Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Menjemput Arsen
Gatra tertawa kecil mendengar kekhawatiran sahabatnya tersebut, dan Gatra sangat berterima kasih pada Barra yang sangat tulus padanya.
“Lo meremehkan gue Barra?” tanya Gatra balik, Ia tahu Barra tidak mau kalau dirinya kembali larut dalam nostalgia indah bersama dengan Sarah.
“Bukan meremehkan Lo Gatra, gue yakin Lo pasti bisa mengendalikan hati dan perasaan Lo pada mantan istri Lo itu, yang gue khawatir kan Lo nggak berkutik ketika Arsen yang meminta Lo kembali menerima mamanya, pahamkan apa yang gue maksud Gatra?”
Ungkapan Barra, sambil mengatakan kekhawatiran pada Gatra.
“Hufftt setelah semua penghinaan ini gue, nggak mungkin bagi gue untuk kembali lagi Barra, saran gue, Lo perlahan saja untuk menghancurkan mereka semua, agar Arsen bisa melupakan ibu kandungnya tersebut”
Gatra memberikan usulan yang sedikit kejam, dan Barra sudah tahu apa yang di hati Gatra sekarang.
“Oke Gatra! gue lega Lo sudah yakin dengan keputusan Lo ini, kita akan jaga Arsen demi kebaikannya” sahut Barra
“Terima kasih Barra, kita akan jaga Arsen sebaik mungkin..” Gatra dan Barra sudah mempunyai satu kesepakatan, yang membuat hai keduanya tenang.
“Dan sekarang kita tunggu informasi tentang wanita yang dekat dengan Arsen saat ini ha ha ha..” ucap Barra mengalihkan pembicaraan mereka berdua pada Zea.
“Lo juga penasaran dengan wanita itu Barra?” mata tajam Gatra menyipit ketika menanyakan hal ini pada sahabatnya itu.
“hanya penasaran latar belakangnya saja, untuk yang lain gue nggak tertarik Gatra! ha ha ha” jawab Barra dengan cepat, Ia tahu apa maksud dari pertanyaan Gatra barusan padanya.
“cckk jadi Lo menuduh gue tertarik karena hal lain?” tegur Gatra yang merasa dicurigai oleh Barra.
“Gue berharap iya Gatra…dan akan sangat menyenangkan kalau hal itu bisa terjadi ha ha ha, gurunya Arsen sangat cantik, dipoles sedikit saja para artis dan model itu juga pada lewat”
Penjelasan Barra yang sambil bercanda itu adalah ungkapan hati Barra yang sebenarnya.
Gatra hanya tersenyum masam melihat Barra yang terang terangan memuji Zea di depannya.
“Lo juga sudah sampai memperhatikan hal itu Barra?” tanya Gatra penasaran
“Arsen punya selera yang sangat tinggi Gatra! jangan lupa itu, jadi gue percaya dengan pilihan Arsen, jangan sampai Arsen punya sikap seperti Lo Gatra, yang gampang di bodohi dengan kata cinta yang palsu”
jawab Barra sekaligus Ia juga mengingatkan sahabatnya itu pada kesalahan yang pernah dilakukannya.
“Kalau Lo bandingin gue sama Arsen, gua akan mengalah! memang Arsen mempunyai selera yang beda” Gatra mengakui apa yang Barra katakan.
Ditengah perbincangan mereka berdua mengenai Arsen dan Zea, ponsel Gatra berbunyi, ketika melihat siapa yang menghubunginya Gatra langsung menerima sambungan telepon tersebut.
“Halo Edo…” sapa Gatra, Ia memang menunggu kabar dari Edo dari tadi.
“Saya sudah kirim ke email anda semuanya tuan Gatra..” Edo tanpa ditanya lagi langsung menginformasikan semua mengenai Zea yang diperintahkan Gatra tadi.
“Oke do, terima kasih!”
“Sama sama tuan Gatra..”
“Oh iya do, Arsen pulang sekolah jam berapa?” tanya Gatra
“Jam 11 tuan Gatra..”
“Oke! saya akan melihat dokumen yang kamu kirimkan pada saya…”
“Siap tuan Gatra..” sahut Edo dengan sopan.
Setelah itu Gatra menutup sambungan telepon dari Edo, pria yang di suruh Gatra untuk mengawal putranya.
Dengan cepat Gatra membuka email-nya dan membaca semua yang tertulis disana, kepala Gatra mengangguk ketika membaca semua informasi yang telah Edo dapatkan, lalu Gatra mengirimkan pada Barra yang langsung membacanya dengan serius.
“Jadi Zea ke kota ini karena suaminya berselingkuh dan ingin menikahi kekasih masa lalunya itu?” ucap Barra setelah membaca semua informasi yang kirim Gatra tadi.
“Pria bodoh…! hanya karena ingin menikah dengan wanita masa lalunya membuang istri yang menemaninya di saat dulu dia terpuruk, tidak tahu terima kasih! sama kayak si mantan, nggak tahu balas Budi!”
umpat Gatra, Ia langsung ingat Sarah mantan istrinya yang juga tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih.
“Si mantan banget nggak tuh..” goda Barra, membuat Gatra tertawa kecil.
“Percaya diri sekali suaminya Zea itu, apa dia yakin kalau keluarga kekasihnya itu mau menerima dirinya lagi” sindir Gatra.
“Mungkin karena keluarga kekasihnya saat ini, sedang membutuhkan dana untuk menjalankan bisnis keluarga mereka, makanya mau menerima suami Zea, walaupun tahu kalau pria yang akan menikahi putrinya itu adalah suami orang, menjijikan!” Barra geli sendiri dengan sikap keluarga selingkuhan Ryan tersebut.
“Namanya orang lagi butuh uang Barra, semua bisa dilakukan walaupun itu menyakiti hati wanita lain!” Gatra merasa kasihan pada Zea.
“Kalau gue jadi suaminya Zea, gue akan berpikir ulang! mau diletakkan dimana harga diri gue, saat gue miskin dulu mereka tolak gue mentah mentah, sekarang saat gue sukses mereka menyerahkan putrinya pada gue!” Barra nggak habis pikir dengan sikap suaminya Zea
“sulit sih Bar, kalau sudah berurusan dengan perasaan..” balas Gatra
“Iya gue tahu itu, tapi ini terlalu bodoh bagi gue, bahkan lebih bodoh dari pada Lo Gatra!” Barra dengan santainya mengatakan kebodohan Ryan dan Gatra ketika berurusan dengan cinta.
“Sialan Lo…” umpat Gatra dan melempar Barra pakai pulpen yang sedang dipegangnya.
“Ha ha ha dua pria bodoh, sungguh menyebalkan..” barra malah tergelak kencang melihat wajah sewot Gatra.
“Gue mau ke sekolah Arsen…” tiba tiba Gatra ingin menjemput Arsen
“Eeiittss gue ikut..” Barra yang nggak mau kehilangan kesempatan malah ikut pergi bersama Gatra.
“Lo mau ngapain ikut gue..” imbuh Gatra
“Jangan banyak tanya, ayo berangkat sekarang! nanti keburu Arsen pulang sekolah” ajak Barra
Dan tanpa berdebat lagi Gatra berdiri dari duduknya diikuti oleh Barra dan mereka berdua bergegas keluar dari rumah kerja Gatra, karena waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah Arsen.
Barra bicara sebentar dengan sekretaris nya Gatra, setelah itu dia mengejar Gatra yang sedang menunggunya di depan lift untuk segera turun ke lobby perusahaan dan pergi menuju ke sekolah Arsen.
Sedangkan Arsen saat ini sedang belajar sambil bermain dengan teman temannya dan di awasi oleh Zea dan satu lagi guru yang mengajar di kelas tersebut.
“Miss Zea, sekarang Arsen sudah bisa bergabung dan bermain dengan temannya yang lain, saya jadi terharu melihat Arsen ternyata dia selucu itu kalau sedang bermain dan bercanda dengan teman temannya yang lain” ungkap miss Maya yang cukup lama melihat perkembangan Arsen di sekolah ini.
“Iya Miss Maya, Arsen sudah kembali ceria, berkat usaha kita bersama, selamat untuk kita semua” sahut Zea.
“Ha ha ha Miss Zea bisa saja menghibur kita kita yang ada di sini, Arsen itu berubah semenjak Miss Zea berhasil mendekatinya” Maya mengatakan yang sebenarnya terjadi.
“Mungkin Arsen sudah capek juga jadi anak pendiam Miss Maya…” Seloroh Zea, Ia nggak mau karena dirinya Arsen berubah.
“Iya betul juga Miss Zea, sepertinya Arsen capek menghadapi Miss Zea yang selalu mengajaknya bicara setiap hari makanya Arsen mengalah ha ha ha” Maya tertawa kecil, sedangkan Zea hanya tersenyum tipis menanggapi candaan dari teman sejawatnya itu.