Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Si Adik Sepupu
Pagi itu, perut bawah Keira terasa seperti ada tangan tak terlihat yang meremasnya dari dalam.
Ia tetap datang tepat waktu.
Gemilang Tower tidak menyediakan cuti khusus untuk perempuan yang rahimnya sedang marah. Kalaupun ada, Keira yakin Rayhan akan meminta formulir, bukti dokter, dan daftar pekerjaan yang sudah dialihkan sebelum memberi izin.
Jadi ia menaruh botol air hangat kecil di balik map, memasang senyum kantor, dan duduk di meja sekretariat sambil berharap hari ini tidak ada rapat mendadak.
Harapan itu tentu saja terlalu mewah.
Pukul sepuluh, tim proyek aluminium masuk dengan wajah tegang. Rayhan keluar dari ruangannya, memegang laporan yang baru dicetak. Keira berdiri terlalu cepat. Nyeri menusuk sampai lututnya lemas, tetapi ia menggigit bagian dalam pipi dan mengikuti ke ruang rapat.
Selama empat puluh menit, ia mencatat revisi, mengirim file, dan menahan keringat dingin yang mulai muncul di punggung. Pandangannya beberapa kali mengabur. Saat kepala proyek salah menyebut angka, Rayhan menoleh.
"Keira, data pembanding."
Keira membuka tablet, tetapi jarinya terlambat satu detik.
Satu detik itu cukup.
"Kamu tidak fokus?" suara Rayhan turun dingin.
Semua orang di ruangan langsung diam.
Keira menegakkan punggung. "Maaf, Pak. Saya tampilkan sekarang."
"Saya tidak membayar sekretaris untuk melamun di rapat."
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup tajam untuk membuat pipi Keira panas. Di sudut ruangan, beberapa staf menunduk pura-pura membaca. Ci Lien melirik Keira dengan cemas.
Keira menelan rasa sakit, menampilkan data, lalu menjawab, "Baik, Pak Direktur."
Tidak ada yang tahu bahwa kuku jarinya sudah menekan telapak sampai meninggalkan bekas.
Rapat berakhir menjelang makan siang. Keira kembali ke meja dengan langkah pelan. Botol air hangatnya sudah tidak panas. Ia ingin ke toilet, ingin duduk, ingin menelepon Mama, tetapi telepon internal berbunyi.
"Keira, laporan final sebelum jam dua."
"Baik, Pak."
Ia bekerja sampai layar laptop terlihat seperti kumpulan garis buram. Saat akhirnya jam menunjukkan lima lewat tiga puluh, Keira tidak langsung kabur seperti biasanya. Tubuhnya terlalu lemas untuk berlari.
Di lobi, hujan turun tipis. Keira berdiri dekat pilar, menunggu Papa Hendra yang kebetulan sedang membawa penumpang di area Sudirman. Tangannya memeluk tas di depan perut.
"Ci Kei!"
Suara itu membuat Keira menoleh.
Seorang pria muda turun dari mobil Avanza keluarga Khiu sambil membawa kantong kain. Tingginya sedang, wajahnya bersih, senyumnya cerah. Kevin Santoso, anak Tante Linda, sepupu yang sejak kecil lebih sering memanggil Keira seperti kakak kandung daripada saudara jauh.
Di belakang setir, Papa Hendra melambaikan tangan.
Kevin berlari kecil mendekat. "Aduh, wajah Ci pucat banget. Sini, duduk dulu."
"Jangan heboh," bisik Keira.
"Ini bukan heboh. Ini perawatan standar untuk perempuan paling galak di keluarga." Kevin membuka kantong. "Mama Lina titip botol air hangat baru, teh jahe, sama selimut kecil. Papa Hendra bilang AC kantor Ci pasti kayak freezer."
Keira menerima botol air hangat itu. Begitu panasnya menyentuh perut, matanya hampir berair.
"Mama lebay," gumamnya.
"Mama Lina sayang. Beda."
Kevin berjongkok di depannya, membuka tutup botol minum. "Minum dulu. Jangan sok kuat."
Beberapa karyawan yang keluar dari lift melambat. Siska dan Mei berdiri tidak jauh, mata mereka membesar melihat pria tampan berlutut di depan Keira sambil memegang botol minum. Ci Lien yang baru turun ikut berhenti.
"Itu siapa?" bisik Mei.
"Pacarnya Keira?" Siska hampir tidak bisa menutup mulut.
Keira mendengar dan ingin menjelaskan, tetapi Kevin sudah lebih dulu menatap mereka dengan senyum ramah.
"Selamat sore. Saya Kevin, adiknya Ci Kei."
Kata "adik" tidak cukup jelas untuk orang yang haus gosip. Di telinga kantor, "adik" bisa berarti apa saja selama wajahnya tampan dan perhatiannya terlihat mahal.
Papa Hendra turun membawa payung. "Keira, pulang. Mama sudah masak sup."
Kevin langsung mengambil tas Keira. "Biar aku yang bawa."
"Itu laptop kantor."
"Justru mahal, jadi jangan dibawa orang sakit."
"Aku tidak sakit."
"Ci, kalau bibir sudah pucat seperti tahu goreng belum masuk minyak, jangan debat."
Keira tertawa kecil meski perutnya masih sakit.
Dari balik kaca lobi lantai dasar, Rayhan baru selesai menerima tamu dari Yong Corporation. Di sampingnya, Sanya Yong berdiri dengan gaun krem dan senyum lembut yang sempurna. Namun perhatian Rayhan berhenti pada pemandangan di luar: Keira duduk lemah, Kevin menunduk di depannya, Hendra memayungi mereka.
Keira yang di kantor selalu menjawab "baik, Pak" ternyata bisa memasang wajah manja seperti itu.
Rayhan melihat Kevin menyelipkan selimut ke bahu Keira sebelum membantunya berdiri.
"Siapa dia?" tanya Sanya pelan, mengikuti arah pandang Rayhan.
"Sepupu Keira," jawab Rayhan.
Jawaban itu terlalu cepat, seolah ia perlu memastikan sendiri.
Sanya tersenyum. "Mereka dekat sekali."
Rayhan tidak menjawab.
Sanya menurunkan pandangan ke tas kecil di tangannya. Sopir keluarga Yong menunggu di luar dengan mobil mewah, tetapi tidak ada orang yang akan turun membawa teh jahe untuknya kalau ia sakit. Di rumah Yong, perempuan yang terlihat lemah hanya akan diminta berdandan lebih baik agar tamu tidak bertanya.
"Dia beruntung," ucap Sanya, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.
Rayhan mendengarnya, tetapi tetap diam.
Di sudut lain lobi, Citra berdiri dengan kantong belanja kecil. Ia datang untuk mengantar barang yang diminta Rayhan, tetapi langkahnya berhenti saat melihat semua perhatian mengarah pada Keira. Perempuan gemuk itu dipayungi ayahnya, dibawakan tas oleh pria muda tampan, dipandang cemas oleh rekan kerja.
Citra menunduk melihat tangannya sendiri.
Dulu, ketika ia kesakitan setelah prosedur itu, tidak ada yang menunggu di lobi dengan teh jahe. Tidak ada ayah yang membawa payung. Tidak ada pria yang berlutut dan berkata jangan sok kuat.
Kecemburuan naik pelan, panas dan memalukan.
Keira tidak melihat Citra. Ia masuk ke mobil dengan hati yang akhirnya sedikit aman. Papa Hendra menutup pintu, Kevin duduk di sampingnya, dan Avanza putih itu bergerak meninggalkan lobi Gemilang.
"Ci," kata Kevin sambil memasang selimut lebih rapi, "kalau bosmu galak lagi, bilang saja. Aku datang pakai jas biar kelihatan seperti pengacara."
"Kamu memang pengacara."
"Iya, tapi kalau demi Ci Kei, aku bisa kelihatan lebih mahal."
Keira tertawa, lalu menyandarkan kepala ke jendela.
Di belakang mereka, Rayhan masih berdiri di lobi. Ia tidak suka perasaan aneh yang menekan dadanya. Bukan marah, bukan cemas, tetapi sesuatu yang membuat pemandangan Kevin membukakan pintu untuk Keira terasa mengganggu.
Malamnya, setelah sup hangat dan obat dari Mama Lina, Keira berbaring di sofa. Mama duduk di sampingnya sambil melipat pakaian.
"Tante Meihua telepon lagi," kata Mama Lina pelan.
Keira membuka mata.
"Arya ternyata belum menikah. Katanya hubungannya dengan Nadia sedang rumit."
Perut Keira masih nyeri, tetapi kali ini yang terasa tertusuk justru dadanya.