Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 5
“Di mana Amelia?”
Kedatangan Ibu Amelia ke rumah keluarga Kanaya saat fajar menyingsing membuat kegaduhan yang membangunkan seluruh penghuni rumah, tak terkecuali kedua gadis di lantai dua yang pertama kali sadar dan bergegas turun.
Amelia membeku begitu kakinya menjejak lantai satu. Di sana—ibunya tengah ditahan oleh beberapa penjaga saat memaksa masuk, meski sudah diminta untuk menunggu sampai pemilik rumah keluar.
“Lepas! Aku hanya ingin menemui Amelia. Di mana anak itu? Kakaknya baru saja selesai operasi, tapi dia malah pergi begitu saja. Dasar tidak tahu diri.” Wanita itu melontarkan kalimat-kalimat tak mengenakkan hingga matanya menangkap kehadiran Amelia.
“Ibu, jangan membuat keributan. Ini masih pagi.” Amelia menghampiri ibunya agar wanita itu tak membuat kegaduhan lebih jauh.
Sesampainya Amelia di depan sang ibu, wanita itu tak menahan diri dan menoyor kepala putrinya cukup keras hingga gadis itu terdorong ke samping—nyaris kehilangan keseimbangannya.
“Keluar juga kau akhirnya. Dasar tidak tahu malu. Pulang sekarang. Tempatmu bukan di sini.” Sang ibu menyeret paksa Amelia yang terhuyung menstabilkan langkahnya.
“Bibi, pelan-pelan. Tidak perlu sampai berbuat kasar seperti itu.” Kanaya melepas paksa cengkeraman Ibu Amelia dari tangan sahabatnya.
“Apa? Jangan ikut campur. Pasti kau yang mempengaruhi anak ini untuk kabur, ‘kan. Jauhi Amelia!”
Kedua orang tua Kanaya maju dan menahan Ibu Amelia yang kembali ingin menarik anaknya keluar rumah.
“Jangan kasar pada anak Anda sendiri. Amelia ke mari dengan cara baik-baik. Kami harap Anda masih memiliki etika bertamu ke rumah orang lain.” Suara ibu Kanaya tak lagi lembut seperti saat berbicara dengan Amelia tadi malam. Wanita itu tampak begitu tegas menghadapi sosok ibu dari sahabat anaknya itu.
“Lepaskan! Kalian jangan ikut campur. Anak ini harus menepati janjinya pada putriku.”
“Anda berbicara seolah Amelia bukan anak Anda. Dia juga masih putri Anda.” Kali ini Ayah Kanaya yang angkat suara.
Pria yang biasanya hanya mengamati situasi itu kini tak tinggal diam melihat betapa kasarnya wanita yang berperilaku kasar itu. Pantas saja Amelia selalu kabur ke rumah mereka setiap kali menghadapi masalah. Dengan ibu yang super temperamen, puji syukur patut dipanjatkan karna Amelia masih hidup sampai sekarang dan bertahan di tengah situasi yang tak menguntungkan.
“Diam! Aku akan melaporkan kalian karena membawa kabur anak ini.”
Ancaman itu sama sekali tak berpengaruh bagi keluarga Kanaya, tapi Amelia langsung bereaksi.
“Ibu, aku yang meminta Kanaya menjemputku. Aku akan pulang, tapi berhenti membuat kekacauan.”
“Bagus, ini semua juga salahmu. Bisamu hanya merepotkan orang lain.” Sang ibu tampak geram dan menarik Amelia menjauh.
“Paman, Bibi. Maaf untuk gangguannya. Aku akan ikut pulang bersama Ibu. Terima kasih sudah menerimaku di sini.” Amelia menunduk sopan. “Nay, aku pamit pulang dulu. Lain kali kita bertemu lagi.”
“Tapi, Mel—“
“Tidak ada lain kali. Kalian tidak boleh bertemu lagi. Keluarga ini membawa pengaruh buruk untukmu.”
Pada akhirnya, Amelia pasrah diseret oleh ibunya keluar dari rumah besar itu. Gadis itu menoleh untuk terakhir kalinya dan menatap bangunan itu dengan raut sendu. Tempat di mana dia merasa lebih hidup dan diterima. Rasanya seperti dia tak akan pernah bisa melihat tempat ini lagi.
“Bagus ... bagus sekali. Kau kabur dan mengancam kesehatan putriku. Kehadiranmu benar-benar sebuah kesialan. Jika kau tidak bisa berguna untuk Rosa, lebih baik mati saja.” Wanita itu terus mengucapkan sumpah serapah tanpa peduli bahwa setiap kalimatnya melunturkan gairah hidup putrinya sendiri.
Amelia harus menerima fakta bahwa hadirnya tak pernah berarti jika bukan karena Rosa. Semua demi Rosa.
Dia dapat tempat di rumah mereka karena kehadiran Rosa.
Namanya masih disebut oleh orang tuanya juga karena Rosa.
Dia bernapas untuk Rosa.
Semua hanya tentang kakaknya yang sakit-sakitan, tapi mendapat cinta dan dukungan penuh bagai hujan yang membawa kesejukan di tengah kemarau. Kakaknya mungkin serba kekurangan dalam hal kekuatan, tapi dia tak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang.
Itulah sebabnya di setiap kekurangan ada kelebihan.
“Barangkali Tuhan memberiku tubuh yang sehat karena aku ditakdirkan berjuang sendiri. Tuhan memang adil. Yang tak adil adalah pandangan manusia. Dan aku adalah manusia yang memandang tak adil pada takdirku sendiri.”
Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani Amelia. Suara ibunya seolah terisolasi dari pikirannya.
Lebih baik seperti itu dari pada hatinya harus terus ditusuk oleh ribuan duri tak kasat mata.
Harinya terlalu melelahkan untuk dimulai dengan perdebatan dengan sang ibu. Dia juga bertanya-tanya dari mana ibunya mendapatkan alamat rumah Kanaya, sementara selama ini wanita itu tak pernah menaruh perhatian apa pun padanya. Perasaannya tak nyaman oleh kesadaran bahwa dia telah merepotkan Kanaya dan keluarganya, bahkan melibatkan mereka dalam masalah.
“Setelah ini kita akan membahas tentang pernikahanmu dan Hanan. Jangan coba-coba untuk kabur lagi atau aku akan mematahkan kakimu.”
Amelia tak menyahut, kepalanya tertunduk dalam membayangkan semua skenario yang telah ditakdirkan untuknya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti menjadi istri kedua—pajangan di rumah tangga kakaknya.
***
“Mel, setelah kamu menikah dengan Mas Hanan nanti, aku janji kita akan mendapatkan hak yang sama sebagai seorang istri. Mas Hanan akan memperlakukanmu dengan baik. Tidak akan ada istri pajangan seperti yang kamu katakan waktu itu. Aku sudah membicarakan semuanya dengan Mas Hanan dan dia setuju menerimamu sebagai istrinya juga.”
Rosa berucap dengan menggebu-gebu. Tak ada yang dapat menahan kegembiraan wanita itu saat membahas pernikahan antara adiknya dan suaminya sendiri.
“Mbak seharusnya tidak melakukan ini. Mas Hanan akan menikah lagi, tapi Mbak malah tampak begitu senang. Padahal kalian sangat mencintai satu sama lain. Aku tidak mengerti.” Amelia hanya bisa menunjukkan kekosongan di matanya, sama sekali tak ada gairah untuk membahas ini, tapi Rosa terus-menerus mengajaknya berbicara.
“Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu, Mel. Aku juga ingin kamu menemukan kebahagiaanmu. Itu saja.”
“Aku bisa menentukan kebahagiaanku sendiri dan keadaan sekarang cukup nyaman bagiku. Ini terlalu berat, aku akan menikah dengan suami kakakku sendiri. Betapa rendahnya.”
Bagi Amelia, status istri kedua yang diberikan kakaknya dengan suka rela itu sama sekali tak istimewa. Dia justru merasa bersalah dan tercekik seolah sebuah rantai tak kasat mata mulai melilit lehernya.
“Lagi pula Mas Hanan selalu membenciku. Aku mungkin akan berumur pendek jika benar-benar menikah dengannya. Dia—“
“Mel ... Mas Hanan tidak sejahat itu. Dia hanya mencoba menjaga perasaanku sebagai istrinya. Maaf jika sikapnya membuatmu merasa dibenci, tapi aku yakin dia tak bermaksud begitu.”
Rosa begitu yakin jika suaminya adalah sosok yang paling lembut di jagat raya.
Pintu ruangan Rosa terbuka. Terdengar langkah kaki pelan mendekat.
“Yah, dia memang baik, tapi hanya padamu, padaku nilainya nol besar.”
Benar-benar minus sebenarnya.