Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Persiapan Senjata
Dua puluh lima hari lagi, Kevin akan mati.
Tetapi sebelum membunuh orang, Hendry harus memastikan dirinya tidak mati lebih dulu.
Stockpile makanan membuatnya punya takhta. Uang dan logistik memberinya pondasi. Namun di hari pertama kiamat, ketika delapan puluh persen manusia berubah menjadi zombie, takhta tidak akan berarti jika ia tidak punya sesuatu untuk menghancurkan kepala musuh di depan mata.
Pagi setelah makan siang dengan Kevin, Hendry tidak membalas email Ferry.
Draft surat kuasa itu benar-benar masuk pukul 08.12. Judulnya rapi: Limited Procurement Authority Assignment. Bahasa hukumnya bersih, penuh kata "sementara", "pengawasan", "kepentingan perusahaan", dan "perlindungan aset".
Hendry hanya membaca satu kali.
Lalu ia memindahkannya ke folder bernama Sampah.
Setelah itu, ia membuka daftar lain.
Senjata.
Di Indonesia lama, mendapatkan senjata api bukan perkara datang ke toko lalu memilih model. Izin sipil rumit, jalur resmi diawasi, dan barang ilegal selalu membawa risiko lebih besar daripada manfaat. Itulah sebabnya Hendry tidak pernah berharap banyak dari dunia sebelum kiamat.
Ia hanya butuh sedikit.
Tiga pistol.
Dua senapan berburu.
Dua ratus peluru.
Cukup untuk hari pertama, cukup untuk keadaan darurat, cukup untuk membuat Kevin dan Ferry mengerti bahwa pintu yang mereka tutup dulu bisa dibuka dari sisi lain dengan suara ledakan.
Kontak itu ia dapat dari ingatan kehidupan sebelumnya.
Di tahun kedua kiamat, seorang penyintas mabuk pernah membual di depan api unggun tentang gudang gelap di pinggir Jakarta Utara. Sebelum dunia runtuh, tempat itu menjual "barang sitaan yang hilang di jalan" kepada orang kaya yang tidak suka bertanya. Sebagian berasal dari kolektor ilegal. Sebagian dari oknum yang namanya lebih baik tidak disebut.
Di kehidupan lama, informasi itu terlambat berguna.
Kali ini, tidak.
Pertemuan dilakukan di sebuah bengkel tua dekat kawasan pelabuhan, sore hari, ketika hujan tipis membuat jalanan licin dan bau oli naik dari lantai beton. Pintu rolling door setengah tertutup. Di dalam, tiga motor rusak, dua mesin mobil, dan seorang pria kurus berkaus hitam berdiri di samping meja besi.
Pria itu tidak menyebut nama.
Hendry juga tidak bertanya.
"Lu yang cari barang?" tanya pria itu.
"Tergantung barangnya."
"Kalau cari mainan, salah tempat. Kalau cari masalah, tempatnya benar."
Hendry meletakkan tas kecil di atas meja. Di dalamnya ada uang tunai dan satu ponsel baru yang belum terhubung ke identitas pribadinya.
"Saya cari barang kecil. Tidak banyak. Tidak ada pengulangan transaksi."
Pria itu menyipit. "Orang kaya biasanya serakah."
"Orang hidup tahu batas."
Mata pria itu bergerak ke wajah Hendry, mencoba menebak apakah ini polisi, orang bodoh, atau anak konglomerat yang terlalu banyak menonton film.
Hendry membiarkan dirinya terlihat sebagai yang ketiga.
Lebih aman begitu.
Pria itu membuka peti kayu di bawah meja.
Di dalamnya, dibungkus kain berminyak, ada tiga pistol hitam, dua senapan berburu yang tampak tua tapi terawat, dan beberapa kotak amunisi. Tidak mengilap. Tidak dramatis. Barang-barang itu justru terlihat jelek, dingin, dan nyata.
"Tiga pistol. Dua shotgun. Dua ratus peluru campuran. Jangan tanya asal. Jangan tanya nama. Jangan pakai di kota sebelum keadaan benar-benar kacau."
"Harga?"
Pria itu menyebut angka yang bisa membeli satu rumah kecil di pinggiran Jakarta.
Hendry tidak menawar.
Pria itu justru tampak tidak nyaman.
"Lu tahu cara pakai?"
"Cukup."
"Cukup itu bikin orang mati."
"Memang itu tujuannya."
Hening sebentar.
Pria itu tertawa pelan. "Gue mulai nggak suka lu."
"Bagus. Berarti kita tidak perlu berteman."
Transaksi selesai dalam tujuh menit.
Saat pria itu berbalik untuk mengecek pintu belakang, Hendry menyentuh peti kayu. Ruang di bawah telapak tangannya beriak tipis. Peti itu lenyap ke dalam Ruang Dimensi tanpa suara.
Ketika pria itu menoleh lagi, meja sudah kosong.
Matanya membesar.
"Barangnya?"
"Orang saya sudah ambil."
"Kapan?"
Hendry mengambil tas kosong dan berjalan ke pintu. "Saat Anda sibuk memastikan saya bukan polisi."
Pria itu ingin bertanya lagi, tetapi uang di meja membuat mulutnya tertutup.
Begitulah manusia lama bekerja.
Uang menutup mata.
Ketakutan menutup mulut.
Senjata api selesai.
Namun Hendry tahu peluru bukan jawaban utama di kiamat. Suara tembakan menarik zombie. Amunisi habis. Laras macet. Tangan gemetar. Dan manusia yang terlalu percaya pistol biasanya mati ketika peluru terakhir berbunyi klik.
Maka dua hari berikutnya ia menghabiskan waktu di pasar perkakas, toko outdoor, dan beberapa gudang alat bela diri.
Parang 30 bilah.
Golok tebal 20 bilah.
Pisau taktis 40 buah.
Kapak kecil, linggis, palu godam, busur, anak panah, crossbow, tali baja, rantai, borgol, senter kepala, dan sarung tangan anti-sayat.
Di sebuah toko alat Pencak Silat, pemilik toko yang sudah beruban memandangnya dengan curiga ketika Hendry membeli tongkat pendek latihan dalam jumlah besar.
"Mau buka perguruan, Mas?"
"Semacam itu."
"Anak muda sekarang biasanya cari yang keren buat konten. Kamu malah beli yang bisa bikin tulang retak."
Hendry mengangkat satu tongkat pendek, menimbang beratnya. Ingatan tubuhnya masih tahu sudut serangan, titik pergelangan, lutut, tenggorokan. Tubuh muda ini belum cukup kuat, tetapi pengalaman dua belas tahun tidak hilang.
"Konten tidak menolong orang saat dikepung."
Pemilik toko terdiam, lalu tertawa kering. "Ucapanmu tua sekali untuk umurmu."
"Saya sering merasa begitu."
Dari sana, ia berpindah ke toko perlengkapan keamanan.
Rompi anti-tikam 10 buah.
Helm taktis ringan.
Kacamata pelindung.
Masker respirator.
Pelindung lutut dan siku.
Sepatu boots.
Jaket tebal yang tidak mudah robek.
Barang-barang itu tidak membuat seseorang tak terkalahkan. Namun melawan zombie level terendah, satu gigitan yang gagal menembus kain bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
Hendry tidak percaya keberuntungan.
Ia membeli lapisan kedua untuk menggantikan keberuntungan.
Pada hari ketiga, di sebuah gudang ekspedisi pinggir kota, ia bertemu Yanto Pratama.
Awalnya, Yanto hanya sopir truk yang disewa toko untuk mengantar peti perlengkapan ke alamat sementara. Pria itu berkulit sawo matang, tubuhnya tidak besar, tetapi gerakannya cepat. Ia mengangkat kotak berat dengan teknik yang benar, bukan sekadar tenaga kasar. Ketika salah satu buruh hampir menjatuhkan peti berisi parang, Yanto bergerak lebih dulu.
Tangannya menangkap sudut peti.
Kakinya mundur setengah langkah.
Peti itu tidak jatuh.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Hendry memperhatikan dari samping mobil.
Di kehidupan sebelumnya, orang seperti itu hidup lebih lama daripada orang kuat yang ceroboh.
"Mas, ini alamatnya bener?" Yanto mendekat sambil memegang surat jalan. "Gudang kosong di Kebayoran?"
"Benar."
"Barangnya banyak banget. Mau renovasi rumah atau buka toko?"
"Persiapan."
Yanto melirik daftar muatan: parang, rompi, helm, alat camping, tali, senter. Matanya berhenti sebentar, tetapi ia tidak bertanya berlebihan.
Bagus.
Orang yang tahu kapan harus diam lebih berguna daripada orang yang banyak gaya.
"Nama kamu Yanto?" tanya Hendry.
"Iya, Pak. Yanto Pratama."
"Bisa nyetir truk besar?"
"Bisa. Truk engkel, fuso, trailer pendek. Selama mesinnya sehat, saya bisa bawa."
"Kalau diminta kerja mendadak malam hari?"
Yanto mengangkat bahu. "Asal bayarannya jelas dan bukan nyuruh saya masuk penjara, bisa dibicarakan."
Hendry tersenyum tipis. "Masuk penjara tidak. Mungkin masuk masalah."
"Masalah ukuran apa dulu, Pak?"
"Ukuran Jakarta."
Yanto menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ada kilatan waspada di wajah sopir itu. Bukan takut. Mengukur.
Hendry suka itu.
Ia mengeluarkan kartu nama tanpa logo perusahaan utama, hanya nomor pribadi baru.
"Simpan. Beberapa hari lagi saya mungkin butuh driver yang bisa bergerak cepat dan tidak banyak tanya."
Yanto menerima kartu itu. "Kalau bayarannya masuk akal, saya angkat telepon."
"Bayarannya akan lebih dari masuk akal."
"Kalau begitu, saya usahakan tetap hidup sampai telepon itu datang."
Kalimat itu membuat Hendry berhenti setengah detik.
Yanto hanya bercanda.
Namun di telinga Hendry, itu terdengar seperti ramalan kecil.
"Usahakan benar-benar," kata Hendry.
Sore itu, semua peti masuk ke gudang sementara. Begitu Yanto dan buruh pergi, Hendry menutup pintu, berdiri sendirian di antara bau kayu, besi, kain pelindung, dan oli senjata.
Ruang Dimensi terbuka.
Peti pistol masuk.
Senapan masuk.
Kotak peluru masuk.
Parang, golok, pisau, busur, crossbow, rompi, helm, sarung tangan, boots, semua masuk satu demi satu. Di dalam ruang gelap, tumpukan makanan tetap diam seperti gunung. Kini di sisi lain, senjata dan perlengkapan tersusun seperti gudang perang kecil.
Makanan.
Obat.
Alat.
Senjata.
Empat pilar pertama telah berdiri.
Malam hari keempat, Hendry kembali ke villa Cluster Pondok Indah. Ia mengunci pintu ruang kerja, menyalakan satu lampu meja, lalu membuka daftar perlengkapan di laptop.
Pistol: 3.
Peluru: 200.
Senapan berburu: 2.
Parang: 30.
Pisau taktis: 40.
Rompi anti-tikam: 10.
Helm, sarung tangan, goggles, boots, alat outdoor: lengkap.
Kontak potensial: Yanto Pratama.
Ia menyimpan file itu, lalu menutup mata dan masuk dengan kesadaran ke Ruang Dimensi.
Di sana, semuanya diam.
Terlalu diam.
Hendry hendak menarik keluar satu parang untuk melatih kecepatan ambil-simpan ketika seluruh ruang gelap itu tiba-tiba bergetar.
Getarannya tidak besar, tetapi sangat jelas.
Gunung beras tidak bergerak. Peti senjata tidak bergeser. Namun di bagian terdalam Ruang Dimensi, jauh di balik tumpukan barang, muncul satu titik cahaya.
Kecil.
Pucat.
Seperti bara api yang hidup di tengah kegelapan tanpa udara.
Hendry membuka mata.
Lampu meja di ruang kerja berkedip sekali.
Jantungnya berdetak lebih lambat, bukan lebih cepat.
Di kehidupan sebelumnya, Ruang Dimensi tidak menunjukkan tanda seperti ini sampai jauh setelah kiamat dimulai.
"Menarik," bisiknya.
Ia mengangkat telapak kanan. Riak transparan muncul, lebih stabil daripada sebelumnya.
Ruang Dimensi bergetar lagi.
Titik cahaya itu belum meledak.
Belum.
Tapi ia sedang tumbuh.
Hendry menatap hitungan mundur di layar laptop.
20 hari.
Dunia masih tidur.
Namun kemampuannya sudah mulai bangun lebih dulu.