NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela dapur, memantulkan debu-debu halus yang menari di udara. Suasana rumah Kiai Ahmad Bashir yang biasanya tenang, kini terasa sedikit lebih "hidup". Aroma gurih santan yang mendidih dengan bumbu rempah tradisional menyeruak, memenuhi setiap sudut ruangan.

Di dapur, Bella tampak begitu lincah. Tidak ada lagi sisa-sisa "Bella" si wanita malam yang ketakutan. Dengan mukena yang bagian bawahnya diikat rapi agar tak mengganggu gerak, dan celemek pinjaman dari Umi, ia memotong sayuran dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah bertahun-tahun bergelut di dapur.

Umi Fatimah memperhatikan dari meja makan dengan senyum yang tak kunjung hilang. "Masya Allah, Bella. Kamu ini tangkas sekali. Umi saja kalah cepat," puji Umi tulus.

Bella tersenyum canggung, wajahnya sedikit merona. "Dulu... dulu sering bantu Ambu di dapur, Mi," jawabnya pelan. Nama 'Ambu' (Ibu dalam bahasa Sunda) keluar begitu saja, membawa setitik perih di hatinya.

Tak lama, Fatih turun dengan baju koko abu-abu yang rapi. Langkahnya terhenti sejenak melihat pemandangan di meja makan. Bella sedang menata piring dengan cekatan. Ada sesuatu yang janggal dalam pikiran Fatih; bagaimana mungkin seorang wanita yang ia anggap "kotor" bisa terlihat begitu natural di depan kompor dan ulekan?

Fatih duduk di kursi biasanya. Bella, dengan tangan yang sedikit gemetar, duduk di samping suaminya. Ia mengambil piring Fatih, menyidukkan nasi hangat dengan porsi yang pas.

"Silakan, Bang..." bisik Bella.

Fatih hanya mengangguk kaku. Keadaan di antara mereka masih terasa seperti benang yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. Bella kemudian meraih centong sayur, hendak menuangkan sayur lodeh kluwih—masakan khas kampung yang jarang ada di Jakarta.

Saat Bella hendak menyidukkan sayur itu ke piring Fatih, Fatih reflek mengangkat tangannya.

"Nggak usah, saya bisa sendiri," tolaknya dingin.

Suasana mendadak kaku. Bella tertegun, sendok sayur itu menggantung di udara.

Tiba-tiba, terdengar suara deheman berat dari ujung meja. Kiai Ahmad Bashir menatap Fatih dengan pandangan yang tajam. Sebelah alis Abi terangkat, sementara Umi Fatimah memberikan tatapan "intimidasi" khas seorang ibu yang tidak bisa dibantah. Gerakan mata mereka seolah berkata: Jangan berani-berani bersikap tidak sopan pada istrimu di depan kami.

Fatih, yang sejak kecil dikenal sangat patuh dan takzim pada orang tuanya, langsung merasa kerdil. Ia menarik kembali tangannya dengan kikuk.

"Maksud saya... taruh saja, Mbak. Terima kasih," ujar Fatih terpaksa, suaranya sedikit menciut.

Setelah doa bersama dipimpin oleh Abi, mereka mulai makan. Fatih mengambil suapan pertama. Saat lidahnya menyentuh kuah sayur itu, sebuah sengatan memori menghantamnya dengan keras. Rasa gurih yang pas, aroma lengkuas dan daun salam yang khas, serta tekstur kluwih yang lembut namun tidak hancur...

Fatih membeku. Rasa ini... ia mengenalnya.

Sepuluh tahun lalu, di sebuah rumah panggung di Tasikmalaya, ia pernah memakan sayur dengan rasa yang persis seperti ini. Sayur yang dibuat oleh gadis bercadar yang selalu ia rindukan, Wulan.

"Umi... ini siapa yang masak?" tanya Fatih tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar.

Umi Fatimah tertawa kecil, melirik Bella dengan bangga. "Ya mantu Umi lah! Bella yang bangun paling pagi, ulek bumbu sendiri, bahkan santannya dia peras sendiri. Gimana? Enak nggak? Umi saja sampai nambah tadi."

"Uhuk! Uhukk!"

Fatih tersedak. Ia segera meraih gelas, namun matanya tetap tertuju pada sayur di piringnya.

Kenapa rasanya bisa identik begini? batinnya berteriak.

Fatih melirik Bella yang duduk di sampingnya. Bella tampak tersenyum canggung, matanya penuh kekhawatiran melihat Fatih tersedak.

"Pelan-pelan makannya, Bang... ini airnya," kata Bella sambil menyodorkan gelas dengan tangan gemetar.

"Duh, pelan-pelan atuh Abangku sayang," sahut Zahra yang baru saja bergabung di meja makan dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Zahra, si bungsu yang konyol dan selalu ceria, langsung menyambar sepotong tempe goreng.

"Hmm! Wah, Mbak Bella! Ini mah juara! Jago banget masaknya! Hebat!"

Zahra menatap Bella dengan mata berbinar-binar. "Mbak, ajarin aku dong! Biar nanti kalau aku nikah, suamiku nggak jajan di luar mulu gara-gara masakanku rasa gosong semua."

Umi Fatimah tertawa melihat tingkah anaknya.

"Ya, kamu harus belajar sama Mbak-mu ini. Tuh, lihat... tadi subuh Abi kaget, cucian piring sudah bersih, seragam sekolah kamu sama sepatu kotor kamu sudah disikat, bahkan rumah sudah disapu sampai pojok-pojoknya. Semuanya dikerjakan Mbak Bella sendirian."

"Hah?! Serius?!" Zahra melongo.

"Mbak Bella... kamu manusia apa bidadari sih? Rajin banget!"

"Uhuk..!!..uhuk..uhuk..!!

Fatih tersedak untuk kedua kalinya. Ia merasa dunianya sedang dijungkirbalikkan. Kenapa dalam sekejap rumah ini seakan-akan sudah sepenuhnya menerima dan memuja keberadaan Bella? Bahkan Abi yang biasanya sangat kaku pun tampak mengangguk-angguk setuju dengan pujian Umi.

"Bella... kok bisa sama ya rasanya? Apa karena aku terlalu merindukan Wulan sampai lidahku ikut berhalusinasi?" batin Fatih kacau.

Karena pikirannya melayang kemana-mana, tak sengaja tangan Fatih menyenggol sendoknya hingga jatuh ke bawah meja makan.

"Eh, jatuh..." gumam Fatih.

Secara bersamaan, Fatih dan Bella membungkuk ke bawah meja untuk mengambil sendok itu. Karena gerakan yang terlalu terburu-buru dan tidak sinkron...

"JEDAK!"

Kepala mereka saling berbenturan dengan cukup keras di kolong meja.

"Aduh!" teriak mereka berbarengan.

Keduanya muncul kembali dari bawah meja sambil memegangi dahi masing-masing. Fatih meringis, mengusap kepalanya sendiri untuk meredakan nyeri yang berdenyut. Namun, saat ia melihat Bella yang memejamkan mata dengan wajah yang sangat kesakitan, rasa empati dan naluri perlindungannya mendadak meledak melampaui egonya.

"Eh, kamu nggak apa-apa?" tanya Fatih reflek.

Tanpa sadar, Fatih memegang kepala Bella dengan kedua tangannya. Ia menangkup wajah Bella, jari-jarinya menyentuh kening wanita itu untuk memeriksa apakah ada memar.

Pada detik itu, waktu seolah berhenti berputar.

Kedua mata mereka beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat. Fatih terpaku. Dalam jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa indahnya mata wanita di depannya—mata yang jernih namun menyimpan duka yang sangat dalam.

"Gadis ini... seperti bidadari. Cantik sekali. Ya Allah, andaikan ini Wulan..." batin Fatih. Ada getaran hebat yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang selama ini hanya ia simpan untuk ingatannya di Tasikmalaya.

Di sisi lain, jantung Bella berdegup kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan. Sentuhan tangan Fatih terasa begitu hangat dan protektif.

"Pria ini... seandainya kamu adalah Abbas. Kamu begitu tampan dan gagah saat menatapku seperti ini..."

Mereka berpandangan cukup lama, terhanyut dalam aura magis yang mendadak menyelimuti meja makan pagi itu. Dunia di sekitar mereka seolah mengabur, menyisakan hanya dua jiwa yang sedang mencari jawaban atas takdir yang membingungkan.

"Ehemm! Ehemmm!!"

Suara deheman Abi yang sengaja dikeraskan membuyarkan segalanya.

Fatih tersentak, secepat kilat ia melepaskan tangannya dari wajah Bella. Ia merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kesalahan besar. Wajahnya memerah padam, ia kembali duduk tegak dengan gerakan kikuk dan gugup.

Bella pun menunduk dalam, pipinya merona merah seperti tomat matang. Ia tersipu malu, ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Cie... cie... ada yang mulai jatuh cinta lagi nih abangku!" olok Zahra dengan nada konyol sambil menunjuk-nunjuk Fatih dengan garpu.

"Awas Bang, nanti kalau cinta beneran jangan lupa traktirin aku bakso depan pasar ya!"

"Zahra, jangan menggoda kakakmu," tegur Umi, meski di sudut bibirnya tersungging senyum penuh arti.

Umi Fatimah kemudian beralih menatap Fatih dengan tatapan yang sangat serius, membuat suasana yang tadi sempat cair kembali menjadi khidmat.

"Fatih, dengar Umi," suara Umi Fatimah melunak namun penuh penekanan. "Jaga mantu Umi ini baik-baik. Jangan pernah sakiti dia. Kalau kamu menyakiti Bella, itu artinya kamu juga menyakiti Umi. Ingat itu."

Kalimat itu terasa seperti pedang yang menghujam ulu hati Fatih. Kalimat yang sangat dilematis. Di satu sisi, ia merasa terbebani oleh bayangan Wulan dan janji masa lalunya. Di sisi lain, perintah ibunya adalah titah suci yang tak mungkin ia langgar.

Fatih tercekat. Ia tidak mampu merespon, hanya bisa menatap piringnya yang masih menyisakan sayur lodeh buatan Bella—masakan yang rasanya seperti rumah, namun kehadirannya terasa seperti badai.

Pagi itu berakhir dengan keheningan yang berbeda; bukan lagi keheningan benci, melainkan keheningan yang penuh dengan tanda tanya dan debaran yang mulai tumbuh di tempat yang salah—atau mungkin, justru di tempat yang benar.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!