghampiri.
"Kenapa, Pak?" tanyanya.
"Bangunkan ketiga anak itu. Cepat, karena makhluk itu sedang menuju ke sini."
Lia mengangguk. Ia segera berlari menuju kamar tempat Aleta, Aura, dan Viana beristirahat.
Tok! Tok! Tok!
"Aleta! Aura! Viana! Bangun! Cepat bangun!"
Ketiganya langsung tersentak dari tidurnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Aura dengan suara serak.
"Makhluk itu sedang mencari kalian."
"Hah?!" pekik Viana terkejut.
"Saat ini dia sedang memeriksa rumah warga satu per satu. Sebentar lagi dia akan sampai di sini."
Mendengar itu, kantuk mereka langsung hilang seketika. Aleta segera turun dari ranjang untuk membuka pintu, lalu disusul Aura dan Viana. Wajah mereka masih dipenuhi kebingungan, tetapi melihat raut panik Lia, mereka sadar situasinya tidak bisa dianggap sepele.
"Ikut Ibu, cepat," bisik Lia.
Ketiganya segera keluar dari kamar. Di ruang tamu, Pak Kades telah menunggu sambil membawa sebuah tas kecil berisi bekal dan selembar peta yang sudah dilipat rapi.
"Ini jalan menuju rumah dukun," ucapnya seraya menyerahkan peta itu kepada Aleta. "Ikuti jalur yang sudah kutandai. Jangan keluar dari jalan setapak."
Aleta menerima peta tersebut.
"Lalu bagaimana dengan Bapak dan Ibu?" tanya Aura cemas.
Pak Kades tersenyum tipis.
"Kami akan mencari tempat bersembunyi. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami."
Pak Kades langsung membuka pintu belakang.
"Cepat pergi! Jangan pedulikan apapun dan siapapun yang menghalangi kalian ke rumah itu!"
Ketiganya saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya berlari keluar melalui pintu belakang. Lia segera menutup kembali pintu tersebut agar tidak meninggalkan jejak.
Mereka baru saja melewati halaman belakang ketika...
Brak!
Suara benturan keras terdengar dari arah depan rumah. Aura refleks menoleh.
"Jangan!" bisik Aleta sambil menarik pergelangan tangannya. "Terus lari!"
Brak!!
Benturan kedua terdengar lebih keras. Ketiganya mempercepat langkah menyusuri jalan setapak di belakang rumah warga hingga akhirnya memasuki area hutan.
Sementara itu...
Brak!!
Pintu rumah Pak Kades akhirnya jebol. Sesosok bayangan tinggi memasuki rumah yang masih gelap. Langkahnya perlahan menyusuri setiap sudut ruangan. Mulai dari Ruang tamu, dapur, kamar, tapi tidak ada siapa pun. Rumah itu kosong.
Di sisi lain, Pak Kades dan Lia bersembunyi di balik tumpukan jerami di gudang kecil belakang rumah. Keduanya menahan napas, bahkan tak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Beberapa saat kemudian, bayangan itu keluar dari rumah tanpa menemukan siapa yang dicarinya. Barulah Pak Kades mengembuskan napas lega.
...****************...
Sementara itu, Aleta, Aura, dan Viana terus berlari mengikuti petunjuk pada peta. Langkah mereka mulai melambat ketika langit perlahan berubah jingga.
"Gue capek..." keluh Viana sambil memegang lututnya.
"Bentar lagi," jawab Aleta tanpa menghentikan langkah.
Mereka kembali berjalan. Suasana hutan masih sepi. Hanya suara dedaunan yang tertiup angin dan kicauan burung yang mulai terdengar menyambut pagi.
Kriiik...
Suara ranting patah terdengar dari balik pepohonan. Ketiganya langsung menghentikan langkah. Aura menoleh ke kanan.
"Tadi kalian dengar?"
Viana mengangguk pelan.
"Ayo jalan lagi," ujar Aleta.
Mereka kembali melangkah. Belum sampai sepuluh langkah...
Sst...
Suara lain terdengar dari arah semak-semak. Viana langsung merapat ke Aura.
"I-itu suara apa?" tanya Viana dengan sedikit gemetar.
"Gue gak tau," bisik Aura.
"Jangan peduliin suara-suara itu. Ingat kata pak kades," bisik Aleta mengingatkan.
"Jangan pedulikan apapun dan siapapun yang menghalangi kalian ke rumah itu," ucap Viana mengulangi pesan Pak kades tadi.
Ketiganya pun mengabaikan suara-suara tersebut dan terus berjalan. Beberapa kali mereka kembali mendengar suara langkah, bisikan samar yang terbawa angin, hingga suara benda jatuh dari kejauhan. Meski membuat bulu kuduk meremang, ketiganya memilih untuk tidak mencari sumber suara itu.
Ketiganya terus menyusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di sebuah persimpangan. Di depan mereka terdapat dua jalur yang berbeda. Sebuah papan penunjuk arah berdiri di tengah persimpangan, tetapi tulisannya sudah mulai pudar dimakan usia. Aleta membuka peta pemberian Pak Kades.
"Kalau sesuai peta, kita ambil jalan ini."
Tanpa ragu, mereka bertiga berjalan mengikuti jalur di sebelah kiri.
Belum sampai lima menit berjalan, Viana tiba-tiba melihat seorang pria paruh baya berjalan dari arah berlawanan. Pria itu mengenakan pakaian lusuh sambil memanggul cangkul di bahunya.
"Kalian mau ke mana?" tanyanya ramah.
"Ke rumah dukun, Pak," jawab Viana yang tak kalah ramah.
"Rumah dukun? Yakin lewat sini?" Pria itu langsung mengernyit.
"Iya."
"Lho, salah, Nak. Kalau mau ke rumah dukun harusnya ke arah barat."
Deg!
Viana langsung membelalakkan matanya.
"Jadi... kami salah jalan?" tanyanya dan langsung diangguki oleh pria tua itu.
"Eh... Bapak sendiri habis dari mana?"
"Dari kuburan."
Glek!
Viana menelan ludah. Pria itu tersenyum tipis saat menangkap perubahan ekspresi Viana.
"Ya sudah, saya lanjut dulu."
"I-iya... Makasih ya, Pak."
Pria itu pun berjalan melewati mereka. Viana segera membalikkan badan.
"Ta! Au! Kita salah jalan! Gimana, dong? Huaaa..."
Bukannya panik, Aleta dan Aura hanya menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Lo habis ngomong sama siapa?" tanya Aura.
"Hah?"
"Lo dari tadi ngomong sendiri," ucap Aleta datar.
Deg!
Tubuh Viana langsung menegang. Ia perlahan menoleh ke belakang. Pria yang tadi berbicara dengannya sudah menghilang entah ke mana.
"Kita harus gimana? Kembali atau lanjut berjalan?" tanya Aura.
"Kalau lanjut, kita akan sampai di kuburan. Yang tadi aja seram banget, apalagi kalo ke pusatnya. Pasti lebih banyak hantu di sana," ujar Viana heboh.
"Lanjut," ucap Aleta dingin sambil melangkah.
"Hah?"
"Yakin Ta?" tanya Aura.
"Untuk saat ini, kita nggak bisa percaya siapapun kecuali peta pemberian Pak Kades. Tapi kalian berdua juga bisa percaya pada insting gue," ucap Aleta, diakhiri nada sombong.
Aura dan Viana saling menatap, hingga akhirnya mengangguk setuju. Ketiganya kembali melangkah, kali ini lebih cepat. Hingga akhirnya, sinar matahari mulai menembus sela-sela pepohonan. Langit telah benar-benar terang.
Di depan mereka, tampak sebuah rumah kayu sederhana berdiri di tengah kebun yang dipenuhi berbagai tanaman obat.
"Asap..." gumam Aura begitu melihat asap tipis mengepul dari cerobong rumah itu.
"Itu pasti rumah dukun," ucap Aleta sambil melihat peta di tangannya.
Viana mengembuskan napas lega. "Akhirnya..."
Baru saja mengucapkan kata itu, kedua lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya perlahan oleng ke belakang, seolah seluruh beban yang sedari tadi ditahannya langsung menghilang.
"Eh... eh..."
Hap!
Aura dan Aleta yang sudah hafal dengan kebiasaan itu langsung sigap menopang tubuh Viana sebelum benar-benar jatuh.
"Heh," desah Aura sambil memutar bola matanya. "Kebiasaan."
Viana hanya terkekeh pelan.
"Hehe... Kaki gue suka lemas kalau tahu tujuan sudah di depan mata."
Aura menghela napas panjang.
"Kalau gue sama Aleta telat sedikit, kepala lo pasti udah menghantam tanah."
"Kan belum," ucap Viana santai.
"Iya, karena keburu ditangkap."
Viana hanya nyengir lebar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Ketiganya lalu melangkah mendekati rumah kayu sederhana itu. Halamannya dipenuhi berbagai tanaman obat dengan aroma khas yang langsung tercium begitu mereka memasuki pagar bambu.
Rumah itu tampak tua, tetapi sangat terawat. Di terasnya tergantung beberapa ikat tanaman yang sedang dijemur, sementara di sudut halaman terdapat rak kayu berisi botol-botol ramuan. Viana berjalan paling depan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
Krek...
Pintu perlahan terbuka. Terlihat dua anak perempuan dan laki-laki yang wajahnya nyaris identik berdiri di balik pintu. Keduanya tampak berusia sekitar sembilan tahun.
"Kembar?" Viana sempat mengedip beberapa kali. Kedua bocah itu tersenyum bersamaan.
"Iya," ucap keduanya kompak. Viana ikut tersenyum.
"Hai! Ini benar rumah dukun yang terkenal itu, kan?"
"Benar!" jawab keduanya kompak. "Silakan masuk!"
"Makasih!" Tanpa sungkan, Viana langsung melangkah masuk.
"Ayo masuk!" ajak Viana sambil menoleh ke arah Aleta dan Aura. Keduanya saling berpandangan sejenak dengan ekspresi bingung. Namun pada akhirnya, keduanya tetap mengikuti Viana memasuki rumah itu.
Begitu masuk, aroma dupa dan tanaman obat langsung memenuhi indra penciuman mereka. Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh ruangan. Berbagai botol berisi ramuan, akar-akaran yang dikeringkan, hingga buku-buku tua tersusun rapi di setiap sudut.
Di tengah ruangan, seorang pria tampak duduk bersila membelakangi mereka. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut. Matanya terpejam rapat, seolah sedang memanjatkan doa atau bermeditasi.
kedua anak tadi duduk di sampingnya lalu membisikkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, pria itu perlahan membuka matanya. Ia bangkit dengan tenang lalu menoleh ke arah mereka.
Deg!
mana dipanggil honey lagi /Doge/