Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Sisa Harga Diri
Shaquena menerobos kerumunan wartawan. Tangannya gemetar saat merengkuh bahu Zoya yang sedingin es. Menantunya itu tergeletak tak sadarkan diri semenjak hakim mengetukkan palu, menjatuhkan vonis lima belas tahun penjara untuk Samuel.
Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, seluruh rekening mereka dibekukan atas dalih penyelidikan dana. Orang-orang suruhan Sebastian menyapu bersih apartemen Samuel. Koper-koper pakaian mereka dilempar begitu saja ke trotoar basah. Telepon Shaquena ke puluhan kerabat dan kolega hanya dijawab dengan nada sibuk. Mahendra Group benar-benar menyumbat rapat semua celah.
Wanita yang selama sepuluh tahun mengendalikan triliunan rupiah di balik meja mahoni itu, kini harus menyeret koper tuanya menembus gang berbau selokan demi menyewa kamar kos beratap seng bocor.
Kondisi Zoya memburuk drastis. Malam itu, rentetan batuk keras merobek kesunyian kamar. Shaquena bergegas membawa segelas air hangat ke kasur lantai. Di bawah kedipan lampu neon lima watt, pandangannya membeku menatap noda merah pekat pada saputangan di mulut Zoya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," bisik Shaquena, menyeka keringat sebesar biji jagung dari dahi Zoya yang membara.
Tangannya spontan meraba leher. Kalung mutiara terakhir. Malam itu juga, ia menggadaikan barang berharga satu-satunya itu seharga recehan demi membayar uang muka bangsal kelas tiga di pinggiran Jakarta.
Bau tajam karbol dan keringat menguap di udara bangsal yang pengap. Ranjang besi reyot berderit setiap kali Zoya bergerak. Selang infus menancap pada nadi menantunya yang kini membiru setipis ranting kering. Infeksi paru-paru akut dan kelelahan ekstrem. Tagihan rumah sakit menguras habis uang gadai kalung hanya dalam enam hari.
Di kursi plastik usang, Shaquena mematung mendekap Sherina yang tidur gelisah kepanasan.
Di atas ranjang, Zoya menoleh lambat. Kelopak matanya cekung menghitam. Tangannya yang bergetar hebat terangkat, menyentuh lutut Shaquena dengan jari-jari sedingin es. Napas wanita muda itu terdengar serak di pangkal tenggorokan.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak bisa bertahan lebih lama."
Shaquena meraih tangan kurus itu, menekannya ke pipi yang sudah basah. "Jangan bicara begitu, Nak. Mama akan cari jalan. Mama cari pinjaman lagi. Kamu harus sembuh demi Samuel. Demi Sherina."
Zoya menggeleng pelan. Senyum rapuh terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Tatapan sayunya beralih pada Sherina. Dengan sisa tenaga penghabisan, ia mengusap puncak kepala bayi mungil itu.
Dada Zoya terangkat saat menarik napas panjang, lalu perlahan mengembuskannya. Sentuhan tangannya di lutut Shaquena merosot jatuh.
Shaquena merengkuh tubuh menantunya erat-erat, menekan wajah ke dada yang tak lagi berdetak. Raungannya tertahan di kerongkongan.
Kepergian Zoya menggerus sisa harga diri Shaquena. Bayi mungil dalam dekapannya adalah satu-satunya jangkar kewarasan yang menahannya dari menenggak racun serangga.
Untuk menutupi biaya pemakaman sederhana, sisa barang berharga ludes terjual. Shaquena beralih menjadi buruh jahit konveksi rumahan demi setumpuk popok dan kaleng susu formula termurah.
Siang malam ia membungkuk di depan mesin jahit tua pinjaman ibu kos. Berkali-kali jarum jahit menembus telunjuknya saat kantuk mengaburkan pandangan. Namun, uang receh itu seakan menguap tanpa sisa.
Susu formula murah menghancurkan pencernaan Sherina. Sistem imun bayi itu merosot tajam, berganti dengan demam tinggi yang kerap datang tiba-tiba.
Malam itu badai menghantam ibu kota. Angin kencang mengguncang atap seng yang bocor.
Shaquena baru memutus benang di kancing terakhir ketika tangisan serak Sherina pecah. Ia melempar kemeja di pangkuan, merangkak cepat menuju kasur lantai. Telapak tangannya menyentuh kening sang cucu, yang terasa panas layaknya bara api.
Napas Sherina berbunyi pendek. Dadanya naik-turun tak wajar. Bibir mungil itu membiru pekat, disusul sepasang bola mata yang berputar ke atas.
Bayi itu kejang hebat.
Akal sehat Shaquena menguap. Ia menyambar selimut tipis, membalut rapat tubuh cucunya yang bergetar keras, lalu berlari menerjang badai.
Sandal jepitnya putus di tengah jalan. Aspal rusak mengelupas telapak kakinya, tapi ia tak peduli. Hujan menderas bagai ribuan jarum yang menusuk punggung, berbaur dengan air matanya. Ia memeluk erat sang cucu, berusaha meredam panas yang tak kunjung turun.
"Bertahanlah, Sayang... Nenek mohon," racaunya di sela deru badai. Langkahnya terpincang-pincang menembus genangan lumpur.
Napasnya nyaris putus saat neon merah bertuliskan Klinik Medis 24 Jam menyala samar di pertigaan. Shaquena mendobrak pintu kaca klinik hingga berderak. Air menetes deras dari rambut dan pakaian lepeknya, membasahi keramik putih ruang tunggu.
"Tolong!" teriaknya parau. "Tolong cucu saya!"
Perawat di meja pendaftaran terlonjak kaget, namun langkahnya tertahan saat melihat pakaian lusuh dan kaki telanjang Shaquena yang berlumpur.
"Bawa bayinya ke ruang tindakan," ujar perawat itu dengan nada datar, menunjuk ruangan di sebelah kanan. "Biar dokter jaga periksa. Ibu bawa KTP dan kartu BPJS?"
Shaquena membaringkan Sherina di ranjang periksa. Bayi itu masih kejang. Dokter jaga bergegas masuk, menyorot pupil Sherina dengan senter kecil.
"Suhu empat puluh derajat. Injeksi penurun panas dan oksigen murni, sekarang!" Dokter itu menoleh ke perawat. "Siapkan alatnya. Selesaikan administrasi dengan ibu ini."
Perawat itu menghampiri Shaquena membawa papan dada. Wajahnya kaku. "Injeksi dan oksigen harus dibayar di depan, Bu. Ini di luar BPJS. Ibu ada uang muka lima ratus ribu?"
Lutut Shaquena goyah. Lima ratus ribu. Upah menjahitnya yang ditahan mandor minggu ini tak sampai seratus ribu, dan sisa recehannya sudah habis untuk semangkuk bubur kemarin.
"Saya tidak bawa uang malam ini, Suster," Shaquena mencengkeram lengan baju perawat itu dengan tangan gemetar. "Tolong suntik cucu saya dulu. Besok pagi pasti saya lunasi! Saya bersumpah akan cari pinjaman. Nyawa cucu saya dalam bahaya!"
Perawat itu menepis tangannya, menatap jijik noda air kotor di lengannya. "Maaf, Bu, aturan manajemen. Klinik ini swasta, bukan panti sosial. Tanpa uang muka masuk ke sistem komputer, rak farmasi terkunci otomatis."
Tanpa berpikir panjang, Shaquena menjatuhkan diri. Lututnya menghantam lantai keramik dengan keras. Ia bersujud tepat di ujung sepatu hak perawat dan dokter jaga.
Wanita paruh baya yang dulu keputusannya mampu mengguncang bursa saham ibu kota itu, kini menggosokkan dahi ke lantai demi memohon sebotol obat penurun panas.
"Tolong..." Suaranya pecah menjadi rintihan. "Ambil ginjal saya sebagai jaminan. Kornea mata saya, apa pun! Selamatkan cucu saya!"
Dokter jaga membuang napas berat, menatap setengah iba namun enggan melanggar aturan. "Bawa ke RSUD di ujung jalan raya besar, Bu. Pihak IGD di sana bisa menangani pasien tanpa biaya awal. Kami sungguh tidak punya otorisasi mengeluarkan alat medis."
Perawat itu menyodorkan kembali tubuh Sherina ke tangan Shaquena, secara halus mengusir mereka dari ruang tindakan.
Dunia mendadak senyap. Detak jarum jam dinding seolah berhenti.
Dengan sisa tenaga, Shaquena bangkit dan kembali memeluk erat tubuh mungil cucunya ke dada.
Namun, ada yang aneh.
Kejang itu sudah berhenti. Bayi dalam dekapannya diam terlampau tenang. Panas yang membara tadi perlahan menguap, tergantikan oleh hawa dingin yang kaku.
Shaquena menunduk. Bibir mungil itu membiru pucat. Kelopak matanya terpejam rapat.
Tidak ada lagi pergerakan naik-turun di dada kecil itu. Suara napas sesak yang menyiksa sejak tadi hilang tak berbekas tertiup angin malam.
Sherina telah berhenti bernapas dalam pelukannya.